Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 79 : Tanganku Terlalu Berdosa Untuk Menyentuhmu


__ADS_3

Yuan Shi masuk ke dalam ruangan yang ada di rumah bordil. Pemuda itu merapatkan giginya mencoba mencari apapun yang terlihat mencurigakan. P


Tidak berapa lama pandangan matanya terarah pada dinding yang terlihat ada bekas cakaran dari kuku manusia.


Detak jantung Yuan Shi memainkan melodi kemarahan, dia bisa mengerti bekas cakaran tersebut dan itu membuatnya tidak bisa memaafkan perbuatan Walikota Kota Jinning bersama komplotannya.


"Bagaimana cara membukanya?" Yuan Shi menyentuh dinding rumah yang tergores karena bekas cakaran tersebut. Tangannya mendorong ke depan, suara seperti pintu terdengar dan tubuh Yuan Shi kehilangan keseimbangannya. Dia terjatuh ke sebuah anak tangga yang menurun ke bawah.


"Hampir saja..." Yuan Shi menahan tubuhnya yang hampir terjatuh ke lantai dengan tangannya. Posisi tangan Yuan Shi seperti orang yang akan melakukan push up.


Setalah berdiri, Yuan Shi menuruni tangga yang ada di lorong, di balik dinding terdapat sebuah lorong yang mengarah ke bawah. Telinga Yuan Shi mendengar suara tangisan gadis-gadis yang dikurung. Dengan cepat dia melangkahkan kakinya, disana dia mendapati puluhan pendekar aliran hitam yang sedang memegang bagian intim gadis-gadis tersebut.


"Pernapasan Sirih."


Yuan Shi menarik napas dalam-dalam dan menebaskan katananya membunuh puluhan pendekar aliran hitam dalam sekejap, putaran tebasannya dan ayunannya sangat dalam, semua itu dia lakukan dengan cepat dan dalam sekali gerakannya.


Yuan Shi memejamkan matanya, kemudian dia mencoba mengatur napasnya.


"Kalian cepat keluar dari sini!" Yuan Shi menendang penjara yang terbuat dari kayu.


Setelah semua gadis yang terkurung keluar, Yuan Shi menyipitkan matanya karena ada beberapa gadis yang pakaian bagian atasnya tidak ada.


"Kalian ikuti aku keluar!" Yuan Shi cukup gugup mengatakan hal itu, melihat ekspresi para gadis yang tidak percaya dengan dirinya, Yuan Shi menghela napas panjang dan berkata, "Kami sudah membunuh tiga dari Enam Pendekar Akar. Sedangkan Walikota Kota Jinning yang kurang ajar itu telah mati! Kalian telah bebas!" Ekspresi wajah puluhan gadis yang diselamatkan Yuan Shi mendadak membaik, mereka semua tersenyum lega.


"Jangan melakukan tindakan konyol!" Yuan Shi memegang pisau yang dipegang salah satu gadis.


Darah mengalir di telapak tangan Yuan Shi. Pemuda itu bisa melihat puluhan gadis yang masih trauma dan mereka telah hancur mentalnya.


"Jangan bunuh diri! Maafkan kami yang tidak datang lebih cepat! Andai kami mengetahui ini lebih awal maka..." Yuan Shi memohon kepada gadis yang dia selamatkan agar tidak bunuh diri. Suaranya tertahan dan Yuan Shi terlihat memohon dengan sangat pada gadis-gadis yang dia selamatkan agar tidak bunuh diri.

__ADS_1


Yuan Shi menatap mata gadis yang dia selamatkan dengan berkaca-kaca, kemudian raut wajah puluhan gadis juga merasa bersalah mrngingat mereka memasang raut wajah sedih. Selang beberapa menit kemudian, puluhan gadis yang menjadi korban perdagangan manusia memaksakan senyuman mereka.


Puluhan gadis mencoba untuk tetap tersenyum walau itu sangat menyayat hati.


"Kita harus keluar dari sini! Kalian harus membongkar kebusukan Walikota sialan itu!" Yuan Shi menuntun puluhan gadis yang hampir dijadikan budak menuju luar rumah bordil. Sesampainya di luar rumah bordil, suara benturan pedang terdengar dari dalam rumah bordil.


Untuk memastikan para gadis yang telah dia selamatkan, Yuan Shi membawa puluhan gadis menuju Permukiman Wuhang. Di sana terlihat puluhan gadis yang sudah menunggu, jika dijumlah sekarang maka para gadis yang menjadi tawanan dan dipaksa bekerja di rumah bordil jumlahnya mencapai ratusan.


***


Di pinggiran sungai yang disinari cahaya rembulan terlihat gadis bermata sayu sedang bersandar pada pohon. Matanya yang sayu menatap air yang mengalir dengan jernih, suara gemercik air membuat Soo Yun merasa sedikit tenang.


Di balik pohon yang sedang menjadi sandarannya ada sosok pemuda yang sudah menunggunya.


Zhang Fei tersenyum penuh nafsu ketika melihat Soo Yun yang bersandar pasrah di pohon, pria paruh baya tersebut menjilat bibirnya sendiri, sedangkan matanya seperti binatang yang hendak menerkam mangsanya.


Tangan Zhang Fei memegang pundak Soo Yun. Kemudian dia menarik Soo Yun ke depan, namun tebasan katana yang begitu cepat membuat tangan kanan Zhang Fei putus dalam sekejap.


"Kamu terlalu gegabah," ujar Ming Fengying menarik pinggang Soo Yun dan memeluknya, kemudian dia membenamkan wajah Soo Yun ke dadanya.


"Lihat, kamu gemetaran seperti ini, aku tidak bisa berpikir jernih saat kamu dalam bahaya!" Ming Fengying menyeka air mata Soo Yun yang keluar dari pelupuk mata sayu itu.


"Fengfeng ... aku takut!" Tangisan Soo Yun pecah. Dengan lembut tangan Ming Fengying membelai rambut halus Soo Yun.


"Sudah, jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Yunyun cukup pejamkan mata saja dan tunggu aku selesai menghabisinya!" Ming Fengying menyandarkan tubuh Soo Yun ke pohon yang ada di dekatnya, kemudian dia mengecup kening Soo Yun sebelum menyerang Zhang Fei yang masih terhuyung mencoba berdiri.


"Tanganku! Sial! Wanita ******!" Zhang Fei menatap Soo Yun dengar geram, tidak berapa lama serangan tebasan katana dari Ming Fengying membuat Zhang Fei mundur beberapa ke belakang untuk menghindar. Pria paruh baya tersebut mencoba menghindari serangan agresif katana Ming Fengying.


"Hmm." Ming Fengying menggumam pelan melihat Zhang Fei yang mampu menghindari serangannya walau dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


Ming Fengying memutarkan tubuhnya dan menebaskan katananya lebih cepat dan dalam dari sebelumnya. Gerakannya yang cepat dan tebasannya yang agresif membuat tubuh Zhang Fei menjadi sasaran empuk.


"Pernapasan Sirih."


Ming Fengying menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, kemudian dia bergerak lebih cepat sembari mengayunkan katananya.


Zhang Fei yang masih dalam keadaan setengah sadar mencoba menghindari tebasan beruntun katana Ming Fengying. Perlahan kepalanya mulai terasa pusing, pandangan matanya mulai buram. Zhang Fei menyadari jika tangan kanannya mengeluarkan banyak darah.


Ming Fengying menebasakan katananya dari jauh sembari berlari, tebasan katananya menciptakan seekor harimau berwarna biru muda menggigit badan Zhang Fei. Gerakan Ming Fengying lebih cepat, dia memutarkan tubuhnya ke depan sambil menebaskan katananya pada dada Zhang Fei.


Tebasannya yang dalam membuat Zhang Fei langsung ambruk ke tanah, Ming Fengying memeriksa Zhang Fei untuk memastikan bahwa dia benar-benar telah mati.


"Bocah!" Ming Fengying langsung memotong tangan kiri Zhang Fei. Pria paruh baya tersebut berniat mencekik leher Ming Fengying saat pemuda itu lengah.


"Argh!" Zhang Fei mengerang kesakitan.


"Tanganmu terlalu kotor karena telah menyentuh wanita tak berdosa! Selamat tinggal binatang berwujud manusia!" Ming Fengying mengakhiri hidup Zhang Fei dalam sekali tebasan katananya.


"Aku harus pergi ke rumah bordil!" Ming Fengying mengibaskan katananya dan menghampiri Soo Yun yang masih menutup matanya dengan kedua tangan.


"Yunyun. Sudah selesai." Ming Fengying hendak memegang tangan Soo Yun namun gadis bermata sayu itu menangkis tangannya.


Ming Fengying terkejut melihat sikap Soo Yun. Pemuda itu menatap telapak tangannya yang sudah membunuh manusia, tangannya terlalu berdosa untuk menyentuh wanita secantik Soo Yun.


"Maaf ... aku membuatmu takut..." Ming Fengying berkata lirih dan menatap Soo Yun dengan waktu yang cukup lama.


Ming Fengying meninggalkan Soo Yun dan melangkahkan kakinya menuju rumah bordil untuk membantu Fujin dan Sanada.


Soo Yun menangis karena mengabaikan Ming Fengying. Gadis bermata sayu itu trauma dengan masa lalunya. Tubuhnya terduduk di tanah dan menatap punggung Ming Fengying yang mulai menjauh dari pandangan matanya.

__ADS_1


"Maaf ... Fengfeng ... maafkan aku!" Soo Yun menjerit.


__ADS_2