Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 35 : Akhir Dari Sekte Mawar Hitam


__ADS_3

Kematian Feng Zi membuat pendekar dari Sekte Mawar Hitam melemah. Dengan mudah pendekar gabungan dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah menghabisi pendekar Sekte Mawar Hitam yang tersisa.


Sanada dan Han Xu tidak kesulitan menghabisi Mao She. Setelah melihat Feng Zi mati. Dalam sekejap nyali Mao She menciut dan itu menjadi kesempatan bagi Sanada dan Han Xu untuk membunuh Mao She.


Mao She bukanlah pendekar yang mudah dihadapi oleh Sanada dan Han Xu. Karena Mao She telah menjadi pendekar hitam dan merupakan dari ketua kedua Sekte Mawar Hitam. Tetapi kerja sama Sanada dan Han Xu dapat mengatasi Mao She tanpa masalah.


Situasi di permukiman Kota Bei masih mencekam karena jalanan kota dibanjiri dengan darah. Begitu banyak darah dari pendekar yang telah gugur. Baik dari pendekar yang membantu Ming Lian maupun pendekar suruhan Pangeran She.


Bulan purnama di atas wilayah Bei berwarna merah darah. Bulan seolah - olah berkata jika ia tidak ingin melihat pertumpahan darah di muka bumi.


Han Zoe membawa Zhang Shen ke tempat yang aman sebelum melanjutkan pertarungannya melawan pendekar dari Sekte Mawar Hitam, Han Xu mengajak pendekar dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah untuk menghabisi seluruh pendekar Sekte Mawar Hitam.


Tidak terhitung berapa nyawa yang melayang akibat pertempuran malam ini. Sanada menghabisi pendekar Sekte Mawar Hitam yang melarikan diri, hampir semuanya terbunuh dalam satu tebasan katananya.


Sanada berniat menghabisi semua pendekar yang menyerang Bei malam ini. Banyak pendekar yang mati ditangannya bahkan seluruh tubuhnya kini bersimbah darah.


Sanada adalah orang dari Yamato yang mengungsi ke Kekaisaran Kuru. Bagi Sanada yang telah melihat sosok manusia yang memiliki kekuatan di luar nalar manusia membuatnya tidak begitu peduli dengan pendekar yang sakti.


Sosok makhluk yang dapat menghancurkan segalanya dalam sekali hembusan napasnya membuat Sanada begitu membenci makhluk tersebut.


Han Xu melihat banyak pendekar Sekte Mawar Hitam yang mati di tangan Sanada. Beberapa jam kemudian pendekar dari Sekte Mawar Hitam telah binasa.


Malam ini adalah malam akhir bagi Sekte Mawar Hitam. Dengan berakhirnya Sekte Mawar Hitam maka kekuatan Sekte Aliran Hitam sedikit melemah. Berakhirnya Sekte Mawar Hitam akan menjadi pukulan telak bagi Sekte Aliran Hitam yang lainnya.


Situasi yang mencekam perlahan mulai terkendali ketika seluruh pendekar Sekte Mawar Hitam telah binasa. Sanada dan Fujin mengajak pendekar yang disewa Ming Lian untuk membantu yang terluka.


Zhang Shen masih bernapas walau hembusan napasnya begitu lemah. Han Xu dan Han Zoe membawa tubuh Zhang Shen ke Istana Pinyin.

__ADS_1


Rencana Pangeran She untuk menguasai Kekaisaran Kuru gagal kembali. Pertempuran malam berdarah di Bei akan merubah masa depan. Ming Fengying tidak mengetahui jika musnahnya Sekte Mawar Hitam akan mengundang Sekte Aliran Hitam yang lebih kuat untuk datang membantu Pangeran She.


Bau amis begitu menyengat di Kota Bei. Darah - darah menempel pada bangunan rumah. Bangunan yang megah kini telah hancur berantakan. Banyak rumah yang dibakar dan diporak - porandakan oleh pendekar dari Sekte Malam Berdarah dan Sekte Mawar Hitam.


Api yang membakar bangunan dan rumah penduduk masih berkobar melahap seluruh bangunan yang ada di Kota Bei.


Walaupun pendekar dari Sekte Malam Berdarah dan Sekte Mawar Hitam telah tiada. Tetapi api yang membakar rumah penduduk membuat langit malam Bei menjadi berwarna merah menyala. Sinar rembulan yang berwarna merah karena darah membuat Bei menjadi kembali mencekam.


Han Xu dan Han Zoe mencoba menyembuhkan Zhang Shen dengan tenaga dalam mereka berdua. Belum sampai di Istana Pinyin tiba - tiba Zhang Shen batuk darah.


Zhang Shen tidak merasakan apapun lagi tetapi dirinya belum mati sepenuhnya karena dia masih bisa bernapas.


Han Xu dan Han Zoe mengkhawatirkan keadaan Zhang Shen dan tak lama terdengar suara benturan senjata dari arah Hutan Impian dan Istana Pinyin.


Di halaman depan Istana Pinyin kedatangan Xia Lai membuat Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie waspada.


"Ketua Lin, apakah orang itu petinggi dari Organisasi Iblis Bulan?" tanya Zhang Bingjie menatap Xia Lai yang berjalan ke arah mereka bertiga.


"Sepertinya dia adalah petinggi Organisasi Iblis Bulan. Ketua Zhang, ini akan cukup merepotkan..." Lin Kin mengeluarkan aura intimidasinya yang berwarna hijau ke arah Xia Lai.


Xia Lai tersenyum tipis ketika aura intimidasi milik Lin Kin mengenai tubuhnya. Xia Lai juga mengeluarkan aura intimidasinya yang berwarna hitam pekat ke arah ketiga orang yang berjaga di halaman Istana Pinyin.


Benturan aura intimidasi milik Xia Lai dan Lin Kin terlihat di udara. Kedua aura berwarna hitam pekat dan hijau saling berbenturan satu sama lain.


Aura intimidasi milik Xia Lai lebih kuat dari aura intimidasi milik Lin Kin. Kekuatan Xia Lai sudah mencapai pendekar suci. Selain sudah menyempurnakan tenaga dalamnya Xia Lai juga mampu memanipulasi aura tubuhnya menjadi air.


Zhang Bingjie dan Panglima Lu Chen mengeluarkan aura intimidasi mereka berdua ke arah Xia Lai. Aura milik Panglima Lu Chen berwarna biru yang membara di udara mencengkeram aura hitam pekat Xia Lai. Sedangkan aura milik Zhang Bingjie berwarna merah yang berkobar di udara dan melahap aura hitam pekat milik Xia Lai.

__ADS_1


Xia Lai tersenyum lebar melihat aura hitam pekat miliknya terlempar di udara. Dengan cepat Xia Lai menarik pedangnya dan menyerang ketiga orang dihadapannya.


Langkah kaki Xia Lai begitu cepat tidak bisa diikuti oleh Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie. Dalam setiap langkah terlihat cipratan air yang melindungi tubuh Xia Lai.


Xia Lai menebaskan pedangnya pada Panglima Lu Chen. Kedua senjata mereka saling berbenturan dan mata mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain.


"Jadi kau orang yang terkenal dengan julukan manusia petir..." Xia Lai tertawa sebelum kembali menebaskan pedangnya dengan cepat menyerang Panglima Lu Chen.


Lin Kin dan Zhang Bingjie membantu Panglima Lu Chen. Serangan dari berbagai arah tidak membuat Xia Lai terdesak sama sekali.


"Air Bercampur Darah."


Xia Lai memutarkan tubuhnya sebelum melangkahkan kakinya menebas badan Panglima Lu Chen. Permainan pedang Xia Lai sulit dicerna oleh Lin Kin dan Zhang Bingjie.


Lin Kin menyerang Xia Lai untuk melindungi Panglima Lu Chen. Serangan beruntun dari Lin Kin membuat Xia Lai mundur beberapa langkah ke belakang.


Zhang Bingjie menyerang Panglima Lu Chen dari belakang. Dengan tebasannya yang dialiri aura berwarna merah serangannya masih dapat ditahan Xia Lai.


"Penjara Air."


Xia Lai menghindari setiap tebasan pedang Zhang Bingjie dengan begitu mudah. Setelah menemukan celah untuk menggunakan jurus auranya, Xia Lai menyentuh kepala Zhang Bingjie dan melepaskan aura tubuhnya.


Xia Lai memanipulasi aura tubuhnya menjadi air yang memenjarakan tubuh Zhang Bingjie. Melihat kekuatan Xia Lai yang di atas mereka bertiga Lin Kin mengerutkan dahinya.


"Ketua Zhang, aku akan menyelamatkanmu!" Lin Kin menyerang Xia Lai dengan cepat.


Panglima Lu Chen melemparkan tombaknya pada Xia Lai. Suara petir menggelegar di halaman depan Istana Pinyin.

__ADS_1


"Cincin suci? Sepertinya aku akan mendapatkan imbalan yang besar jika memberikan orang ini pada Reiyu!" Xia Lai menangkis serangan tombak Panglima Lu Chen.


Benturan kedua senjata membuat udara menjadi panas karena aura hitam pekat dan aura biru saling bertabrakan di udara.


__ADS_2