
Wang Zhou tersenyum tipis dan memanipulasi darah anggota pendekar Sekte Lembah Darah menjadi kekuatannya.
"Sepertinya aku harus membunuhmu terlebih dahulu sebelum pergi dari sini." Wang Zhou mengerutkan dahinya melihat Shingen yang tidak menunjukkan ketakutannya sedikitpun.
Shingen memperkuat auranya untuk melapisi tubuhnya, dirinya mencoba untuk mengamati teknik yang baru saja digunakan Wang Zhou.
"Pernapasan Sirih." Shingen menarik napas panjang dan menyimpannya di dalam ulu hati, matanya memejam mencoba mengontrol auranya.
Ketenangan Shingen membuat Wang Zhou menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi darah, perlahan darah yang membentuk gumpalan darah besar terpecah menjadi pelindung yang melapisi tubuh Wang Zhou.
"Zirah Darah."
Wang Zhou tersenyum sinis menatap Shingen yang sedang berjalan perlahan ke arahnya. Perlahan Wang Zhou membentuk sebuah pedang berwarna merah yang terbuat dari darah dengan tenaga dalamnya.
Keduanya menjaga jarak sebelum saling bertukar serangan, permainan pedang Wang Zhou sangat mahir karena bisa mengimbangi permainan katana Shingen.
"Seperti yang kuharapkan dari pemimpin samurai." Wang Zhou mencoba mengimbangi permaianan katana Shingen yang sangat mahir, pergerakan yang dilakukan Shingen membuat Wang Zhou sulit untuk mengikutinya.
Wang Zhou merasa beruntung karena zirah darah yang dia manipulasi dengan aura dapat memberinya pertahanan yang dapat meminimalisir luka sayatan dari tebasan katana Shingen.
"Perisai Darah."
Wang Zhou memainpulasi auranya membentuk perisai darah yang kokoh, terdengar benturan katana Shingen yang ditahan perisai darah.
"Menarik..." Shingen tersenyum dan melakukan gerakan memutar, langkah kakinya yang cepat membuatnya langsung memutarkan tubuhnya setelah berada di samping Wang Zhou.
Shingen tersenyum melihat Wang Zhou yang menatap dirinya, dengan cepat dia memutarkan tubuhnya membuat pusaran angin yang berwarna biru muda.
"Terseretlah!" Shingen menyarungkan katananya sambil menatap Wang Zhou yang terseret pusaran anginnya, bau amis semakin menyengat ketika Wang Zhou memanipulasi auranya mengendalikan darah-darah yang berceceran untuk meembentuk sebuah tangga.
__ADS_1
Shingen masih kagum melihat kemahiran Wang Zhou mengendalikan aura tubuhnya, dengan cepat Wang Zhou berlari menuruni tangga yang dia buat dengan aura tubuhnya.
"Shingen!" Wang Zhou melesatkan puluhan pedang yang dia buat dengan darah ke arah Shingen. Kemahiran Wang Zhou memanipulasi auranya membuat Shingen memusatkan auranya di bilah katananya.
Shingen menangkis pedang darah yang diciptakan Wang Zhou tanpa kesulitan, katana Shingen berwarna putih ketika dia memusatkan auranya pada bilah katananya.
Wang Zhou menggertakkan giginya melihat Shingen yang kekuatannya lebih dari yang dia perkirakan, perlahan Wang Zhou mulai merencanakan cara untuk melarikan diri dari situasi yang sangat tidak mendukungnya.
Catatan kuno yang ada di jubahnya akan dia pelajari untuk persiapan perang yang telah lama Sekte Aliran Hitam rencanakan. Tubuh Dong Hao yang dia ambil juga perlahan telah melemah, terlihat dari rambut dan suaranya yang sangat berbeda.
Wang Zhou berlari ke arah Shingen dan menebaskan pedangnya menyerang Shingen. Benturan katana dan pedang keduanya membuat angin berhembus kencang di sekitar mereka.
Wang Zhou berniat mengulur waktu selama mungkin, sesekali dia melirik Ming Fengying yang sedang bertarung melawan Wang Guoxiang. Setelah bertarung denng sengit melawang Shingen. Raut wajah Wang Zhou berubah karena pedang darahnya hancur, dengan cepat dia membuat pedang darah yang lain menggunakan tenaga dalamnya.
Shingen melakukan kuda-kuda yang sangat terasa jangkauan auranya, matanya memejam ketika auranya membentuk sebuah lingkaran. Shingen menebaskan katananya ke arah Wang Zhou yang berniat membuat pedang darah kembali menggunakan tenaga dalamnya.
"Tanganku?!" Wang Zhou panik karena melihat Shingen menyarungkan katananya pelan-pelan, belum sempat dirinya berpikir kembali tangan kirinya menyusul tangan kanannya dan tergeletak di tanah.
"Biar aku mengakhiri penderitaanmu..." Shingen membuka matanya dan berlari dengan cepat mengayunkan katananya pada tubuh Wang Zhou. Tubuh Dong Hao yang digunakan Wang Zhou tertebas dadanya, luka silang karena tebasan katana Shingen terlihat jelas.
"Shingen, kau tidak akan bisa membunuhku..." Wang Zhou menatap catatan kuno yang ada di jubahnya telah terjatuh di antara tumpukan kayu.
Wang Zhou melirik Ming Fengying sebelum dia memejamkan matanya, tubuh Dong Hao yang dikendalikan Wang Zhou dalam sekejap membusuk.
"Syukurlah aku tidak membunuh semua kroco yang menjadi bawahanku..." Wang Zhou mengambil alih tubuh pendekar dari Sekte Lembah Darah yang menjadi bawahannya.
"Aku harus menyesesuaikan tubuh ini sebelum mengambil alih tubuhnya!" batin Wang Zhou menatap Ming Fengying yang sedang bertarung melawan Wang Guoxiang.
"Apa dia telah mati?" Shingen mengerutkan dahinya melihat tubuh yang digunakan Wang Zhou membusuk. Baunya yang menyengat membuat Shingen menjauh, bahkan dia melupakan catatan kuno yang berada digenggaman Wang Zhou.
__ADS_1
Shingen melihat Ming Fengying bertarung sengit melawan Wang Guoxiang. Tidak berapa lama terlihat Ming Fengying mendekat pada Yuan Shi.
Shingen menghampiri Haori yang sedang dirawat Mao Gang dan Mu Shang. Sementara itu, Fujin dan Sanada memperhatikan pertarungan Ming Fengying, Yuan Shi melawan Wang Guoxiang.
"Kalian berdua bawalah ini. Kami akan bergegas ke Pegunungan Tiangan." Shingen memberikan kartu berwarna putih pada Mao Gang.
"Tuan Shingen, tetapi..." Mao Gang terlihat tidak enak melihat Shingen yang berniat menolongnya.
"Bawa Haori dan teman kalian itu ke Bei. Kami akan menyambut kalian." Shingen tersenyum sambil menatap wajah Haori yang membiru.
Mao Gang menatap Mu Shang sesaat, tidak berapa lama keduanya mengangguk dan bersujud pada Shingen.
"Terimakasih, Tuan Shingen..." Mao Gang dan Mu Shang sangat bersyukur menerima pertolongan Shingen.
"Berdiri, lelaki tidak boleh tunduk pada sembarang orang!" Shingen dengan tegas menyuruh Mao Gang dan Mu Shang untuk berdiri.
"Aku ingin mendengar langsung cerita dari Haori." Shingen menatap Haori dalam. "Bawa mereka berdua ke Bei dan berikan kartu itu pada samurai yang ada di sana," tambah Shingen mengingatkan.
Mao Gang dan Mu Shang mengangguk pelan, mereka berdua menatap Ming Fengying yang sedang bertarung melawan Wang Guoxiang. Melihat Shingen, Fujin dan Sanada yang tetap santai melihat dua pemuda yang berhadapan dengan pendekar tingkat hitam membuat Mao Gang dan Mu Shang kebingungan.
Mu Shang berniat bertanya pada Shingen yang membiarkan anaknya bertarung, tetapi dia lebih memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Shingen. Raut wajah Shingen terlihat sangat mempercayai tekad anaknya, dan tidak meragukan sedikitpun tindakan maupun kekuatan Ming Fengying.
Mu Shang yang melihat itu tentu saja kagum, dua samurai yang lain juga terlihat begitu mempercayai Ming Fengying dan Yuan Shi yang sedang bertarung melawan Wang Guoxiang.
"Mao, aku akan membawa tubuh ayah." Mu Shang menggendong tubuh Haori. "Kau bawa tubuh Feng..."
Mao Gang mengangguk pelan dan tidak lama mereka berdua dikejutkan dengan Wang Guoxiang yang tiba- tiba mati terkena pedang darah.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1