Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 30 : Pertempuran Di Sudut Kota


__ADS_3

Seluruh pasang mata yang ada di permukiman Kota Bei mengarah pada Shingen yang bertarung sengit dengan Ban Huo. Pusaran darah kental yang berbau amis teknik golok milik Ban Huo, berceceran ke arah pendekar dan samurai yang berada di sekitar Shingen.


"Tebasan Auman Harimau."


Shingen membuka matanya secara perlahan, jika seorang pendekar atau samurai memfokuskan aura mereka pada matanya. Maka mereka akan melihat lingkaran jangkauan tebasan Shingen.


Shingen menebaskan pedangnya ke arah pusaran darah teknik golok Ban Huo, tebasan yang membentuk mulut harimau berwarna jingga melesat cepat ke arah pusaran darah teknik golok milik Ban Huo. Kedua teknik tingkat tinggi yang saling berbenturan membuat pusaran darah berceceran.


Ban Huo memiliki Senjata Kuno Tipe Pusaka : Golok Darah, sedangkan Shingen sendiri memiliki Senjata Kuno Tipe Surgawi : Katana Dewa Bulan. Kekuatan besar dari senjata kuno cukup membuat kerusakan parah pada rumah penduduk.


"Rumah bisa diperbaiki kembali, tetapi jika nyawa penduduk mati. Maka itu tidak akan bisa kembali, jadi jangan ragu kalian semua, kita harus menghentikan mereka!" seru Shingen dengan lantang pada 22 samurai pengikutnya dan pendekar gabungan dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah.


Pendekar gabungan dari Sekte Taman Langit dan Sekte Sungai Merah kagum dengan Shingen. Mereka berteriak hingga suaranya begitu menggema ke seluruh permukian Kota Bei, bahkan suara mereka sampai ke Istana Pinyin.


"Benar, rumah bisa diperbaiki. Kita jangan ragu, kita harus hentikan mereka!" sahut salah satu pendekar tingkat dua dari Sekte Sungai Merah.


"Nyalakan semangat kalian!" teriak salah satu pendekar tingkat tiga dari Sekte Taman Langit. Mendengar teriakan tersebut seluruh pendekar dari Sekte Taman Langit semangat.


Pertempuran di permukiman kota semakin mencekam, banyak yang mati dari kedua belah pihak.


"Tuan Shingen memang hebat, dia adalah pemimpin yang luar biasa!" ucap Fujin sambil menahan tangkisan pedang pendekar dari Sekte Malam Berdarah dengan katananya.


"Tuan Shingen mampu mengambil hati para pendekar, dia memang luar biasa!" sahut Ichijo melihat Shingen yang berhasil menaikan semangat pertempuran dipihaknya.


"Sungguh sebuah kharisma yang mengerikan!" gumam seorang samurai pengikut Shingen yang bernama Henka. Dia terkejut melihat Shingen yang memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Karena Shingen berhasil mengambil hati pendekar, agar jangan ragu mengambil tindakan.


Di sudut kota terlihat ada tiga dari 22 samurai pengikut Shingen sedang bertarung dengan tetua dari Sekte Malam Berdarah yang bernama Ban Hai.


"Cambuk dan pisau ini sangat merepotkan!" decak kesal seorang samurai yang bernama Ryunosuke. Dia mencoba menghindari lemparan pisau kecil yang beracun, yang mengarah ke arahnya.


"Tebasan Pelindung."


Mamorusuke menebaskan katananya ke arah Ban Hai, tebasan katana milik Mamaorusuke membentuk sebuah cekungan putih yang melesat ke arah Ban Hai.


"Samurai memang mengerikan." gumam Ban Hai sambil menahan cekungan putih dengan cambuknya.


"Kita harus bekerja sama, Mamorusuke, Ryunosuke..." ajak Chibisuke sambil melihat kedua temannya itu.


Mamorusuke dan Ryunosuke mengangguk pelan, kemudian mereka betiga menyerang dari berbagai arah melawan Ban Hai. Kekuatan Ban Hai jauh di atas mereka berdua, karena Ban Hai telah mencapai pendekar tingkat hitam. Sedangkan Mamorusuke, Ryunosuke dan Chibisuke kekuatannya setara dengan pendekar tingkat tinggi.


Kerja sama adalah sesuatu yang sangat penting dalam sebuah pertarungan, Ban Hai terdesak ketika melawan tiga samurai pengikut Shingencsecara bersamaan.


"Amukan Cambuk Gila."


Ban Hai memutarkan cambuknya, dalam putaran cambuknya keluar lintasan api yang membara di udara. Mamorusuke mengerutkan dahinya melihat hal tersebut.


"Mamarosuke, Chibisuke, aku akan menahan orang ini. Dan, sisanya kuserahkan pada kalian berdua!" ucap Ryunosuke menerjang putaran cambuk milik Ban Hai.

__ADS_1


Ban Hai mempercepat putarannya hingga membuat tubuh Ryunosuke terbakar, dia tersenyum lebar karena mengira dirinya berhasil membunuh Ryunosuke. Tetapi alangkah terkejutnya Ban Hai ketika melihat Ryunosuke berlari dan memegang badannya.


"Lepaskan aku!" teriak Ban Hai sambil mencoba menggerakan badannya, tetapi pelukan kasar Ryunosuke begitu erat. Sehingga dia sangat kesulitan untuk lepas dari pelukan tersebut.


Ban Hai berdecak kesal melihat tindakan Ryunosuke, dia mengeluarkan aura tubuhnya dan mencoba untuk mengintimidasi Ryunosuke.


Aura Intimidasi hanya berpengaruh pada orang yang lebih kecil tekadnya atau ciut nyalinya. Jika seseorang memiliki aura yang lebih lemah daripada lawannya, tetapi dia memiliki tekad yang besar maka aura intimidasi tidak akan berpengaruh padanya.


"Mamorusuke! Chibisuke!" teriak Ryunosuke sambil mendekap erat tubuh Ban Hai.


Mamorusuke dan Chibisuke berlari dengam cepat ke arah Ban Hai dan menebaskan katana mereka berdua pada tubuh Ban Hai. Ketika katana milik Mamorusuke dan Chibisuke hendak membunuh Ban Hai, muncul dua pendekar dari Sekte Mawar Hitam yang tak lain mereka berdua adalah Luo Xi dan Zhuo Guo.


Luo Xi datang bersama Zhuo Guo yang merupakan ketua ke tiga dari Sekte Mawar Hitam. Zhuo Guo tersenyum sinis melihat Mamorusuke dan Chibisuke.


"Ketua Luo Xi, aku datang kemari untuk membantumu menebus kesalahan, karena kau telah membiarkan ketua Zhang mati." ucap Zhuo Guo sambil menahan tebasan katana Mamorusuke dengan pedangnya.


Luo Xi hanya diam dan tidak berbicara, dia tidak membantah perkataan Zhuo Guo sedikitpun.


"Sepertinya kalian bertiga akan mati-" belum selesai Zhuo Guo berbicara ada orang yang memotong perkataannya tersebut.


"Ketua dari Mawar Hitam, ternyara kalian secara terang - terangan ingin menyerang Bei." potong Zhang Shen yang datang bersama Han Xu dan Han Zoe.


Mamorusuke menarik Ryunosuke yang terluka parah, sedangkan Chibisuke menahan dua tebasan pedang dari Zhuo Guo dan Luo Xi.


"Jangan meremehkanku!" teriak Chibisuke sambil mengeluarkan tenaga dalam dan aura tubuhnya secara bersamaan.


"Tuan Samurai, biar kami bertiga yang menyelesaikan sisanya." ucap Zhang Shen sambil berjalan menghampiri Chibisuke diikuti oleh Han Xu dan Han Zoe dari belakang.


Chibisuke melirik Ryunosuke yang terkena luka bakar di seluruh tubuhnya, kemudian dia menghela napas panjang dan menatap tajam Zhang Shen.


"Tuan Pendekar, biar aku yang mengurus orang itu!" balas Chibisuke menunjuk Ban Hai dengan katananya.


Zhang Shen menghela napas panjang mendengar jawaban Chibisuke.


"Baiklah, izinkan kami membantu, karena keberadaan kami disini adalah perintah dari Tuan Putri Kelima." balas Zhang Shen sambil melirik ke arah Zhuo Guo dan Luo Xi.


"Terimakasih atas bantuannya, semoga kita bisa bekerja sama." jelas Chibisuke tersenyum tipis karena keadaan mereka masih belum terdesak.


"Biar aku yang menghadapi orang yang bernama Zhuo Guo itu." ujar Zhang Shen pada Han Xu dan Han Zoe.


Zhang Shen maju menyerang Zhuo Guo dengan pedangnya, keduanya bertarung cukup sengit. Tebasan demi tebasan terus diayunkan oleh keduanya.


Han Xu dan Han Zoe juga maju menyerang Luo Xi, kekuatan mereka berdua masih berada di atas Luo Xi.


"Apa kau berniat membalas dendam padaku!" ejek Ban Hai melihat raut wajah Chibisuke yang terlihat murka menatap kearahnya.


Chibisuke hanya diam dan tidak mendengarkan perkataan Ban Hai. Tidak lama Mamorusuke menghampiri Chibisuke dan membantunya.

__ADS_1


"Mari kita balaskan rasa sakit Ryunosuke." ucap Mamorusuke mengajak Chibisuke untuk bekerja sama mengalahkan Ban Hai.


Chibisuke mengangguk pelan kemudian dia maju menyerang Ban Hai dengan tebasan katananya yang dalam dan mematikan. Mamorusuke menatap tajam pertarungan mereka berdua, sambil mencari celah untuk membunuh Ban Hai.


"Tebasan Pelindung."


Mamorusuke menebaskan pedangnya sekuat tenaganya ke arah Ban Hai, cambuk Ban Hai terpotong menjadi dua bagian.


Chibisuke melirik ke arah Mamorusuke yang telah memberinya celah untuk menghabisi Ban Hai.


"Amarah Kucing Hutan."


Chibisuke mengayunkan katananya dari jauh, tebasan katana milik Chibisuke membentuk kucing berwarna biru berlari di udara dan menerkam tubuh Ban Hai.


Ban Hai batuk darah dan badannya terluka sangat parah. Dengan susah payah dia berusaha bangkit tetapi di belakangnya sudah ada Mamorusuke yang sudah siap memenggal kepalanya.


"Kalian semua akan-" belum selesai Ban Bai berbicara, kepalanya terpotong oleh katana Mamorusuke.


Mamorusuke mengibaskan katananya sebelum menyarungkannya kembali. Kemudian dia beranjak menolong Ryunosuke yang terluka parah.


Sementara itu di sisi lain Zhuo Guo terdesak oleh serangan tebasan pedang Zhang Shen.


"Apa hanya segini kemampuanmu?" tanya Zhang Shen dengan sengaja dia memprovokasi lawannya itu.


Zhuo Guo berdecak kesal melihat tingkah Zhang Shen, kemudian dia menyerang balik Zhang Shen. Kali ini tebasannya dalam dan membuat tubuh Zhang Shen tergores.


Zhang Shen mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka Zhuo Guo memberikan perlawan yang cukup sengit kepadanya.


"Kau jangan meremehkanku! Aku adalah Zhuo Guo, salah satu dari lima ketua Sekte Mawar Hitam!" teriak Zhuo Guo menebaskan pedangnya dengan cukup brutal pada Zhang Shen.


Zhang Shen menangkis setiap tebasan pedang Zhuo Guo, walau ada beberapa luka tusukan pedang yang dilancarkan oleh Zhuo Guo berhasil mengenai bagian tubuhnya. Tetapi bagi Zhang Shen dirinya masih bisa menahan rasa sakit itu.


"Aku baru sadar jika kau salah satu dari lima ketua Sekte Mawar Hitam." ucap Zhang Shen sengaja mengecek Zhuo Guo. Kali ini perkataan Zhang Shen, membuat Zhuo Guo sangat geram.


Zhuo Guo mundur beberapa langkah ke belakang dan melakukan kuda - kuda untuk menebaskan pedangnya.


"Apa kau masih meremehkanku setelah melihat hal ini." batin Zhuo Guo menatap tajam Zhang Shen.


"Aliran Daun Hitam."


Zhuo Guo melangkahkan kakinya dengan cepat sambil mengayunkan pedangnya ke arah Zhang Shen, setiap tebasan pedangnya membentuk sebuah lintasan daun - daun kecil berwarna hitam yang berguguran. Zhang Shen menangkis tebasan Zhuo Guo dengan susah payah.


Kali Zhuo Guo menebaskan pedangnya lebih kuat dari sebelumnya, hingga tebasannya membuat daun hitam tajam melesat ke arah Zhang Shen.


"Teknik yang mengagumkan." gumam Zhang Shen ketika melihat tebasan Zhuo Guo.


Zhang Shen juga menebaskan pedangnya ke arah tebasan pedang Zhuo Guo, tebasan pedang Zhang Shen membuat angin padat berbentuk sabit melesat ke arah tebasan daun hitam milik Zhuo Guo.

__ADS_1


Ketika kedua teknik itu saling berbenturan, angin berhembus sangat kencang hingga membuat mereka mundur beberapa langkah ke belakang.


__ADS_2