
Seminggu telah berlalu sejak pertempuran malam berdarah di Bei. Kota yang damai kini kembali tenang ketika Pangeran She kembali pulang ke ibu kota. Semenjak kepergian Pangeran She banyak pihak yang menaruh curiga pada pria berwajah rupawan yang memiliki sifat licik tersebut. Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie adalah orang yang curiga pada Pangeran She bahkan Kaisar Ming Long pun mulai mengawasi gerak - gerik Pangeran She.
Semenjak mendapat tugas dari Ming Fengying kedekatan Tao Lulu dan Toramasa semakin terlihat. Ming Lian tersenyum bahagia karena akhirnya dia dapat melihat Tao Lulu tidak terlalu fokus mempelajari ilmu pengobatan. Sangat disayangkan jika perempuan semanis dan selembut Tao Lulu tidak memikirkan percintaan sepanjang hidupnya dan hanya memikirkan ilmu pengobatan sepanjang hidupnya.
Ming Fengying hanya berharap perubahan drastis ini tidak terlalu merubah masa depan, di kehidupan sebelumnya Ming Fengying mengingat jika Tao Lulu mati dieksekusi sedangkan Toramasa mati dibunuh oleh Sekte Aliran Putih yang menganggap samurai pengikut Shingen sebagai pengkhianat Kekaisaran Kuru.
Lagi - lagi masa depan berubah secara drastis, Ming Fengying ingin memastikan jika tempat yang dilindungi orang tuanya aman. Setelah identitas Kamejiro terungkap para samurai pengikut Shingen masih mencurigai satu sama lain.
Ming Fengying memberi tugas pada Sanada dan Fujin untuk membuka kedok salah satu samurai yang dicurigai Ming Fengying.
"Aku melakukan kesalahan, seharusnya aku membuka kedok Pangeran licik tetapi pria licik itu selalu terlihat sopan di depan Kakek Long..." batin Ming Fengying mengingat kepergian Pangeran She dan Kaisar Ming Long beberapa hari yang lalu.
Wilayah Bei kembali tentram terlihat dari penduduk yang mulai bergotong - royong untuk membangun rumah. Penduduk Kota Pinyin membantu membangun rumah penduduk Kota Bei yang hancur. Shingen mengajak samurai pengikutnya untuk membantu penduduk.
Ming Fengying melihat Tao Lulu yang sedang menyuruh Zhang Shen untuk beristirahat terlebih dahulu karena pria paruh baya tersebut belum sembuh total, sifat keras kepala Zhang Shen membuat dirinya ingin segera kembali ke kediaman Sekte Harimau Putih untuk melaporkan pada ketua mereka.
Han Xu dan Han Zoe meyakinkan Tao Lulu jika mereka berdua akan menjaga kondisi Zhang Shen selama dalam proses pemulihan. Han Xu dan Han Zoe juga tidak bisa berbuat apa - apa karena Zhang Shen memang memiliki sifat keras kepala yang membuat mereka berdua hanya mengikuti perkataan guru mereka itu.
Zhang Shen sangat berterimakasih pada Tao Lulu yang telah mampu menyembuhkannya. Pengobatan Tao Lulu sangat berbeda dengan tabib yang lain menurut Zhang Shen, seharusnya tenaga dalam Zhang Shen sudah tidak ada tetapi berkat pengobatan yang diberikan Tao Lulu yang cukup manjur. Zhang Shen hanya kehilangan beberapa lingkaran tenaga dalamnya, dia masih beruntung karena masih bisa hidup menjadi seorang pendekar.
Setelah diberi upah dan bekal untuk perjalanan pulang oleh Ming Lian, tidak berapa lama Zhang Shen pulang bersama Han Xu dan Han Zoe. Kejadian kali ini membuat Ming Lian semakin dikenal di kalangan Sekte Aliran Putih bahkan Kaisar Ming Long sempat berpikir untuk menjadikan suaminya Ming Lian yaitu Shingen menjadi Kaisar Kuru.
Beberapa jam setelah kepergian Zhang Shen, Han Xu dan Han Zoe. Istana Pinyin malam ini terlihat begitu sepi karena Shingen dan Ming Lian sedang pergi ke Kota Pinyin untuk membagi - bagikan makanan pada penduduk Bei yang masih menginap di kerabat mereka yang ada di Kota Pinyin.
__ADS_1
Ming Fengying sendirian di dalam kamar megah Istana Pinyin. Ayunan ranjang bayi menjadi tempat dia membaringkan tubuhnya.
"Ini adalah pertaruhan. Aku bisa saja mati karena pertaruhan ini." batin Ming Fengying menatap atap kamar dengan mata mungilnya yang menggemaskan.
"Hawa keberadaan Sanada dan Fujin sudah menghilang sepenuhnya..." batin Ming Fengying setelah tidak merasakan hawa keberadaan Sanada dan Fujin.
Ketika malam hari Ming Fengying mengeluarkan aura tubuhnya secara lepas, masih banyak hal sulit yang belum dimengerti oleh Ming Fengying. Bola mata mungilnya juga berwarna merah darah ketika malam hari tetapi setelah mempelajari ilmu mata ilusi kini Ming Fengying dapat membuat bola matanya berwarna hitam selama beberapa hari.
Berkat auranya yang selalu terbuka ketika malam hari, Ming Fengying dapat merasakan aura seseorang.
"Semoga saja hanya dua orang pengkhianat ... jika tiga orang maka pengikut ayah tidak ada yang setia dan semua terlalu mencurigakan..." batin Ming Fengying memejamkan matanya secara perlahan karena dirinya merasa ingin tidur lebih awal malam ini.
Ming Fengying begitu menggemaskan ketika tidur, beberapa menit setelah Ming Fengying tertidur di ayunan ranjang bayi ada nafsu membunuh yang begitu kuat. Nafsu membunuh yang mendekat secara perlahan ke kamar megah milik Ming Lian.
"Aura ini begitu mencekikku..." batin Ming Fengying yang melihat aura hitam pekat datang dari arah pintu kamar menyerang dirinya.
Aura hitam pekat berbenturan di udara dengan aura milik Ming Fengying. Aura milik Ming Fengying merespon hawa jahat pembunuh yang menyerang tubuh mungil Ming Fengying.
Pintu kamar terbuka dan terlihat seorang pria memakai penutup wajah mendekati ayunan ranjang bayi. Ming Fengying pura - pura tertidur dan menyipitkan matanya mencoba melihat sosok pria yang hendak membunuh dirinya.
"Siapa pria ini?" batin Ming Fengying bertanya - tanya melihat pria yang memegang katana dan memakai penutup wajah seperti masker.
"Jadi ini bayi ajaib yang bisa berbicara itu..." ucap pria tersebut sambil menatap tajam Ming Fengying.
__ADS_1
Ming Fengying mengenal suara pria tersebut karena dia pernah mendengar suara yang sama persis dengan anak buah Rieyu di kehidupan sebelumnya.
"Henka... tidak salah lagi Kuroma Henka. Seharusnya aku menyadarinya sejak awal, tidak kusangka ternyata orang yang sama..." batin Ming Fengying ketika mengetahui identitas samurai yang mengkhianati ayahnya.
"Aku hanya tidak ingin berprasangka buruk tetapi aku melakukan kesalahan besar." batin Ming Fengying menambahkan.
Ming Fengying bisa melihat Henka masih menatap dirinya. Katana yang dipegang Henka perlahan berwarna hitam pekat dan mengeluarkan aura hitam yang keluar dari bilah katananya.
"Sepertinya Tuan Shingen dan istrinya masih lama kembali. Tuan Shingen begitu ceroboh meninggalkan anaknya di kamar sendirian." ucap Henka tersenyum lebar sambil menggerakan katananya ke kiri dan kanan.
Henka mengayunkan katananya dengan cepat dan berniat memotong tubuh mungil Ming Fengying bersama dengan ayunan ranjang bayi.
Mata Henka melebar melihat Ming Fengying mungil yang membuka matanya dan menatap dirinya dengan mata yang menggemaskan.
"Bayi sialan ini!" umpat Henka ketika melihat mata Ming Fengying yang menggemaskan.
Katana Henka sudah berada tepat di atas badan Ming Fengying tetapi ada katana lain yang menangkis tebasan katana Henka.
Jantung Ming Fengying berdegup kencang karena selamat dari kematian, setelah kedatangan Henka dia melihat Sanada dan Fujin datang tepat waktu.
Sanada dan Fujin bersembunyi di sudut ruangan kamar yang terlihat gelap, mereka berdua menghilangkan hawa keberadaannya sambil menunggu kedatangan pengkhianat dan menerkamnya secara diam - diam dari belakang.
Ming Fengying melihat pintu kamar, di luar pintu kamar terlihat Shingen, Ming Lian, Tao Lulu dan Toramasa yang menatap tajam pengkhianat yang hendak membunuh Ming Fengying.
__ADS_1
"Henka!" teriak Sanada menendang perut Henka hingga terlempar ke arah pintu kamar.