
Sehari setelah meninggalkan Sekte Lembah Batu. Tidak terasa Ming Fengying dan Yuan Shi telah sampai di Kota Pinyin. Dalam perjalanan kembali ke kota Pinyin, Yuan Shi sangat tidak menyangka dengan stamina Ming Fengying yang terus berlari tanpa henti dan tidak istrirahat. Muncul pertanyaan di benak Yuan Shi, jika Ming Fengying bukan anak biasa.
"Apa benar... kau keluarga kaisar? Kau sama persis seperti anak liar pada umumnya..." ujar Yuan Shi dengan napas yang tersengal - sengal karena berlari seharian penuh tanpa istirahat.
"Tidak sopan. Aku sama seperti anak pada umumnya kok." celetuk Ming Fengying sambil mengendap - endap mengamati keadaan di Kota Pinyin.
"Apa yang kau lakukan? Lebih cepat jika kita melewati jalan besar itu!" Yuan Shi kesal karena Ming Fengying bersembunyi di gang sempit dan terlihat begitu khawatir.
"Ssst. Jika ketahuan salah satu pengikut ayahku maka kita akan tamat." Ming Fengying menarik tangan Yuan Shi dan menyuruhnya bersembunyi.
"Penakut. Kupikir kau adalah seorang pemberani." ejek Yuan Shi pada Ming Fengying.
"Ikuti aku. Kita akan melewati jalan rahasia menuju belakang kamarku." ajak Ming Fengying melewati gang sempit menuju Istana Pinyin.
Sesampainya di gerbang Istana Pinyin, Ming Fengying dikejutkan dengan terowongan yang dia buat telah ditutup rapat - rapat dengan kayu.
"Siapa yang berani menutup jalan rahasiaku." ucap Ming Fengying setelah melihat jalan rahasianya ditutupi dengan kayu.
"Ying'er!" suara Ming Lian yang marah membuat Ming Fengying langsung berkeringat dingin.
Ming Fengying melirik ke belakang dan melihat Ming Lian yang menatap tajam dirinya ditemani Tao Lulu bersama dua tabib perempuan yang menjadi murid Tao Lulu.
"B-Bunda..." gumam Ming Fengying ketakutan dan menelan ludah setelah melihat raut wajah ibunya yang marah.
"Permisi tuan putri, kemarin tuan muda Ming Fengying tersesat di Lembah Batu. Aku mengantarkannya pulang karena takut tuan muda akan tersesat lagi." Yuan Shi jongkok dan menunduk pada Ming Lian.
"Lembah Batu?" Ming Lian menaikan alisnya mendengar perkataan Yuan Shi.
"Ying'er, kamu harus berada di dalam kamar selama satu minggu penuh." Ming Lian menarik tangan Ming Fengying dan membawanya ke Istana Pinyin.
__ADS_1
Yuan Shi menahan tawa melihat Ming Fengying yang dimarahi Ming Lian. Sudah lama Yuan Shi ingin melihat samurai jadi dalam hatinya dia memang ingin sekali ke wilayah Bei dan Yamato sejak dulu.
"Anak muda, sepertinya kau terlihat akrab dengan Tuan Muda Ming Fengying." suara Toramasa yang menatap Yuan Shi tajam membuat Yuan Shi berkeringat dingin.
Tao Lulu tersenyum melihat Toramasa dan pergi mengikuti Ming Lian bersama dua murid perempuannya.
"Tunggu, sepertinya perempuan yang satu itu, dia terlihat seumuran denganku..." gumam Yuan Shi melihat salah satu murid Tao Lulu yang berambut pendek dan terlihat manis.
"Jawab pertanyaanku. Apa kau tertarik dengan istriku?" Toramasa merangkul pundak Yuan Shi.
"Tidak paman. Aku tertarik dengan perempuan berambut pendek itu. Ngomong - ngomong dia umurnya berapa?" Yuan Shi terus menatap perempuan pendek yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Umurnya tujuh belas tahun." jawab Toramasa sambil melepaskan rangkulan tangannya.
"Umur bukan masalah. Cinta tidak memandang umur, aku sudah jatuh hati padanya sejak pandangan pertama." balas Yuan Shi tersenyum lebar dan berjalan pelan tetapi kerah bajunya ditarik Toramasa.
"Ada apa paman? Aku harus pergi bersama tuan muda!" tegas Yuan Shi karena kerah bajunya ditarik Toramasa.
Toramasa ingin memastikan Yuan Shi tidak hanya bermain teman yang hanya sebatas kata saja dengan Ming Fengying. Untuk memastikan Ming Fengying tumbuh dengan baik, tentunya seluruh anggota Sepuluh Pilar Rembulan memperhatikan siapa saja anak sebaya yang dekat dengan Ming Fengying. Perbuatan mereka tentu saja selalu membuat Ming Fengying risih karena selali diawasi.
Yuan Shi pasrah ketika kerah bajunya ditarik Toramasa. Sesampainya di asrama Sepuluh Pilar Rembulan, Yuan Shi matanya melebar bahagia karena melihat beberapa samurai sedang berlatih katana menggunakan pedang kayu.
"Hebat. Akhirnya aku melihat samurai." Yuan Shi melepaskan tangan Toramasa yang memegang kerah bajunya.
"Tunggu, jawablah pertanyaanku..." Toramasa menghela napas panjang melihat Yuan Shi berlari ke arah Sanada dan Fujin yang sedang bertarung.
"Hah, kucincang dengan ganas kau, bocah tengik!" Toramasa meledak emosinya karena kesabarannya telah habis.
"Eh?" Yuan Shi terkejut melihat Toramasa menarik katananya. Tidak berapa lama Yuan Shi bersembunyi di balik punggung Mamaorusuke yang sedang mengayunkan katana.
__ADS_1
Sementara itu di dalam Istana Pinyin, Shingen melihat Ming Lian yangg sedang memarahi Ming Fengying. Ingin rasanya dia membantu Ming Fengying tetapi Shingen juga takut dengan Ming Lian.
"Maaf bunda..." gumam Ming Fengying duduk di lantai dan meminta maaf pada ibunya karena telah pergi dari rumah secara diam - diam.
"Ying'er, masuk ke kamar dan ingat perkataan bunda. Jangan sekali - kali membuat bunda khawatir lagi." ucap Ming Lian pada Ming Fengying.
Ming Fengying bisa melihat raut wajah Ming Lian yang lega melihat dirinya telah pulang dan kembali dengan selamat, tapi tatapan Ming Lian membuat Ming Fengying takut.
"Jangan keluar kamar selama seminggu. Kalau mau makan panggil Lulu." Ming Lian pergi meninggalkan Ming Fengying.
"Bunda, Ying'er mau mandi." ucap Ming Fengying dari dalam kamar.
"Mandi di kamarmu!" jawab Ming Lian tidak peduli.
"Ying'er mau mandi di kolam air panas, bunda!" Ming Fengying kembali memohon pada Ming Lian.
"Gak usah banyak alasan, bicara sekali lagi gak ada jatah makan malam hari ini." tegas Ming Lian.
Shingen dan Tao Lulu maupun dua murid dari Tao Lulu tertawa pelan karena tidak mendengar suara Ming Fengying yang bicara lagi dari dalam kamar.
Di dalam kamar Ming Fengying sedang membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Melihat Ming Lian marah membuat Ming Fengying takut. Tentu ada rasa bersalah dalam benak Ming Fengying karena telah membuat Ming Lian khawatir.
Ming Fengying bahkan sampai lupa dengan keberadaan Yuan Shi karena ketakutannya pada ibunya sendiri. Dalam kamar yang megah, Ming Fengying merenungkan perbuatannya yang selalu membuat Ming Lian khawatir belakangan ini.
"Sepertinya aku harus berlatih di Hutan Impian saja. Bunda menakutkan kalau lagi marah..." gumam Ming Fengying sambil memeluk gulingnya.
"Aku harus mencari anak Lembah Batu, siapa namanya aku lupa?" batin Ming Fengying yang tidak mengingat nama asli Yuan Shi.
Ming Fengying duduk bersila dan menggunakan ilmu penngendali hati pada burung beo yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Dengan ini aku bisa pergi keluar melihat anak Lembah Batu itu. Tapi..." Ming Fengying tidak jadi menggunakan ilmu pengendali hati pada burung beo karena teringat perkataan Ming Lian.
"Aku harus berada di dalam kamar selama seminggu penuh. Seorang pria harus menepati janjinya." ucap Ming Fengying duduk bersila sambil mengolah pernapasan.