Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 38 : Gagalnya Rencana Xia Hu


__ADS_3

Pertempuran malam berdarah di Bei telah berakhir ketika identitas Kamejiro terungkap dan gagalnya rencana Xia Hu.


Xia Hu berniat membunuh Kaisar Ming Long dan Ming Lian. Rencana yang telah dipikirkan matang - matang oleh Xia Hu hancur berantakan ketika di ruangan Istana Pinyin ada Toramasa dan Tao Lulu yang menghadang dirinya.


Xia Hu menyuruh kakaknya sendiri yang tak lain adalah Xia Lai untuk menghadang Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie tetapi semua telah gagal.


Beberapa menit yang lalu sebelum Xia Hu berlari ke arah Xia Lai untuk melarikan diri. Di dalam salah satu ruangan yang ada di Istana Pinyin, Ming Fengying yang sedang digendong Ming Lian mengamati jalannya pertarungan dengan mata burung beo yang sedang terbang di atas Kota Bei menuju Istana Pinyin.


Ming Fengying menggunakan ilmu pengendali hati pada burung beo sehingga ia dapat mengetahui jalannya pertempuran berdarah itu. Seluruh perasaan Ming Fengying bercampur aduk karena dengan gagalnya rencana Pangeran She untuk yang ketiga kalinya pasti akan terjadi hal yang lebih besar daripada pertempuran malam di Bei.


Burung beo terbang di luar Istana Pinyin untuk mengamati jalannya pertarungan, Ming Fengying terkejut dengan identitas pengkhianat samurai pengikut ayahnya sendiri.


Ming Fengying hanya bisa berharap jika yang menjadi pengkhianat hanya satu orang karena firasatnya masih belum tenang walaupun Kamejiro telah mati.


Ming Fengying melihat Xia Hu mengambil jalan memutar untuk menyusup ke Istana Pinyin. Burung beo yang ia kendalikan sangat menguntungkannya tetapi ia khawatir melihat orang yang bersama Xia Hu. Ming Fengying berharap jika Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie dapat menghadapi Xia Lai.


Tidak berapa lama setelah Xia Hu memasuki Istana Pinyin. Ming Fengying melihat Tao Lulu sedang berlari ke arah pintu ruangan yang sedang menjadi tempat persembunyian Ming Lian bersama keluarganya.


Ming Fengying mengedipkan matanya tiga kali dan tak lama Toramasa membuka lemari yang ada di ruangan tersebut. Kehadiran Toramasa membuat Kaisar Ming Long dan Yi Min terkejut tetapi lain ceritanya dengan Pangeran She yang berwajah senang dan tersenyum lebar.


Ming Fengying menatap tajam Pangeran She dari mata mungilnya dan memperkirakan kekuatan Xia Hu. Tidak berapa lama Tao Lulu membuka pintu sambil menangkis pedang Xia Hu dengan pisau kecilnya.


"Tuan Toramasa!" teriak Tao Lulu pada Toramasa.


Pangeran She mengkerutkan wajahnya melihat Tao Lulu ada di depan pintu, seluruh rencana Pangeran She telah gagal kembali. Pangeran She hendak melempar sesuatu ke arah Ming Lian tetapi Ming Fengying mengendalikan burung beo untuk mematuk wajah Pangeran She.


Kaisar Ming Long dan Yi Min menatap tajam Pangeran She yang terlihat mencurigakan. Ming Lian memeluk bayi mungilnya dengan erat karena ia takut melihat salah satu pendekar aliran hitam yang menyusup.


"Ying'er..." gumam Ming Lian lirih dengan mata yang berkaca - kaca ia menatap Ming Fengying.


Ming Fengying memeluk ibunya dengan tangan mungilnya sambil memejamkan matanya. Ming Fengying kembali mengendalikan burung beo untuk mencakar wajah Pangeran She, dalam hati Ming Fengying ia merasa senang karena telah melukai wajah Pangeran She.

__ADS_1


Ming Lian dan Yi Min yang tegang menjadi kembali tenang setelah mendengar gelak tawa menggemaskan dari Ming Fengying. Suara tawa Ming Fengying yang terdengar lucu dan mencairkan suasana yang tegang.


Pangeran She meringis kesakitan melihat wajahnya terluka, darah segar keluar dari wajahnya walau hanya sedikit tetapi bagi Pangeran She ini adalah sebuah penghinaan.


"Kubunuh kau burung sialan!" teriak Pangeran She mengejar burung beo yang sedang Ming Fengying kendalikan.


Kaisar Ming Long sampai tidak dapat berbicara apa - apa ketika melihat Pangeran She mengejar burung beo. Dalam hati Kaisar Ming Long ia mencurigai Pangeran She tetapi dirinya yang dari dulu telah mempercayai perkataan Pangeran She tidak dapat berprasangka buruk pada Pangeran She.


Ming Fengying membuka matanya dan menatap wajah ibunya yang sedang cemas kemudian ia mengulurkan tangannya yang mungil pada wajah Ming Lian.


Ming Lian tersenyum dan mencium pipi Ming Fengying. Suara senjata yang saling berbenturan tidak menganggu Ming Lian untuk tetap tenang dihadapan buah hatinya.


Tao Lulu membiarkan Toramasa untuk mengurus Xia Hu kemudian ia berlari ke arah jendela yang ada di ruangan tersebut. Tao Lulu menghancurkan jendela itu dengan tenaga dalamnya dan melihat penyusup yang telah mati karena terkena racun makanan yang dibuat Xia Hu.


"Tuan Putri sepertinya ada penyusup yang memberi racun pada makanan pengawal Pangeran She." ucap Tao Lulu sambil mendekati Ming Lian.


Raut wajah Pangeran She berkeringat dingin dan tak lama ia menatap tajam Tao Lulu dan Ming Lian. Suara Pangeran She tertahan ketika ingin menuduh pelayan pribadi Ming Lian yang memasak dan memberi racun tersebut.


Xia Hu merapatakan giginya karena ia tidak menyangka rencananya akan gagal kembali. Serangan dari dua arah membuatnya terdesak bahkan Toramasa saja belum menggunakan kekuatan yang sebenarnya.


Xia Hu ketakutan melihat wajah Toramasa yang tersenyum setiap kali ia menebas badan pria tersebut.


"Ada apa dengan pria ini? Ada yang salah dengan otaknya!" batin Xia Hu merinding melihat raut wajah Toramasa.


Toramasa mengayunkan katananya dengan cepat sambil beberapa kali dia bergerak menggunakan langkah tipuan. Toramasa berencana untuk menangkap Xia Hu dan mengincar titik lemah lawannya tersebut.


"Aku akan mencincangmu dengan ganas!" ucap Toramasa mengintimidasi Xia Hu.


Toramasa membuat Xia Hu terdesak dan dia tersenyum lebar melihat Xia Hu yang menahan tebasan katananya.


Xia Hu berusaha menjauhkan tubuhnya dari Toramasa tetapi tenaga Toramasa lebih kuat dari yang ia perkirakan. Tidak berapa lama Xia Hu melihat sekejap Tao Lulu yang menggunakan pisau kecil yang telah dilapisi cairan pelumpuh ke arah dirinya.

__ADS_1


"Aku harus kabur dari sini!" batin Xia Hu setelah mendapatkan rencana pelariannya.


Tao Lulu melemparkan pisau kecilnya dengan cepat ke arah Xia Hu. Pisau kecil milik Tao Lulu terbang ke arah Xia Hu tetapi Xia Hu mendorong tubuh Toramasa. Puluhan pisau kecil tertancap di punggung Toramasa, melihat hal itu Tao Lulu langsung berlari ke arah Xia Hu.


Ming Fengying yang melihat tindakan Toramasa hanya diam karena ia tidak menyangka akan melihat orang konyol seperti Toramasa.


"Mataku buram..." gumam Toramasa sebelum jatuh ke tanah.


Xia Hu langsung berlari menjauh dari ruangan tersebut dan keluar Istana Pinyin. Tao Lulu berhenti dan mengobati Toramasa terlebih dahulu.


"Tuan Toramasa kenapa kau bisa sebodoh ini?" Tao Lulu menghela napas panjang melihat Toramasa yang terbaring di lantai.


"Aku lihat dia memamerkan dadanya jadi aku sedikit lengah..." jawab Toramasa sambil tersenyum lebar.


Tao Lulu mengerutkan dahinya dan mencubit tangan Toramasa.


Sementara itu Xia Hu berlari keluar Istana Pinyin dan ia melihat Xia Lai juga telah terdesak.


"Kak! Cepat pergi dari sini!" teriak Xia Hu pada Xia Lai.


Xia Hu berlari ke arah Xia Lai dan memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran bunga yang berhamburan untuk menutup jalan.


Xia Lai memanipulasi auranya dan meciptakan dinding air untuk menghambat Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie.


Xia Lai mengikuti Xia Hu dan mereka berdua pergi dari wilayah Bei dengan sekuat tenaga mereka.


Xia Lai masih ingin menghabisi Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie tetapi ia merasakan nafsu membunuh yang begitu besar sehingga Xia Lai lebih memilih mengikuti Xia Hu untuk kabur dari Bei.


"Saudara Xiao telah mati..." gumam Xia Lai ketika melihat cincin di jarinya menyala berwarna merah.


Xia Lai bisa menduga jika yang membunuh Xiao Shan adalah Shingen dan nafsu membunuh yang membuatnya ketakutan juga berasal dari Shingen.

__ADS_1


Pertempuran malam berdarah di Bei telah berakhir. Malam berdarah di Bei adalah awal dari segalanya, cepat atau lambat pertempuran yang lebih besar akan terjadi kembali.


__ADS_2