
Tidak terasa Ming Fengying duduk di dekat jendela sembari membaca isi Kitab Bintang Surgawi sampai larut sore dan menjelang malam. Perlahan waktu yang cepat berlalu membuat Ming Fengying menutup Kitab Bintang Surgawi dan menatap Soo Yun yang sedang tertidur pulas di ranjang.
"Mirip Tuan Putri..." Ming Fengying membatin. Ketika dirinya melamun terlalu jauh menatap gadis bermata sayu yang sedang tertidur. Suara ketukan pintu kamar terdengar.
Ming Fengying membuka pintu kamar dan mendapati Shingen yang sedang berdiri di depan pintu.
"Kenshin, coba ayah baca isi kitab itu." Ming Fengying dengan segera mengambil Kitab Bintang Surgawi dan memberikannya pada ayahnya.
Kemudian Shingen dan Ming Fengying duduk di luar kamar. Di sana terdapat bangku panjang. Ming Fengying dapat melihat senja di Lembah Pegunungan Tiangan dari lantai sembilan.
"Jangan tanya alasannya. Ayah dan Kakek Lin berpesan padamu, kamu harus mematuhinya." Shingen berkata pada Ming Fengying namun matanya sedang fokus membaca isi Kitab Bintang Surgawi. Ming Fengying hanya mengangguk pelan.
"Kamu dan calon istrimu itu jangan keluar kamar selama lima hari." Sontak Ming Fengying terkejut namun anehnya dia diam dan mengikuti perintah Shingen.
Ming Fengying menemani ayahnya yang sedang membaca, namun dirinya sedikit terkejut karena melihat Shingen yang memanjang rambutnya sampai rambut hitam hitam itu berubah berwarna putih, sedangkan matanya berwarna merah darah sama seperti dirinya.
"Kenshin, apa kamu pernah bermimpi membaca kitab ini?" Tanya Shingen memastikan.
Ming Fengying menaikkan alisnya. "Kenshin, pernah melihat dan memegang kitab ini. Tapi apa itu mimpi? Jika itu mimpi. Maka itu adalah mimpi yang menyakitkan selama 122 tahun!" Sontak Ming Fengying memegang kepalanya dengan erat. Dia tiba-tiba merasa pusing mengingat masa lalunya yang terngiang di kepalanya.
Shingen menghela napas panjang. "Jadi benar. Kau menganggap dirimu bereinkarnasi." Ming Fengying terkejut mendengar perkataan Shingen.
"Maksud, ayah?" Ming Fengying bertanya karena penasaran.
"Kenshin, jika kamu mempunyai adik. Kemungkinan besar adikmu akan bisa berbicara sepertimu dan dia akan menganggap dirinya bereinkarnasi. Tentunya dia merasa mempunyai kekasih yang ada hubungannya dengan Titisan Dewa-Dewi." Shingen langsung berdiri sembari mengelus rambut Ming Fengying sebelum pergi.
Shingen meninggalkan pertanyaan besar yang ada di kepala Ming Fengying. "Adik? Jangan-jangan bunda sedang hamil? Aku akan menjadi seorang kakak?" Ming Fengying langsung kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di samping Soo Yun tanpa sadar.
Beberapa jam telah terlewati dan hari sudah gelap. Di lantai sembilan baru ditempati pendekar dan samurai dari Wilayah Bei dan Sekte Sungai Merah.
Sementara itu Ming Fengying masih tertidur pulas sembari memeluk guling yang barusan dipeluk Soo Yun.
Gadis bermata sayu itu terkejut ketika terbangun, dia mendapati Ming Fengying tertidur disampingnya.
"Fengfeng?" Soo Yun mengubah posisinya dari terlentang menjadi duduk. Kemudian gadis bermata sayu itu duduk di dekat jendela.
"Dimana kamar mandinya?" Soo Yun bergumam sendiri sembari melihat seisi ruangan kamarnya. "Itu dia?" Senyuman indah menghiasi wajah Soo Yun ketika melihat sebuah pintu yang memiliki warna yang sama dengan tembok kamar yaitu hijau. Dengan cepat Soo Yun mengambil handuk putih yang telah digantung bersama dua pakaian tidur pria dan wanita di dekat pintu kamar mandi.
"Aku mandi dulu. Hmmm..." Dengan langkah kaki yang riang. Soo Yun berjalan memasuki kamar mandi.
Sekitar tiga puluh menitan, Ming Fengying terbangun dan ingin membuang air kecil. Tempat yang dia tuju pertama kali adalah pintu berwarna hijau yang merupakan kamar mandi.
"Dimana Soo Yun?" Ming Fengying melihat seisi ruangan kamar sebelum membuka pintu kamar mandi.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, sebuah gayung terbang dan langsung mengenai dahi Ming Fengying.
"Hantu?" Ming Fengying kebingungan ketika memegang gayung dan tangannya yang satunya memijat dahinya.
"Fengfeng mesum!" Suara teriakan Soo Yun dari dalam kamar mandi membuat Ming Fengying merah padam wajahnya. Merah padam bukan karena marah melainkan dia malu karena terkejut melihat bentuk tubuh Indah Soo Yun.
"Aku tidak melihat apapun!" Ming Fengying menutup matanya. Namun tidak berapa lama Soo Yun datang menghampiri Ming Fengying hanya dengan sebuah handuk putih tipis yang melilit tubuhnya.
"Sini gayungnya!" Soo Yun mengambil gayung dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu Ming Fengying berdebar kencang jantungnya. "Tidak salah lagi. Reaksi tadi. Soo Yun adalah Harumin." Ming Fengying membatin dan berjalan kesana kemari untuk menahan sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
Selang satu jam kemudian Soo Yun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang manyun dan cemberut. "Hmph!" Ia langsung memalingkan wajahnya ketika mata sayunya bertemu dengan mata Ming Fengying.
"Aku tidak peduli. Seharusnya yang marah itu aku. Kenapa dia mandi lama sekali? Lagian ini sudah malam. Bagaimana jika kamu sakit, Yunyun?" Ming Fengying membatin dan langsung berlari dengan cepat memasuki kamar mandi.
"Akhirnya..." Ming Fengying bernapas lega.
Setelah itu dia langsung melepas seluruh pakaiannya. Ketika Ming Fengying mulai menyiram seluruh tubuhnya dengan air. Baru lah dia ingat karena belum mengambil handuk.
"Yunyun! Ambilkan handukku!" Ming Fengying berteriak memanggil Soo Yun dari dalam kamar mandi. Namun tidak ada jawaban dari gadis bermata sayu tersebut.
"Jadi dia masih marah... ya sudahlah..." Ming Fengying langsung melanjutkan mandinya.
Sementara itu Soo Yun yang sedang berbaring di atas ranjang terkejut mendengar teriakan Ming Fengying. "Fengfeng sangat agresif malam ini. Apa dia tidak tahu tata cara bersikap sopan kepada gadis lemah sepertiku ini..." Soo Yun menggumam pelan sembari memeluk guling dan senyum-senyum sendiri.
Tidak berapa lama suara teriakan Ming Fengying terdengar kembali dari dalam kamar mandi.
"Yunyun. Tolong ambilkan handuk. Jika tidak aku akan keluar tanpa busana untuk mengambilnya sendiri!" Soo Yun mengembungkan pipinya mendengar teriakan Ming Fengying.
"Dasar Fengfeng!" Soo Yun mengambil handuk putih dan mengetuk pintu kamar mandi. "Ini handuknya, dasar mesum!" Ketika pintu kamar mandi terbuka sedikit, Soo Yun langsung memasukkan handuk putih ke dalam kamar mandi.
Ming Fengying yang menerima handuk tersebut tersenyum. "Terimakasih, sayu." Dengan sengaja Ming Fengying meledek Soo Yun.
Satu jam kemudian. Kamar yang dihuni Soo Yun kedatangan pendekar perempuan dari Sekte Taman Langit yang mengantar makanan ke dalam kamar.
Ming Fengying sedang duduk di bangku, namun dia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sementara itu Soo Yun hanya membaringkan tubuhnya di atas ranjang kamar dan membenamkan wajahnya ke bantal.
"Lihat, itu adalah Pangeran Ming Fengying."
"Tampan ya. Tapi senyumannya garang."
"Aku menyukainya."
"Mereka tidur berdua lagi."
Soo Yun yang mendengar ucapan gadis-gadis muda dari Sekte Taman Langit merasa malu. Sedangkan Ming Fengying masih di dalam kamar mandi. Tidak berapa lama dia keluar dan melihat Soo Yun yang sedang meringkuk di atas kasur.
"Ada makanan. Yunyun." Ming Fengying memegang perut Soo Yun dan menggoyangkannnya. "Bangun."
Soo Yun justru merasa kesal dengan sikap Ming Fengying. "Fengfeng! Bisa-bisanya kamu masuk ke dalam kamar mandi ketika gadis-gadis itu membicarakan kita berdua!"
Ming Fengying tersenyum tipis. "Sudah kuputuskan. Aku tidak akan mengelak jika ada orang yang menganggap kita berdua seperti sepasang kekasih, Soo Yun." Ucapan Ming Fengying membuat wajah Soo Yun memerah.
"Lihat wajahmu memerah. Aku semakin menyukaimu saat kamu malu-malu seperti ini." Ming Fengying sengaja menggoda Soo Yun dan langsung duduk di kursi tempat dimana makanan telah disediakan di atas meja.
Soo Yun mengikuti Ming Fengying tanpa berkata sepatah katapun.
"Selamat makan..."
Setelah itu Ming Fengying dan Soo Yun menyantap makanan yang telah dihidangkan. Baik Ming Fengying maupun Soo Yun tidak berbicara sepatah katapun ketika makan. Bahkan setelah selesai makan, Ming Fengying dan Soo Yun juga tidak bertegur sapa.
Ketika tengah malam, Ming Fengying melatih pernapasan dan mengontrol aura tubuhnya. Hari demi hari, dia lalui hanya berduaan di kamar bersama Soo Yun.
Tak terasa Ming Fengying dan Soo Yun telah tidur sekamar selama empat hari. Tiga hari yang lalu, Shingen dan Lin Kin berpesan pada Ming Fengying agar tetap berada di dalam kamar sampai hari kelima.
Ming Fengying tidak mengetahui alasannya, sehingga dia merasa bosan ketika berduaan dengan Soo Yun tanpa mengobrol kembali. Entah mengapa Ming Fengying rindu dengan sikap manja Soo Yun.
__ADS_1
"Yunyun. Esok lusa. Aku ingin mengajakmu pergi keluar. Jadi jangan diam saja. Jawab pertanyaanku." Ming Fengying sudah tidak bisa menahan kekesalannya.
Soo Yun memejamkan matanya dan memeluk guling lebih erat lagi. "Apa ini? Apa dia akan menyatakan perasaannya padaku?"
Ming Fengying menghampiri Soo Yun dan menyentuh pundak gadis bermata sayu tersebut. "Yunyun. Kamu kenapa?" Ming Fengying panik melihat wajah Soo Yun yang memerah.
"Tunggu... kamu sakit?" Soo Yun terkejut karena Ming Fengying mengira dirinya sakit.
"Aku lelah..." Soo Yun menjawab pelan dan memejamkan matanya.
Ming Fengying menatap wajah Soo Yun dengan seksama. "Apa perkataanku saat itu membuatnya jadi seperti ini?" Batin Ming Fengying menebak. Entah mengapa dirinya merasa senang melihat Soo Yun yang terlihat begitu mirip dengan Harumi.
Ming Fengying kembali duduk di bangku dan mencoba melatih apa saja yang tertulis di dalam Kitab Bintang Surgawi.
"Air Suci? Jika yang ayah katakan benar maka Harumi maupun segala hal yang terjadi di kehidupan lamaku adalah sebuah mimpi belaka." Ming Fengying tersenyum tipis tidak percaya, namun entah mengapa semakin bertambah umurnya, semakin Ming Fengying tidak merasa jika dirinya telah bereinkarnasi.
"Prabu Banyu Sukma.." Ming Fengying membaca tulisan yang ada di Kitab Bintang Surgawi.
"Orang yang membuat kitab ini adalah Prabu Banyu Sukma? Di Benua Jiu kalau tidak salah nama ini sangat mirip dengan orang-orang dari Negeri Wulan gunakan." Ming Fengying tersenyum ketika mengetahui orang yang menciptakan Kitab Bintang Surgawi.
Ming Fengying masih mengingat isi Kitab Bintang Di Surga seluruhnya, dan isi Kitab Bintang Di Surga sama dengan isi Kitab Bintang Surgawi.
"Prabu Banyu Sukma." Ming Fengying membaringkan tubuhnya di bangku panjang. "Yang tersisa tinggal kemampuanku saat bisa terbang itu. Api biru dan api merah Burung Phoenix. Aku harus mengetahui hal itu, terus cermin yang ada di Hutan Kumalawyuha, Air Suci, dan Bunda..." Ming Fengying mengingau dan tertidur lelap.
Soo Yun yang mendengar ucapan Ming Fengying ikut tersenyum. "Fengfeng ternyata sedang laki-laki yang mudah khawatir dan pemikir yang keras.." Senyuman indah menghiasi wajah Soo Yun yang sedang menatap Ming Fengying dari ranjang.
Tiga hari sebelum diadakannya Pertemuan Putih Suci. Masing-masing pendekar yang memiliki gelar tersendiri dan nama mereka dikenal di seluruh penjuru Kekaisaran Kuru datang menuju Pegunungan Tiangan.
Sebut saja tiga sekte aliran putih yang termasuk dalam sepuluh sekte aliran putih terbesar di Kekaisaran Kuru seperti Kuil Matahari, Lembah Es Rembulan dan Lembah Naga.
Kebanyakan dari mereka menghiraukan temu sapa persaudaraan dan hanya mencari ketenaran serta nama.
Bersamaan dengan ketiga sekte aliran putih yang sedang dalam perjalanan menuju Pegunungan Tiangan, dua sekte aliran hitam juga bergerak menuju Pegunungan Tiangan di antaranya Sekte Malam Berdarah dan Sekte Lembah Darah.
Sementara itu tidak banyak orang yang tahu. Putih tidak selamanya bersih, dan warna putih juga pasti akan ada noda layaknya pakaian putih yang kotor.
Yang hitam belum tentu sepenuhnya kotor atau biasa diartikan sebagai sosok orang jahat. Dan yang putih belum tentu bersih. Semua itu kembali pada diri masing-masing dan ironisnya kebanyakan orang menilai hanya melihat dari luarnya saja.
Salah satu sekte aliran putih terkuat yang bernama Pedang Naga Sakti menawarkan kerjasama dengan Pangeran She untuk membantu Pangeran She naik tahta menjadi Kaisar Kuru.
Pedang Naga Sakti datang dengan pendekar yang lebih banyak dari sekte yang lainnya. Mereka sendiri tidak sadar jika pendekar suruhan Pangeran She adalah Ketua dan Tetua dari Sekte Cakrawala Hitam yang berpura-pura menjadi pendekar yang menjaga Pangeran She. Sementara itu anggota Sekte Cakrawala Hitam juga sedang dalam perjalanan menuju ke Pegunungan Tiangan.
Tiga hari dari sekarang, titik awal dari pergelojakan di Pegunungan Tiangan akan menjadi titik balik untuk menatap masa depan Kekaisaran Kuru. Apakah Kekaisaran Kuru mengarah ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya.
___
Maaf kalau kurang memuaskan. Novel LJW masih menyatu dengan novel author yang pertama berjudul Kagutsuchi Nagato. Nanti ku jelaskan tentang semuanya dari Ming Fengying yang bernama Feng Huang bisa terbang dan kenapa Ying'er menganggap dirinya bereinkarnasi.
Entah kapan Nagato dan Ming Fengying bertemu, tetapi aku harap kalian terus ikuti terus kelanjutan cerita Ming Fengying si Bayi Ajaib. Bulan yang dengan redup bersinar dan menanti terangnya cahaya dari sang fajar.
Note : 1 ~ 7 ~ 2020 — 11 ~ 7 ~ 2020.
22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)
122 Like : Bonus 1 chapter.(0/5)
__ADS_1
1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)
Bonus Chapter Malming : 0/25.