
Ganjil sudah Ming Fengying dan Soo Yun berada di dalam kamar yang sama. Sudah lima hari mereka berdua tidak bercerita dan saling bertegur sapa seperti biasa. Namun hari ini Ming Fengying memberanikan diri untuk mengambil kursi dan menaruhnya di samping ranjang.
Ming Fengying menatap Soo Yun yang tertidur lelap. "Tuan Putri bermata sayu yang terlihat begitu lucu saat tertidur..." Ming Fengying menjadi gemas melihat Soo Yun namun dia tidak berani menyentuh tangan gadis bermata sayu itu.
Tidak berapa lama mata sayu Soo Yun terbuka pelan-pelan. "Fengfeng..." Bibir mungil itu merekah sedangkan tangan Soo Yun sedang menggesek matanya.
Ming Fengying memegang tangan Soo Yun dan menyentuh pipi gadis bermata sayu itu. "Yunyun. Temani aku sebentar. Aku ingin bercerita padamu tentang tubuhmu." Sontak Soo Yun yang masih mengantuk langsung mendapatkan kembali seluruh kesadarannya.
"Jangan macam-macam denganku!" Mata sayunya melebar dan menatap tajam Ming Fengying.
"Bukan itu maksudku. Sini ikut aku, lihat pemandangan pagi disini. Sinar matahari pagi terlihat indah." Ming Fengying menhiraukan Soo Yun dan duduk di bangku panjang yang ada di dekat jendela.
Soo Yun mengikuti Ming Fengying dan duduk disampingnya. "Indahnya..." Gumam Soo Yun ketika melihat matahari mulai terbit secara perlahan.
Ming Fengying bahagia melihat reaksi Soo Yun. Dia ingin memastikan jika Soo Yun memiliki sifat yang sama seperti Harumi.
"Yunyun, bisa kau beritahu tentang Negeri Jisa?" Ming Fengying bertanya dan menatap mata Soo Yun.
Gadis bermata sayu itu terlihat enggan bercerita tentang Negeri Jisa kepada Ming Fengying.
"Fengfeng. Apa kamu mulai tertarik padaku karena telah mengetahui tubuhku yang memiliki tubuh Jelmaan Dewi Air?" Terlihat Soo Yun menatap tajam Ming Fengying. "Aku tidak menyukai laki-laki yang mempermainkan perasaan seorang perempuan."
Ming Fengying justru penasaran dengan masa lalu Soo Yun. Namun satu hal, dia bisa melihat mata sayu yang indah itu tersirat kesedihan dan kebencian yang mendalam.
"Yunyun, apakah rasa suka itu butuh alasan? Apakah rasa cinta butuh alasan?" Ming Fengying menyandarkan tubuhnya ke bangku dan tersenyum tipis. "Sama seperti manusia yang tidak henti-hentinya berperang dan bertempur. Kedua perasaan itu tidak memiliki alasan yang kuat. Semua itu hanya terlahir dari kebencian. Ya, perasaaan itu hanyalah lahir dari lingkaran kebencian."
Soo Yun menatap Ming Fengying berkaca-kaca. Melihat itu, Ming Fengying membelai rambut halus gadis bermata sayu di depannya sebelum mendekapnya.
"Senyumanmu yang indah, menyembunyikan kesedihan dihatimu. Aku adalah penikmat senyummu, Yunyun. Aku tidak akan dan tidak ingin kehilangan senyumanmu itu!" Ming Fengying mendekap tubuh Soo Yun dan memeluknya.
"Aku bisa tahu kebencian dihatimu. Dan maaf telah bertanya tentang masa lalumu. Tetapi aku tidak ingin kamu jatuh dalam lingkaran kebencian itu. Jangan kamu menanggung semuanya sendirian, setidaknya izinkan aku untuk menggantikan dirimu menghadapi kebencian itu." Ming Fengying berbisik di telinga Soo Yun.
Perlahan tangan Soo Yun menutup mulutnya, sedangkan kedua bola matanya yang sayu itu mengeluarkan air mata yang berlinang.
Ming Fengying mengelus rambut halus Soo Yun. Kemudian dengan lembut Ming Fengying mengecup kening Soo Yun.
Tindakan Ming Fengying membuat wajah Soo Yun merah merona. Tangan pemuda itu sekarang menyeka air matanya dan mengangkat wajahnya agar bola matanya yang sayu bisa ditatap oleh Ming Fengying.
"Fengfeng..." Soo Yun malu ketika melihat mata Ming Fengying yang sangat dekat dengannya. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan. Ming Fengying dengan cepat memalingkan wajahnya.
Sontak Soo Yun juga sadar jika dia hampir kehilangan ciuman pertamanya. "Aku pikir kata-kataku hanyalah candaan. Dan aku selalu bersikap seperti anak kecil yang aneh sehingga semua orang menjauhiku, tetapi Fengfeng dan Ayah Mertua sangat baik padaku," batin Soo Yun.
__ADS_1
"Tidak salah lagi. Aku telah jatuh cinta padanya. Tadi hampir saja." Ming Fengying membatin sembari melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Aku menyukai, Fengfeng. Tetapi dia lebih muda dariku. Apa aku harus bersikap seperti anak kecil seperti biasanya?" Soo Yun memalingkan wajahnya karena kebingungan.
Tidak berapa lama Ming Fengying beranjak dari bangku dan berjalan menuju kamar mandi.
"Perasaan ini. Ini sama dengan yang tertulis di cerita Karya Sypho." Soo Yun senyum-senyum sendiri sembari mengeluarkan buku cerita yang menurut Ming Fengying pencipta buku tersebut berasal dari luar Benua Jiu.
***
Keesokan harinya, dua hari menuju Pertemuan Putih Suci dan hari dimana Ming Fengying dan Soo Yun bisa keluar dari kamar yang mengekang mereka.
"Tuan Putri." Ming Fengying menyapa Soo Yun yang sedang berdandan.
"Apaan sih? Dasar Pangeran Nakal," ketus Soo Yun yang sedang memakai jepit rambut kupu-kupu berwarna merah muda untuk meghiasi rambut halusnya.
Ming Fengying yang melihat Soo Yun kesusahan memasang jepit rambut itu, langsung memberanikan diri untuk memasangkan jepit rambut kupu-kupu berwarna merah muda ke rambut halus Soo Yun.
"Biar aku yang memasangnya, Tuan Putri Sayu." Ming Fengying berbicara dengan nada yang menggoda. Soo Yun tertawa geli mendengarnya.
"Dasar, Pangeran Nakal," ujar Soo Yun, tangannya mencubit pipi Ming Fengying yang telah selesai menjepit jepitan rambut di rambutnya yang hitam dan halus itu.
"Lihat aku." Tangan Ming Fengying memegang kedua pipi Soo Yun. "Kamu cantik dan manis. Tetapi aku sangat menyukai matamu itu." Ming Fengying memuji Soo Yun dengan apa yang terlintas dipikirannya.
"Ayo pergi," ajak Ming Fengying sembari menarik tangan Soo Yun dengan lembut.
Di luar Istana Langit terlihat banyak pendekar yang sudah berdatangan ke Lembah Pegunungan Tiangan.
Ming Fengying membawa Soo Yun ke tempat yang paling indah menurutnya. Tempat yang bisa menenangkan hati dan jiwa.
Ming Fengying membawa Soo Yun ke sebuah jalan setapak yang mengarah ke atas puncak dari Pegunungan Tiangan. Hutan-hutan hijau yang indah membuat udara disekitar menjadi sejuk.
"Maaf. Tapi aku tidak ingin kamu kelelahan, Yunyun." Ming Fengying langsung menggendong tubuh Soo Yun dari depan.
Sontak Soo Yun kebingungan. "Fengfeng turunkan aku!" Protes Soo Yun karena Ming Fengying membawanya masuk ke dalam hutan.
Ming Fengying hanya diam dan terus membawa tubuh Soo Yun menuju puncak Pegunungan Tiangan. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Soo Yun melingkarkan tangannya di leher Ming Fengying. Sedangkan wajahnya dia benamkan di bahu Ming Fengying.
Sesampainya di puncak Pegunungan Tiangan, Ming Fengying menutup mata Soo Yun dan menurunkan tubuh gadis bermata sayu itu pelan-pelan.
"Apaan sih?" Soo Yun memberontak. "Fenfeng! Jangan macam-macam denganku!"
__ADS_1
Ming Fengying mendekap tubuh Soo Yun dari belakang. "Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" Jantung Ming Fengying berdebar kencang ketika mendekap tubuh Soo Yun dari belakang.
Tentu Soo Yun menyukai pemandangan yang Indah ini. Dunia serasa sangat kecil dari atas puncak ini. Dan tentu Soo Yun merasa kesepian, namun dekapan Ming Fengying membuatnya merasa tidak sendirian.
"Aku menyukaimu, Fengfeng..." Soo Yun menjawab lirih.
"Maksudmu?" Ming Fengying bertanya memastikan.
"Aku menyukai pemandangan ini!" Soo Yun memanyunkan wajahnya karena salah berbicara.
"Ya, aku juga menyukainya. Baik pemandangan ini ataupun dirimu, Yunyun." Ming Fengying melepas pelukannya dan berdiri di samping Soo Yun.
"Apa dia tadi menyatakan perasaannya padaku?" Soo Yun membatin penasaran.
"Aku ingin mengolah pernapasan. Apa kamu mau ikut?" Ming Fengying menatap Soo Yun sebelum duduk di atas batu putih yang ada di puncak Pegunungan Tiangan.
Soo Yun hanya mengangguk lirih dan tidak bisa menolak setiap ajakan Ming Fengying. Setelah mereka berdua duduk, Ming Fengying menyandarkan punggungnya pada punggung Soo Yun, begitu juga dengan Soo Yun yang menyandarkan punggungnya pada punggung Ming Fengying.
Kemudian Ming Fengying memberi arahan pada Soo Yun untuk melatih pernapasan dasar.
Ming Fengying dan Soo Yun berada di puncak Pegunungan Tiangan sampai sore hari untuk menikmati senja. Setelah itu mereka pulang kembali ke Istana Langit dan langsung makan bersama sebelum keduanya mandi malam dan tidur.
Sebelum tertidur, Soo Yun senyum-senyum sendiri dan menatap Ming Fengying yang sedang berbaring di atas bangku panjang. "Terimakasih, Fengfeng. Kamu telah berusaha menghiburku. Aku akan menceritakan masa laluku padamu jika aku telah siap untuk menceritakannya," batin Soo Yun.
"Benar kata Bunda. Tuhan tidak pernah tidur. Suatu saat aku akan menemukan seseorang yang dapat kuandalkan. Dan aku yakin orang itu adalah kamu, Fengfeng," tambahnya sebelum tertidur lelap.
___
Terimakasih sudah membaca novel Love in Jiu War (LJW) Semoga kalian menikmati alur cerita yang berjalan pelan ini hehe.
Note : Keturunan Titisan Dewa-Dewi sama dengan yang di Kagutsuchi Nagato. Dari kutukan kuno dan naga. Dan di dunia LJW maupun KN yang masih menyatu ini, hanya beda benua aja. Ada negeri para pesilat yang nama karakternya masih Indonesia. Mereka adalah Keluarga Prabu dari Benua Raya yang sekarang dijajah Kekaisaran Bahamut. Tsukuyomi Kenshin/Ming Fengying termasuk teman Kagutsuchi Nagato yang akan melakukan perang besar di Benua Raya melawan Organisasi Disaster+Kekaisaran Bahamut+aliansi. Mudah-mudahan author diberi panjang umur karena target tahun depan masuk babak situ. Cukup basa-basinya.
Author mengucapkan terimakasih pada yang sudah membaca.
LoSHT Gak Rewel.
Note : 1 ~ 7 ~ 2020 — 11 ~ 7 ~ 2020.
22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)
122 Like : Bonus 1 chapter.(0/5)
__ADS_1
1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)
Bonus Chapter Malming : 0/25.