
Lin Kin tidak percaya Ming Fengying bisa membaca tulisan yang tertera di halaman depan Kitab Bintang Surgawi. "Tuan Muda Ming Fengying..." Tenggorokan Lin Kin terasa penuh, kemudian di menelan ludah. "Apa Tuan Muda bisa melihat tulisannya? Bukankah disini tidak ada apapun selain sebuah kertas-kertas lapuk yang tua ini?"
Ming Fengying diam sesaat dan mengambil kesimpulan. "Kakek Lin. Mungkin karena aku menggunakan mata Tsukuyomi. Jadi aku bisa membacanya." Kemudian Ming Fengying menatap ayahnya.
"Maaf ayah, Kenshin tadi menggunakan kekuatan Tsukuyomi..." Ming Fengying merasa bersalah.
Shingen menghela napas panjang. "Kenshin. Semenjak Bunda meminum sesuatu saat perjalanan pulang dari Ibu Kota Haining. Keajaiban maupun misteri terus berdatangan pada kehidupan Ayah dan Bunda yang tidak bisa kami berdua pecahkan sampai saat ini." Tangan Shingen mengelus kepala Ming Fengying.
"Terutama saat kamu bisa berbicara setelah lahir. Itu adalah keajaiban. Apa Bunda sudah memberitahumu tentang indera perasa Bunda yang tidak bisa merasakan apapun?" Shingen bertanya memastikan.
Ming Fengying menggeleng. "Kenshin baru tahu, ayah. Apa yang terjadi pada Bunda?" Tanya Ming Fengying mengkhawatirkan kondisi Ming Lian.
Raut wajah Shingen sedikit terkejut. Dalam benaknya dia bertanya-tanya dan pandangan mata kanannya menatap wajah anaknya yang terlihat penasaran dan khawatir pada kondisi Ming Lian. "Sayang, kenapa kamu tidak menceritakannya kepada Kenshin?" Benaknya.
"Kamu akan kuberi tahu saat kita pulang ke rumah." Shingen tersenyum dan berjalan mendekati dua prasasti yang ada di Ruang Awan Merah Muda.
Sementara itu Lin Kin memberikan Kitab Bintang Surgawi kepada Ming Fengying. "Tuan Muda Ming Fengying. Apakah Tuan Muda tertarik untuk menjadi murid dari Sekte Taman Langit?" Ajakan Lin Kin membuat Ming Fengying merasa senang, namun dia melihat reaksi ayahnya terlebih dahulu.
Terlihat Shingen tidak menggubris perkataan Lin Kin. Melihat itu, Ming Fengying mengingat perkataan Shingen yang akan mendukung jalan apapun yang akan dia pilih. Entah menjadi seorang pendekar atau samurai mengikuti ayahnya.
Kemudian Ming Fengying memegang Kitab Bintang Surgawi. "Kakek Lin. Apa boleh aku mempelajari ilmu yang ada di kitab ini?" Dengan wajah yang gembira, Ming Fengying justru mengalihkan pembicaraan.
Lin Kin tersenyum dan memberikan Kitab Bintang Surgawi kepada Ming Fengying. "Kitab Bintang Surgawi kuserahkan kepada Tuan Muda Ming Fengying, tetapi dengan satu syarat." Perkataan Lin Kin membuat Ming Fengying tersenyum.
Ming Fengying mengingat Lin Kin adalah orang yang tidak mudah melepaskan sesuatu begitu saja ketika dirinya merasa tertarik. Walau Lin Kin sendiri hampir tidak pernah tertarik pada apapun, namun di kehidupan kali ini Lin Kin tertarik untuk membantu Shingen dan menjadi guru dari Ming Fengying. Murid dari Lin Kin sendiri bisa dihitung dengan jari, dua murid diantaranya adalah Jia Wu dan Yan Xiang.
Mengingat itu semua membuat Ming Fengying merasa kehidupan yang dia jalani mulai berubah secara drastis. Walau di kehidupan lamanya, Ming Fengying pernah menjadi murid dari Lin Kin saat bernama Feng Huang tetapi cara Lin Kin mengajaknya untuk berlatih bela diri sangat berbeda. Sekarang Lin Kin terlihat seperti seseorang yang ingin mengembangkan potensi Ming Fengying bahkan terkesan memaksanya.
"Apa syarat itu, Kakek Lin?" Ming Fengying bertanya walau dia bisa menebak Lin Kin akan menjadikan dirinya sebagai seorang murid.
__ADS_1
Lin Kin tersenyum. "Tuan Muda Ming Fengying memiliki potensi untuk menjadi orang hebat di masa depan. Apa Tuan Muda tertarik belajar bela diri?" Ming Fengying mengangguk. Kemudian Lin Kin memberitahu syaratnya.
"Syaratnya hanya satu. Belajarlah bela diri agar Tuan Muda Ming Fengying tidak menyia-nyiakan potensi yang Tuan Muda punyai." Lin Kin memberitahu syaratnya, namun tidak berapa lama Shingen tertawa pelan dan menepuk pundak Lin Kin.
"Kenshin sudah belajar di bawah arahanku dan Tao Lulu. Ilmu samurai dan ilmu pendekar bercampur menjadi satu dalam dirinya." Lin terkejut mendengar perkataan Shingen. "Aku berniat menitipkan anakku ini padamu sekitar setahun atau dua tahun. Bisa kau bantu ajarkan Kenshin tentang dunia persilatan. Bagaimanapun dia adalah anak dari sosok orang berpengaruh di Kekaisaran Kuru."
Shingen menggaruk kepalanya karena mengingat Ming Lian adalah anak terakhir dari lima bersaudara dari Kaisar Kuru. Tidak berapa lama Lin Kin memberi jawaban langsung pada Shingen.
"Aku tidak bisa menolak permintaan ini, Tuan Shingen. Sangat jarang seorang Pangeran yang memiliki sifat seperti Tuan Muda Ming Fengying dan mau belajar bela diri." Lin Kin menatap Ming Fengying yang sudah duduk berdua di bangku panjang bersama Soo Yun. "Dengan senang hati aku akan mengajari Tuan Muda Ming Fengying tentang dunia persilatan dan apa saja yang harus dipelajari didalamnya."
Shingen tersenyum tipis mendengar jawaban Lin Kin. "Kalau begitu, ada hal yang ingin kubicarakan berdua denganmu, Lin Kin. Ini menyangkut tentang masalah ke depan yang akan terjadi di Kekaisaran Kuru." Mendadak wajah Shingen terlihat sangat serius.
Kemudian Lin Kin mengangguk lirih. "Aku juga ada hal yang ingin kubicarakan dengan, Tuan Shingen." Setelah itu Lin Kin mengajak Shingen untuk duduk di kursi yang di depannya ada meja berukiran harimau.
Shingen memberi isyarat pada Ming Fengying dan Soo Yun agar keluar dari Ruang Awan Merah Muda. Tidak berapa lama mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.
Ming Fengying menarik tangan Soo Yun dengan lembut dan memasuki kamar untuk mereka beristirahat.
Istana Langit adalah tempat yang sangat luas. Bahkan luasnya sendiri menyaingi bahkan melebihi rumah mewah kediaman bangsawan, di salah satu ruangan Istana Langit terdapat sebuah ruangan yang bertingkat layaknya sebuah penginapan yang memiliki sembilan lantai.
Ming Fengying dan Soo Yun dituntun Zhang Bingjie menuju ruangan kamar yang ada di lantai sembilan khusus samurai, pendekar dari Sekte Sungai Kuning, Sekte Harimau Putih dan Lembah Bunga Persik Tersembunyi.
"Silahkan. Ini kamar Tuan Muda Ming Fengying dan kekasih Tuan Muda." Zhang Bingjie sengaja menggoda Ming Fengying dan hanya dibalas senyuman oleh Ming Fengying.
Setelah masuk ke dalam ruang kamar yang telah disiapkan untuknya, Soo Yun terkejut dan langsung melompat ke ranjang yang empuk itu. Sementara Ming Fengying berjalan mendekati jendela untuk melihat pemandangan dari lantai sembilan ruangan penginapan Istana Langit.
Pemandangan danau buatan dan rumah penduduk yang tinggal di sekitar Lembah Pegunungan Tiangan terlihat jelas dari atas lantai sembilan.
"Indahnya..." Soo Yun takjub melihat keindahan dari lantai sembilan. Gadis bermata sayu itu melebar matanya.
__ADS_1
Ming Fengying mengambil bangku yang ada di kamar dan menaruhnya di dekat jendela. Kemudian dia duduk sembari membaca apa saja yang tertulis di Kitab Bintang Surgawi.
Sementara itu Soo Yun duduk di samping Ming Fengying dengan tenang sembari menikmati indahnya pemandangan.
"Isinya sama dengan Kitab Bintang Di Surga? Kenapa namanya jadi beda? Bahkan gara-gara kitab ini aku mati dan berakhir tragis! Ini aneh dan banyak pertanyaan yang terus berdatangan di kepalaku!" Ming Fengying menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya pada bahu Soo Yun.
"Apa kamu takut dengan mataku?" Ming Fengying menatap pemandangan dan kepalanya masih bersandar pada bahu Soo Yun. Dia bertanya kepada gadis bermata sayu itu untuk memastikan.
Soo Yun terkejut melihat Ming Fengying berani menyandarkan kepalanya pada bahunya. "Tidak. Aku tidak takut sama sekali padamu, Fengfeng." Tangan Soo Yun mengelus rambut Ming Fengying.
Kemudian Ming Fengying menatap Soo Yun dan tersenyum tipis. "Malam ini aku akan melatih pernapasan dan cara mengontrol aura tubuhku, jadi kamu jangan ganggu aku." Tangan Ming Fengying memencet hidung Soo Yun.
Sontak Soo Yun menggelengkan kepalanya karena kesulitan bernapas. Setelah itu dia mengangguk setuju. "Kita tidak boleh tidur berdua. Dan kita tidak boleh sekamar!" Nada bicara Soo Yun terdengar kesal.
"Seharusnya seperti itu..." Soo Yun menambahkan dengan nada lesu.
Ming Fengying tertawa lirih mendengarnya. "Lagipula aku akan tidur di lantai dan kamu tidur di ranjang. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu." Kedua tangan Ming Fengying mengangkat.
Soo Yun berdiri dan menatap Ming Fengying dari atas. "Fengfeng, kamu masih lebih muda dariku. Jangan bertingkah seperti seorang anak muda yang berpikiran dewasa!"
Ming Fengying mengernyitkan dahinya. "Yunyun!" Perlahan Ming Fengying bangkit berdiri.
"Apa?" Soo Yun menelan ludah dan mundur ke belakang. Namun kedua bahunya dicengkeram oleh Ming Fengying.
"Kalau begitu, kamu harus bersikap dewasa dan jangan menempel seenaknya padaku seperti anak kecil!" Ming Fengying mendorong tubuh Soo Yun dan membaringkannya di ranjang. Kemudian Ming Fengying kembali duduk di bangku dan membaca isi Kitab Bintang Surgawi.
Soo Yun sempat terkejut namun akhirnya yang tersisa hanyalah kekesalan yang luar biasa. "Kupikir dia ingin melakukan sesuatu padaku?" Napas Soo Yun perlahan mulai teratur.
Sementara itu Ming Fengying menatap rumah-rumah penduduk yang tinggal di sekitar Lembah Pegunungan Tiangan. "Apa Jia Wu juga akan berubah sifatnya di kehidupanku kali ini?" Batin Ming Fengying menebak.
__ADS_1