Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 75 : Pergerakan Menyikap Kebenaran Kota Jinning


__ADS_3

Malam yang tenang, angin yang berhembus dan api unggun yang berkobar di tengah lapangan. Puluhan orang sudah tertidur setelah berpesta memakan daging ikan bawal yang telah dipotong oleh Shingen bersama pengikut samurainya.


"Feng! Tuan Shingen telah bangun!" Yuan Shi berteriak pada Ming Fengying dan Soo Yun yang sedang mengintai di dekat Permukiman Wuhang. Sebuah permukiman yang bagian dari desa yang dekat dengan sungai, disana ada rumah bordil tempat para gadis dipaksa bekerja prostitusi disana.


"Pelankan suaramu!" Sanada memukul kepala Yuan Shi pelan, dan hanya dibalas tawa cekikikan oleh Yuan Shi.


"Tuan Muda Ming Fengying bagaimana bisa Tuan Muda mengintai seperti seorang ninja?" Sanada terlihat penasaran dengan Ming Fengying yang langsung mengintai setelah Shingen dan Zhao Kun menjelaskan tentang rencana menggulingkan kepemimpinan Walikota Kota Jinning pada mereka semua.


Soo Yun mendekap tangan Ming Fengying erat, gadis manis bermata sayu itu terlihat ketakutan ketika Ming Fengying menjauh.


"Paman Sanada aku mempunyai kekasih seorang ninja dari Yamato yang bernama Harumin. Aku dulu sempat belajar sedikit tentang cara mengintai darinya." Ming Fengying dengan santai mengucapkan perkataan dari ingatan lamanya.


"Hei, Feng! Kau sudah mempunyai perempuan cantik ini dan kau masih mempunyai seorang kekasih dari Yamato! Cih, dasar tukang main perempuan!" Yuan Shi menatap tajam Ming Fengying namun kepalanya kembali dipukul Sanada.


"Jaga mulutmu, bocah!" Sanada menegur Yuan Shi yang tidak sopan kepada Ming Fengying.


"Guru Sanada, menurutku Tuan Muda Ming Fengying tidak pernah pergi ke Yamato. Aku sudah curiga dari dulu, jangan-jangan kau dari masa depan, Tuan Muda Ming Fengying?!" Yuan Shi menelan ludah setelah berkata seperti itu.


"Apa itu benar Fengfeng?" Soo Yun menatap Ming Fengying dengan dua bola matanya yang sayu indah itu.


"Bisa jadi perkataan Yukimura benar apa adanya, aku sendiri belum mengetahuinya secara pasti, apakah aku berasal dari masa lalu atau masa depan. Aku bahkan bisa berbicara saat baru lahir, ada kemungkinan jika aku bereinkarnasi tetapi ini adalah hal yang tidak pasti. Tapi aku yakin bersama kalian semua aku bisa menemukan jawabannya." Ming Fengying tersenyum tipis melihat Sanada dan Yuan Shi yang terkejut, sedangkan Soo Yun hanya tersenyum lembut kepada Ming Fengying.


"Lupakan itu, kita dalam masalah jika menganggap remeh rencana ini. Kita kembali ke lapangan, kita temui ayahku terlebih dahulu." Ming Fengying langsung bergerak menuju lapangan yang ada di kediaman rumah Zhao Kun.


"Anak ini selalu melihat ke depan. Entah apa yang dia lihat, aku tidak pernah mengetahuinya. Maka dari itu aku harus bisa menjadi pedangnya. Pedang yang melindungi Tuan Muda Ming Fengying." Yuan Shi membatin sambil mengikuti Ming Fengying yang sedang bergandengan tangan dengan Soo Yun.


Sanada hanya mengikuti Ming Fengying sambil merasa kagum dengan anak dari pemimpinnya itu. Sesampainya di lapangan terlihat Shingen sedang memakan ikan bakar bersama Zhao Kun.


"Jadi bagaimana, Kenshin? Apakah kau berhasil? Manusia kurang ajar seperti mereka pastinya sedang mabuk malam ini. Itu akan jadi kesempatan kita." Shingen menatap anaknya yang baru selesai mengintai.


Ming Fengying menatap semuanya yang sudah berkumpul, tidak berapa lama Fujin datang setelah mengintai langsung ke kediaman Walikota Kota Jinning yang ada di tengah kota.


"Semua sudah berkumpul, jadi Paman Fujin bagaimana keadaan disana?" Ming Fengying ikut duduk bersama yang lain diikuti Soo Yun yang duduk disampingnya.


Fujin menatap Ming Fengying lama, dia kagum dengan Ming Fengying yang cakapn dalam berbicara seperti Shingen di usia yang begitu muda, Ming Fengying memikirkan rencana penggulingan Walikota Kota Jinning dan mengemukakan rencananya kepada Shingen dan yang lainnya.


"Aku sudah melihat situasi terlebih dahulu." Fujin menatap api unggun dan berkata, "Ini akan menjadi guncangan yang berat diantara para kakak kandung Nona Besar Ming Lian." Semua langsung menatap Fujin.


"Pangeran She telah membentuk Lima Pendekar Bunga Ular. Lambang ular berwarna hijau dan kuncup bunga berwarna merah, itu adalah lambang dari Lima Pendekar Bunga Ular yang dibentuk Pangeran She." Fujin mengepalkan tangannya sebelum berkata, "Dua dari lima pendekar itu berada di kediaman Walikota Kota Jinning!"

__ADS_1


"Apa?!" Shingen merapatkan giginya. Kemudian dia memijat keningnya.


"Cih, sudah kuduga akan seperti ini. Aku tidak menyangka kakak kandung dari istriku mempunyai hubungan dengan seorang pembunuh yang menyamar menjadi Walikota Zhao Lhuo!" Shingen menatap Zhao Kun yang juga terkejut mendengar perkataan Fujin.


"Lebih merepotkan dari yang kukira, dua dari lima pendekar yang telah mencapai tingkat putih. Ini cukup merepotkan," ucap Ming Fengying. Kemudian dia membatin, "Banyak yang berubah. Setelah rencana pembunuhan kepada Kakek Long dan Bunda gagal, lelaki sialan itu membentuk kelompok pendekar yang merepotkan."


Soo Yun melirik wajah Ming Fengying yang mengkerut, gadis bermata sayu itu bisa melihat jika Ming Fengying sedang memikirkan sesuatu.


"Situasi di Permukiman Wuhang tempat rumah bordil dan para gadis tak berdosa yang dipaksa bekerja disana cukup memprihatinkan. Bukan hanya Enam Pendekar Akar yang sedang ada disana tetapi puluhan pendekar aliran hitam yang salah satu dari sepuluh terkuat juga ada disana. Yang paling merepotkan adalah orang yang memimpin mereka, dia adalah Zhang Fei! Salah satu dari Lima Tetua Lembah Bunga Kematian!" Ming Fengying mengepalkan tangannya.


"Jadi ini alasannya kenapa Fengfeng sempat terlihat emosi." Soo Yun membatin menatap Ming Fengying.


"Lima Tetua Lembah Bunga Kematian? Sialan, bagaimana bisa Kota Jinning yang indah ini jadi markas aliran hitam! Tidak akan kubiarkan!" Yuan Shi merapatkan giginya karena banyak yang tidak dia ketuahi tentang pergelojakan yang terjadi di dunia persilatan Kekaisaran Kuru.


Raut wajah Zhao Kun terlihat buruk, dia sadar jika banyak sekali pendekar yang selalu bermain dengan gadis yang ada di rumah bordil, tetapi dia tidak menyangka pendekar itu dari aliran hitam.


Shingen menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu, kemudian dia menggumam pelan, "Seharusnya aku membawa Nobusuke atau Toramasa yang ganas dalam bertarung, hahaha." Dalam suasana yang tegang, suara tawa Shingen mencairkan suasana.


"Sepertinya permintaan saya terlalu merepotkan Tuan Shingen dan Tuan Muda Ming Fengying maupun Tuan Samurai yang lain. Apa lebih baik saya ikut pergi ke Pegunungan Tiangan dan menyewa pendekar?" Shingen langsung menepuk pundak Zhao Kun dan menatapnya dengan tajam.


"Masalah ini sulit diselesaikan jika menyewa pendekar dari aliran putih." Shingen menatap Ming Fengying yang langsung menanggapi perkataan Zhao Kun.


Shingen, Fujin, Sanada dan Yuan Shi ikut tertawa pelan mendengar perkataan Ming Fengying.


"Ya, benar sekali, Kenshin. Kau memang anakku!" Shingen tersenyum tipis menatap Ming Fengying.


"Anu ... maaf." Suara menggemaskan Soo Yun membuat semua orang menatap gadis bermata sayu itu.


"Fengfeng! Aku takut!" Soo Yun memeluk Ming Fengying dan menyembunyikan wajahnya di dada Ming Fengying.


Fujin dan Sanada langsung mengalihkan pandangan karena mereka berdua menyadari jika Soo Yun sangat takut kepada orang lain selain Ming Fengying.


"Ada apa, calon menantuku?" Shingen tertawa pelan melihat Soo Yun yang malu-malu.


"Yunyun, ada apa sebenarnya?" Ming Fengying mengelus rambut Soo Yun dan menyuruh gadis bermata sayu itu agar tidak malu-malu lagi.


"Fengfeng izinkan aku ikut dalam rencanamu!" Semua orang terkejut mendengarnya, terutama Ming Fengying langsung melebar matanya menatap Soo Yun.


"Yunyun aku tidak akan mengizinkanmu. Ini adalah pertarungan yang akan langsung berhadapan dengan kematian! Bahkan kemampuanku sebenarnya masih dibawah tujuh pendekar yang ada di rumah bordil yang ada di Permukiman Wuhang!" Soo Yun tidak berani melihat Ming Fengying.

__ADS_1


"Kenshin kita dengarkan dulu rencana dari kekasihmu itu. Ayah bisa mengerti kenapa kau mengkhawatirkan kekasihmu, karena ayah pernah merasakannya sendiri." Shingen mengelus dagunya dan memejamkan matanya.


Ming Fengying menghela napas panjang kemudian dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Baiklah, aku akan mendengarkannya tapi jangan katakan hal yang bodoh. Kau sudah membuatku khawatir padamu, Yunyun." Ming Fengying menyentuh rambut halus Soo Yun.


"Fengfeng..." Soo Yun tersenyum menatap Ming Fengying.


"Baiklah, sekarang jelaskan rencanamu pada kami semua, Yunyun. Kita harus cepat bertindak." Ming Fengying tersenyum pada Soo Yun sambil mengusap matanya.


Soo Yun sedikit merasa bersalah mengingat Ming Fengying yang belum tidur hampir dua hari lamanya.


"Aku harus membantu Fengfeng. Dia terlihat menerima aku apa adanya. Dia laki-laki yang menyembunyikan rasa lelahnya demi diriku." Soo Yun membatin penuh perasaan. Tidak berapa lama gadis muda bermata sayu itu menatap tanah dan menjelaskan rencana kepada Ming Fengying dan yang lainnya.


"Ini rencana dariku..."


***


Tanah yang kekeringan dan malam yang panjang, seorang pendekar yang telah mengambil alih tubuh Wang Guoxiang sedang tergeletak di tanah.


"Sialan kau, Shingen!" Wang Zhou berteriak penuh kebencian.


"Akan kubuat Pertemuan Putih Suci menjadi pertemuan berdarah!" Wang Zhou berhasil memalsukan kematiannya, tetapi tubuh Wang Guoxiang hampir terbakar sepenuhnya. Bahkan sekarang tangan dan kaki yang ada di tubuh Wang Guoxiang tersisa satu. Dia berjalan dua hari belakangan ini dengan cara merangkak di tanah.


"Berapa hari lagi aku sampai di Lembah Darah?! Semua ini salahnya!" Wang Zhou menatap langit malam yang gelap penuh kebencian.


Tidak berapa lama angin berhembus kencang, senyuman lebar menyeringai di wajah Wang Zhou yang mengambil alih tubuh sekarat penuh luka terbakar milik Wang Guoxiang.


"Lama sekali kau datang, Saudaraku!" Wang Zhou mendongak kepalanya mencoba melihat sosok pria paruh baya yang datang menghampirinya.


"Menyedihkan sekali nasibmu, kuharap lawanmu tidak mengetahui cara untuk membunuh pengguna ilmu jiwa pembangkitan." Wang Zhou tertawa keras mendengar pria paruh baya yang datang menghampirinya terlihat begitu khawatir. Pria paruh baya itu termasuk salah satu dari Tiga Darah.


"Tenang saja, mereka tidak mengetahui apapun, bahkan tidak sadar jika aku masih hidup, sangat bodoh sekali Shingen sialan itu!" Wang Zhou melempar sebuah catatan kuno ke arah pria paruh baya tersebut dan berkata, "Aku berhasil mendapatkannya, kita akan mengincar Pegunungan Tiangan bersama Sekte Cakrawala Hitam. Aku harus memenggal kepala Shingen dengan tanganku sendiri!"


"Pikirkan itu setelah kita sampai di Lembah Darah. Aku akan mencari manusia muda terlebih dahulu untukmu. Kau cukup tunggu disini sebentar, Saudara Zhou. Akan kucarikan tubuh yang lebih baik dari itu." Pria paruh baya tersebut menanggapi perkataan Wang Zhou dan langsung pergi.


"Aku akan menunggu. Akhirnya telah tiba, kita akan melihat prasasti emas yang ada disana!" Wang Zhou memejamkan matanya dan mengambil sebuah cincin yang ada di jubah milik Wang Guoxiang.


***

__ADS_1


__ADS_2