
Akhir - akhir ini Ming Lian melihat putra semata wayangnya berlatih bersama Tao Lulu dan sekarang Ming Fengying berlatih bersama suaminya. Ada perasaan sedih dalam benak Ming Lian mengingat wajah lucu Ming Fengying ketika bayi dan ketika dalam masa - masa pertumbuhan, setelah berumur empat tahun Ming Fengying selalu kabur dari Istana Pinyin dan pergi entah kemana. Semua itu tentu membuat Ming Lian menjadi khawatir dan cemas dengan Ming Fengying.
Ming Lian melihat suami dan anaknya yang sedang berlatih dari teras Rumah Harimau Bei. Matanya kagum melihat Ming Fengying tumbuh dengan sangat baik, bayi mungil yang dulu terlihat lucu itu sekarang sedang memegang pedang kayu dan berlatih bersama Shingen.
Ming Lian sedikit sedih karena hal yang dia ajarkan pada anaknya itu hanya lewat kata - kata dan kasih sayangnya. Ming Lian sadar jika dirinya tidak mempunyai ilmu bela diri sehingga Ming Fengying akhir - akhir ini tidak bersikap manja padanya seperti dulu lagi, semua itu tentu membuat Ming Lian sedikit merasa kesepian.
Tatapan matanya menatap keringat yang menetes dari wajah suami dan anaknya, Ming Lian tersenyum tipis karena Shingen dan Ming Fengying memiliki banyak kemiripan.
Selesai berlatih, Shingen dan Ming Fengying menghampiri Ming Lian. Minuman dan cemilan sudah disiapkan oleh Ming Lian hanya untuk suami dan anaknya itu.
Ming Fengying melihat Ming Lian yang terlihat sedih, semua itu bisa dia ketahui dari wajah ibunya. Sejak bayi Ming Fengying sudah melihat Ming Lian yang tersenyum, tertawa dan terkadang ibunya itu menunjukkan raut wajah sedih karena mencemaskan keluarganya.
"Bunda kenapa? Kenapa wajah bunda terlihat sedih?" tanya Ming Fengying pada Ming Lian setelah menelan cemilan yang dibuatkan Ming Lian.
Ming Lian terdiam sesaat mendengar anaknya bertanya padanya, "Tidak. Bunda tidak kenapa - kenapa kok," senyuman lembut khas Ming Lian membuat Ming Fengying diam, "Kamu tumbuh dengan baik, Ying'er." tangan Ming Lian mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
Ming Fengying sadar karena akhir - akhir ini dia tidak ada di samping Ming Lian, merasa bersalah pada ibunya yang telah membesarkannya, Ming Fengying menampar kedua pipinya.
Shingen dan Ming Lian terkejut melihat anak mereka berdua menampar pipinya sendiri, Ming Fengying tersenyum setelah menampar pipinya. Kedua bola matanya menatap Ming Lian tajam.
"Bunda, Ying'er bersyukur menjadi anak bunda. Ying'er ingin membalas jasa bunda suatu hari nanti. Jadi bunda jangan bersedih lagi." ucap Ming Fengying pada Ming Lian dengan tatapan penuh tekad.
Ming Lian menatap anak semata wayangnya berkaca - kaca, tangannya yang sedang mengelus rambut anaknya kini memeluk tubuh anaknya.
"Bunda cuma sedih melihat Ying'er semakin jauh dari bunda..." gumam Ming Lian pada anaknya.
__ADS_1
Ming Fengying membalas pelukan ibunya sambil sedikit menteskan air matanya, setelah beberapa saat Ming Lian melepaskan pelukannya pada anaknya. Kedua tangan Ming Lian menyentuh pipi Ming Fengying.
"Berlatih yang giat ya sama ayah. Jangan mudah mengeluh," kata Ming Lian pada Ming Fengying sambil mencubit lembut pipi anaknya itu.
Ming Fengying mengangguk pelan sambil tersenyum pada ibunya, "Ying'er mau lanjut berlatih dulu bunda, " kemudian Ming Fengying berdiri dan berjalan bersama Shingen untuk melanjutkan latihannya, "Bunda lihat dari situ ya." tambah Ming Fengying.
Ming Fengying melambaikan tangannya pada Ming Lian. Halaman latihan yang luas kini hanya diisi oleh ayah dan anak yang sedang berlatih bersama. Shingen mengajarkan Ming Fengying cara menggunakan katana aliran harimau. Kuda - kuda yang alami dan terkesan mengamati mangsanya terlihat pada kaki Shingen.
Ming Fengying mengikuti arahan ayahnya dan semua yang diajarkan oleh ayahnya. Tebasan pedang kayu Shingen selalu mengenai titik vital anaknya, tangkisan bertahan yang digunakan Ming Fengying belum mampu menangkis serangan cepat yang dilancarkan ayahnya.
Shingen tersenyum melihat tatapan mata anaknya yang menunjukkan semangat. Tebasan pedang kayu yang dilesatkan Shingen pada Ming Fengying benar - benar berisi. Tubuh Ming Fengying mundur beberapa langkah ke belakang, kecepatan reflek Shingen membuat Ming Fengying harus menyerah setelah terjatuh.
"Berdiri!" perintah Shingen pada Ming Fengying. Di teras terlihat Ming Lian tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya sedang berlatih.
Ming Fengying berdiri dan kembali mencoba menguasai kuda - kuda dasar aliran harimau. Langkah tipuan yang digunakan Ming Fengying ketika melangkah dan berniat menyerang Shingen masih terlalu kaku. Shingen dengan mudah menangkis tebasan pedang kayu Ming Fengying dengan tangan kirinya.
Shingen menatap tajam mata Ming Fengying. Tatapan mata Shingen yang tajam membuat Ming Fengying teralihkan pandangannya dari pedang kayu Shingan. Kedua matanya terus menatap Shingen tanpa disadari pedang kayu Shingen sudah berada di leher Ming Fengying.
"Apa ayah memang sekuat ini? Kekuatannya bisa dibilang termasuk dalam orang terkuat di Kuru!" batin Ming Fengying karena terkecoh oleh tatapan tajam mata Shingen.
"Kenshin, jika ini pertarungan sungguhan maka nyawamu saat ini sudah melayang, " ujar Shingen pada Ming Fengying.
"Iya ayah," jawab Ming Fengying singkat.
Shingen tersenyum sebelum menendang perut Ming Fengying tetapi tendangan kaki kanan Shingen ditangkap kedua tangan Ming Fengying. Senyuman lebar terlihat di wajah Shingen karena reflek anaknya meningkat pesat bahkan Ming Fengying mampu mengkap kaki kanannya.
__ADS_1
"Bagus Kenshin. Coba banting ayahmu ini." Shingen mencoba melepaskan kaki kanannya yang ditangkap Ming Fengying.
Gerakan kaki Shingen yang cepat dan gesit membuat Ming Fengying begitu kewalahan. Kedua tangannya menarik kaki kanan Shingen dan melemparnya ke atas agar Shingen kehilangan keseimbangannya, tapi kekuatan Shingen di luar perkiraan Ming Fengying.
"Kau tumbuh dengan baik, Kenshin." Shingen mengelus rambut Ming Fengying penuh kasih sayang dan tersenyum tipis.
"Kenshin, katamu?!" suara Ming Lian membuat Shingen dan Ming Fengying langsung mematung.
"Menakutkan." batin Shingen dan Ming Fengying secara bersamaan ketika melihat Ming Lian berdiri dan berjalan ke arah mereka berdua.
Ming Lian mengerutkan dahinya sebelum tersenyum pada suami dan anaknya, "Ngomong - ngomong aku bisa mendengar suara hati kalian, " senyuman Ming Lian membuat Shingen dan Ming Fengying menelan ludah dan berkeringat dingin, "Tadi dalam hati kalian pasti bilang aku ini menakutkan, bukan?!" tambahnya.
"Eh?" Shingen dan Ming Fengying terkejut mendengar ucapan Ming Lian.
Ming Lian memalingkan wajahnya sebelum meninggalkan suami dan anaknya. Matanya melirik Shingen dan Ming Fengying yang masih terdiam dan mematung di halaman Rumah Harimau Bei.
"Malam ini tidak ada jatah makan buat kalian berdua!" tegas Ming Lian pada Shingen dan Ming Fengying.
"Bunda..." gumam Ming Fengying melihat Ming Lian yang kian menjauh.
"Tunggu disini ya..." Shingen mengelus kepala Ming Fengying sebelum mengejar istrinya yang ngambek. Ming Lian selalu marah pada suaminya setiap Shingen memanggil Ming Fengying dengan nama Kenshin.
Ming Fengying mengangguk pelan dan melihat Shingen yang reflek mengejar Ming Lian, "Apa kelak aku dan Harumin akan seperti itu?" pikir Ming Fengying sambil tersenyum tipis.
Shingen langsung berlari mengejar Ming Lian untuk meminta maaf. Di sisi lain Ming Fengying tertawa pelan melihat ayahnya yang takut dengan ancaman ibunya.
__ADS_1
"Aku harus menguasai ilmu jurus katana dewa bulan yang ayah ajarkan padaku..." batin Ming Fengying menatap pedang kayunya dan mencoba melakukan gerakan langkah kaki.
Ming Fengying ingin menguasai gerakan dan langkah - langkah yang ayahnya ajarkan. Melihat Shingen yang sulit ditebak permainan katananya membuat Ming Fengying tertarik untuk mempelajari semua dua puluh dua teknik Jurus Katana Keluarga Tsukuyomi agar bisa menguasai semua gerakan dan bisa menjadi seperti ayahnya.