Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 86 : Dua Prasasti Dan Kitab Yang Disembunyikan Lin Kin!


__ADS_3

Untuk menghindari diskriminasi yang dilakukan para pendekar kepada Shingen dan pengikut samurainya, Lin Kin mengajak Shingen bersama rombongannya untuk menetap di kediamannya yaitu Ruang Awan Merah.


Di dalam Ruang Awan Merah terdapat tempat yang sangat luas. Lin Kin menjelaskan kepada Shingen dan yang lainnya jika keluarganya yang terus mewarisi kepemimpinan untuk menjadi Ketua atau Patriak Sekte Taman Langit agar terus menjaga pesan yang diwarisi leluhurnya.


Di dalam Ruang Awan Merah terdapat dua ruangan yaitu ruangan luar yang bernama Ruang Awan Merah Tua dan ruangan dalam yang hanya bisa dimasuki Patriak dari Sekte Taman Langit saja.


Ruangan dalam tersebut biasa disebut dengan Ruang Awan Merah Muda. Ketika sampai di Ruang Awan Merah Tua, Lin Kin menatap Zhang Bingjie dan yang lainnya, namun tidak dengan Shingen dan Ming Fengying.


"Kalian silahkan istirahat di Ruang Awan Merah Tua. Dari sini, aku ingin berbicara dengan Keluarga Tuan Shingen." Lin Kin menatap Zhang Bingjie, Fujin, Sanada, dan Yuan Shi. Sementara itu dua pendekar yang ikut bersama Zhang Bingjie sedang berada di luar Istana Langit untuk membantu pendekar dari Sekte Taman Langit yang bertugas menyambut kedatangan pendekar dari sekte lain.


"Ketua Lin, janganlah main rahasia-rahasia seperti ini." Zhang Bingjie terlihat sedikit kelepasan dalam berbicara karena dia sendiri sudah akrab dengan Lin Kin sejak kecil.


Lin Kin pun tertawa mendengar perkataan Zhang Bingjie. "Aku tidak ada rahasia. Bukankah kau sudah mengetahuinya, Ketua Zhang." Raut wajah Lin Kin mendadak serius. "Ini adalah pesan yang selalu disampaikan kepada orang yang memimpin Sekte Taman Langit. Jangan biarkan dua Kutukan Kuno dan Raja Naga Kegelapan mendatangkan malapetaka di Benua Jiu kembali."


Sontak yang paling terkejut mendengarnya adalah Shingen. Bahkan Ming Fengying, Fujin, Sanada dan Yuan Shi yang melihat tatapan mata kanan Shingen berubah juga ikut terkejut. Sedangkan Zhang Bingjie langsung duduk di kursi sembari tersenyum dan membiarkan Lin Kin mengajak Shingen dan Ming Fengying memasuki Ruang Awan Merah Muda.


Shingen mengernyitkan dahinya. "Lin Kin. Kenapa kau tahu dua hal itu? Seharusnya sejarah tentang Yamata tidak ada hubungannya dengan kalian. Bahkan orang Yamato tidak mengetahuinya. Yang mengetahui hanya Keluarga Tsukuyomi?" Ming Fengying malah menjadi penasaran mendengar perbincangan Shingen dan Lin Kin.


"Kita bicarakan hal itu di dalam, Tuan Shingen." Lin Kin tersenyum ramah pada Shingen kemudian membuka pintu masuk Ruang Awan Merah Muda yang pintunya terbuat dari kayu pohon adam dan sangat mewah tentunya karena berlapis emas dan berlian. Namun satu hal yang sangat terlihat jelas di pintu tersebut adalah ukiran Burung Phoenix dan Burung Garuda yang sedang bertarung melawan Naga.


"Mari masuk." Lin Kin mengajak Shingen dan Ming Fengying untuk masuk ke dalam Ruang Awan Merah Muda.


"Fengfeng!" Soo Yun memegang tangan Ming Fengying dengan sangat erat.


Lin Kin langsung menoleh untuk melihat Ming Fengying yang membawa gadis bermata sayu. "Nona Muda juga silahkan masuk." Lin Kin mengajak Soo Yun untuk masuk ke dalam Ruang Awan Merah Muda karena mengira gadis bermata sayu itu adalah keluarga dari Shingen.


"Gadis muda ini bukan bagian dari Keluarga Tsukuyomi. Apa dia diperbolehkan untuk masuk?" Shingen menatap Ming Fengying dan ingin melihat tekad anaknya untuk memperjuangkan Soo Yun.


Lin Kin terkejut. "Kalau begitu, Nona Muda silahkan menunggu di luar ruangan ini." Dengan berat hati Lin Kin mengatakan hal tersebut. Dia sendiri juga bisa melihat jika Soo Yun sangat ketakutan dengan orang lain selain Ming Fengying.


Mendengar itu, Ming Fengying menatap balik ayahnya. Kemudian dia membenamkan kepala Soo Yun pada bahunya. "Ayah. Yunyun adalah bagian dari Keluarga Tsukuyomi. Mungkin bukan sekarang, tapi Kenshin akan menjadikan Yunyun..." Kata-kata Ming Fengying terhenti karena melihat perubahan wajah ayahnya.


"Ayah mengerti, Kenshin." Shingen tertawa. Kemudian dia mengelus rambut anaknya. "Ayah hanya ingin melihat bayi ajaib ayah yang mungil ini akan bertindak seperti apa jika ayah tidak menerima Yunyun ini." Kemudian pandangan mata Shingen menatap wajah Soo Yun yang merah merona.

__ADS_1


Ming Fengying kemudian menatap Soo Yun dan menenangkan gadis bermata sayu tersebut. "Jangan takut." Senyuman Ming Fengying membuat Soo Yun tenang. Kepala Soo Yun mengangguk lirih dan membalas senyuman Ming Fengying selembut mungkin.


Setelah itu mereka memasuki Ruang Awan Merah Muda. Di dalam ruangan itu terdapat dua prasasti batu dan batu prasasti emas. Mata Shingen dan Ming Fengying melebar secara bersamaan ketika melihat kedua prasasti tersebut.


"Lin Kin. Ini..." Shingen tak habis pikir ternyata Benua Jiu lebih luas dari yang dia perkirakan. Walau dia sendiri tahu Benua Jiu hanyalah sebagian kecil dari dunia yang sangat luas ini, tetapi dia sendiri tidak menyangka akan ada beberapa orang yang menjaga prasasti seperti ini.


Lin Kin tersenyum. "Ini adalah batu prasasti. Aku tidak bisa membacanya. Tetapi hanya kata ini yang kuingat." Lin Kin berjalan mendekati dua prasasti tersebut yang berdiri berdampingan dan memegangnya. "Dari lima diantaranya. Kagutsuchi, Tsukuyomi, Muramasa, Kitsune dan Prabu. Dahulu, 2000 tahun silam. Keluarga Tsukuyomi berjanji akan membawa Benua Jiu kembali menuju tempat yang damai dan semua orang bisa hidup setara di bawah sinar matahari yang sama tanpa adanya diskriminasi. Namun janji itu belum bisa ditepati karena suatu alasan."


Shingen dan Ming Fengying terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Ming Fengying sendiri baru mendengar cerita tersebut, namun berbeda dengan Shingen yang telah belajar cara membaca tulisan huruf kuno dalam prasasti dan cerita turun-temurun dari keluarganya juga diwariskan kepadanya.


"Bukankah aku bereinkarnasi? Tetapi kehidupan kali ini kenapa sangat berbeda dari yang kubayangkan?" Ming Fengying membatin penasaran.


Shingen tertawa karena tidak menyangka akan mendapat sambutan oleh Lin Kin seperti ini. Sambutan yang sangat luar biasa dalam hidupnya. "Janji itu belum bisa dipenuhi karena keturunan Yamata dan kekuatan Raja Naga Kegelapan memimpin Benua Jiu dengan kebenciannya. Dan benih-benih tersebut yang bisa kita lihat sekarang. Dimana yang kuat berkuasa dan yang lemah maka akan disingkirkan begitu saja." Lin Kin tersenyum mendengar tanggapan Shingen.


"Jadi Tuan Shingen. Soal sembilan tahun yang lalu saat anda menjelaskan tentang Reiyu dan Keluarga Tsukuyomi pada pendekar aliran putih dan netral di Kekaisaran Kuru, saya tidak dapat berkata apapun selain perasaan kuat untuk membantu Tuan Shingen." Lin Kin mendekati Shingen dan menunduk.


"Sebagai orang yang memimpin Sekte Taman Langit. Saya Lin Kin sudah menjalin kerjasama dengan Tuan Putri Kelima karena suatu alasan." Shingen, Ming Fengying dan Soo Yun terkejut melihat seseorang seperti Lin Kin menunduk kepada Shingen.


"Alasan itu karena saya ingin mencoba lebih dekat dengan anda, Tuan Shingen. Dan izinkan saya untuk menggantikan leluhur dari sesepuh Sekte Taman Langit untuk menyelesaikan tugas mereka. Hari dimana kita semua menyambut sang fajar kembali menyinari dan membuka di benua ini." Tambahnya.


Ming Fengying langsung melepas pegangan tangannya yang menggenggam tangan Soo Yun. "Ayah! Apa yang yang ayah katakan?! Pasti ada cara untuk menyembuhkan luka dalam ayah?!" Ming Fengying kelepasan berbicara tentang penyakit Shingen.


Lin Kin terkejut mendengar ucapan Shingen dan Ming Fengying. "Tuan Shingen. Apa selama ini anda..." Wajah Lin Kin pucat pasi sesaat. Kemudian dia menelan ludah tidak meneruskan perkataannya.


Shingen tertawa karena hanya tawa dan senyuman yang dapat menyembunyikan kesedihannya. "Aku bisa bertahan sampai sekarang berkat Pernapasan Cakra dan Pernapasan Garuda yang aku olah setiap malam dan pagi. Obat untuk luka dalamku ini tidak ada. Jika ada, maka dengan senang hati aku akan menerima obat tersebut."


Lin Kin bisa melihat ketabahan hati Shingen. Walau Shingen lebih muda dari dirinya, namun sosok ayah beranak satu itu memiliki pandangan yang selalu menatap ke depan. Dan itu adalah hal yang tidak bisa dilakukan oleh Lin Kin.


"Ini ganjaran karena kekuatan Tsukuyomi, maksudku kekuatan dari Titisan Dewa Bulan bangkit di dalam tubuhku secara mendadak karena amarah dan kebencian. Saat aku seusiamu, Kenshin. Ayah berhasil melukai tubuh makhluk penuh kebencian itu!" Shingen justru mengelus rambut Ming Fengying dan ingin membuat anaknya tersebut tidak terlalu memikirkan penyakit yang dialaminya.


"Maksud ayah ... dengan tubuh Kenshin yang kecil seperti ini dan umur Kenshin yang sekarang ini, ayah sudah bisa melukai Naga?" Ming Fengying tak habis pikir begitu juga dengan Lin Kin dan Soo Yun.


Shingen memejamkan matanya. "Hanya melukai saja. Saat itu ayah dilindungi oleh Kung Wu. Dia adalah orang yang membawa ayah pergi dari Yamato, namun di tengah perjalanan kami tiba-tiba memasuki sebuah hutan dan Kung Wu menghilang karena sebuah cermin." Shingen menjelaskan. Kemudian dia tidak sengaja menatap sekilas sebuah buku yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Lin Kin apa itu?" Dengan cepat Shingen mengalihkan pembicaraan karena dia melihat raut wajah Ming Fengying yang terlihat khawatir dan penasaran di saat yang bersamaan. Shingen tidak ingin melihat anaknya tumbuh dewasa dengan terus-menerus memikirkan penyakit yang ada di dalam tubuhnya itu.


"Itu adalah kitab yang dijaga leluhurku. Namanya adalah Kitab Bintang Surgawi. Namun didalamnya sama sekali tidak ada isi bacaannya." Lin Kin mengambil Kitab Bintang Surgawi dan menunjukkannya pada Shingen.


Ming Fengying melebar matanya melihat kitab tersebut. Dia bisa melihat tulisannya dengan jelas. Sekarang kedua bola mata Ming Fengying tiba-tiba mendadak berubah menjadi merah bahkan dia mengaktifkan kekuatannya tanpa persetujuan ayahnya.


Shingen melirik anaknya. "Kenshin, matamu. Ayah sudah bilang, jangan gunakan mata Tsukuyomi dan kekuatan Tsukuyomi dengan sembarangan saat umurmu masih kecil seperti ini." Sementara itu Soo Yun panik melihat kedua bola mata Ming Fengying yang berubah dari hitam menjadi merah.


"Fengfeng matamu?" Soo Yun mendekati Ming Fengying dan menatap mata Ming Fengying lebih dekat lagi.


Sementara itu Lin Kin terkejut melihatnya. "Kenapa bisa merah, mata dari Tuan Muda Ming Fengying?" Benak Lin Kin bertanya.


Ming Fengying tidak menggubris perkataan Shingen, Soo Yun dan Lin Kin. Matanya fokus melihat gambar dan tulisan yang tertera di Kitab Bintang Surgawi.


"Cerita dua pasangan samurai dan pendekar yang berbeda suku dan ras." Ming Fengying membaca tulisan yang tertera di lima halaman depan.


"Bukankah ini Kitab Bintang Di Surga? Kenapa jadi Kitab Bintang Surgawi?" Sontak Shingen, Soo Yun dan Lin Kin terkejut mendengarnya.


"Eh?" Hanya itu reaksi mereka bertiga ketika mendengar ucapan Ming Fengying.


___


Bulan Juli saya selaku author Pena Bulu Merah akan mengadakan proses up yang sama dengan Kagutsuchi Nagato. Tapi tahap awal dulu. Dua Minggu sekali CU(kalau target tercapai). Author lagi nambahin arc di LJW ini. Kan Love in Jiu War masih bagian dari Kagutsuchi Nagato jadi disini sama kaya disana, Benua Jiu sendiri masih bagian dari dunia dalam novel Kagutsuchi Nagato, ntar juga akan dijelaskan alasan Ming Fengying bisa berbicara ketika baru lahir dan kenapa Ying'er ini menganggap dirinya bereinkarnasi, semua itu berkaitan dengan Air Suci. Benua Jiu sendiri adalah 3 benua tersembunyi. Penjelasan lebih detail di Kagutsuchi Nagato. Benua Jiu (Tsukuyomi) Benua Kuru/Raya(Keluarga Prabu) Benua Ezzo(Kagutsuchi). Btw nama jurus dan kitabnya terasa kaya judul lagu, ya memang. Karena aku sendiri suka lagu tersebut dan sebagai penggemar maupun penikmati musik NOAH dari jaman mereka PETERPAN.


Note : Contohnya begini, sama kaya di Kagutsuchi Nagato.


22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)


122 Like : Bonus 1 chapter.(0/5)


1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)


Bonus Chapter Malming : 0/25.

__ADS_1


Wes basa-basine 1 chapter dulu hari ini.


Sekian.


__ADS_2