Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 55 : Fujin Dan Sanada


__ADS_3

Shingen memimpin pertemuan malam ini, seluruh samurai menatap dan memberi hormat kepada dirinya.


"Selamat malam semuanya..." sapa Shingen pada seluruh orang yang mengikuti pertemuan dadakan yang dilakukan di teras Istana Pinyin.


Seluruh samurai bersama Ming Fengying dan Yuan Shi menundukkan kepalanya pada Shingen.


"Selamat malam tuan Shingen." jawab seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan secara serentak termasuk Yuan Shi.


"Selamat malam ayah," jawab Ming Fengying menunduk.


Shingen tersenyum tipis dan tanpa basa - basi lagi, dia memimpin dan memulai pertemuan untuk menentukan dua orang samurai yang akan pergi dengannya.


"Seperti yang kalian tahu tentang Pertemuan Putih Suci. Aku akan membawa dua orang yang ikut bersamaku pergi ke Pegunungan Tiangan." Shingen menatap seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan yang ada dihadapannya, "Sedangkan delapan yang lainnya berjaga di Bei."


Ming Fengying dan Yuan Shi masih terus mengamati, mereka berdua menatap raut wajah samurai yang masih ragu.


"Tuan Shingen. Firasatku tidak enak tentang pertemuan ini," Sanada angkat bicara dan menatap Shingen.


"Menurutku memang baik jika kita hadir di acara para pendekar, hanya saja aku merasa mereka sengaja mengundang kita hanya untuk menjatuhkan martabat kita." Sanada mengemukakan pendapatnya pada Shingen dan yang lainnya.


"Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu," sahut Fujin sambil mengelus dagunya, "Mereka tidak tahu apapun tentang Yamato. Sejarah silam peperangan yang terjadi antara Kuru dan Yamato masih terus membekas," tambah Fujin.


Shingen mengetuk pelan lantai teras dengan jarinya, matanya menatap tajam Fujin dan Sanada. Senyuman tipis khas Shingen yang terkesan garang menyungging di wajahnya.


"Peperangan masa lalu yang menyakitkan, itu hanyalah peninggalan dari masa lalu. Kita hidup di generasi yang berbeda, aku harap mereka bisa bersikap dewasa layaknya seorang pendekar sungguhan." ujar Shingen menatap Fujin dan Sanada.


"Tuan Shingen. Sembilan tahun lalu, sebelum kelahiran tuan muda Ming Fengying. Kami semua masih mengingatnya dengan jelas, gelak tawa mereka yang menertawakan perkataan Tuan Shingen." sahut Nobusuk dengan kedua tangannya yang mengepal, "Seekor naga dapat dibunuh dan dipotong oleh mereka? Hanya mendengar dan mengingat itu saja membuatku ingin menyiksa mereka!" Nobusuke terlihat begitu murka.


"Dinginkan kepalamu Nobu. Kita harus mengikuti perkataan tuan Shingen dan percaya pada ramalan Keluarga Tsukuyomi!" tegur Masakage menatap tajam Nobusuke.

__ADS_1


"Tujuh belas tahun? Kita harus menunggu selama tujuh belas tahun untuk membebaskan Negeri Yamato dari Rieyu?! Aku tidak dapat menunggu selama itu!" balas Nobusuke dengan nada yang dipenuhi amarah.


"Nobu!" Shingen menatap tajam Nobusuke.


"Maaf, tuan Shingen." ucap Nobusuke menundukkan kepalanya karena telah menyinggung perasaan Shingen.


"Aku sangat yakin dengan ramalan itu. Aku tidak menyuruh kalian mempercayaiku, tetapi aku hanya ingin kalian membantu sang fajar untuk kembali bersinar. Aku harap kalian bisa menggantikanku ketika aku telah tiada." ucap Shingen pada seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan.


"Kumohon tuan, jangan berkata seperti itu." Toramasa menatap Shingen yang memohon pada mereka.


"Ayah?" batin Ming Fengying keheranan mendengar perkataan ayahnya.


Shingen melirik Ming Fengying kemudian menatapnya dalam, senyuman lebar menyungging di wajah Shingen.


"Kalian bedua akan ikut denganku ke Pegunungan Tiangan." tegas Shingen pada Ming Fengying dan Yuan Shi.


"Baik. Ayah." Ming Fengying menunduk membalas perkataan Shingen.


Shingen sebenarnya ingin mengajak Nobusuke tetapi dia menyadari sifat Nobusuke yang mudah marah. Tidak berapa lama matanya menatap Fujin dan Sanada.


"Sanada, Fujin. Kalian berdua ikutlah bersamaku. Kekuatan kalian berdua sangat kubutuhkan." Shingen tersenyum menatap Fujin dan Sanada yang tidak menolak permintaannya.


"Baik. Tuan Shingen." jawab Fujin dan Sanada secara serentak.


Shingen menatap langit malam di langit malam Bei. Suasana yang damai dan sejuk yang ada di Bei membuat Bei semakin banyak dikunjungi kaum bangsawan dan orang - orang yang hanya ingin datang menikmati pemandian air panas.


"Toramasa, Ichijo, Chibisuke, Mamorusuke, Ryunosuke, Masakage, Nobusuke, Monzaemon. Aku ingin kalian menjaga Bei tetap aman sampai aku kembali nanti." perintah Shingen kepada anggota Sepuluh Pilar Rembulan yang tersisa.


"Baik. Tuan Shingen." jawab seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan kecuali Fujin dan Sanada.

__ADS_1


Tidak berapa lama Shingen mengakhiri pertemuan, seluruh orang meninggalkan teras Istana Pinyin kecuali Shingen dan Ming Fengying.


Shingen melihat Yuan Shi yang sedang diledek Nobusuke dan Masakage di halaman depan Istana Pinyin.


Ming Fengying menatap ayahnya yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu, karena penasaran akhirnya Ming Fengying lebih memilih bertanya pada Shingen.


"Ada apa gerangan ayah?" Ming Fengying menatap ayahnya yang menatap bulan, "Kenapa ayah terlihat begitu sedih?" tanya Ming Fengying.


Shingen menatap Ming Fengying yang sedang menatap dirinya penuh rasa penasaran, mata anaknya membuat Shingen tersenyum.


"Tidak ada apa - apa. Tidurlah, besok kita akan menempuh perjalanan jauh." perkataan Shingen membuat Ming Fengying diam dan tidak bertanya lebih jauh lagi.


Ming Fengying melihat Shingen yang masuk ke dalam Istana Pinyin. Kesedihan terpancar di wajah ayahnya, hingga akhirnya kesedihan mulai merayapi tubuh Ming Fengying.


Angin malam yang berhembus berbisik di sela - sela tulangnya, ketenangan malam membuatnya semakin larut dalam kesepian yang mendalam.


Ming Fengying masih penasaran dengan sikap ayahnya, kesedihan yang terukir di wajah Shingen membuat hatinya teriris. Tiba - tiba menggema perkataan ayahnya yang bercerita tentang masa depan, dan sebuah perang yang telah diramalkan.


Ming Fengying berpikir untuk dapat mengobati luka dalam Shingen. Tidak pernah Ming Fengying bayangkan jika suatu saat ayahnya akan meninggal. Perkataan Shingen yang berniat mewariskan kekuatan surgawi padanya, membuat Ming Fengying semakin khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya.


Setelah merasakan kasih sayang orang tua, kedamaian yang sementara, perlakuan baik orang - orang terdekatnya, semua itu menyisakan ketenangan yang mendalam di hati Ming Fengying.


Banyak hal yang baru dia rasakan di kehidupannya kali ini, tetapi ada satu hal yang masih terus membuat Ming Fengying penasaran sampai saat ini. Sebuah cermin yang membuat Ming Fengying terus menaruh rasa penasaran pada cermin tersebut, cermin yang berada di Hutan Kumalawyuha itu membuatnya ingin datang ke hutan tersebut.


Ming Fengying yakin akan menemukan kepingan - kepingan pertanyaan yang tidak sempat terjawab di kehidupan lamanya. Perlahan dia beranjak memasuki Istana Pinyin untuk beristirahat di kamarnya.


Pertemuan Putih Suci membuat Ming Fengying ingin membuat nama Shingen dan samurainya semakin disegani, satu - satunya untuk membuktikan semua itu hanya dengan kekuatan.


Kata - kata tidak selamanya membuat orang lain menghargai kita, itulah yang dirasakan Ming Fengying setelah menjalani kehidupan lama saat bernama Feng Huang. Sebuah tindakan untuk membungkam mereka yang menghina adalah cara yang selalu dilakukan Ming Fengying ketika bernama Feng Huang.

__ADS_1


"Sebaiknya aku beristirahat dulu..." gumam Ming Fengying sebelum tertidur.


__ADS_2