
Beberapa jam setelah Lin Kin mendengar cerita dan alasan kedatangan Prabu Banyu Sukma ke Benua Jiu, suasana di Istana Langit semakin ramai menjelang malam hari.
Sebagai seorang Ketua Sekte Taman Langit, Lin Kin meninggalkan Ming Fengying dan menyambut kedatangan pendekar yang datang ke Istana Langit.
Keesokan harinya suasana di Lembah Pegunungan Tiangan semakin ramai, banyak pendekar yang keluar masuk untuk menghadiri temu sapa Pertemuan Putih Suci terbesar di Kekaisaran Kuru.
Pertemuan Putih Suci akan diadakan di Aula Langit Suci. Banyak orang yang berkumpul, namun yang paling menarik perhatian adalah Ming Fengying dan Soo Yun. Banyak pendekar yang beranggapan jika Ming Fengying datang mewakili Keluarga Kaisar Kuru dan hendak memperkenalkan calon istrinya di masa depan.
Namun setelah mereka mendengar perkataan pendekar dari Sekte Taman Langit, banyak yang terkejut karena Shingen dan pengikut samurainya ikut menghadiri Pertemuan Putih Suci dan Ming Fengying adalah bagian dari Shingen.
Semua pendekar sudah duduk berkumpul dan saling menyapa di Aula Langit Suci. Terlihat di dekat Shingen ada dua pendekar yang namanya tenar di dunia persilatan Kekaisaran Kuru.
Orang yang duduk di sebelah kiri Shingen bernama Fang Baihu dari Sekte Harimau Putih, sedangkan orang yang duduk di samping kanan Shingen bernama Liang An dari Lembah Bunga Persik Tersembunyi.
Sementara itu Ming Fengying duduk di samping Soo Yun dan Tao Shi yang datang bersama Lu Baoshi mewakili Sekte Lembah Batu. Banyak orang yang menatap ke arahnya, namun Ming Fengying hanya diam dan menatap sesaat pendekar dari Pedang Naga Sakti yang datang dengan jumlah lebih banyak dari pendekar lainnya.
Sebelum Lin Kin memimpin pertemuan, sosok Ketua Lembah Naga yang bernama Xiao Long menatap sinis Shingen.
“Bukankah ini pertemuan pendekar, kenapa harus ada samurai di dalamnya?” Dengan sinis, Xiao Long memecahkan suasana yang tegang itu dengan perkataannya.
“Saudara Xiao, tidak usah bahas masalah yang sepele. Lebih baik kita percepat pertemuan ini,” sahut Ketua Pedang Naga Sakti yang bernama Ling Han.
Ming Fengying menatap Fujin, Sanada dan Yuan Shi untuk tidak terpancing perkataan Xiao Long. Tak lama dia berbicara cukup keras pada mereka bertiga.
“Jika terjadi sesuatu biar aku yang turun tangan. Kalian bertiga cukup diam!” Perkataan Ming Fengying membuat semua pendekar mengernyitkan dahinya.
“Tuan Muda Ming Fengying sepertinya sedikit emosi,” batin Fujin sambil melirik raut wajah Ming Fengying.
“Tuan Muda Ming Fengying sangat mengagumi Tuan Shingen. Sudah pasti Tuan Muda tidak ingin ada orang yang menghina nama baik ayahnya,” batin Sanada.
“Feng? Dia berani juga berbicara seperti itu!” Yuan Shi justru membatin kesal.
__ADS_1
“Aku yang mengundang Tuan Shingen beserta pengikut samurainya ke Pertemuan Putih Suci.” Seorang pria paruh baya yang bernama Tian Yang dan merupakan Ketua Kuil Matahari angkat bicara.
“Aku juga yang mengundang Tuan Shingen. Apa alasan ini bisa diterima?” Kini justru pendekar perempuan yang sering dijuluki Dewi Pedang Kuru angkat bicara. Perempuan berparas cantik yang merupakan Ketua dari Lembah Es Rembulan menatap Xiao Long tajam. Perempuan tersebut bernama Xue Jingyi.
Ming Fengying mengingat Xue Jingyi dan Tian Yang adalah dua orang yang memimpin sekte dari aliran putih untuk berperang melawan Rieyu di kehidupan lamanya.
Walau sekarang ingatan lamanya semakin tidak nyata, tetapi Ming Fengying merasa ingatan masa lalunya adalah kenyataan. Tak lama Lin Kin yang sedari tadi diam mulai memimpin pertemuan.
“Izinkan aku untuk memimpin Pertemuan Putih Suci tahun ini.” Lin Kin memimpin pertemuan tersebut.
“Dalam suasana yang penuh persaudaraan. Alangkah lebih baiknya kita saling merangkul, saling menyapa dan saling mengenal satu sama lain. Semua yang ada di ruangan ini adalah saudara. Kita tidak boleh membeda-bedakan sebuah ras atau suku di Pertemuan Putih Suci.” Lin Kin menambahkan.
Ming Fengying sedikit terkejut mendengar nada bicara Lin Kin. “Kakek Lin sepertinya sudah bertekad,” batin Ming Fengying.
“Ada beberapa masukan dari Saudara Tian, Saudara Xue dan Saudara Jiang.” Semua orang langsung menatap ke arah tiga pendekar tersebut. Sementara itu Ming Fengying menatap Ketua dari Sekte Pedang Langit yaitu Jiang Tian.
“Kota Jinning. Seperti yang kalian tahu, beberapa hari yang lalu ada pergelojakan di Kota Jinning. Sungguh ironis aku menjadi penduduk asli Kuru namun tidak mengetahui kegelapan yang ada di Kota Jinning. Beruntung Tuan Shingen dan pengikut samurainya mengakhiri kegelapan itu,” ujar Xue Jingyi. Sontak semua orang langsung menatap ke arah perempuan berparas cantik itu.
“Aku rasa ada pendekar dari aliran putih yang terlibat masalah politik dan mengetahui kegelapan di Kota Jinning, namun orang-orang tersebut justru diam dan tidak peduli. Masukan dariku hanya satu, aku berharap siapapun itu yang terlibat, mengaku lah dalam Pertemuan Putih Suci ini, karena aku menyukai laki-laki yang jujur,” tambah Xue Jingyi.
Semua orang menatap saling curiga, terutama pendekar yang sudah mengetahui kegelapan Kota Jinning. Pendekar dari Pedang Naga Sakti hanya diam dan tidak peduli.
Karena tidak ada yang berani berkata jujur, Lin Kin memulai pengakuan yang mengejutkan.
“Salah satu muridku yang bernama Jia Wu terlibat dalam perdagangan manusia. Dia telah mengetahui kebusukan di Kota Jinning. Dan semua ini ada kaitannya dengan Pangeran She.” Perkataan Lin Kin membuat semua orang kembali terkejut.
“Saudara Lin. Atas dasar apa kau menuduh Pangeran She terlibat dengan mantan Walikota Kota Jinning?” Ling Han menatap sinis Lin Kin yang memejamkan matanya.
“Muridku sendiri yang mengatakannya. Jika tidak percaya aku bisa mengantar Saudara Ling ke ruang bawah tanah. Di sana orang itu sudah membocorkan rahasia kebusukan Pangeran She dan mantan Walikota Kota Jinning yang bernama Zhao Lhuo.” Lin Kin menjawab dengan cepat sambil menatap wajah Ling Han.
Perlahan wajah Ling Han memucat. Bukan Ling Han saja, beberapa pendekar yang pernah berkenalan dengan Jia Wu juga pucat pasi wajahnya.
__ADS_1
“Aku menyukai kejujuranmu, Kin'gege.” Perkataan Xue Jingyi membuat pendekar laki-laki menatap geram Lin Kin.
“Ehem!” Ketika Tian Yang berdeham. Tidak ada yang berani berbicara.
“Masukan kedua dariku. Di sini aku ingin membahas tentang perkataan Tuan Shingen sembilan tahun lalu tentang kebenaran Negeri Yamato yang dihancurkan oleh sosok makhluk yang kita semua anggap lelucon waktu itu.” Kini semua orang mendengarkan perkataan Tian Yang. “Ya, makhluk itu adalah Naga. Dan benar-benar ada.”
Fujin dan Sanada menatap tajam Tian Yang. Sementara itu Shingen masih memejamkan matanya dan mendengarkan. Perlahan mata kanannya terbuka pelan-pelan.
“Aku minta maaf kepada Tuan Shingen karena tidak mempercayai perkataan beliau sembilan tahun lalu, namun dua tahun yang lalu saat dalam perjalanan ke Negeri Jisa. Aku melihat sendiri Naga berwarna hijau terbang di angkasa bersama puluhan Hewan Buas berkepala manusia.” Tian Yang menambahkan.
Semua orang menelan ludah, sebagian percaya dan sebagian tidak percaya. Tak lama suara tawa terdengar di Aula Langit Suci.
Xiao Long tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. “Saudara Tian. Kau tahu julukanku apa? Dunia memanggilku Pendekar Naga! Lelucon macam apa ini? Mana mungkin ada Naga di dunia ini dan Hewan Buas berkepala manusia! Pertemuan ini memang tidak berguna saat ada orang asing menjadi bagiannya!” Perkataan Xiao Long membuat Tian Yang mengernyitkan keningnya.
“Maaf Tuan Shingen, apa mata kirimu itu buta akibat di cakar Naga?” Kini Xiao Long menatap tajam Shingen.
Ming Fengying sekarang sedikit kesal dengan sikap Xiao Long. “Sampai kau berbicara merendahkan nama ayahku. Maka kau akan berurusan denganku!” Ming Fengying membatin penuh kemarahan.
“Mungkin Tuan Shingen menganggap kadal yang termasuk jenis Hewan Buas adalah Naga. Begitu juga dengan Saudara Tian,” sahut Ling Han yang sedari tadi diam.
“Hahaha. Aku tidak menyangka Saudara Tian akan percaya lelucon samurai buangan dari Yamato...” Xiao Long menanggapi perkataan Ling Han dan disambut tawa oleh pendekar dari Lembah Naga dan Pedang Naga Sakti.
“Tarik kembali kata-Katamu itu, bedebah!” Ming Fengying berdiri dan berjalan dengan gagah berani mendekati Xiao Long.
“Tuan Muda, aku tidak tahu alasan-”
Belum selesai Xiao Long berbicara, ledakan terjadi ketika Ming Fengying menarik katananya dan memotong salah satu pilar bangunan yang ada di Aula Langit Suci dalam sekali tebasan katananya.
“Aku bilang tarik kembali kata-katamu itu, bedebah!” Ming Fengying melepaskan aura tubuhnya. Dua aura berwarna putih dan emas membuat pendekar yang hadir di Pertemuan Putih Suci terkejut.
“Kau dengar tidak?!” Perlahan aura di sekitar Ming Fengying mencekam. Mata Ming Fengying menatap tajam Xiao Long dan Ling Han sebelum kedua bola matanya yang hitam berubah menjadi merah darah. Sebelum matanya berubah, Shingen yang tetap bersikap sabar justru marah karena Ming Fengying melanggar perkataannya dan menggunakan kekuatan Tsukuyomi tanpa sadar.
__ADS_1
“Kenshin!”