Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 29 : Awal Pertempuran Malam Berdarah Di Bei


__ADS_3

Pertempuran sudah tidak bisa terhindarkan lagi, ketika dua mata ratusan pendekar gabungan Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah bertemu dengan seribu pendekar Sekte Malam Berdarah.


"Sepertinya di antara mereka tidak ada Lin Kin dan Zhang Bingjie." ucap Ban Hai menatap tajam ratusan pendekar gabungan dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah di hadapannya.


"Menghadapi sekumpulan kroco ini adalah hal yang mudah bagi kita." sahut Ban Huo sambil tersenyum lebar, perlahan dia mengeluarkan goloknya.


Ratusan pendekar Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah memberikan perlawanan yang cukup sengit, seribu pendekar dari Sekte Malam Berdarah menyerang dengan membabi buta. Karena jumlah mereka lebih banyak, Sekte Malam Berdarah merasa jika mereka bisa menang dengan mudah.


Dengan menggunakan jurus goloknya, Ban Huo menyerang puluhan pendekar yang menghadangnya. Sambil tersenyum Ban Huo memainkan permainan goloknya dengan cukup brutal.


"Golok Berdarah!"


Ban Huo menebas tubuh pendekar dari Sekte Taman Langit, darah yang mengalir di goloknya tiba - tiba mengering dan membuat Ban Huo semakin brutal menghabisi pendekar dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah.


"Sensasi ini, tidak tertahankan!" teriak Ban Huo menikmati darah yang bercipratan kewajahnya, dia membunuh pendekar Sekte Sungai Merah dengan keji. Semakin dia membunuh, maka akan semakin kuat permainan goloknya.


"Hentikan orang yang memegang golok itu!" teriak salah satu pendekar dari Sekte Sungai Merah. Pendekar yang lain ingin menghentikan Ban Huo, tetapi mereka sadar jika Ban Huo adalah musuh yang seharusnya tidak mereka hadapi.


"Apa bala bantuan belum datang?!" ucap salah satu pendekar tingkat tiga dari Sekte Taman Langit, karena dia melihat tidak ada satupun pendekar yang mampu melawan Ban Huo dan Ban Hai.


Gabungan pendekar Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah semakin terpojok, ketika mereka dalam keadaan keputusasaan 22 samurai pengikut Shingen datang membantu.


22 samurai pengikut Shingen yang dibagi menjadi 2 kelompok mengepung pendekar dari Sekte Malam Berdarah, samurai yang dipimpin Shingen membuat Ban Hai dan Ban Huo terkejut.


"Dia juga termasuk target kita!" ucap Ban Hai dengan nada tinggi yang terdengar angkuh.


"Semua orang yang ada di Bei adalah target kita, siapapun orangnya harus kita habisi malam ini!" sahut Ban Huo dengan senyum lebar diwajahnya.


Semua pendekar Sekte Malam Berdarah menatap Shingen bersama pengikutnya, sebagai sekte yang paling menentang diangkatnya Shingen menjadi penguasa Bei. Sekte Malam Berdarah berniat menghabisi Shingen malam ini.

__ADS_1


Shingen menatap dingin pendekar dari Sekte Malam Berdarah, dengan mata kirinya yang terlihat ada bekas luka goresan. Shingen mengeluarkan katananya, sebuah katana yang memiliki bilah begitu tipis dengan sebuah ukiran bulan dan matahari mengelilingi gagang katananya.


"Teknik Pernapasan Cakra : Bentuk Kasar."


Shingen menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, dia mengolah pernapasan kasar. Teknik Pernapasan Cakra dibagi menjadi dua yaitu halus dan kasar.


Ban Huo maju menyerang Shingen menggunakan goloknya, benturan kedua senjata menggema di permukiman kota.


"Shingen!" teriak Ban Huo menatap tajam Shingen, kedua matanya mendelik seperti ingin menerkam tubuh Shingen.


Shingen menahan tebasan golok milik Ban Huo dengan katananya, ada yang membuat Shingen resah karena Ban Huo terlihat seperti dirasuki senjata miliknya.


"Apa golok itu salah satu senjata kuno tipe pusaka?" gumam Shingen menatap golok yang dipegang oleh Ban Huo.


Ban Huo mengayunkan goloknya kembali, tebasannya kali cukup dalam dan mematikan. Ban Huo mampu membuat Shingen mundur beberapa langkah kebelakang.


"Jurus Aliran Sungai Es."


"Jurus Golok Berdarah."


Ban Huo yang terdesak melawan balik Shingen, keduanya bertarung cukup sengit. Setiap darah yang ada di bilah golok milik Ban Huo mengering, setelah mengering maka kekuatannya bertambah pesat dalam sekejap.


Shingen terkejut melihat kecepatan dan kekuatan Ban Huo yang meningkat pesat, dia berusaha mengimbangi Ban Huo, karena kekuatan mereka berdua tidak berbeda jauh.


"Aku yakin ini adalah senjata kuno tipe pusaka, tetapi katana milikku adalah senjata kuno surgawi yang telah dijaga leluhurku..." batin Shingen menatap Ban Huo tajam, dia menghela napas panjang sesaat sebelum mundur beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak dari Ban Huo.


"Apa kau sudah sadar, jika malam ini Bei akan hancur!" ejek Ban Huo tersenyum sinis menatap Shingen yang menjaga jarak darinya.


Shingen terdiam dan menatap tajam Ban Huo, "Bei tidak akan hancur, kalian tidak mengerti tentang begitu eratnya tali persaudaraan di antara penduduk Bei..." Shingen tersenyum sambil mencoba mengatur napasnya, "Bahkan rencana kalian telah gagal, jadi tidak perlu khawatir karena penduduk kota semuanya telah mengungsi di tempat yang aman."

__ADS_1


Ban Huo mengerutkan dahinya mendengar perkataan Shingen, dia merasa kesal karena Shingen tidak merasa takut bahkan tidak merasa terdesak ketika bertarung dengannya.


"Teknik Pernapasan Cakra : Bentuk Kasar."


Shingen kembali menarik napas panjang dalam satu tarikan napasanya, aura di sekitar tubuh Shingen berubah dalam sekejap. Layaknya bulan merah yang menyinari bumi yang penuh dengan darah, aura tubuh Shingen berwarna merah darah ketika marah. Tetapi ketika dirinya tenang maka aura tubuhnya berwarna putih.


Ban Huo menelan ludah melihat Shingen, dia sekarang mengerti alasan mengapa Shingen dijuluki Harimau Dari Bei. Karena ada rumor di masa lalu, jika Shingen berhasil memberi luka pada tubuh seekor naga. Entah rumor itu benar atau tidak, tetapi Ban Huo sekarang sangat yakin jika rumor tersebut adalah sebuah kebenaran.


"Tenang, aku belum menggunakan seluruh kekuatanku." batin Ban Huo sambil mengatur napasnya yang mulai tidak teratur. Kemudian dia meminum pil berwarna merah yang tak lain adalah pil iblis darah. Tubuh Ban Huo dipenuhi dengan otot - otot kekar, bahkan bola matanya menjadi merah darah.


Shingen tidak terkejut melihat hal itu, dia tetap bersikap tenang sambil terus melangkahkan kakinya dengan lembut. Sehingga Ban Huo tidak menyadari jika Shingen telah mengambil ancang - ancang untuk menyerang.


"Shingen!" teriak Ban Huo menebaskan goloknyanya ke arah Shingen, tebasan goloknya dapat ditahan dengan mudah oleh katana Shingen.


"Jangan meremehkanku! Aku akan membunuhmu!" senyum sinis Ban Huo ketika terus mengayunkan goloknya dengan tebasan yang cukup mematikan ke arah Shingen.


Shingen membalas tebasan golok Ban Huo dengan katananya, dentingan suara senjata tajam yang saling berbenturan itu terdengar menggema di permukiman Kota Bei. Baik Shingen maupun Ban Huo tidak ada yang mau mengalah. Mereka berdua terus bertarung dengan sengit.


"Jurus Golok Darah."


Ban Huo melompat ke atas setelah itu dia memutarkan tubuhnya, terlihat dari bilah pedangnya darah yang telah diserap keluar. Jurus golok darah membuat darah yang telah dihisap golok milik Ban Huo membentuk sebuah pusaran darah yang berhembus. Bau amis yang menyengat membuat pendekar gabungan dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah menutup hidung mereka, bahkan pendekar dari Sekte Malam Berdarah juga menutup hidung mereka, karena mencium bau amis yang menyengat dari jurus golok Ban Huo.


22 samurai pengikut Shingen menatap tajam Ban Huo, karena Ban Huo terlihat seperti menggunakan jurus pamungkasnya. Terlihat pusaran darah yang tidak normal, jika itu adalah pusaran air atau angin masih terlihat normal dimata seluruh orang yang melihat teknik golok Ban Huo. Tetapi teknik golok yang digunakan Ban Huo mampu menciptakan pusaran darah yang baunya sangat amis.


Shingen menatap tajam teknik golok yang digunakan Ban Huo, dia mengambil kuda - kuda yang terlihat begitu alami. Melihat Shingen yang ingin menyerang balik, ekspresi wajah Ban Huo murka.


"Shingen! Kau terlalu meremehkanku!" teriak Ban Huo ketika tubuhnya semakin melesat jatuh ke arah Shingen.


Shingen menutup matanya dan memperkirakan jangkauan serangannya yang mampu dia tebas. Katananya masih tersarung dengan rapi di pinggangnya.

__ADS_1


Pusaran darah teknik golok milik Ban Huo melesat ke arah Shingen, ketika Shingen mengayunkan katananya. Percikan darah yang memuncrat ke udara membuat seluruh orang yang melihatnya terdiam.


__ADS_2