
Keesokan harinya rombongan lima samurai dari Bei melanjutkan perjalanan setelah beristirahat yang cukup. Kuda yang menjadi rekan perjalanan mereka juga telah terlihat gagah perkasa kembali. Pagi saat embun masih turun mendekap daun-daun pepohonan, Shingen memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak ada halangan suatu apapun dalam perjalanan mereka, rombongan lima samurai yang menunggangi kuda telah sampai di Kota Huaran.
Gerbang masuk Kota Huaran dijaga penjaga, terlihat banyak orang yang hendak masuk ke dalam Kota Huaran. Setelah menempuh waktu seharian penuh, Shingen berharap mereka dapat menemukan penginapan yang bagus untuk beristirahat. Ming Fengying mengamati situasi orang-orang yang sedang berdesak-desakan.
Shingen, Ming Fengying, Yuan Shi, Fujin dan Sanada harus rela menunggu selama tiga puluh menit lebih. Antrian panjang membuat mereka harus mengalah dengan penduduk asli Kekaisaran Kuru maupun orang-orang yang dekat tempat tinggalnya dengan Kota Huaran.
Yuan Shi mendecakkan lidahnya. "Apa-apaan tatapan mereka itu? Membuatku kesal, aku akan mencincangnya dengan ganas!" Tampak emosi Yuan Shi melihat orang-orang yang merendahkan kedatangan Shingen dan yang lainnya.
"Kau pikir kau Paman Toramasa?! Jangan melakukan hal yang bodoh!" Ming Fengying menyentuh kepala Yuan Shi dan meremas-remas rambutnya. "Sudah hal yang wajar diskriminasi menjadi bagian dari kebanyakan masyarakat. Apanya yang saling menghargai? Membuatku kesal saja!" Kali ini Ming Fengying yang emosi setelah menenangkan Yuan Shi.
"Tidak dirimu Feng! Bukankah kau yang menyuruhku untuk ... kruk ... kruk." Suara perut Yuan Shi dan Ming Fengying bunyi membuat mereka berdua malu. Shingen, Fujin dan Sanada tertawa mendengar suara perut Yuan Shi dan Ming Fengying yang keroncongan.
"Seorang samurai tidak boleh mengeluh karena rasa lapar melanda perut kita." Yuan Shi dengan jelas berdiri tegak dan mencoba untuk tetap terlihat sepeti biasa. Mendengar perkataan Yuan Shi membuat Ming Fengying menghela napas panjang sebelum mengatakan hal yang membuat Yuan Shi terdiam.
"Seorang samurai juga manusia. Sudah sewajarnya manusia akan merasa lapar, jika manusia tidak merasa lapar lagi. Maka manusia tersebut adalah orang yang sudah mati dan tak bernyawa." Ming Fengying mengatakan hal yang membuat Shingen, Fujin, Sanada dan Yuan Shi terdiam.
Setelah beberapa saat mereka berempat mencoba mencerna perkataan Ming Fengying. Muncul sebuah pertanyaan dalam benak Yuan Shi. "Mengapa Feng terkadang terlihat seperti orang tua?" Yuan Shi bertanya dalam hatinya tentang Ming Fengying.
"Perkataanmu benar, tetapi janganlah kau menganggu perkataan seniormu ini, Feng." Yuan Shi terlihat lesu dan bersandar pada punggung kuda. "Padahal aku sudah terlihat keren..." Yuan Shi bergumam pelan sambil kepalanya menghadap ke atas.
"Ada seorang pendekar yang bisa menahan lapar selama puluhan hari. Tapi mereka tidak mati," ucap Yuan Shi sambil menatap Ming Fengying. Dia ingin mendengar jawaban Ming Fengying dengan telinganya sendiri.
Ming Fengying menghela napas panjang sebelum menjawab perkataan Yuan Shi.
"Aku lebih realistis. Hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan hidupnya dengan menahan rasa lapar karena ingin dibilang kuat dan sakit." Ming Fengying terlihat kesal karena suatu alasan. Perkataannya membuat dirinya mengingat kehidupan sebelumnya, di mana saat itu Ming Fengying bernama Feng Huang. "Dan orang bodoh itu adalah diriku sendiri," batin Ming Fengying setelah berkata dengan jelas pada Yuan Shi.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang dengan Yuan hampir tiga jam, Singen mengajak mereka untuk masuk ke dalam Kota Huaran. Ternyata Shingen mengurus surat untuk masuk ke dalam Kota Huaran terlebih dahulu, untung Shingen membawa kartu putih milik Ming Lian. Mengingat kartu putih miliknya dia berikan pada Mao Gang dan Mu Shang.
Seketika melihat kartu putih yang ditunjukkan Shingen pada mereka, penjaga kota langsung mempersilahkan Shingen bersama rombongannya untuk segera masuk ke dalam Kota Huaran.
Shingen memacu kudanya pelan, pandangan semua orang terarah padanya bersama rombongannya. Beberapa dari mereka ada yang kagum dengan Shingen dan beberapa dari mereka juga ada yang memandang Shingen rendah.
Shingen hanya tersenyum tipis ketika dirinya dipandang rendah, dia hanya menganggap kesabarannya sedang diuji lalu pergi begitu saja meninggal puluhan orang yang memandang dirinya dengan tatapan merendahkan.
"Jika aku mengajak Nobusuke pergi bersamaku, mungkin dia sudah marah." Shingen tertawa pelan mengingat sifat Nobusuke yang tidak segan-segan memberi perhitungan dengan orang yang merendahkan Shingen.
Setelah melihat sebuah penginapan yang cukup terlihat asri tempatnya, Shingen turun dari kuda dan mengikat kudanya di depan penginapan.
"Penginapan Rawa Indah..." Shingen bergumam pelan setelah membaca nama penginapan yang tertulis jelas di papan penginapan.
Shingen melirik Ming Fengying dengan harapan anaknya itu berdecak kagum, tetapi raut wajah datar Ming Fengying membuat Shingen melongo keheranan.
Penginapan Rawa Indah memiliki dua lantai, kedua lantai penginapan memiliki harga yang berbeda untuk menginap. Shingen mengajak Ming Fengying, Yuan Shi, Fujin dan Sanada untuk memasuki ke dalam Penginapan Rawa Indah.
"Jadi ini kota di luar Bei dan Lembah Batu..." Yuan Shi terlihat berdecak kagum, melihat hal itu Ming Fengying langsung menegur temannya itu.
"Biasa saja jangan terlalu heboh begitu. Tidak ada yang istimewa di tempat seperti ini" Ming Fengyin sedikit merasa kesal dengan sikap Yuan Shi. Tidak berapa lama dia bergumam pelan sekali. "Karena semua akan hancur ketika kita tidak bersatu dan saling menjatuhkan satu sama lain," gumam Ming Fengying dengan sangat pelan. Suaranya tidak terdengar Yuan Shi.
"Selamat datang tuan pendekar pedang di Penginapan Rawa Indah." Lima gadis manis berdiri menyapa kedatangan Shingen bersama rombongannya. Dalam sekejap Yuan Shi langsung menyembunyikan perasaannya yang berdecak kagum setelah melihat lima gadis manis menayapanya.
"Nona, kami adalah samurai. Ingat, samurai," ucap Yuan Shi pada lima gadis manis yang menyambut kedatangan mereka. "Bisa ulangi lagi, aku ingin mendengar suara merdu kalian," tambah Yuan Shi sambil menatap lima gadis manis dengan tatapan ketertarikan pada mereka.
__ADS_1
Dengan penuh keterpaksaan lima gadis manis mengikuti perkataan Yuan Shi.
"Selamat datang tuan samurai di Penginapan Rawa Indah," ucap kelima gadis yang berdiri di depan penginapan.
"Nah, begitu dong-" Ming Fengying menarik kerah baju Yuan Shi secara paksa.
"Usiamu lebih tua dariku. Jangan melakukan hal yang memalukan," ujar Ming Fengying pada Yuan Shi sambil terus menyeretnya masuk ke dalam penginapan.
Puluhan orang yang menginap di Penginapan Rawa Indah menatap tajam kedatangan Shingen, Ming Fengying, Yuan Shi, Fujin dan Sanada. Di antara orang-orang yang menatap tajam kelima samurai ada dua pendekar hitam bersaudara yang bekerja sebagai pembunuh bayaran.
"Lima juta keping emas ... harga kepala Shingen." Salah satu pendekar hitam bersaudara yang bernama Hei He tersenyum lebar menatap Shingen sambil menjilat pisau yang dia pegang.
"Kakak, jika semua di jumlah. Kita akan kaya," sahut adik Hei He yang bernama Hei Xie.
"Membunuh secara diam-diam, itulah cara kita bekerja. Nanti malam kita beraksi, Shi'er." Hei He tersenyum sambil melangkahkan kakinya beranjak pergi memasuki kamar yang telah dia pesan.
"Tuan pendekar pedang, yang tersisa hanyalah kamar yang ada di lantai dua. Jadi bagaimana? Apakan anda akan bermalam di sini?" Pelayan penginapan sedang melayani Shingen.
"Limar kamar dan makanan yang lezat untuk kami berlima. Ini uangnya," ucap Shingen sambil mengeluarkan tiga puluh Keling emas.
"Tuan pendekar pedang, cukup dua puluh lima keping emas saja, ini uangnya kelebihan lima keling emas," tolak pelayan penginapan ketika Shingen memberikan lebih lima keling emas padanya.
Shingen kagum dengan kejujuran gadis yang menjadi pelayan penginapan.
*Ini adalah uang makan, terima saja." Shingen langsung beranjak pergi menuju kamar yang ada di lantai dua.
__ADS_1
"Terimakasih tuan pendekar pedang," ucap pelayan penginapan pada Shingen. Setelah itu dia melirik lima gadis manis yang sedang berdiri. "Kalian antarkan tuan pendekar pedang itu, cepat!" Perintahnya pada lima gadis manis.
Shingen, Ming Fengying, Yuan Shi, Fujin dan Sanada tidak sadar dengan dua pembunuh bayaran yang mengincar nyawa mereka.