Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 37 : Terungkapnya Identitas Sang Pengkhianat


__ADS_3

Suara teriakan dari pendekar yang bertarung di permukiman Kota Bei terdengar hingga Hutan Impian. Suara kematian yang membuat telinga terasa sakit menandakan jika pertempuran malam berdarah masih belum berakhir.


Samurai yang berjaga di Hutan Impian hanya menunggu sinyal dari Kamejiro yang diperintahkan oleh Shingen untuk pergi ke halaman depan Istana Pinyin.


Masakage melirik Kamejiro yang sedari tadi hanya diam dan memejamkan matanya. Sejumlah pertanyaan muncul di dalam benaknya dan ia berharap jika firasatnya tidak benar.


Angin malam berhembus dengan tenang membuat rumput dan dedaunan bergoyang. Suasana yang hening seketika menandakan firasat buruk akan terjadi. Hitungan detik setelahnya sebuah katana menebas salah satu samurai.


"Kamejiro!" teriak Masakage ketika melihat Kamejiro membunuh salah satu samurai.


Tindakan Kamejiro membuat sembilan samurai yang lainnya menarik katana mereka. Masakage tidak menyangka orang yang berkhianat adalah orang yang terlihat paling setia dengan Shingen.


Kamejiro hendak membunuh seluruh samurai yang sedang berada di Hutan Impian tetapi tindakannya dicegah Masakage. Mayat tujuh samurai tergeletak di tanah, pemandangan yang tidak ingin dilihat Masakage membuatnya mengutuk perbuatan Kamejiro.


Dari sepuluh samurai yang berjaga di Hutan Impian hanya tersisa Kamejiro, Masakage dan Monzaemon.


"Kamejiro! Tega - teganya kau mengkhianati kepercayaan Tuan Shingen!" teriak Monzaemon mendelik matanya menatap tajam Kamejiro penuh kebencian.


Kamejiro tertawa melihat kedua temannya yang telah berbagi luka bersamanya selama beberapa tahun terakhir ini.


"Masakage, Monzaemon. Klan Tsukuyomi dan Klan Kuroma adalah seperti sebuah air dan api." ucap Kamejiro dengan suara yang berbeda dari yang biasanya Masakage dan Monzaemon dengar.


Masakage dan Monzaemon berkeringat dingin mengingat tragedi sepuluh tahun silam. Sebuah tragedi penyerangan yang dilakukan oleh ribuan pasukan berpakaian yang sangat berbeda dengan pakaian yang biasa orang Benua Jiu pakai. Pasukan yang membawa malapetaka bagi Negeri Yamato ketika sosok makhluk penuh kebencian yang terkuat di antara makhluk yang lainnya memporak - porandakan Negeri Yamato.


"Kamejiro! Jika kau telah mengkhianati Keluarga Tsukuyomi maka aku harus membunuh dengan tanganku sendiri!" Monzaemon menyerang Kamejiro dengan cepat.


Kamejiro menghindari serangan katana dari berbagai arah yang dilancarkan oleh Masakage dan Monzaemon. Penduduk Kota Bei dan Kota Pinyin gemetar ketakutan melihat samurai pengikut Shingen sedang bertarung satu sama lain.


"Kenapa Kamejiro membunuh temannya sendiri..." ucap salah satu penduduk dari Negeri Yamato yang mengungsi ke Bei.


"Bukankah dia adalah pengikut setia Tuan Shingen. Ada apa sebenarnya ini?" sahut penduduk Kota Bei bertanya - tanya melihat tindakan Kamejiro.


Kamejiro menebaskan katananya dengan cepat pada Masakage dan Monzaemon. Kekuatan Kamejiro yang belum pernah Masakage dan Mozaemon lihat membuat mereka berdua terdesak.

__ADS_1


"Bayangan Di Balik Cahaya."


Masakage melangkahkan kakinya dengan cepat sebelum mengayunkan pedangnya menyerang setiap titik vital Kamejiro. Benturan dua katana terdengar begitu nyaring di Hutan Impian. Kamejiro sulit mengikuti permainan katana Masakage karena setiap ayunan yang dilancarkan Masakage cepat dan tak terlihat.


Monzaemon tersenyum tipis melihat Kamejiro terdesak. Perasaan gundah dan sakit hati karena Kamejiro ternyata adalah seorang pengkhianat membuat Monzaemon harus membulatkan tekad untuk membunuh Kamejiro.


Serangan dari berbagai arah yang dilancarkan Masakage dan Monzaemon membuat Kamejiro mundur beberapa langkah ke belakang.


"Katakan padaku siapa sebenarnya dirimu!" Masakage begitu geram melihat Kamejiro yang terlihat begitu berbeda kepribadiannya.


Monzaemon mengatur napasnya yang tersengal - sengal. Hembusan angin malam begitu terasa di setiap tubuhya. Bulan purnama yang bersinar terang juga berwarna merah darah. Bau amis dari arah permukiman Kota Bei tercium hingga Hutan Impian.


Kamejiro tersenyum lebar sebelum memberitahukan identitasnya pada Kamejiro dan Monzaemon.


"Namaku adalah Kuroma Kamejiro! Itu sudah menjadi alasan yang cukup bagiku untuk membunuh Shingen!" teriak Kamejiro sambil merogoh pakaiannya sebelum melemparkan bom ke arah Masakage dan Monzaemon.


Reaksi Masakage dan Monzaemon begitu cepat melihat gerakan tangan Kamejiro. Identitas Kamejiro membuat keduanya semakin bulat tekadnya untuk membunuh pengkhianat tersebut.


Penduduk Kota Bei dan Kota Pinyin berlari menjauh dari tiga samurai yang sedang bertarung. Ledakan dari bom yang dilempar Kamejiro membuat kerusakan parah pada Hutan Impian.


"Yang satu ini akan kugunakan untuk membunuh keturunan Shingen." tambah Kamejiro sebelum berlari ke arah Istana Pinyin.


Masakage dan Monzaemon terkejut mendengar ucapan Kamejiro. Sifat manusia selalu tidak diketahui mana yang aslinya. Orang yang baik selalu memakai topeng munafik yang sekarang terlihat di wajah Kamejiro.


Senyuman lebar menyeringai di wajah Kamejiro. Langkah kaki Kamejiro begitu cepat tidak bisa diikuti oleh Masakage dan Monzaemon.


"Tarian Tebasan Lurus."


Monzaemon mengolah pernapasannya dan menebaskan katananya dari jauh ke arah Kamejiro, tebasan katana Monzaemon membentuk pusaran angin yang lurus melesat ke arah Kamejiro.


"Bedebah!" umpat Kamejiro melihat teknik katana Monzaemon yang melesat ke arah dirinya.


Masakage tersenyum lebar melihat Monzaemon berhasil menghentikan Kamejiro. Katana yang dipegang Masakage berwarna hitam pekat.

__ADS_1


Kamejiro tersungkur di tanah ketika berniat menghindari serangan Monzaemon. Mata Kamejiro mendelik melihat Masakage berlari mendekatinya.


"Masakage!" teriak Kamejiro berdiri dan mengayunkan pedangnya menangkis tebasan katana Kamejiro.


"Kupikir kau adalah orang yang begitu setia pada Tuan Shingen... tetapi aku salah menilaimu, Kamejiro!" Masakage menendang perut Kamejiro dengan kakinya.


Monzaemon menyerang Kamejiro dengan cepat dan berniat menghabisi Kamejiro dengan sekali tebasannya. Suara katana yang berbenturan semakin keras terdengar di sekitar Hutan Impian dan Kota Pinyin.


Kamejiro menangkis dua katana yang menyerangnya. Aura tubuh Kamejiro dalam sekejap berubah ketika ia melepaskan aura tubuhnya.


Masakage dan Monzaemon tersenyum lebar melihat seseorang yang berlari ke arah Kamejiro. Melihat raut wajah dua temannya terlihat mencurigakan membuat Kamejiro melirik ke belakang.


Kamejiro berkeringat dingin melihat Tao Lulu yang sudah siap menyerangnya. Tao Lulu memegang sepuluh pisau beracun di tangannya yang di selipkan di antara jari - jari tangannya.


"Tarian Seribu Pisau Beracun."


Tao Lulu melempar cepat pisau beracun ke arah Kamejiro. Sepuluh pisau beracun berubah menjadi seribu pisau kecil yang sangat mematikan.


Masakage kembali menendang Kamejiro yang terlihat panik. Situasi berbalik dan akhirnya Masakage bisa melihat Kamejiro terduduk lemas ketika pisau beracun yang dilempar Tao Lulu mengenai tubuh Kamejiro.


Monzaemon masih tidak percaya dengan identitas Kamejiro tetapi nasi sudah menjadi bubur. Nyawa temannya yang telah mati tidak bisa kembali dan sebuah pengkhianatan harus dihukum dengan kematian.


Tao Lulu tidak berniat untuk berlama - lama di Hutan Impian karena ia telah selesai menyelesaikan tugas keduanya. Ming Fengying memberikan tiga misi pada Tao Lulu. Misi yang pertama diberikan Ming Fengying adalah membersihkan racun yang ditaruh Xia Hu pada makanan pendekar Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah. Misi kedua yang diberikan Ming Fengying pada Tao Lulu adalah pergi ke Hutan Impian untuk membunuh pengkhianat tetapi Tao Lulu sendiri tidak menyangka jika Kamejiro yang menjadi pengkhianatnya.


Tao Lulu berlari menuju Istana Pinyin. Ming Fengying memberikan misi terakhir pada Tao Lulu untuk melindungi Ming Lian bersama Toramasa yang bersembunyi di ruangan Istana Pinyin.


Kamejiro berusaha untuk melempar bom yang tersisa tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Suara langkah kaki mendekat padanya, sebuah suara yang hentakan kakinya dipenuhi melodi kemarahan.


"Kamejiro, kau pantas untuk kubunuh." ujar Masakage menodongkan katananya pada leher Kamejiro.


Monzaemon berdiri di depan Kamejiro yang terduduk lemas di bawahnya. Monzaemon melihat Masakage yang berniat menghabisi Kamejiro dengan memenggal kepala temannya itu.


"Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan Tuan Reiyu... pendekar, samurai atau siapapun itu... di Benua Jiu tidak ada yang bisa membunuh Tuan Reiyu." ucap Kamejiro menatap Masakage dan Monzaemon.

__ADS_1


"Tempat yang kita tinggali ini masih sangatlah kecil, di luar sana banyak monster yang lebih mengerikan daripada Tuan Reiyu." tambah Kamejiro sambil menghirup napas panjang untuk terakhir kalinya sebelum katana Masakage memenggal kepalanya.


__ADS_2