
"Ying'er seperti biasa, kau sangat menggemaskan..." Tao Lulu sedang membantu Ming Fengying berjalan secara tertatih dengan cara memegangi tangan Ming Fengying.
"Baru berumur delapan bulan sudah bisa berjalan, Bibi Lulu jadi ingin punya anak juga..." gumam Tao Lulu pelan.
Ming Fengying sangat semangat untuk berlatih berjalan walau masih tertarih, pertumbuhan Ming Fengying sangat berbeda dengan bayi pada umumnya.
Ming Lian tersenyum tipis melihat Tao Lulu yang sedang bersama buah hatinya, keseharian di Istana Pinyin kembali damai.
Setelah melahirkan anak pertamanya yang menggemaskan dan selalu memberi kejutan yang tak terduga, Shingen ingin mempunyai seorang anak laki - laki lagi tetapi Ming Lian yang menginginkan seorang anak perempuan membuat jarak di antara keduanya semakin jauh karena perbedaan pendapat.
Shingen dan Ming Lian selalu bertengkar karena masalah sepele, dua hari yang lalu Shingen memanggil Ming Fengying dengan nama Kenshin saja sudah membuat Ming Lian marah luar biasa.
Ming Fengying bahkan membayangkan sendiri jika dirinya mempunyai seorang adik, di kehidupan keduanya ini Ming Fengying tidak pernah berpikir jika ia akan memiliki seorang adik.
Tidak terasa waktu semakin berlalu, empat bulan setelah hari yang damai di Istana Pinyin kini Ming Fengying berumur satu tahun. Setiap pagi hari, Ming Lian dan Tao Lulu membawa Ming Fengying ke Hutan Impian.
Ming Fengying sudah bisa berjalan walau masih tertatih, udara murni yang dihirup Ming Fengying membuat tubuh mungil Ming Fengying terisi dan memudahkannya untuk membentuk lingkaran tenaga dalam maupun dalam mengolah pernapasan.
"Lulu, bagaimana kabarmu dengan Toramasa?" tanya Ming Lian secara terang - terangan pada Tao Lulu.
Tao Lulu merah merona wajahnya, beberapa bulan terakhir ini kedekatannya dengan Toramasa memang semakin dekat. Ming Fengying hanya mendengarkan Tao Lulu dan Ming Lian yang sedang berbicara.
"Masa depan berubah drastis." batin Ming Fengying sambil mengolah pernapasan.
"Tuan Putri, sebenarnya aku dan dia..." bisik Tao Lulu di telinga Ming Lian.
Ming Lian terkejut mendengar bisikan Tao Lulu kemudian raut wajahnya terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Hari - hari yang hangat dan damai yang dirasakan Ming Fengying sangat terasa. Pagi hari dia selalu ke Hutan Impian bersama Ming Lian dan Tao Lulu secara bergantian, saat malam Ming Fengying melatih ilmu topeng dan ilmu pengendali hati.
Ming Fengying mencoba untuk menguasai kedua ilmu tersebut, setiap sore Tao Lulu selalu mengoleskan minyak bayi dan salep bayi pada tubuh mungil Ming Fengying. Efek dari Bunga Citra benar - benar terasa bagi Ming Fengying tetapi dirinya merasa ada yang aneh karena semakin dia merencanakan masa depan, sebagian diri Ming Fengying merasa jika dia terlempar ke masa depan. Sempat terpikir olehnya jika dia adalah orang dari masa lalu yang diberi mimpi panjang melihat masa depan.
Ming Fengying mencoba mengingat ketika dia di Hutan Kumalawyuha, di kehidupan sebelumnya ketika dia bernama Feng Huang. Pada saat itu Feng Huang pernah melihat sebuah cermin yang terlihat sakral tetapi ketika dia memegangnya, cermin tersebut bercahaya kuning keemasan dan hancur lenyap tak bersisa.
Ming Fengying berasumsi jika dia bereinkarnasi karena cermin tersebut, satu hal yang Ming Fengying ingat dia seperti diperlihatkan masa depan, terkadang Ming Fengying menganggap di kehidupan keduanya ini ada kaitannya dengan kehidupan sebelumnya yang ia jalani bagaikan mimpi buruk yang berkepanjangan.
"Semua orang berhak mempunyai kesempatan kedua..." batin Ming Fengying mengingat kehidupan lamanya. Sentuhan tangan lembut Tao Lulu membuat Ming Fengying hanyut dalam kenikmatan sebelum tertidur pulas.
Tao Lulu tersenyum lembut melihat Ming Fengying yang telah tertidur. Dalam hati tabib perempuan itu sangat bahagia karena dia bisa merasakan hari - hari damai dan penuh kasih sayang berkat Ming Fengying.
Tao Lulu mempelajari ilmu pengobatan yang diberi tahu Ming Fengying, begitu banyak hal yang masih belum diketahui oleh Tao Lulu. Tabib perempuan yang sangat senang mempelajari ilmu pengobatan itu tidak pernah berhenti diberi kejutan oleh Ming Fengying.
Setelah kematian dua belas samurainya, Shingen membentuk pasukan samurainya yang ia beri nama dengan sebutan Sepuluh Pilar Rembulan. Anggota dari Sepuluh Pilar Rembulan semuanya anggota samurai yang tersisa seperti Ichijo, Fujin, Sanada, Toramasa, Chibisuke, Mamorusuke, Ryunosuke, Masakage, Nobusuke, Monzaemon.
Sepuluh Pilar Rembulan bersumpah setia untuk melindungi Keluarga Tsukuyomi termasuk Ming Lian dan Ming Fengying. Shingen menceritkan sejarah Klan Tsukuyomi yang dia ketahui pada sepuluh samurainya yang tersisa, tidak banyak yang Shingen ketahui tetapi menurut catatan kuno yang dia baca sebelum Rieyu menyerang Yamato, sebuah perang yang telah diramalkan tidak bisa dicegah karena perang tersebut akan melibatkan seluruh dataran Benua Jiu.
Setelah mendengar cerita Shingen yang panjang seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan bergemetar hebat, mereka seperti mendengar sebuah cerita panjang yang telah dinanti selama ribuan tahun.
Shingen masih tidak mengerti tentang dunia luar, menurut cerita yang dia dengar langsung dari Masakage dan Nobusuke mereka berdua menjelaskan jika Rieyu adalah seorang Panglima Perang dari Kekaisaran Bahamut. Informasi yang digali dari Henka banyak hal yang berharga seperti sebuah organisasi terbesar di dunia yang bernama Aliansi Bangsa - Bangsa maupun organisasi tempat para penjahat yang berbahaya yang dikenal dengan sebutan Lima Penguasa.
"Kekaisaran Bahamut? Kemungkinan leluhurku juga berasal dari luar Jiu..." gumam Shingen pelan sambil mengelus dagunya.
Suasana di Rumah Harimau Bei begitu tenang karena beberapa bulan terakhir ini, tempat pertemuan yang sering diadakan Shingen bersama pengikutnya telah direnovasi.
Di halaman depan Rumah Harimau Bei terdapat sebuah ukiran yang bergambar harimau dan garuda bertarung melawan naga.
__ADS_1
"Tuan Shingen, dunia ini ternyata lebih luas dari yang kita kira..." ucap Toramasa sambil meminum teh yang dibuat oleh Tao Lulu.
"Cerita dari Henka membuat kita sadar, aku yakin di luar sana banyak orang yang mempunyai kekuatan di luar nalar manusia." sahut Masakage sambil melihat teman - temannya yang sedang duduk melingkar.
Shingen bersyukur karena pengikutnya telah memiliki hubungan yang erat persaudaraannya, hanya satu yang Shingen harapkan dia sangat berharap tidak ada pengkhianat lagi di antara pengikut samurainya.
Shingen mengadakan pertemuan dengan pengikutnya karena hari ini Ming Fengying telah berumur satu tahun.
"Hari ini anakku telah berumur satu tahun. Melihat kehadiran kalian semua membuatku mengingat ketika kita masih lengkap..." ucap Shingen pada seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan.
"Pertemuan yang kita adakan dua bulan sekali ini tidak dengan anggota yang sama, saudara - saudara kita yang telah tiada akan tetap hidup di dalam hati kita, selama kita masih tetap mengingat mereka semua." tambah Shingen melihat anggotanya yang sedang duduk melingkar.
"Selamat atas bertambahnya umur Tuan Muda Ming Fengying. Saya Sanada mewakili seluruh saudara dari Sepuluh Pilar Rembulan memberikan doa yang terbaik untuk Tuan Muda Ming Fengying." sahut Sanada sambil menundukkan kepalanya menghadap Shingen.
"Tuan Muda Ming Fengying sangat membantu pertempuran berdarah tujuh bulan lalu, semua informasi yang diberikan Tuan Muda Ming Fengying sangat akurat." sahut Fujin yang duduk di samping Sanada.
"Tuan Muda Ming Fengying adalah seorang pemimpin yang kelak akan menggantikan Tuan Shingen, sudah pastinya jika kalian mengakui Tuan Muda Fengying sebagai tuan kalian." ledek Mamorusuke pada Fujin dan Sanada.
"Benar sekali, Tuan Muda Fengying sudah kami anggap sebagai seorang pemimpin yang patut kami ikuti." sahut Toramasa setelah meneguk teh buatan Tao Lulu.
Chibisuke meminum teh sebelum meledek Toramasa.
"Seingatku, pada saat kita semua mengadakan pertemuan ini, kau menentang Tuan Muda Ming Fengying dengan ganas, Toramasa." ledek Chibisuke sambil tertawa pelan menatap Toramasa.
Toramasa tidak membantah perkataan Chibisuke karena berkat Ming Fengying, dia dan Tao Lulu kini telah bertunangan bahkan keduanya akan menikah tiga bulan lagi.
Shingen tertawa melihat pengikutnya saling bercanda dihadapannya.
__ADS_1
"Menurut perkataan ayah, dua puluh lima tahun dari sekarang perang yang diramalkan akam terjadi. Pada saat itu tiba Kenshin telah berumur dua puluh enam tahun, apakah dia sudah mempunyai seorang anak saat itu?" batin Shingen menatap atap Rumah Harimau Bei penuh makna.
Shingen sangat bersyukur telah menikahi Ming Lian, pertemuan keduanya sangat tidak terduga. Shingen tidak menyangka jika dia diberi kesempatan untuk tetap hidup dan berkeluarga, demi melindungi orang yang ia sayangi Shingen tidak akan membiarkan siapapun mengusik kedamaiannya kembali.