Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 50 : Bangkitnya Pewaris Kekuatan Surgawi


__ADS_3

Tekad Ming Fengying dan Yuan Shi membuat mereka berdua terus melangkah maju dan menggapai tujuan masing - masing. Ming Fengying bertekad untuk menjadi orang yang lebih kuat dari dirinya di kehidupan sebelumnya agar dia bisa mengalahkan Rieyu. Di sisi lain, Yuan Shi bertekad untuk menjadi seorang samurai walaupun dia bukanlah keturunan asli Yamato.


"Ying'er lakukan seperti kemarin, hirup udara dan simpan di dalam ulu hatimu, jangan sampai bocor. Buat dirimu menyatu dengan alam." suara Tao Lulu yang sedang melatih Ming Fengying terdengar di bukit Hutan Impian.


Tao Lulu tidak pernah berhenti dikejutkan dengan kepintaran Ming Fengying dalam mencerna setiap perkataannya. Sangat jarang bagi Tao Lulu melihat pemuda berumur lima tahun bisa mengolah pernapasan semahir Ming Fengying.


"Bagus Ying'er, sekarang buat aura tubuhmu membungkus tubuhmu. Auramu terlalu banyak yang keluar, itu akan membuatmu lebih cepat kehabisan tenaga ketika bertarung." Tao Lulu kembali memberi arahan pada Ming Fengying.


"Aura yang seperti asap mulai menyelimuti tubuhku..." batin Ming Fengying merasakan auranya telah menyelimuti tubuhnya.


Ming Fengying duduk bersila di atas batu, angin terus - menerus menerpa tubuhnya. Yakin dalam satu tarikan napasnya, Ming Fengying berhasil mempertahankan auranya agar tidak merembes keluar selama satu jam penuh.


"Pandanganku kabur... ah sepertinya aku terlalu berlebihan memaksakan aura tubuhku..." batin Ming Fengying sambil mengerjapkan matanya berkali - kali untuk mendapatkan kembali kesadarannya.


Perlahan tubuh Ming Fengying yang sedang duduk bersila di atas batu mulai terjatuh ke tanah secara perlahan, tubuhnya ditangkap Tao Lulu dan menidurkannya bersandar di pohon yang ada di Hutan Impian.


"Ying'er... tidurlah, kamu tidak pernah berhenti membuat Bibi Lulu terkejut." Tao Lulu mengelus kepala Ming Fengying yang sedang tertidur karena kehabisan aura tubuhnya.


"Ying'er kelak akan sangat berpengaruh pada kebangkitan Sekte Aliran Putih suatu hari nanti." batin Tao Lulu menatap wajah Ming Fengying penuh makna. Kehadiran Ming Fengying tidak pernah berhenti membuat Tao Lulu terkejut, bakatnya yang mampu melihat masa depan masih menjadi pertanyaan Tao Lulu sampai saat ini.


Tao Lulu yang paling menyadari kekhawatiran Ming Lian karena semenjak pertempuran malam berdarah di Bei. Rumor yang beredar di dunia persilatan cukup membuat Benua Jiu gempar. Entah siapa yang menyebarkan rumornya, bayi ajaib yang dapat berbicara dan melihat masa depan anak dari Ming Lian sudah tersebar luas. Semua itu tentunya membuat Ming Lian khawatir karena dia berpikir akan banyak orang jahat yang mengincar putra kesayangannya itu.


Hari demi hari Ming Fengying berlatih mengolah pernapasan dan mengontrol aura tubuhnya bersama Tao Lulu di Hutan Impian, pertumbuhan dan setiap tindakan Ming Fengying begitu berbeda dengan anak seusianya. Kebanyakan anak yang sebaya dengan Ming Fengying masih bermain dan beberapa anak yang belajar bela diri sejak dini memamerkan ilmu bela dirinya. Ming Fengying tidak membuang waktu percuma seperti anak sebayanya, waktu yang dia gunakan semua ia habiskan untuk mempelajari bela diri agar lebih kuat dari hari kemarin.


Ming Fengying bertekad bila dia harus lebih kuat dari dirinya di hari kemarin. Fisiknya bertambah dibarengi dengan ilmu kerohanian, Tao Lulu mengajarkan Ming Fengying bela diri sambil diselipi ilmu kerohanian di dalamnya. Di waktu luang Tao Lulu juga mengajari Ming Fengying ilmu pengobatan tetapi Ming Fengying tidak mempunyai bakat sama sekali di ilmu pengobatan.


Semua sudah ada bagiannya, Ming Fengying yang paling menyadari semua itu. Di dunia ini tidak ada yang namanya sempurna, ilmu bela diri yang besar masih begitu kecil dibandingkan seluruh alam yang diciptakan oleh sang pencipta.


Ming Fengying mengingat ketika dirinya menemukan cawan suci di Hutan Kumalawyuha. Sebuah cawan suci yang memberinya kemampuan untuk terbang itu membuat Ming Fengying menginginkannya kembali.

__ADS_1


"Phoenix? Garuda? Aku menamai jurus itu Sayap Kebebasan, bagiku nama itu sangatlah bagus..." gumam Ming Fengying yang sedang melakukan kuda - kuda tengah di bawah air terjun.


"Ying'er! Waktunya makan nak!" teriak Ming Lian memanggil Ming Fengying yang sedang berlatih di air terjun kecil yang di buat Shingen di belakang Istana Pinyin.


"Iya Bunda." Ming Fengying membasuh tubuhnya dengan handuk dan mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering sebelum makan siang.


Ming Fengying tumbuh dengan baik di kehidupan kali ini, kasih sayang orang tua dan orang - orang disekitarnya membuat Ming Fengying ingin melindungi mereka semua. Waktu terus berlalu, hari demi hari berganti, kini Ming Fengying telah berusia enam tahun. Jalan untuk menguasai beberapa ilmu bela diri yang diajari Tao Lulu masih panjang.


Suatu kehormatan bagi Ming Fengying bisa menjadi murid salah satu dari Empat Peri Obat Kuru. Ilmu bela dirinya tidak sampai disitu saja. Ayahnya yang seorang samurai juga mengajar Ming Fengying cara menggunakan katana.


Setelah berumur enam tahun, Ming Fengying sebenarnya ingin bertemu dengan Lin Kin. Sekte Taman Langit ketika dipimpin Lin Kin adalah tempat yang hangat dan berkesan bagi dirinya.


Ming Fengying menganggap dirinya harus membalas jasa gurunya di kehidupan sebelummya itu, menghentikan ambisi Jia Wu menduduki kursi kepemimpinan Ketua Sekte Taman Langit adalah cara Ming Fengying untuk membalas jasa Lin Kin.


"Kakek Lin, seperti biasa tatapannya tajam dan dapat menerima semua orang baik dengan mudahnya." batin Ming Fengying mengingat Lin Kin.


Ming Fengying lupa memberitahu Shingen tentang pecahan prasasti yang ada di Sekte Lembah Batu. Di kehidupan kali ini Ming Fengying bertekad mempelajari bahasa kuno yang tertulis di prasasti.


"Ayah sepertinya mengetahui tentang bahasa kuno yang tertulis di pecahan prasaati itu..." batin Ming Fengying meningat pecahan batu prasasti yang ada di Sekte Lembah Batu.


Ming Fengying mendapati Shingen yang sedang meneteskan air mata, langkah kakinya berhenti karena melihat mata kanan Shingen meneteskan air mata, sedangkan mata kiri Shingen yang terluka tidak mengeluarkan air mata.


Entah mengapa air mata Shingen terlihat bahagia bercampur sedih, kesan yang campur aduk itu membuat Ming Fengying merasakan jika ada sesuatu yang terhubung dengan dirinya.


Mata Ming Fengying terbelalak melihat jalan di langit terang yang membentuk sebuah jalan dari bintang - bintang di angkasa. Keanehan menghampiri Ming Fengying, menurutnya cuaca yang terang dan hari yang masih pagi tetapi ada bintang yang membentuk sebuah jalan ke arah timur adalah sesuatu yang tidak wajar baginya.


"Kenapa ada begitu banyak bintang di pagi hari..." batin Ming Fengying bertanya - tanya karena ia melihat bintang yang membentuk sebuah jalan di atas langit.


Shingen menyadari kehadiran Ming Fengying, tangannya mengusap air mata yang keluar di mata kirinya. Tangannya memberi kode menyuruh Ming Fengying mendekat padanya.

__ADS_1


"Kenshin, akhirnya salah satu pewaris yang sama dengan leluhur Keluarga Tsukuyomi dari arah timur telah lahir," ujar Shingen pada Ming Fengying.


"Apa maksud ayah? Apa ayah juga melihat bintang yang membentuk jalan di atas sana?" tanya Ming Fengying dengan tangannya yang menunjuk arah timur.


Shingen terkejut mendengar perkataan Ming Fengying, "Kenshin, jadi kau bisa melihat jalan itu?" senyuman lebar menyeringai di wajah Shingen,"Kenshin dengar perkataan ayahmu ini."


Shingen menepuk pundak Ming Fengying, sosok ayah dan anak itu sedang duduk bersebelahan di bangku taman yang ada di halaman Istana Pinyin.


"Kenshin, kita tidak pernah mempunyai obrolan ayah dan anak sebelumnya, ada satu hal yang harus ayah beritahu padamu, Kenshin." Shingen menyandarkan kepalanya pada bangku taman kemudian duduk membusungkan dadanya menatap Ming Fengying.


"Iya, kita tidak pernah mengobrol seperti ini sebelumnya." Ming Fengying tertawa pelan bahagia karena dia tidak pernah merasakan perhatian seorang ayah sebelumnya.


"Kenshin, apa kau percaya jika benua ini akan dilanda kekacauan suatu saat nanti..." ucap Shingen pada Ming Fengying.


Ming Fengying terkejut karena ayahnya terlihat sama seperti dirinya yang berniat menghentikan kekacauan, matanya mengamati sekitarnya sebelum menjawab perkataan Shingen.


"Kenshin percaya perkataan ayah." jawab Ming Fengying singkat.


"Kau melihat sebuah jalan dari bintang yang mengarah ke arah timur, bukan?" Shingen menaikan alisnya menatap Ming Fengying dalam.


"Iya," jawab Ming Fengying singkat.


"Hari ini sebuah kekuatan kuno yang bersemayam di dalam diri manusia telah lahir. Kenshin, kelak kau harus membantu pemuda yang telah diramalkan. 20 tahun dari sekarang, kau harus berperan dalam pertempuran besar yang melibatkan seluruh daratan Benua Jiu." tegas Shingen mengingatkan.


"Ayah, sebenarnya Kenshin menemukan pecahan prasasti di Sekte Lembah Batu. Mereka tidak bisa membacanya dan Kenshin ingin mempelajari bahasa kuno itu," balas Ming Fengying.


Shingen terkejut mendengar perkataan Ming Fengying, "Ini mungkin sebuah takdir," matanya menatap Ming Fengying dalam - dalam, "Ikut ayah, kau akan kuberi tahu cara mempelajari cara membaca tulisan kuno itu."


Ming Fengying tersenyum bangga karena akan mempelajari tulisan kuno yang tertera pada pecahan prasasti. Shingen membawa Ming Fengying ke sebuah ruang bawah tanah yang ada di Istana Pinyin. Shingen membuka seluruh bajunya dan memperlihatkan badannya pada Ming Fengying.

__ADS_1


"Ayah, kenapa badanmu seperti itu?"


__ADS_2