Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 91 : Ruang Penghakiman Langit


__ADS_3

Ming Fengying membaringkan tubuhnya di ranjang dan menatap Soo Yun yang telah bangun dan sedang membaca buku cerita yang merupakan karya dari Sypho.


Walau Ming Fengying sedang mengamati Soo Yun, namun sekarang dia sedang menggunakan ilmu pengendali hati pada burung merpati yang kini berada di Ruang Penghakiman Langit.


Burung merpati yang dikendalikan Ming Fengying berada di atas pundak Shingen. Di dalam Ruang Penghakiman Langit terlihat Lin Kin sedang mengikat tubuh Jia Wu dan mengajukan beberapa pertanyaan pada pria tersebut.


“Jia Wu! Jawab pertanyaanku! Apa hubunganmu dengan Pangeran She?!” Lin Kin berteriak dengan keras dan menatap dingin Jia Wu.


“Rekan bisnis. Tidak, mungkin Pangeran She adalah penjual dan aku pembeli.” Jia Wu menjawab sambil terkekeh. “Kau tahu Guru Lin! Sekarang adalah era perdagangan manusia! Aku sangat menyukai perempuan! Apa yang salah dengan itu?”


Lin Kin dan Shingen tidak menyiksa Jia Wu. Mereka berdua hanya mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Jia Wu.


“Aku membeli mereka! Tetapi budak gadis segar dari Kota Jinning belum sampai ke sini!” Jia Wu berbicara sendiri dan menatap tajam Lin Kin.


Shingen merasa jika Jia Wu hanyalah sebagian dari pendekar aliran putih yang telah mengetahui kebusukan di Kota Jinning, namun mereka justru menikmatinya dan menjadi pelanggan di sana.


“Lin Kin. Biar aku yang membawa orang ini. Kau panggil Fujin dan Sanada agar segera menghadap padaku secepatnya.” Shingen menarik kerah baju Jia Wu dan membawanya ke ruang bawah tanah yang ada di Ruang Penghakiman Langit.


“Baiklah, Tuan Shingen. Anda bebas melakukan apapun pada orang ini.” Lin Kin sudah tidak menganggap Jia Wu sebagai muridnya lagi.


Sebelum Lin Kin keluar dari Ruang Penghakiman Langit, Shingen menyuruh Lin Kin untuk menemui Ming Fengying.


Sementara itu Lin Kin menyuruh Tetua Hakim Langit yang bernama Lin Huo untuk mengintrogasi Jia Wu dan menuntun Shingen menuju ruang bawah tanah.


Lin Huo dikenal tidak kenal ampun. Sama seperti Nobusuke yang tidak segan-segan mengorek informasi dengan cara apapun dengan berbagai metode penyiksaan, Lin Huo juga sangat ahli di bidang tersebut.


Sesampainya di lantai bawah Istana Langit, Lin Kin langsung menghampiri Fujin dan Sanada yang sedang mengobrol bersama Zhang Bingjie.


"Fujin, Sanada. Tuan Shingen memanggil kalian berdua." Lin Kin langsung memotong perkataan Zhang Bingjie yang sedang bercerita pada Fujin dan yang lainnya.


"Ada apa ini, Ketua Lin?" Zhang Bingjie sedikit kesal melihat Lin Kin memotong ceritanya. "Kau mengganggu ceritaku saja," tambahnya.


Lin Kin tidak menggubris perkataan Zhang Bingjie dan langsung berjalan menuju Ruang Penghakiman Langit menuntun Fujin dan Sanada yang mengikutinya dari belakang.


"Shi'er, dengarkan aku. Saat itu aku menemukan ikan sebesar kapal pengangkut barang di Sungai Merah..." Zhang Bingjie melanjutkan ceritanya dan Yuan Shi hanya menjadi pendengar yang baik bersama dua pendekar dari Sekte Sungai Merah. Mereka bertiga mendengarkan cerita Zhang Bingjie yang menangkap ikan sebesar kapal pengangkut barang.

__ADS_1


Sementara itu Lin Kin mengantar Fujin dan Sanada menuju Ruang Penghakiman Langit dan menuntun mereka berdua ke pintu tersembunyi yang menuju ke ruang bawah tanah.


"Terimakasih," ucap Fujin dan Sanada secara bersamaan kepada Lin Kin.


"Sama-sama, Tuan Shingen sudah menunggu kalian di ruang bawah tanah. Segera temui beliau," jawab Lin Kin dan langsung berjalan menuju ruang penginapan lantai sembilan.


Di lantai sembilan terlihat lebih ramai. Pendekar dari Sekte Harimau Putih dan Lembah Bunga Persik Tersembunyi sudah mendiami kamar penginapan.


Lin Kin bisa mengetahuinya dari lampu-lampu yang menyala dan pintu kamar yang sedikit terbuka menunjukkan pendekar dari kedua sekte tersebut sedang bercengkrama.


Sesampainya di depan kamar Ming Fengying dan Soo Yun, dengan segera Lin Kin mengetuk pintu. Sebuah pintu kamar yang telah hancur setengahnya dan belum diperbaiki.


"Tuan Muda..." Lin Kin terkejut melihat Ming Fengying sudah berada di depannya.


"Kakek Lin, ayo kita bicara di luar." Ming Fengying duduk di bangku panjang yang tersedia di luar kamar. Bangku panjang tersebut berada di lorong penginapan lantai sembilan.


"Ayah pasti yang menyuruh Kakek Lin menemuiku?" Lin Kin tertawa mendengar perkataan Ming Fengying.


"Tuan Shingen menyuruhku untuk menemui Tuan Muda. Sepertinya Tuan Muda menemukan sesuatu yang janggal, bukan begitu?" Lin Kin mengernyitkan keningnya menatap tajam Ming Fengying.


"Sekte Cakrawala Hitam kemungkinan besar akan menyerang Pegunungan Tiangan. Khususnya Taman Langit yang indah ini." Ming Fengying menambahkan.


Lin Kin ikut memijat keningnya. "Pertemuan Putih Suci tidak selalu berjalan lancar. Kami sudah menyiapkan penjagaan lebih ketat dari biasanya bahkan pendekar dari sekte lain membantu penjagaan, tetapi aku rasa tidak mungkin ada yang berani menyerang Lembah Pegunungan Tiangan saat seluruh pendekar dari aliran putih dan netral berkumpul di satu tempat."


Ming Fengying mengetahui hal itu, namun dia merasa tidak bisa tenang setelah berurusan dengan Wang Zhou. Entah apa yang dia rasakan akhir-akhir ini, namun Ming Fengying tidak bisa tenang seperti biasanya. Ada kejanggalan besar di dalam pikirannya.


"Aku hanya ingin memberitahu tentang ini, Kakek Lin. Aku harap tidak ada kejadian yang tidak diinginkan dalam Pertemuan Putih Suci ini." Ming Fengying menghela napas panjang dan melirik Lin Kin.


"Apa ada yang Tuan Muda curigai?" Lin Kin bertanya untuk memastikan.


"Kita lihat di Pertemuan Putih Suci. Menurutku orang yang paling angkuh dan berkata dengan sombong di Pertemuan Putih Suci adalah orang yang patut di waspadai. Dan satu lagi, pendekar yang datang dengan jumlah lebih banyak dari sekte lain." Ming Fengying menjawab sambil tersenyum tipis. Dia hanya berharap tidak ada orang yang menghina nama baik ayahnya di Pertemuan Putih Suci.


Ming Fengying akan berurusan dengan orang yang menghina ayahnya dan dia sendiri yang akan turun tangan, siapapun itu. Karena sejak awal, Ming Fengying sudah berniat ikut bersama ayahnya ke Pertemuan Putih Suci untuk menjaga nama baik ayahnya dan melawan orang yang menginjakkan kakinya pada kebesaran nama ayahnya.


"Kakek Lin, Prabu Banyu Sukma sudah meninggal namun dia telah menikahi Tuan Putri dari Kekaisaran Yin yang bernama Yin Rong." Ming Fengying mengambil Kitab Bintang Surgawi dan menceritakan kisah Prabu Banyu Sukma yang terbang melintasi dunia untuk menuju Negeri Wulan dan sampai di Benua Jiu.

__ADS_1


Sebuah benua yang tertutup dari dunia luar. Akses masuk Benua Jiu hanya bisa melewati tranportasi udara, tidak dengan lautan.


Lin Kin mendengarkan baik-baik cerita dari Ming Fengying. Kisah di mulai dari asal-usul Kekaisaran Kuru yang merupakan sebuah negeri yang dibentuk dengan orang dari berbagai suku. Namun seiring berjalannya waktu, Kekaisaran Kuru tidak lagi menjadi tempat yang damai.


Perang saudara pecah karena sebuah perbedaan. Banyak orang-orang yang pergi ke tempat yang baru, seperti Negeri Wulan, Negeri Jisa, Negeri Yamato dan Kerajaan Sihir Fiore.


"Aku tulis sebagian kisah ini pada kitab yang kuberi nama Kitab Bintang Surgawi. Aku titipkan pada dua pasangan pendekar dan samurai yang bernama Lin Yue dan Tsukuyomi Ryouta. Tempat pertama yang ku kunjungi ketika kekuatan Arwah Suciku habis bernama Taman Langit. Tempat yang berada di antara gunung-gunung yang bernama Pegunungan Tiangan." Ming Fengying masih membaca bagian kisah awal Prabu Banyu Sukma bertemu dengan Lin Yue dan Tsukuyomi Ryouta.


Lin Kin merasa seperti mendengar sebuah kisah masa lalu yang panjang. Pria paruh baya itu hanya bisa menelan ludah setiap mendengar cerita dari Ming Fengying yang sedang membaca kisah hidup Prabu Banyu Sukma di Kitab Bintang Surgawi.


Kemudian Ming Fengying menjelaskan pada Lin Kin jika orang yang menjadi keturunan Lin Yue dan Tsukuyomi Ryouta adalah Lin Kin sendiri. Orang yang memiliki simbol bulan sabit dan matahari di punggungnya adalah keturunan Lin Yue dan Tsukuyomi Ryouta. Itulah kisah turun-temurun dari sebuah keluarga yang akan membantu pemuda yang telah dinanti dan dijanjikan.


Dengan menggunakan kekuatan segel mereka berdua. Baik itu Lin Yue dan Tsukuyomi Ryouta berharap keturunan mereka akan berperan besar dalam hari yang telah dijanjikan.


Lin Kin menangis, namun dengan cepat dia menyekanya. Ming Fengying baru menceritakan bagian awalnya saja, belum sampai di pertengahan. Namun air mata kebahagiaan tumpah membasahi wajah Lin Kin.


Perlahan dia memperlihatkan punggungnya pada Ming Fengying.


"Tuan Muda, lihat baik-baik." Ming Fengying tersenyum mendengar kata-kata Lin Kin yang terdengar bahagia itu.


Dengan menggunakan mata Tsukuyomi, Ming Fengying bisa melihat simbol segel yang berwarna itu. Di punggung Lin Kin terlihat jelas simbol bulan sabit berwarna kuning dan matahari berwarna jingga. Sedangkan di sekitar dua simbol itu ada tiga simbol yang lainnya yaitu Burung Garuda dan Burung Phoenix berwarna campuran antara jingga dan biru muda yang bertarung melawan dua Naga berwarna hijau dan hitam.


"Apa aku perlu melanjutkan cerita ini, Kakek Lin?" Ming Fengying bertanya untuk memastikan karena Lin Kin tak henti-hentinya mengeluarkan air mata kebahagiaan.


"Lanjutkan, Tuan Muda." Lin Kin menyeka air matanya dan memakai kembali pakaian atasnya yang dia lepas.


Lalu Ming Fengying tersenyum dan menceritakan pada Lin Kin tentang kisah cinta Prabu Banyu Sukma yang menikah dengan Tuan Putri dari Kekaisaran Yin yang bernama Yin Rong.


___


Mungkin banyak yang mengira novel ini cersil China. Namun sebenarnya ini cerita sampingan dari Kagutsuchi Nagato yang panjang ceritanya. Dulu kisah cerita ini menceritakan Keluarga Prabu sebelum Benua Raya dijajah Kekaisaran Bahamut, tapi ada alasan tersendiri kenapa author coba garap, otak-atik jadi cerita baru, karena Arc Love in Jiu sendiri di Kagutsuchi Nagato lebih dulu ceritanya dibanding Arc Benua Raya yang menjadi babak akhir antara Nagato vs Kazan. Alur Kagutsuchi Nagato maupun Love in Jiu War berjalan lambat, mohon maaf kalau kurang srek di hati kalian. Lagipula tahun ini adalah pertama kali author bikin novel. Jadi masih banyak sekali kekurangan.


Setelah Arc Pegunungan Tiangan, nanti ada arc baru. Author masih ubah", nanti kujelaskan tentang alasan Ming Fengying menganggap dirinya bereinkarnasi. Dari umur 122 tahun saat bernama Feng Huang. Burung Phoenix yang memiliki api biru dan api merah. Dua hal itu berhubungan dengan Air Suci dan Arwah Suci. Untuk lebih jelasnya baca juga Kagutsuchi Nagato. Di sana dijelasin kekuatan dari Air Suci.


MC yang aku buat walau kuat, gak terlalu over power. Yang over power justru musuhnya. Karena aku sukanya begitu, lawan orang lebih kuat dari kita, apalagi yg mustahil dikalahin. Orang beda-beda sih.

__ADS_1


Karena alur LJW akan ngalir ke arah yang tak terduga. Pokoknya nanti kedua MC nih ketemu antara Kagutsuchi Nagato dan Tsukuyomi Kenshin di Negeri Yamato. Jadi terus ikuti aja. Terimakasih yang sudah membaca dan yang meninggalkan like. Saya selaku author Pena Bulu Merah mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada kalian.


__ADS_2