Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 83 : Sekedar Memastikan! Kamu Dia Atau Bukan?


__ADS_3

Di ujung Kota Jinning, jalanan yang sepi dan jalan tersebut merupakan sebuah jalan menuju danau untuk menyebrang keluar dari Kota Jinning.


Suasana pagi ini masih sepi, mengingat Kota Jinning baru saja mengalami pergelojakan yang hebat karena Walikota Zhao Lhuo telah mati, dan Shingen menggunakan kesempatan tersebut untuk meninggalkan Kota Jinning secara diam-diam.


Shingen bersama pengikut samurainya menaiki perahu yang ada di pinggiran pelabuhan. Fujin dan Sanada mendayung perahu tersebut dengan cepat. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di luar Kota Jinning setelah melewati luasnya Danau Qing.


Keenam orang tersebut telah menyebrangi Danau Qing, dan kini mereka langsung menuju Pegunungan Tiangan.


Setelah keluar dari Kota Jinning, Shingen dan pengikut samurainya berjalan tanpa halangan. Perjalanan menuju Pegunungan Tiangan cukup jauh dari Kota Jinning, namun Shingen ingin sampai di Pegunungan Tiangan sebelum berkumpulnya seluruh sekte yang datang dari segala penjuru Kekaisaran Kuru.


Mengingat ada beberapa hal yang Shingen bicarakan dengan Lin Kin. Sehingga dia lebih memilih untuk bergegas lebih cepat menuju Pegunungan Tiangan.


Ming Fengying berjalan dengan santai dan diikuti Soo Yun yang berjalan di sampingnya. Walau perjalanan terasa jauh dan melelahkan, Soo Yun tidak mengeluh kepada Ming Fengying.


Gadis bermata sayu itu mencoba untuk tetap kuat dan tidak ingin menjadi beban bagi Ming Fengying. Semenjak melihat kebaikan hati Ming Fengying yang menerima dirinya apa adanya, Soo Yun ingin berubah menjadi seorang perempuan yang lebih baik lagi demi Ming Fengying.


Sesekali Shingen mengajak Ming Fengying dan yang lainnya untuk beristirahat. Enam orang yang terlihat seperti pengembara ini berjalan kembali setelah beristirahat yang cukup, mereka melewati hutan, gunung dan sungai-sungai yang mengalir dengan jernih dan derasnya.


Shingen mengikuti rute tercepat menuju Pegunungan Tiangan dengan melewati sebuah gunung yang menjulang tinggi, pemandangan sore yang disajikan dari atas gunung tersebut sangat memanjakan mata dan membuat rasa lelah menghilang dari pundak mereka.


Pemandangan Pegunungan Tiangan terlihat dari atas gunung, walau jaraknya masih jauh tetapi tinggi pegunungan tersebut membuat Pegunungan Tiangan terlihat oleh Ming Fengying dan yang lainnya dari kejauhan.


Langit berwarna jingga, perlahan matahari mulai terbenam. Di atas gunung, Ming Fengying sedang memegang tangan Soo Yun untuk menikmati keindahan sebelum malam tiba.


"Malam ini kita akan bermalam disini." Shingen memutuskan untuk bermalam di atas dataran yang tinggi dari kaki gunung.


Ming Fengying menatap ayahnya. "Malam ini sepertinya akan dingin..." Ming Fengying berbisik di telinga Soo Yun.


Wajah Soo Yun memerah memikirkan hal yang membuat kepalanya terasa berputar. "Apa yang kamu pikirkan Fengfeng?" Soo Yun menatap mata Ming Fengying dengan matanya yang sayu.

__ADS_1


"Bodoh, pasti kamu memikirkan hal yang mesum. Aku cuma mengingatkan. Malam ini pasti akan dingin. Mengingat angin di tempat yang tinggi seperti ini sangat terasa ketika malam hari tiba." Ming Fengying sedikit menggigil ketika berkata seperti itu, kemudian dia melepas pegangan tangannya dan mencari kayu bakar di lereng gunung.


Di lereng gunung terdapat hutan. Shingen melihat anaknya yang langsung bergerak tanpa diberi perintah membuatnya bangga menjadi seorang ayah dari Ming Fengying. Tindakan Ming Fengying membuat Yuan Shi dan Fujin mencari makanan yang bisa dimakan di dalam hutan, sedangkan Sanada mencari air minum di sungai.


Soo Yun mengikuti Ming Fengying yang sedang berjalan menuruni lereng gunung. "Fengfeng tunggu aku!" Napas Soo Yun terengah-engah. Setelah dekat dengan pemuda yang dia kejar, mata sayu Soo Yun melebar melihat Ming Fengying berjongkok.


"Naik." Dengan wajahnya yang santai Ming Fengying menawarkan diri untuk menggendong Soo Yun dari belakang.


Soo Yun tidak menolak dan mengaitkan kakinya di sela-sela tangan Ming Fengying yang memegang pahanya, kemudian tangannya melingkar di leher pemuda tersebut.


"Pasti melelahkan ya berjalan sejauh ini..." Ming Fengying berkata lirih sembari melirik sedikit wajah Soo Yun yang menempel di punggungnya.


Kepala Soo Yun menggeleng. "Aku sudah terbiasa. Semenjak semua yang indah dalam hidupku direnggut dariku. Aku sudah terbiasa hidup berjalan tanpa arah seperti ini." Suara Soo Yun terdengar sendu. Tangan Ming Fengying memegang erat paha Soo Yun.


"Gadis aneh sepertimu juga bisa bicara seperti itu." Ming Fengying meledek Soo Yun agar bisa melihat wajah ceria gadis bermata sayu tersebut.


Tidak berapa lama Soo Yun mengembungkan pipinya dan tangannya menggelitik leher Ming Fengying. "Fengfeng kamu berani menggodaku ya!" Soo Yun menempelkan dadanya pada punggung Ming Fengying.


"Kok mungkin?" Soo Yun menempelkan pipinya pada pipi Ming Fengying. Kemudian gadis bermata sayu itu tersenyum lembut pada pemuda yang menggendong tubuhnya.


Ming Fengying mengalihkan pandangannya ke depan. "Aku tidak mengetahuinya secara pasti. Tapi suatu saat aku akan menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Kenapa aku bisa berbicara saat baru lahir dan kenapa aku bisa terlahir kembali." Kaki Soo Yun mengayun ke depan dan ke belakang.


"Fengfeng, menurutku kamu itu datang dari masa depan." Soo Yun menebak. Gadis bermata sayu itu tidak menertawakan ucapan Ming Fengying sama sekali. Bahkan Soo Yun ingin membantu Ming Fengying menemukan pertanyaan tersebut.


"Itu juga kemungkinan." Ming Fengying tertawa lirih kembali. Kemudian dia berjalan menuruni lereng gunung.


"Aku akan temani kamu. Aku janji akan membantumu menemukan jawaban itu." Soo Yun berbisik lirih di telinga Ming Fengying.


"Jangan anggap perkataan yang barusan adalah hal yang serius." Ming Fengying masih tertawa lirih karena merasa Soo Yun begitu mirip dengan Harumi.

__ADS_1


Sosok Harumi di kehidupan Ming Fengying saat bernama Feng Huang adalah suatu yang misterius. Ming Fengying mengingat Harumi yang pernah mengatakan datang dari Yamato namun tidak dengan asalnya yang sebenarnya. Dan entah kenapa Rieyu mengincar Harumi dan membunuh gadis tersebut.


"Soo Yun?" Ming Fengying ingin memastikan. Soo Yun menggumam pelan sembari membenamkan wajahnya pada punggung Ming Fengying.


"Apa Soo Yun itu nama aslimu?" Ming Fengying menelan ludah. Pemuda itu tidak menyangka akan segugup ini berbicara dengan seorang perempuan yang sudah dia kenal.


"Ya, kenapa?" Soo Yun menjawab dan masih membenamkan wajahnya pada punggung Ming Fengying.


"Aku hanya berharap Harumin itu adalah kamu." Soo Yun gemetar mendengar perkataan Ming Fengying.


"Fengfeng, aku pernah mengatakan jika aku rela menjadi selirmu, tetapi aku tidak suka saat kau menyamakan aku dengan sosok perempuan khayalanmu itu!" Soo Yun mencekik leher Ming Fengying.


"Hngh!" Ming Fengying mengerang dan melepaskan tangan Soo Yun. "Aku hanya menebaknya saja! Jika Harumin adalah kamu. Aku tidak akan pernah menyakitimu dan membiarkanmu sendirian seperti saat itu!" Ming Fengying menatap tajam Soo Yun.


"Jika aku bukan Harumin, lalu bagaimana perasaanmu terhadapku?" Soo Yun membalas tatapan tajam Ming Fengying dengan tatapan tajam matanya yang sayu.


Ming Fengying tersenyum tipis. "Kau berjanji ingin membantuku menemukan jawaban dari pertanyaanku. Untuk saat ini aku masih menganggapmu sebagai perempuan yang harus aku jaga, tetapi hanya sebatas itu. Aku tidak punya perasaan lebih karena hatiku merasa terikat oleh sebuah janji dengan Harumin."


Soo Yun tersenyum tipis. Kemudian dia menggigit bibir bawahnya yang mungil. "Perempuan yang harus aku jaga?" Soo Yun menghela napas panjang.


"Fengfeng, mulai saat ini aku akan membuatmu untuk tetap menjagaku dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Soo Yun menatap Ming Fengying cukup lama. "Aku mencin-"


"Ehem!" Shingen berdeham. Mata kanannya menatap anaknya yang sedang terlihat bermesraan dengan Soo Yun.


"Kenshin, kau masih berumur 9 tahun. Jika umurmu telah 17 tahun. Ayah akan mengizinkanmu untuk menikah." Shingen berjalan melewati Ming Fengying dan Soo Yun. Di mana wajah keduanya merah padam.


Tanpa melihat anaknya, Shingen mengambil ranting kayu dan kayu-kayu kering yang tergeletak di atas tanah. "Seingatku. Aku menikah dengan istriku saat usia kami 17 tahun." Shingen membatin dalam hatinya sembari mengambil ranting kayu yang ada di bawahnya.


"Kenapa aku jadi memikirkan itu? Anakku yang lucu udah besar. Aku malah jadi penasaran ingin melihat reaksi Bunda saat melihat anak kesayangannya membawa gadis muda..." Shingen tertawa lirih.

__ADS_1


Ming Fengying menurunkan badan Soo Yun. Tanpa bicara sepatah kata pun, Ming Fengying mengambil kayu-kayu kering dalam jumlah yang cukup banyak.


Sedangkan Soo Yun mengambil ranting pohon yang kering sambil mencoba menatap wajah Shingen. "Apa tadi ayah mertua mendengar perkataanku?" Gadis bermata sayu itu membatin penuh pertanyaan dalam hatinya.


__ADS_2