
Beberapa menit sebelum Shingen memberikan kartu berwarna putih kepada Mao Gang. Pertarungan sengit terjadi antara Ming Fengying dan Yuan Shi melawan Wang Guoxiang.
Benturan antara kedua katana dan pukulan tangan Wang Guoxiang menggema, berkali-kali Ming Fengying melesatkan tebasan katana yang mematikan namun semuanya dapat ditangkis oleh Wang Guoxiang menggunakan tangkisan tangannya.
"Sepertinya dia mengeraskan seluruh kulitnya." Ming Fengying menangkis pukulan Wang Guoxiang sambil mencari celah di setiap tubuh Wang Guoxiang. Konsentrasi Ming Fengying membuat Yuan Shi memikirkan rencana matang untuk mengalahkan Wang Guoxiang.
"Feng, aku ada sedikit rencana," ucap Yuan Shi pada Ming Fengying di sela-sela pertarungan. Mendengar perkataan Yuan Shi membuat Ming Fengying menaikan alisnya sedikit karena penasaran dengan rencana Yuan Shi. "Apa rencanamu?" Ming Fengying bertanya pada Yuan Shi.
"Cukup mudah, kita serang bagian bawahnya," jawab Yuan Shi sambil menatap tajam sela-sela ************ Wang Guoxiang. "Bagaimana, Feng?"
Ming Fengying memejamkan matanya dan menyerang Wang Guoxiang lebih cepat. "Maaf, seorang samurai mempunyai prinsip tersendiri. Itu yang diajarkan ayahku. Aku tidak Sudi menang dengan cara yang memalukan." Ming Fengying memutarkan tubuhnya dengan cepat, pusaran angin berwarna biru muda menghempaskan tubuh Wang Guoxiang.
"M-Maaf ... benar perkataanmu, Feng." Yuan Shi menelan ludah melihat Ming Fengying.
Keduanya kini bertarung sengit melawan Wang Guoxiang. Pertarungan sengit itu berakhir dalam sesaat, sebuah pedang darah menembus jantung Wang Guoxiang. Raut wajah Ming Fengying dan Yuan Shi sangat pucat, pertarungan mereka diganggu oleh Wang Zhou.
"Bukankah dia sudah mati?!" Shingen merapatkan giginya melihat pendekar dari Sekte Lembah Darah berdiri. Katananya yang telah dia sarungkan dengan rapi langsung ditarik, dengan cepat Shingen menebas tubuh pendekar yang diambil alih tubuhnya oleh Wang Zhou.
"Kekuatan yang merepotkan." Shingen berdecak kesal melihat dirinya yang gagal membunuh Wang Zhou. "Dia bisa berganti-ganti tubuh sesukanya, memperpanjang umur! Jangan pernah mempermainkan kehidupan seseorang, sialan!" Shingen berteriak sambil melepaskan auranya yang berwarna merah ke sembarang arah.
Ming Fengying mengecek denyut nadi Wang Guoxiang. Nyawa Wang Guoxiang telah melayang, perasaan yang dirasakan Ming Fengying saat ini sangat kesal. Karena Pertarungannya ternodai oleh Wang Zhou.
"Andai aku saat itu tidak menyia-nyiakan hidupku!" Batin Ming Fengying masih menyesali kehidupan sebelumnya.
Ilmu jiwa pembangkitan tidak diketahui banyak oleh Ming Fengying di kehidupan sebelumnya, masih banyak hal yang tidak diketahui Ming Fengying.
__ADS_1
"Dia sudah mati," ucap Ming Fengying ketika Fujin dan Sanada mendekati tubuh Wang Guoxiang.
Setelah situasi mulai tenang kembali, Shingen menyuruh Mao Gang dan Mu Shang untuk segera ke Bei.
"Kita bakar saja tempat ini, Mao." Mu Shang menatap mayat-mayat pendekar Sekte Lembah Darah yang telah mengering. Mao Gang hanya mengangguk pelan, masih tidak dia sangka jika Dong Hao telah lama mati.
Ming Fengying dan Yuan Shi membantu mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan di satu tempat, sedangkan Fujin dan Sanada mengecek keadaan di sekitar mereka.
Selesai mengumpulkan mayat-mayat pendekar Sekte Lembah Darah dalam satu tempat, Shingen yang sedang menunggangi kuda membakar tumpukan mayat-mayat yang telah dikumpulkan Mao Gang dan Mu Shang.
"Kalian pakailah dua kuda itu," ujar Shingen pada Mao Gang dan Mu Shang. Mendengar perkataan Shingen tentu keduanya merasa sungkan, kebaikan Shingen membuat Mao Gang dan Mu Shang merasa tidak pantas memakai kuda yang ditunggangi Ming Fengying dan Yuan Shi.
"Tetapi, tuan Shingen ... bukankah kalian sedang bergegas menuju Pegunungan Tiangan ..." Mao Gang menatap Shingen sesaat sebelum melihat Ming Fengying dan Yuan Shi. "Dua kuda ini milik tuan muda Ming Fengying dan tuan muda Yuan Shi. Bagaimana bisa saya mengambil kuda yang menjadi kendaraan mereka berdua?"
"Tenang saja, anakku akan menaiki kuda ini. Sementara Yuan Shi akan bersama Sanada." Shingen tersenyum tipis melihat Mao Gang dan Mu Shang yang terlihat sangat jujur.
"Pakai saja kudaku, aku akan ikut ayahku." Ming Fengying tersenyum pada Mao Gang dan Mu Shang sambil menyentuh punggung kuda yang sedang ditunggangi Shingen.
"Tidak perlu sungkan, paman." Yuan Shi berjalan mendekati Mao Gang dan Mu Shang. "Pakai saja kuda kami berdua, ada hal yang harus kalian lakukan sekarang," tambah Yuan Shi menatap Haori dan Feng Yan.
"Benar juga perkataan anak muda ini," batin Mao Gang sambil menatap Haori dan Feng Yan.
"Tuan Shingen terimakasih banyak. Saya tidak akan melupakan kebaikan anda seumur hidup saya." Mao Gang menunduk pada Shingen diikuti Mu Shang.
Shingen menatap tajam Mao Gang dan Mu Shang. "Angkat kepala kalian! Seorang lelaki tidak boleh tunduk pada sembarang orang!" Shingen berkata dengan tegas sambil menggertakkan giginya selesai berbicara.
__ADS_1
Shingen sangat tidak menyukai melihat orang yang mudah tunduk pada orang lain, tidak berapa lama dia melirik anaknya yang sedang menatap dirinya penuh keheranan.
"Ada apa, Kenshin?" Shingen bertanya pelan pada Ming Fengying yang menatap dirinya. Ming Fengying menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Tidak, ayah. Kenshin hanya kagum dengan kharisma ayah," jelas Ming Fengying mengagumi sosok ayahnya yang dapat membuat orang-orang mengikutinya.
"Kau sudah pandai berbicara." Shingen tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Kalau begitu, saya permisi tuan Shingen, tuan muda Ming Fengying dan tuan samurai. Terimakasih banyak, saya akan menunggu kedatangan kalian di Bei." Mao Gang menaruh tubuh Feng Yan di punggung kuda dan mengikatnya. Tidak berapa lama dia memacu kuda yang dipakai Yuan Shi ke arah Bei.
Raut wajah Shingen, Ming Fengying, Yuan Shi, Sanada dan Fujin sangat terkejut melihat Mao Gang yang mengikat tubuh Feng Yan layaknya sebuah barang bawaan. Tidak berapa lama Mu Shang juga mengikuti Mao Gang dari belakang. Tubuh Haori duduk di punggung kuda, dengan kedua tangannya dan badannya yang diikat ke tubuh Mu Shang.
Setelah Mao Gang dan Mu Shang sudah menjauh, barulah Shingen dan yang lain melanjutkan perjalanan menuju Pegunungan Tiangan.
Tidak seperti sebelumnya, di mana mereka berlomba memacu kuda. Kini kuda yang mereka tunggangi berjalan pelan, Shingen mencari tempat istirahat yang nyaman untuk mereka.
"Lebih baik kita istirahat di kota. Perjalanan masih jauh, tapi kita malah tersesat." Shingen sedikit mengeluh ketika memacu kudanya. Sedangkan Ming Fengying melingkarkan kedua tangannya pada perut ayahnya.
Tidak berapa lama matahari mulai terbit, Shingen bisa melihat jika mereka keluar jalan besar yang menuntun mereka ke Kota Huaran.
"Ayah, bagaimana bisa kemarin kita tersesat." Ming Fengying tertawa sendiri mengingat kekonyolan mereka ketika berlomba.
"Kita terlalu asyik memacu kuda, sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu. Kuda juga butuh istirahat, kita jangan terlalu memaksakan kehendak kita pada kuda yang telah menolong kita," ujar Shingen pelan sambil tersenyum penuh paksaan karena dirinya juga merasa malu sebagai seorang ayah, bagaimana mungkin seorang ayah berlomba dengan anaknya dan yang lebih parahnya lagi dia tersesat.
Setelah sampai di sebuah hutan, Shingen memberi isyarat pada yang lainnya untuk berhenti. Perlahan dia turun dari punggung kuda dan mencari sungai. Ming Fengying mengikuti ayahnya, sedangkan Fujin dan Sanada langsung mencari makanan yang tersedia di hutan.
"Guru, tunggu aku..." Yuan Shi berlari mengejar Fujin dan Sanada.
__ADS_1