Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 78 : Rumah Bordil Berdarah


__ADS_3

Menuju Permukiman Wuhang. Hari berganti setelah melewati tengah malam yang panjang, disaat bulan dengan lembut menyinari Danau Qing bersama Kota Jinning setiap orang tertidur lelap tidak menyadari gejolak yang terjadi di Kota Jinning. Dan tidak ada yang mengetahui keributan yang sedang terjadi di kediaman Walikota Kota Jinning maupun Permukiman Wuhang.


Bersamaan dengan pergerakan Shingen di kediaman Walikota Kota Jinning ada pergerakan yang lainnya, rencana dimulai dengan gadis bermata sayu berparas cantik dan manis. Kulitnya yang seputih susu itu mengundang daya tarik para pendekar yang sedang dilanda nafsu. Parasnya yang berbeda dengan gadis yang berasal dari Kekaisaran Kuru membuat Enam Pendekar Akar berebutan untuk melewati malam bersamanya.


Zhang Fei baru saja membuat gadis tak berdosa kehilangan kesuciannya dan berteriak dalam malam yang memilukan, ketika dia memakai pakaiannya kembali matanya terarah pada gadis bermata sayu yang terlihat sangat menggoda, sikapnya yang malu-malu membuat Zhang Fei tidak menahan birahinya. Rasa lelahnya hilang dan semangatnya langsung bangkit kembali untuk mengarungi malam bersama gadis bermata sayu yang akan menjadi mangsanya.


Pandangan Zhang Fei sedikit kabur karena terlalu banyak meminum arak, jalannya terhuyung-huyung sambil mendekati gadis bermata sayu yang bernama Soo Yun.


"Gadis manis ... malam ini temani aku, akan kubuat kau melayang dan ketagihan dengan permainanku." Salah satu anggota Enam Pendekar Akar yang bernama Chen Lai memegang tangan Soo Yun.


"Matanya yang sayu, bibirnya yang tipis, aku tidak bisa menahannya. Dia harus merasakanku terlebih dahulu!" Anggota Enam Pendekar Akar yang bernama Xu Chi mendorong tubuh Chen Lai hingga menabrak anggota pendekar dari Lembah Bunga Kematian yang sedang meminum arak bersama para gadis yang dipaksa bekerja di rumah bordil tersebut.


Soo Yun gemetar ketakutan tetapi dia berusaha untuk tetap tenang, matanya yang sayu mencari seorang pria yang memiliki lambang kuncup bunga mawar layu berwarna hitam.


"Aku harus membantu Fengfeng..." Soo Yun membatin penuh tekad membuang rasa ketakutannya.


"Gadis dari gerak-gerikmu kau belum pernah disentuh, bukan? Biar aku yang pertama menyentuhmu dan akan kubuat kau melayang malam ini." Salah satu anggota pendekar dari Enam Pendekar Akar yang bernama Shun Dao menyentuh dagu Soo Yun.


Zhang Fei mengernyitkan dahinya dan menendang Shun Dao hingga tersungkur di lantai rumah bordil. Mata Soo Yun melebar melihat lambang kuncup bunga mawar layu berwarna hitam di dada Zhang Fei.


"Te-Terimakasih ... Tuan." Soo Yun menatap Zhang Fei dengan mata sayunya yang menggemaskan. Melihat itu tentunya Zhang Fei menelan ludah dan birahinya bangkit kembali.


"Kau masih terlalu muda untuk datang kesini, tapi tenang saja tidak akan kubiarkan orang lain menyentuhmu terlebih dahulu selain aku." Zhang Fei hendak memegang tangan Soo Yun namun gadis bermata sayu itu menghindar.


"Tuan ... aku mau melihat sungai yang ada di dekat pohon. Tapi aku takut..." Bibir Soo Yun yang tipis dan mungil itu merekah manja, nafsu Zhang Fei langsung memburu melihatnya. "Apa Tuan mau temani aku melihatnya? Kalau bersama Tuan entah kenapa aku merasa tenang."


Zhang Fei tersenyum lebar penuh kemenangan, kemudian dia menelan ludah kembali menahan nafsu.


"Bi-Biar aku temani, tenang saja, disana tidak orang lain, teriakanmu tidak akan terdengar oleh orang selain aku." Zhang Fei menarik tangan Soo Yun dan bergegas menuju tempat yang dimaksud Soo Yun.

__ADS_1


"Tuan pendekar ... anu ... aku belum pernah melakukan yang Tuan maksud ... jadi..." Soo Yun melepas pegangan tangan Zhang Fei dan matanya yang sayu menatap lantai rumah bordil. Pria yang dipenuhi nafsu itu kembali tersenyum penuh kemenangan ketika melihat bibir mungil itu kembali merekah, "Jadi Tuan pendekar tolong melakukannya dengan pelan-pelan, aku takut ... ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini."


Zhang Fei menelan ludah semakin tidak tahan melepaskan nafsu birahinya kepada Soo Yun.


"Disana tempatnya indah, aku ingin melihat air sungai yang mengalir dibawah sinar rembulan..." Soo Yun berjalan ketika melihat Zhang Fei menaruh pedangnya di meja.


"Jaga pedangku ini! Kalian jangan tinggalkan rumah bordil ini! Jangan ganggu kesenanganku!" Zhang Fei langsung mengikuti Soo Yun dari belakang.


"Senior Fei beruntung sekali, dia mendapatkan kenikmatan dari gadis cantik itu." Salah satu pendekar Lembah Bunga Kematian angkat bicara ketika Zhang Fei mulai menjauh dari rumah bordil.


"Mata, bibir, dan sifatnya yang malu-malu itu membuatku tidak tahan melihatnya. Kenapa aku baru melihatnya malam ini, andai kemarin aku yang melihatnya, maka aku yang akan mengambilnya." Pendekar yang lain menanggapi perkataan pendekar yang pertama berbicara.


"Satu tahun aku merasakan kenikmatan di Kota Jinning berkat Walikota Zhao Lhuo. Gadis disini masih banyak, besok mereka yang telah terpakai akan menjadi budak. Malam ini kita harus memakainya baik-baik hahaha." Pendekar yang sudah terlalu banyak minum arak langsung menindih gadis yang hanya pasrah tertidur di lantai rumah bordil.


"Mataku sudah mulai kabur ... aku sudah puas malam ini, setidaknya aku sudah mencicipi tiga gadis dalam semalam." Chen Lai meminum arak dan memakai bajunya.


Sementara itu di meja yang cukup lebar terlihat gadis yang sedang menangis ketika salah satu dari Enam Pendekar Akar hendak merenggut harta kesuciannya yang paling berharga. Di samping gadis itu juga ada dua gadis yang lainnya, dua pendekar dari Enam Pendekar Akar juga siap untuk mengarungi dua gadis yang masih polos menangis pasrah tak berdaya.


"Sayatan Angin Penghancur Malam!"


Tembok rumah bordil hancur entah ulah siapa, terlihat disana Fujin langsung mengincar kepala tiga pendekar yang memiliki lambang dari Enam Pendekar Akar.


Ketiga pendekar yang sedang dipenuhi nasfu binatang itu tidak peduli, telinga ketiga manusia itu hanya mendengar isakan tangis ketiga dari gadis yang memohon, memohon dengan sangat.


"Tenang ... nanti juga-" Fujin langsung memotong kepala salah satu pendekar yang hampir menyetubuhi gadis yang masih suci.


Sementara itu Sanada dan Yuan Shi juga membunuh dua pendekar yang hampir menyetubuhi gadis yang tak berdosa.


"Aku ... membunuh, bagaimana ini ... Guru Sanada?! Aku baru pertama kali membunuh orang! Tanganku gemetar, apa yang harus kulakukan, Guru Sanada?!" Yuan Shi masih tidak percaya ketika merasakan sensasi memotong kepala manusia. Tangannya gemetar dan kesemutan.

__ADS_1


Gadis-gadis yang melihat kejadian itu langsung pingsan, sedangkan yang lainnya berteriak ketakutan. Sementara itu Sanada menutupi tubuh gadis-gadis yang pingsan dengan sebuah kain.


"Pernapasan Sirih."


Fujin kembali mengayunkan pedangnya untuk membunuh para pendekar aliran hitam yang sedang terkapar karena meminum arak terlalu banyak.


Rumah bordil yang menjadi tempat maksiat itu penuh dengan darah ketika Fujin terus membunuh pendekar yang mabuk dalam sekali tebasan katananya.


"Yuan Shi tindakanmu ini menurutmu benar atau salah?" Sanada menatap Yuan Shi sebentar sambil menebasakan pedangnya pada pendekar aliran hitam yang lainnya.


"Menurutku ini benar ... terlalu banyak perempuan tak berdosa menjadi korban binatang sialan ini! Tetapi ini pengalaman pertamaku, Guru Sanada!" Yuan Shi berusaha memegang katananya tetapi tetapi tangannya tetap gemetar.


"Benua Jiu yang kita tinggali ini adalah tempat yang seperti kau lihat sekarang ini, jadi jangan ragu. Kau sudah pernah dilatih oleh Tuan Shingen. Beliau telah mengangkatmu sebagai murid bersama Tuan Muda Ming Fengying. Kau harus mencari sendiri jalan samuraimu itu!" Sanada mengolah pernapasan dan menepuk pundak Yuan Shi sebeleum bergerak cepat untuk membunuh pendekar aliran hitam yang sudah memberikan perlawanan balasan.


Yuan Shi juga ikut kembali membunuh pendekar aliran hitam, katananya bersimbah darah bersama dengan kimono yang dia kenakan. Yuan Shi masih belum bisa membunuh dengan rapi, dan itu membuatnya sedikit ingin muntah mengingat bau amis yang menyengat.


Lantai rumah bordil banjir darah, puluhan pendekar yang menikmati gadis-gadis tak berdosa bersama dengan arak kini telah mati dalam sekejap, yang tersisa dari mereka hanyalah Chen Lai, Xu Chi, dan Shun Dao.


"Lantai ini menjadi warna merah, sudah lama kita tidak bertarung melawan aliran hitam sejak sepuluh tahun yang lalu.", Fujin tersenyum tipis melihat Sanada yang mengibaskan pedangnya setelah membunuh pendekar dari Lembah Bunga Kematian.


"Ada tiga orang yang masih hidup. Kita lengah, sepertinya Tuan Shingen dan Tuan Muda Ming Fengying baik-baik saja. Ketiga orang ini sepertinya tiga pendekar yang menjaga binatang itu!" Sanada merapatkan giginya ketika melihat ketiga orang yang telah menceburkan tangan pada gadis tak berdosa.


"Yuan Shi cepat kau bawa semua gadis-gadis yang ada di Permukiman Wuhang pergi dari sini! Bawa mereka meninggalkan tempat ini!" Fujin menatap tajam Yuan Shi sebelum berkata, "Aku merasa jika mereka memiliki tempat tersembunyi untuk menyembunyikan para gadis yang lainnya."


Yuan Shi mengangguk pelan kemudian dia masuk ke dalam ruangan lain yang ada rumah bordil.


___


Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca Love in Jiu War.

__ADS_1


Up 2 hari sekali dulu ya, rombak alur cerita, mohon maaf sebelumnya.


IG : pena_bulu_merah


__ADS_2