Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 65 : Saksi Mata Yang Diincar Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Berjam-jam setelah penduduk Kota Huaran mengejar Shingen, Fujin, Sanada dan Yuan Shi sampai di luar kota, di sebuah hutan yang dekat dengan Kota Huaran ada seorang gadis muda yang dikejar-kejar pembunuh bayaran.


"Aku takut..." Isak tangis gadis muda tersebut sambil mencoba melarikan diri dari kejaran dua pembunuh bayaran yang mengincarnya.


Bunyi semak-semak terdengar di telinganya, langkah kaki dari dua pembunuh bayaran semakin mendekat. Gadis muda itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tangisannya tidak terdengar, tetapi karena suasana hutan yang begitu sepi membuat isakan tangisannya terdengar dua pembunuh bayaran yang hendak membunuh dirinya.


"Tidak. Tidak." Gadis muda itu menggelengkan kepalanya ketakutan, langkah kaki dua pembunuh bayaran semakin mendekat dengan dirinya.


"Gadis kecil, mau melarikan diri kemana kamu?" Suara dari salah satu pembunuh bayaran membuat bulu kuduk gadis muda itu berdiri karena ketakutan.


"Aku tidak menyangka ada orang yang melihat kita membunuh pria tua bangka itu," sahut salah pembunuh bayaran yang lainnya.


Mata gadis muda itu terbelalak melihat salah satu pembunuh bayaran melihat dirinya, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan.


"Tolong..." Suaranya tertahan, nyawanya sudah di ujung tanduk tepat setelah dua pembunuh bayaran melihat dirinya gemetar ketakutan.


"Kakak, bagaimana ini? Apa lebih baik kita cicipi dulu tubuhnya?" Hei Xie menjilat pedangnya sambil menatap gadis muda tersebut penuh nafsu. Perkataan Hei Xie membuat gadis muda tersebut semakin tak berdaya, tubuhnya lemas dan terasa seluruh sel-sel mulai melemah.


"Ide bagus, sebagai seorang kakak, tentu aku yang harus mencicipinya pertama kali. Setuju, adik?" Hei He tersenyum pada Hei Xie sesaat, dengan penuh nafsu dia mendekati gadis muda yang menatapnya ketakutan.


"Setuju kakak, tidak apa-apa aku menjadi yang kedua." Hei Xie tersenyum sambil mengamati keadaan sekitar hutan. Suasana di sekitar sangat sepi, hanya suara-suara jangkrik saja yang terdengar.


"Krik ... krik ... krik."


Hei Xie mengikuti Hei He memegang tangan gadis muda yang tubuhnya terbaring di tanah karena ditindis oleh Hei He.


"Bibirnya-" sebuah tendangan tepat mengenai wajah Hei He ketika hendak mencium bibir gadis muda itu, dalam sekejap kedatangan Ming Fengying membuat suasana penuh nafsu mencair menjadi amarah yang menggelora.


"Oi, singkiran tangan kotor kalian dari gadis ini!" Ming Fengying terlihat begitu marah, matanya tidak berkedip sedikitpun melihat Hei He dan Hei Xie.


"Gadis? Kau itu masih bocah, jangan ganggu urusan orang dewasa..." Hei He mengelap hidungnya yang berdarah, setelah melihat darah mengalir dari hidungnya, raut wajah Hei He berubah. "Bocah kurang ajar! Kau telah menggangguku untuk mengambil keperawanan gadis ini! Tapi yang paling membuatku marah ... beraninya kau menendang wajahku, bocah sialan!" Hei He berteriak sejadi-jadinya sambil menarik pedangnya yang tersarung rapi di pinggangnya.

__ADS_1


Ming Fengying mengangkat tubuh gadis muda yang masih ketakutan untuk segera berdiri, kemudian dia menyuruh gadis muda tersebut agar tetap berada di belakangnya.


"Tetap berada di dekatku, tutup matamu. Katanaku ini akan membunuh manusia untuk pertama kalinya." Ming Fengying tersenyum lembut pada gadis muda yang ketakutan, tetapi ketika menatap Hei He dan Hei Xie senyumannya terlihat begitu garang.


"Kakak, dia adalah anak dari tuan putri ke lima dan Shingen." Hei Xie menunjuk Ming Fengying sambil menatap Hei He.


"Berarti bocah tengik ini cucu dari kaisar ... tangkapan yang bagus, mangsa kita kali ini cukup mahal," ujar Hei He sambil tersenyum lebar menatap Ming Fengying.


"Sepertinya dia mencari kita karena telah menyadari tuduhan itu," sahut Hei Xie.


Ming Fengying menggertakkan giginya sambil menatap tajam Hei He dan Hei Xie.


"Kenapa kalian berdua melakukan hal itu?!" Ming Fengying emosi karena perbuatan kedua pembunuh bayaran itu merusak nama baik ayahnya.


"Hahahaha .... Kenapa kami melakukan hal ini, katamu?" Hei He tersenyum licik sambil matanya menatap Ming Fengying dengan tatapan mengejek.


"Sudah jelas, bukan? Kami akan membunuh kalian semua ketika penduduk kota menuduh kalian," ucap Hei He sambil tertawa lantang, kedua tangannya membuka. "Kami akan bertindak sebagai seorang pahlawan merebut hati masyarakat. Lagipula, kalian orang Yamato dibenci di sini. Itu menjadi kesempatan yang bagus bagi kami, untuk unjuk gigi tentunya." Perkataan Hei He membuat Ming Fengying semakin geram, emosinya meluap-luap tak tertahan, kali ini dia melihat langsung sifat asli manusia yang tidak menginginkan perdamaian karena sebuah perbedaan.


Rencana Hei He dan Hei Xie awalnya berniat membuat penduduk kota mengejar dan menangkap Shingen bersama pengikutnya, tetapi semuanya tidak berjalan lancar karena ada sosok gadis muda yang melihat mereka berdua membunuh pria tua renta.


Rencana licik Hei He dan Hei Xie gagal karena terlalu fokus mengejar gadis muda yang kini dilindungi Ming Fengying. Dengan membunuh saksi mata yang melihat pembunuhan itu, maka Hei He dan Hei Xie bisa mencari keberadaan Shingen bersama pengikutnya. Karena dipikiran mereka berdua, penduduk kota akan mencari seorang samurai yang membunuh pria tua renta.


Dengan memecah belah kepercayaan antara penduduk kota mengejar Shingen bersama pengikutnya, maka Hei He dan Hei Xie dapat membantu penduduk kota untuk membunuh Shingen bersama seluruh pengikutnya.


Shingen dan yang lainnya tentu tidak dapat menarik katana mereka untuk melawan penduduk biasa, apalagi mereka adalah orang yang mengungsi dari Yamato ke Bei. Walau Bei dahulu hanyalah wilayah orang buangan, tetapi seluruh orang di Kekaisaran Kuru masih menganggap Bei menjadi wilayah mereka.


Ming Fengying menyadari kebencian orang asli Kuru pada Yamato. Sejarah masa lalu masih terngiang di ingatan mereka, walaupun mereka tidak merasakan peperangan antar negeri yang melanda seluruh Benua Jiu di masa lalu.


Siklus kebencian tidak akan habis, pada dasarnya manusia akan tetap membenci dan membunuh satu sama lain sampai dunia ini hancur. Ming Fengying mengingat semua yang ada di kepala, mengingat hal yang membuat emosi lama yang dia lupakan, perlahan emosi tersebut mulai merasuki tubuhnya.


Pandangan matanya menatap tajam Hei He dan Hei Xie. Perlahan dia mulai mengalirkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya, melihat Hei He dan Hei Xie yang sudah menarik pedang mereka, Ming Fengying tersenyum sinis sesaat sebelum menghilang dari pandangan Hei He dan Hei Xie.

__ADS_1


"Di mana dia?"


"Sial! Senyumannya terlihat sangat garang bagi seorang bocah!"


Hei He dan Hei Xie tidak mendapati Ming Fengying di mana pun, selang beberapa detik kemudian sebuah pukulan yang mengincar kepala Hei He membuat keduanya terkejut.


Hei He dapat menghindari pukulan Ming Fengying tetapi dia yang paling menyadari betapa bahayanya pukulan Ming Fengying.


"Jika aku tidak menghindar, mungkin kepalaku sudah pecah." Hei He membatin karena menyadari kekuatan Ming Fengying tidak bisa diremehkan begitu saja.


Hei Xie menelan ludah melihat Hei He yang berkeringat dingin setelah menghindari pukulan tangan Ming Fengying.


"Kakak, apa kau baik-baik saja?" Hei Xie bertanya pada Hei He yang terlihat pucat wajahnya.


"Sudah berapa tahun kita bekerja sebagai seorang pembunuh bayaran?" Hei He mencoba mengatur napasnya, sudah lama sekali dia tidak merasakan sensasi lolos dari yang namanya kematian.


"Sudah 10 tahun lebih..." Hei Xie kebingungan dengan Hei He yang bertanya padanya.


"10 tahun ... kapan terakhir kali kita hampir mati ketika membunuh target?" Hei He menatap Hei He.


"Saat kita melawan pendekar yang bernama Jiang Shuang. Lagipula dia adalah ketua dari Sekte Lembah Darah." Hei Xie berusaha mencerna perkataan Hei He. Sosok Hei He yang terlihat pucat pasi sudah lama sekali Hei Xie tidak melihatnya.


"Sekte Lembah Darah adalah salah satu sekte aliran hitam terbesar. Tidak perlu pikirkan hal itu lagi, kak." Hei Xie menambahkan sambil menatap Ming Fengying sesaat.


"Bagaimana aku tidak memikirkannya, tadi aku hampir mati..." Hei He masih mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.


"Jangan-jangan..." Hei Xie menelan ludah melihat perubahan wajah Hei He yang semakin terlihat pucat.


"Bocah ini sungguh berbakat bisa membuatku sampai seperti ini..." Hei He gemetaran dan keringat dingin terus mengucur di wajahnya.


Perubahan ekspresi Hei He sangat membingungkan Ming Fengying. Sementara itu Hei Xie terlihat ketakutan melihat perubahan raut wajah Hei He.

__ADS_1


Hei He melihat Ming Fengying hanya sesaat, tidak berapa lama tubuhnya semakin gemetaran.


"Bocah, kubunuh kau!"


__ADS_2