Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 68 : Soo Yun Gadis Dari Negeri Jisa


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi Ming Fengying dan gadis muda itu sampai di Kota Huaran. Setelah sampai di gerbang kota, raut wajah Ming Fengying yang sangat kesal membuat penduduk kota terdiam. Walaupun tangan mereka memegang pisau, cangkul dan yang lainnya, tetapi setelah melihat wajah Ming Fengying yang terlihat sangat marah. Nyali penduduk Kota Huaran langsung menciut.


Ming Fengying melempar tubuh Hei He dan Hei Xie ke arah penduduk kota, kemarahannya membuat semua penduduk dan penjaga kota hanya diam melihat Ming Fengying.


"Tadi kalian bilang seorang samurai telah membunuh seorang kakek tak bersalah, bukan?!" Ming Fengying berbicara dengan nada yang penuh emosi.


"Dua orang ini adalah orang asli dari Kuru. Apa yang akan kalian lakukan?" Ming Fengying menatap Hei He dan Hei Xie yang terkapar di tanah.


"Gadis muda-" belum selesai Ming Fengying berbicara, gadis muda yang menjadi saksi mata menyentuh bibir Ming Fengying dengan jari telunjuknya.


"Pangil aku Soo Yun. Aku berasal dari Negeri Jisa." Gadis muda itu tersenyum lembut pada Ming Fengying.


"Ternyata perkiraanku tidak salah. Jadi dia berasal dari Jisa." Ming Fengying membatin sebelum mengangguk pelan.


"Dua pembunuh bayaran ini yang membunuh kakek yang sedang berjalan di depan penginapan. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mereka berniat membunuhku karena aku adalah saksi mata yang melihat langsung kejadian pembunuhan yang mereka lakukan!" Soo Yun dengan jelas berbicara di hadapan penduduk Kota Huaran.


"Sial! Gadis ini pasti akan mengikutiku. Aku merasa bersalah pada Harumin..." Ming Fengying membatin dan memijat keningnya.


Penduduk kota saling menatap satu sama lain, perasaan bersalah karena telah menuduh samurai membuat mereka tidak sampai hati menodongkan senjata pada Ming Fengying. Selang beberapa menit kemudian, pelayan Penginapan Rawa Indah menghampiri kerumunan penduduk kota.


"Soo Yun? Dia berasal dari Jisa ... bagaimana dia bisa sampai ke Kekaisaran Kuru?" Ming Fengying membatin sambil menatap gadis muda yang sedang tersenyum ramah menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada penduduk kota.


Setelah mendengar penjelasan Soo Yun. Seluruh penduduk kota meminta maaf pada Ming Fengying. Tetapi nasi telah menjadi bubur, sebuah nyawa yang menghilang tidak akan pernah kembali lagi.


"Maafkan kami tuan muda..." Pria paruh baya menunduk melihat jalanan kota. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah Ming Fengying.


"Kami terlalu percaya pada sesuatu yang kami lihat dan dengar pertama kali. Tidak kusangka, ternyata mereka berdua yang menjadi pelakunya," sahut pria paruh baya lainnya sambil memohon dengan sangat pada Ming Fengying agar dimaafkan.


"Sudah cukup. Aku tidak bisa menyalahkan kalian. Lagipula kalian juga tidak mengenalku, aku akan menghilangkan rasa sakit pada dua pembunuh bayaran ini." Ming Fengying memegang katananya dan berjalan pelan menghampiri Hei He dan Hei Xie.


"Ingat dua nama ini. Ming Fengying dan Tsukuyomi Kenshin. Dua nama itu adalah nama pemberian orang tuaku. Kalian semua harus lebih menghargai sebuah perbedaan. Jangan pernah sebarkan kebencian yang merusak persaudaraan." Ming Fengying dengan tegas mengatakan hal yang ada di hatinya pada semua orang di sekelilingnya.


"Ming? Tuan muda ini adalah cucu Kaisar Ming Long." Salah satu penduduk kota langsung bersujud pada Ming Fengying. Tidak berapa lama yang lainnya juga mengikuti.


"Jangan pernah menundukkan kepala kalian pada sembarang orang!" Ming Fengying justru geram melihat tindakan penduduk kota. Reflek penduduk kota langsung berdiri.


"Jadi kamu cucu kaisar? Aku rela kok jadi yang kedua atau ketiga hehehe..." Soo Yun tersenyum manis pada Ming Fengying.


"Yunyun. Kamu serius berkata seperti itu." Ming Fengying berkata pelan pada Soo Yun.


Gadis muda itu mengangguk sambil memeluk tangan Ming Fengying.

__ADS_1


"Aku serius. Aku telah memilihmu. Dan aku tidak akan menyesalinya." Soo Yun menatap Ming Fengying penuh makna. Tatapannya yang sendu terkesan jika Soo Yun menyembunyikan sesuatu yang besar, dan sesuatu yang besar itu pastinya tidak di ketahui oleh Ming Fengying.


"Baiklah. Sepertinya kamu sangat serius, tunggu aku di sini." Ming Fengying menyentuh rambut halus Soo Yun sebelum menghampiri penduduk kota.


"Di mana tempat pemakaman?" Hei He dan Hei Xie langsung pucat pasi wajahnya. Mereka baru bangun dari pingsannya. Perkataan Ming Fengying membuat seluruh tubuh mereka kaku.


"Di sana-" belum menyelesaikan perkataannya, Ming Fengying langsung memotong perkataan pria berumur dua puluhan tahun.


"Tunjukkan jalannya padaku. Cepat!" Ming Fengying kembali membawa tubuh Hei He dan Hei Xie secara paksa.


"Baik. Tuan muda Ming Fengying." Pria berumur dua puluhan tahun itu hanya bisa mengikuti perkataan Ming Fengying. Kemudian dia menunjukkan jalan menuju tempat pemakaman.


"Yunyun. Tetap tunggu aku di situ." Ming Fengying tersenyum pada Soo Yun sebelum pergi.


"Yunyun? Dia mengganti namaku seenak jidatnya saja!" Soo Yun menggerutu tetapi dia hanya mengangguk pelan menuruti perkataan Ming Fengying.


Ming Fengying mengikuti pemuda yang menunjukkan jalan menuju tempat pemakaman. Setelah sampai di tempat pemakaman, Ming Fengying menyuruh pemuda yang mengantarnya untuk segera pergi.


"Pergilah. Aku akan mengakhiri kehidupan seseorang. Terimakasih telah mengantarku." Ming Fengying melirik pemuda yang gemetar ketakutan. Kemudian dia melempar tubuh Hei He dan Hei Xie ke arah tempat pemakaman.


"Tunggu!" Pemuda yang sedang melangkahkan kakinya langsung bergidik hebat ketika mendengar Ming Fengying menyuruhnya berhenti.


"Bisakah kau ambilkan cangkul. Setelah itu kembali ke sini, aku akan gunakan cangkul itu untuk menggali lubang." Ming Fengying berkata dengan santainya. Pemuda itu langsung mual membayangkan dua pembunuh bayaran yang akan mati.


"Hati-hati di jalan." Pemuda itu kembali ketakutan mendengar perkataan Ming Fengying.


"Sepertinya aku bertindak berlebihan." Ming Fengying bergumam pelan sambil tersenyum tipis.


"Baiklah. Saatnya eksekusi." Ming Fengying tersenyum sinis sambil menarik katananya.


"Mmph!" Hei He dan Hei Xie meronta tetapi mulut mereka tersumpal rerumputan. Tidak butuh waktu lama bagi Ming Fengying untuk mengakhiri hidup kedua pembunuh bayaran itu.


Darah segar membasahi bilah katananya. Hati Ming Fengying sedikit gundah.


"Apakah tindakanku ini sudah benar? Dengan membunuh. Maka rantai kebencian tidak akan putus?" Ming Fengying merenungi perbuatannya.


"Siklus kebencian akan terus berputar. Membunuh bukanlah yang hebat. Sungguh ironis, aku masih bisa merasakan penyesalan." Ming Fengying mengibaskan katananya sambil mencari kubangan air yang dekat dengan tempat pemakaman.


Ketika Ming Fengying selesai mencuci tangannya, pemuda yang ia suruh untuk mengambil cangkul datang menghampirinya.


"Tuan muda Ming Fengying. Ini cangkul yang tuan suruh ... saya ambilkan." Pemuda itu menunduk sambil tangannya memegang cangkul.

__ADS_1


"Terimakasih. Kau pasti takut dengan pembunuh sepertiku..." Suara Ming Fengying yang sendu membuat pemuda itu merasa bersalah.


"Ti-Tidak, maksudku bukan seperti itu tuan muda. Saya hanya tidak menyangka saja seorang cucu kaisar bisa berbuat seperti ini." Pemuda itu menunduk melihat tanah.


"Aku berbeda dengan anak-anak yang lain. Perbedaan itu membuatku tumbuh menjadi pribadi yang arogan. Membunuh orang dan membalaskan kematian seseorang. Aku masih belum mengerti tindakanku ini benar atau tidak? Tetapi, aku harap tidak ada yang kejadian seperti ini lagi, karena aku sendiri sangat membenci pertarungan dan peperangan. Karena kedua hal tersebut selalu mengakibatkan kematian yang sia-sia." Ming Fengying berbicara panjang lebar pada pemuda yang hanya diam mendengar perkataannya. Tangannya mengambil cangkul dan mulai membuat lubang di tanah yang masih kosong di tempat pemakaman.


Pemuda itu kagum dengan perkataan Ming Fengying. Tidak berapa lama lamuannya dibuyarkan Ming Fengying.


"Beli kain putih sekitar 2 meter. Jika untuk dua orang, maka 4 meter jumlahnya. Ini uangnya, maaf aku menyuruhmu untuk kedua kalinya." Ming Fengying selesai membuat lubang.


"I-Iya." Pemuda itu reflek menerima uang Ming Fengying dan berlari membeli kain putih.


Selang beberapa menit kemudian, pemuda itu kembali ke tempat pemakaman dengan napas yang terengah-rengah.


"Ini ... tuan ... muda ... Ming ... Feng ... Ying..." Pemuda itu berusaha mengatur napasnya yang terengah-rengah.


Ming Fengying langsung menerima kain putih yang dibeli pemuda tersebut. Satu jam kemudian dia telah selesai menguburkan kedua mayat pembunuh bayaran.


"Mari kembali." Ming Fengying dengan wajah santainya mengajak pemuda yang masih melongo kaget untuk segera kembali ke gerbang kota.


Sesampainya di gerbang Kota Huaran. Ming Fengying menghampiri Soo Yun.


"Maaf. Aku telah membuatmu menunggu lama, Yunyun." Ming Fengying tersenyum pada Soo Yun.


"Sungguh! Kamu membuatku menunggu dalam waktu yang cukup lama!" Soo Yun menggerutu melihat Ming Fengying bersikap dengan santai.


"Tujuan selanjutnya adalah Kota Jinning." Ming Fengying langsung menggendong Soo Yun di depan. Kemudian dia berlari dengan cepat meninggalkan Kota Huaran.


"Ap-Apa yang kamu lakukan?" Wajah Soo Yun merah padam melihat tindakan Ming Fengying.


"Diam. Tubuhmu berat." Tamparan dari Soo Yun membuat Ming Fengying berhenti berjalan.


"Kenapa kamu menamparku?" Ming Fengying menatap Soo Yun yang memalingkan wajahnya ke samping.


"Hmph! Dasar lelaki yang tidak mengerti perasaan seorang wanita!" Soo Yun mengembungkan pipinya.


Melihat hal itu, jantung Ming Fengying berdetak kencang.


"Aku membuat gadis ini berharap terlalu jauh. Aku tidak mempunyai wajah untuk bertemu dengan Harumin. Dia pasti tidak akan memaafkanku." Ming Fengying mengigit bibir bawahnya.


"Pegangan di leherku." Ming Fengying kembali berlari.

__ADS_1


Sangat tidak pernah dia sangka. Takdir mengalun ke arah yang paling tak terduga. Sebelum bertemu dengan kekasihnya. Ming Fengying justru bertemu dengan gadis lain. Perasaan gundah mulai merayapi tubuh Ming Fengying. Rindu akan namanya cinta membuat Ming Fengying tidak bisa membiarkan Soo Yun sendirian berkelana tanpa arah di Kekaisaran Kuru. Gadis berparas manis yang berasal dari Negeri Jisa masih banyak misteri tentang kehidupan masa lalunya yang tidak diketahui oleh Ming Fengying.


__ADS_2