
Tepat setelah Shingen mengalahkan gerombolan ikan bawal, beberapa orang menaiki kapal dan mengucapkan terimakasih kepada Shingen bersama anggota samurainya.
Tepuk tangan dan sorakan orang-orang dari pelabuhan terdengar, Ming Fengying melihat seorang pria paruh baya yang datang bersama penduduk yang tempat tinggalnya dekat dengan Danau Qing untuk melihat langsung puluhan ikan bawal yang telah mati.
"Fengfeng!" Soo Yun melompat dari kapal yang sedang di dayung puluhan pria. Gadis bermata sayu itu langsung memeluk Ming Fengying.
"Bukankah aku sudah bilang. Tunggu aku di sana." Sekarang Ming Fengying telah terbiasa dengan sikap Soo Yun.
"Aku takut. Berada di dekatmu membuatku nyaman." Soo Yun tersenyum gembira ketika melihat Ming Fengying tidak marah ketika dirinya memeluknya.
Salah satu pemilik kapal dan tetua penduduk yang tinggal di Danau Qing menghampiri Shingen yang sedang duduk di atas mayat ikan bawal.
"Tuan Samurai. Jika berkenan kalian bisa menginap di Kota Jinning untuk merayakan ini. Saya berniat menjadikan daging dari ikan bawal ini sebagai makanan mewah," kata pemilik kapal dan sesepuh penduduk Danau Qing tersebut.
"Ide bagus. Baiklah, aku bersama teman-temanku ini memang berniat bermalam di Kota Jinning." Shingen mengelus dagunya.
"Daripada itu." Shingen membatin menatap Ming Fengying yang sedang di peluk Soo Yun. "Kenapa Kenshin sangat bersikap dewasa terhadap seorang gadis. Bukankah dia masih sangat muda. Seorang anak memang mewarisi kharisma ayahnya," batin Shingen.
"Tuan Samurai, memang ini tidak seberapa, tapi kami semua berharap Tuan Samurai menerima uang pemberian kami." Beberapa pedagang memberi kantong besar berisi uang kepada Shingen.
"Selera Kenshin boleh juga, gadis itu sepertinya bukan berasal dari Kuru. Dia mirip murid dari Tao Lulu. Terlihat dari logat dan wajahnya." Shingen membatin tidak mendengarkan perkataan pedagang.
"Tuan Samurai..." Beberapa pedagang kebingungan melihat Shingen yang hanya diam.
"Gunakan uang itu untuk anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan fakir miskin." Shingen berdiri sambil menepuk-nepuk celananya. Kemudian dia melepas katananya selama beberapa detik, setelah itu dia menyarungkannya kembali.
"Baiklah Tuan Samurai. Setelah sampai di Kota Jinning, kami akan memberikan uang ini ke panti asuhan," sahut pedagang.
"Mari kita kaitkan ikan-ikan dengan tali yang besar dan kuat. Malam ini akan menjadi malam terindah." Shingen mengajak orang-orang yang baru dia temui dengan akrabnya.
"Akhirnya malam ini aku bisa tidur nyenyak," gumam Shingen sambil tersenyum tipis.
"Cepat. Kita laksanakan perintah Tuan Samurai." Tetua penduduk yang tinggal dekat Danau Qing menyuruh yang lainnya untuk segera melaksanakan perkataan Shingen.
Ming Fengying menggelengkan kepalanya melihat sikap berbeda penduduk yang mendadak baik pada Shingen.
__ADS_1
"Yunyun. Jangan terlalu menempel. Kamu seorang perempuan harus lebih feminim. Sentuhan badanmu itu membuat punggungku merasa terganggu." Ming Fengying melirik Soo Yun yang terdiam.
"Menempel?" Wajah Soo Yun merah padam. Tidak lama wajahnya menjadi merah seperti tomat. "Dasar mesum," desisnya.
Ming Fengying menghela napas panjang. Dia melihat Soo Yun yang sangat mirip dengan Harumi. Hanya saja sikap Soo Yun yang mudah takut dan menangis berbeda dengan Harumi yang berusaha bersikap kuat dan tegar.
Ming Fengying merasa ada sesuatu yang terjadi di masa lalu pada Soo Yun. Sesuatu yang menimpa gadis bermata sayu itu hingga membuatnya menjadi mudah ketakutan.
"Bisa antarkan kami ke pelabuhan." Shingen menghampiri pria yang sedang mendayung kapal. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Bisa, Tuan Samurai."
Ming Fengying menarik tangan Soo Yun dan membawanya ke perahu yang dinaiki Shingen.
Tidak butuh waktu lama bagi Shingen dan anggota samurainya sampai di pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan, Shingen menatap langit sesaat sebelum dia menghela napas panjang.
"Ada yang tidak beres," gumam Shingen pelan.
Ming Fengying melihat kapal-kapal yang mengangkut pedagang menarik ikan bawal yang telah mati. Mereka semua juga menyusul Shingen untuk segera menuju Kota Jinning.
"Tuan Samurai. Jika berkenan kalian bisa menginap di rumahku. Aku bisa melihat Tuan Samurai mencemaskan sesuatu." Pria sepuh itu tersenyum kepada Shingen.
"Fengfeng. Aku takut ketika melihat laki-laki menatapku." Soo Yun menggenggam tangan Ming Fengying dengan erat.
Ming Fengying membalas genggaman tangan Soo Yun kemudian dia tersenyum lembut pada gadis bermata sayu itu.
Soo Yun memerah wajahnya melihat Ming Fengying. Perasaan risihnya mulai menghilang, kini kehangatan karena senyuman Ming Fengying mulai menyejukkan hatinya.
Ming Fengying menarik tangan Soo Yun agar gadis bermata sayu itu berjalan tepat di sisinya. Pandangan matanya terarah pada Shingen yang sedang berbincang serius dengan pria sepuh.
Tidak berapa lama Shingen berjalan mendahului pria sepuh tersebut. Fujin, Sanada dan Yuan Shi mengikuti Shingen dari belakang.
"Yunyun. Apa kamu mengetahui Pertemuan Putih Suci?" Ming Fengying berkata pelan kepada Soo Yun.
"Aku pernah mendengarnya. Kalau tidak salah itu adalah pertemuan antar pendekar dari Kekaisaran Kuru." Jari telunjuk Soo Yun menyentuh dagunya dan raut wajahnya terlihat seperti sedang berpikir.
__ADS_1
"Kurang lebih seperti itu..." Ming Fengying tersenyum tipis melihat Soo Yun yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Kau akan ikut denganku ke pertemuan tersebut. Jadi aku ingin kau menjaga sikapmu. Jangan seperti tadi." Ming Fengying mengingatkan.
"Tadi?" Soo Yun kebingungan.
Ming Fengying menghela napas panjang melihat Soo Yun yang terlihat pura-pura lupa.
Yuan Shi terus melirik Ming Fengying yang berjalan berdampingan dengan Soo Yun. Kekesalan mulai menumpuk di hati Yuan Shi.
"Feng. Kau beruntung sekali telah menemukan seorang kekasih. Padahal umurmu lebih muda dariku." Yuan Shi memperlambat langkahnya sehingga dia sekarang berjalan di samping Ming Fengying.
"Dia ini hanya sebatas..." Ming Fengying tidak melanjutkan perkataannya. Pandangan matanya melihat mata sayu Soo Yun yang berkaca-kaca.
"Aku mengerti. Kamu adalah calon selirku." Ming Fengying menyentuh kepala Soo Yun dan mengelusnya.
"Entah kenapa aku merasa seperti orang bodoh," keluh Ming Fengying.
"Hehe ... akhirnya kamu menerimaku, Fengfeng," celetuk Soo Yun.
"Feng! Beraninya kau jadikan perempuan secantik ini sebagai selir! Kau ini cucu kaisar. Kau tidak boleh seperti itu!" Yuan Shi memotong perkataan Ming Fengying dengan sengit.
"Eh ... tunggu. Feng memang cucu kaisar, tetapi dia sama seperti anak liar pada umumnya. Apa karena aku terlalu lama melihat Feng seperti anak biasa, jadi aku tidak bisa menganggapnya sebagai cucu kaisar," ucap Yuan Shi sambil mengelus dagunya. Dia menatap tanah dan mengabaikan Ming Fengying dan Soo Yun yang mendengarkan perkataannya.
"Seroang pangeran memang harus memiliki selir. Tapi aku tetap tidak bisa menganggap Feng sebagai seorang pangeran." Yuan Shi menambahkan.
"Tidak sopan. Kau juga tidak pernah kuanggap sebagai seniorku." Ming Fengying kini membalas perkataan Yuan Shi dengan sengit.
"Apa katamu?" Yuan Shi menatap tajam Ming Fengying.
"Tuan Samurai kota ini tidak menerima kalian!" Suara penjaga kota langsung membuat Ming Fengying dan Yuan Shi yang sedang berdebat menatap tiga penjaga kota yang mencegat Shingen.
"Tuan Samurai adalah penyelamat Kota Jinning. Dan Tuan Shingen ini adalah suami dari Tuan Putri Kelima. Jaga sopan santun kalian." Pria sepuh menghampiri tiga penjaga yang mencegat Shingen.
"Tadi kau juga tidak sopan kepada ayahku," gumam Ming Fengying pelan. Pandangan matanya menatap tajam tiga penjaga kota yang terkejut melihat pria sepuh tersebut.
__ADS_1
"Bukankah anda-"