Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 47 : Yuan Shi


__ADS_3

Keesokan harinya Tao Shi memberikan sepucuk surat pada Ming Fengying untuk diberikan pada Tao Lulu. Kembalinya Ming Fengying ke wilayah Bei membuat Tao Shi ingin memastikan bahwa Ming Fengying kembali dengan baik - baik saja. Beberapa pendekar dan tetua Sekte Lembah Batu berkumpul di pintu masuk Lembah Batu untuk mengantar kepergian Ming Fengying.


Tao Shi melirik Lu Baoshi yang menarik seorang pemuda berumur sepuluh tahun bernama Yuan Shi. Tao Shi ingin memberikan tugas pada Yuan Shi untuk menjaga Ming Fengying. Sesuai yang diwariskan secara turun temurun seorang yang mempunyai tanda batu di badannya adalah seseorang yang mengantar pemuda yang telah dinantikan.


"Ada apa sebenarnya? Aku ingin bersantai, kenapa semua orang berada disini?" Yuan Shi hanya pasrah ketika Lu Baoshi terus menarik tangannya dan menyeretnya ke hadapan Tao Shi.


"Shi'er, pemuda itu adalah tuan muda Ming Fengying, dia adalah seorang pemuda yang telah dinanti leluhurmu. Ayahmu menitipkanmu padaku dan aku harap kau dapat membantu tuan muda." ujar Tao Shi pada Yuan Shi.


"Ming? Cucu Kaisar Kuru? Aku tidak sudi menjaga anak yang lebih lemah dariku!" jawab Yuan Shi dengan sinis mengejek Ming Fengying.


Lu Baoshi menghela napas panjang sambil memukul kepala Yuan Shi.


"Kau harus sopan! Apa kau ingin aku cincang di atas batu!" Lu Baoshi menggenggam erat pundak Yuan Shi.


Yuan Shi berkeringat dingin mengingat dirinya diikat di atas batu oleh Lu Baoshi karena tidak ikut berlatih menjadi murid pendekar muda Sekte Lembah Batu.


"Baiklah. Tapi ada satu syarat." Yuan Shi menatap Ming Fengying lurus.


"Bertarunglah denganku. Kau adalah seorang pemuda yang dinanti leluhur kami, aku ingin melihat seberapa kuat dirimu. Jika kau kalah, berarti kau hanyalah seorang anak manja dan bukan pemuda yang kami tunggu." tambah Yuan Shi.


Tao Shi tersenyum melihat Ming Fengying yang sama sekali tidak takut dengan Yuan Shi, semua orang yang mendengar perkataan Yuan Shi geram denga ketidaksopanan Yuan Shi.


"Kekuarga kaisar atau siapapun itu, aku tidak sudi sama sekali menjadi pembantu mereka." umpat Yuan Shi tersenyum lebar. Senyuman yang menyeringai di wajahnya membuat Ming Fengying tertawa kecil.


Yuan Shi menggertakan giginya, "Apa yang kau tertawakan?" Raut wajah Yuan Shi begitu marah karena merasa telah diremehkan oleh Ming Fengying, "Jangan pikir kau bisa tertawa setelah ini!"


"Sisa makanan." ujar Ming Fengying sambil menyentuh pipinya sendiri.

__ADS_1


Yuan Shi menyentuh pipinya dan menggosoknya, "Ternyata masih ada bekas pisang yang aku makan," Yuan Shi menjilat pisang yang menempel dipipinya setelah mencoleknya dengan jari telunjuknya, "Sepertinya kau terlihat begitu senang menertawakanku."


Tao Shi menyuruh Lu Baoshi menjadi wasit untuk menjaga agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Orang yang paling mengetahui kenapa Yuan Shi menjadi seorang pemalas dan tidak mau diatur adalah Lu Baoshi, setelah kehilangan orang tuanya kepribadian Yuan Shi langsung berubah drastis.


"Shi'er, kau harus tumbuh melihat dunia yang luas. Kau akan temukan jawabanmu sendiri tentang sebuah arti hidup." batin Lu Baoshi menatap Yuan Shi lurus.


Ketika aba - aba dari Lu Baoshi dimulai. Semua mata tertuju pada Ming Fengying yang diam dan tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya menatap Yuan Shi yang berlari padanya.


"Aku yang lebih tua lima tahun darimu adalah satu - satunya yang harus kau khawatirkan!" teriak Yuan Shi melesatkan pukulan depan pada wajah Ming Fengying. Pukulan Yuan Shi ditangkis Ming Fengying dengan santai.


"Pasti menyakitkan rasanya. Aku sangat mengetahui perasaanmu, tapi bagaimanapun juga kau harus melangkah ke depan. Jika kau tetap seperti ini maka hidupmu akan sia - sia." ujar Ming Fengying mencoba mengunci tangan Yuan Shi sambil melakukan gerakan untuk membanting tubuh Yuan Shi.


"Berhenti bicara omong kosong! Anak putri kaisar sepertimu tidak akan mengerti perasaanku!" bentak Yuan Shi memberontak melepaskan tangannya hingga tangannya yang dikunci Ming Fengying bunyi.


"Patah?" batin Ming Fengying karena merasa berlebihan mengunci tangan Yuan Shi.


"Aku juga pernah kehilangan segalanya, aku pernah mencoba untuk bunuh diri berkali - kali. Apa kau tidak percaya padaku?" Ming Fengying berdiri tegak dan tidak bergeming sedikitpun ketika Yuan Shi hendak memukul wajahnya.


"Pukulannya hampir mengenaiku..." batin Ming Fengying menghela napas panjang lega karena akhirnya kemarahan Yuan Shi reda.


"Cobalah untuk tetap hidup. Hidup cuma sekali, jadi jangan kau sia - siakan dengan melakukan hal yang tidak berguna." ujar Ming Fengying pada Yuan Shi sambil melangkahkan kakinya pergi dari pintu masuk Lembah Batu.


"Pisang, kau sangat hebat bertarung. Apa kau ingin pergi sekarang?" sapa Luo Shi pada Ming Fengying yang keluar melewati pintu masuk Lembah Batu.


"Ya," jawab Ming Fengying singkat sambil melambaikan tangannya pada Luo Shi.


"Sudah kuduga, dia adalah penerusku yang akan menjadi pendekar lautan..." gumam Ding Shi sambil menganggukkan kepalanya setelah melihat pertarungan Ming Fengying.

__ADS_1


"Tuan muda, apa kau akan pergi sekarang?" tanya Lu Baoshi berlari berusaha menghentikan Ming Fengying yang pergi menjauh. Bagaimanapun Lu Baoshi tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk pada Ming Fengying.


"Aku harus bergegas. Aku sudah membuat bunda dan ayah khawatir." terang Ming Fengying pada Lu Baoshi. Mendengar perkataan Ming Fengying membuat Lu Baoshi ingin mengantarkan Ming Fengying pulang ke Bei dengan selamat.


"Tuan muda, jika berkenan biark-" belum selesai berbicara perkataan Lu Baoshi dipotong Yuan Shi.


"Biar aku yang mengantarnya." potong Yuan Shi sambil berjalan menghampiri Ming Fengying.


Tao Shi tersenyum dan berjalan kembali pulang ke Paviliun Lembah Batu. Akhirnya Tao Shi bisa tenang setelah melihat Yuan Shi memiliki tujuan yang baru.


"Tidak perlu, bisa jadi pemuda yang kalian tunggu itu bukan aku." Ming Fengying tidak ingin memaksa Yuan Shi untuk melakukan perjalanan pulang bersamanya.


"Jangan sombong dulu, walau aku seperti ini tetap saja aku seniormu." sahut Yuan Shi menyilangkan tangannya sambil bersikap sombong di depan Ming Fengying.


"Yang terpenting adalah kualitas, Shi'er." celetuk Lu Baoshi menjitak kepala Yuan Shi karena Yuan Shi tetap bersikap tidak sopan pada Ming Fengying.


"Tidak. Senioritas adalah hal yang harus diutamakan." tegas Yuan Shi menatap Lu Baoshi tajam.


"Anak ini! Semakin lama semakin ngelunjak sifatnya!" umpat Lu Baoshi menahan amarahnya.


Ming Fengying menghela napas panjang melihat Lu Baoshi dan Yuan Shi. Ming Fengying mencoba untuk melihat Tao Shi sebelum pergi meninggalkan Sekte Lembah Batu tetapi perempuan berambut pendek itu telah pergi.


"Ikuti aku. Jangan sampai tertinggal." ujar Ming Fengying pada Yuan Shi dengan santainya.


"Harusnya aku yang bilang begitu!" bentak Yuan Shi merangkul Ming Fengying.


Ming Fengying merasa senang dengan sifat Yuan Shi yang alami. Mata Ming Fengying melihat Lu Baoshi yang mengepalkan tangannya ingin memukul Yuan Shi.

__ADS_1


"Terimakasih atas jamuannya kemarin malam. Kalau begitu aku pamit." Ming Fengying melambaikan tangannya pada Lu Baoshi dan tetua Sekte Lembah Batu sebelum pergi meninggalkan kediaman Sekte Lembah Batu.


Yuan Shi mengikuti Ming Fengying dari belakang. Pertemuan dengan Ming Fengying membuat Yuan Shi ingin melihat sendiri menjadi seperti apa Ming Fengying di masa depan.


__ADS_2