
Setelah seharian penuh melakukan perjalanan menuju Kota Jinning. Sebelum malam hari tiba, Ming Fengying sudah melihat sebuah kota yang berada di tengah-tengah Danau Qing. Sebuah danah yang cukup besar, untuk melewati Kota Jinning cara tercepat adalah menyebrangi Danau Qing. Kemudian langsung menuju Kota Jinning.
Danau Qing adalah danau besar yang air nya berwarna putih kemerah mudaan. Karena danau tersebut di kelilingi pohon sakura. Danau Qing sangat luas, jika kita mengambil jalan memutar menuju Pegunungan Tiangan maka akan memakan waktu lebih.
"Indahnya..." Bibir Soo Yun merekah melihat pemandangan yang sangat indah. Tidak berapa lama tubuhnya diturunkan Ming Fengying yang sedang menggendongnya.
Ming Fengying dengan wajahnya yang tenang tidak menunjukkan kekaguman yang berlebihan. Menurutnya jika dirinya terlihat sangat kagum itu akan sangat memalukan untuk dirinya sendiri.
"Ikuti aku. Yunyun." Ming Fengying berjalan di depan Soo Yun. Kemudian Soo Yun mengikuti Ming Fengying dari belakang.
"Tunggu aku. Fengfeng." Reflek Ming Fengying berhenti berjalan. Pandangan matanya menatap Soo Yun yang berdiri mengatur napas di sampingnya.
"Kenapa? Huuh..." Soo Yun menatap Ming Fengying sambil mengatur napasnya secara perlahan.
"Tadi kamu memanggilku dengan sebutan apa?" Ming Fengying menaikkan alisnya menatap Soo Yun.
"Fengfeng. Lagipula pula kamu memanggilku Yunyun." Soo Yun tersenyum tipis sebelum berkata, "Kita impas."
"Impas? Ah. Menyebalkan, aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapimu." Ming Fengying mengamati pedagang-pedagang yang hendak menyebrangi Danau Qing. Rombongan pedagang itu hendak menuju Kota Jinning.
"Dengar, Yunyun. Jangan terlalu dekat denganku. Jangan bertindak berlebihan," ucap Ming Fengying kepada Soo Yun. Dia ingin mengingatkan pada gadis bermata sayu itu agar tidak membuat Shingen salah paham.
Soo Yun mengangguk. Walau lebih tua dari Ming Fengying. Sifatnya yang kekanak-kanakan dan pertumbuhan tubuhnya melebih perempuan seusianya tetapi sifatnya sangat berbalik. Hanya saja Ming Fengying dengan sabar menghadapi semua yang dilakukan oleh gadis bermata sayu itu.
"Mari." Ming Fengying berkata dengan pelan. Kemudian dia kembali melangkahkan kakinya menuju salah satu kapal yang baru berlabuh.
"Tuan muda Ming Fengying!"
Sontak Ming Fengying kaget mendengar teriakan Yuan Shi yang melambaikan tangannya dari arah pohon sakura. Ternyata Shingen, Fujin, Sanada dan Yuan Shi sedang menunggu Ming Fengying seharian penuh dengan menginap di alam terbuka.
"Siapa mereka? Aku takut..." Soo Yun langsung bersembunyi di balik punggung Ming Fengying.
"Mereka samurai pengikut ayahku." Ming Fengying melirik wajah Soo Yun yang terlihat malu-malu. Banyak kemiripan antara Soo Yun dan Harumi. Dan itu menjadi alasan mengapa Ming Fengying tidak bisa membiarkan gadis bermata sayu itu sendirian begitu saja.
"Ayo," ajak Ming Fengying menarik tangan Soo Yun dengan lembut.
Sesampainya di tempat Shingen, Fujin, Sanada dan Yuan Shi. Keempat orang itu melongo tidak percaya, karena Ming Fengying datang membawa gadis manis bermata sayu, tentunya Soo Yun juga berparas cantik dengan rambut hitamnya yang halus sepunggung itu. Gadis bermata sayu yang terlihat menggemaskan mempunyai kesan tersendiri bagi siapa saja yang baru melihatnya, tetapi sifat Soo Yun yang sebenarnya akan membuat semua orang terkejut tentunya.
"Kenshin. Nona muda ini siapa?" Shingen menghampiri anaknya. Kemudian dia terlihat sangat penasaran dengan yang anaknya lakukan setelah mereka berpisah dengannya selama seharian penuh.
__ADS_1
"Ayah. Perkenalkan gadis muda ini bernama-" Soo Yun dengan cepat memeluk tangan kanan Ming Fengying.
"Perkenalkan ayah mertua. Nama saya Soo Yun berasal dari Negeri Jisa," potong Soo Yun yang membuat semua orang langsung batuk pelan setelah mendengarnya.
"Sebenarnya saya adalah calon selir dari, Fengfeng." Soo Yun menambahkan penuh percaya diri dengan wajahnya yang malu-malu.
"Ah. Gadis ini membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa diam." Ming Fengying hanya bisa pasrah melihat raut wajah Shingen, Fujin, Sanada dan Yuan Shi yang terkejut.
Ming Fengying seolah tak ingin percaya jika Soo Yun telah mengatakan hal yang membuat semua orang akan salah paham.
"Aku mengerti. Kamu memang bayi ajaib ayah yang dulu. Ayah tidak heran jika kamu mempunyai kharisma yang memikat wanita." Shingen menepuk pundak Ming Fengying. Raut wajah Shingen terlihat bangga.
"Hehe..." Ming Fengying memaksakan senyumannya. Dia sama sekali tidak bisa menjawab perkataan ayahnya.
"Jangan pernah sakiti perasaan seorang wanita. Ingat Kenshin! Ibumu adalah seorang perempuan. Itu larangan dari ayah. Dan ingat pelajaran dari leluhur Keluarga Tsukuyomi. Jangan pernah meminum minuman keras, merusak kesucian perempuan sebelum kamu mneikahinya." Shingen berbisik dengan jelas di telinga Ming Fengying.
"Ya, ayah," jawab Ming Fengying sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu adalah keturunan sah dari leluhur Keluarga Tsukuyomi jadi harus ingat peraturan itu. Jangan seperti ayah yang sudah pernah meminum minuman keras." Shingen menambahkan sambil tertawa pelan.
"Aku mendapat restu dari ayahmu," ucap Soo Yun sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ming Fengying.
"Aku ingin tidur nyenyak malam ini," ucap Shingen sambil berjalan menuju kapal yang siap berangkat. Kemudian Fujin dan Sanada mengikuti Shingen dari belakang. Mereka berdua tersenyum pada Ming Fengying. Senyuman Fujin dan Sanada seolah-seolah mereka mengatakan selamat pada Ming Fengying.
"Kamu kenapa, Fengfeng?" Wajah polos Soo Yun membuat Ming Fengying menghela napas panjang. Kemudian dia berjalan pelan mengikuti Shingen.
"Hoi, hoi, Feng. Kamu mendapatkan perermupan secantik ini. Huuuh ... aku sangat iri." Yuan Shi mendengus kesal.
"Yukimura, jangan bercanda. Kau lihat raut wajahku." Ming Fengying menatap Yuan Shi dengan wajah datarnya.
"Mirip ikan teri." Yuan Shi tersenyum sesaat, kemudian dia tertawa setelah melihat raut wajah pasrah Ming Fengying.
"Kamu kenapa, Feng? Seharusnya kamu bersyukur..." Yuan Shi tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
"Aku duluan." Ming Fengying meninggalkan Yuan Shi yang tertawa mengeledeknya. Tangan Ming Fengying menggenggam tangan Soo Yun.
"Oi, Feng. Maaf. Maaf. Apa kau marah?" Yuan Shi berlari mengajar Ming Fengying.
Ming Fengying diam dan tidak mempedulikan Yuan Shi. Sekarang dirinya ingin tertidur lelap karena belum tidur selama seharian penuh.
__ADS_1
Pelabuhan kecil di Danau Qing terlihat lumayan ramai. Orang-orang yang hendak menyebrang menatap rombongan Shingen yang paling mencolok.
"Samurai? Apa yang mereka lakukan di sini?"
"Pria bermata satu itu adalah suami tuan putri kelima. Jaga mulut kalian."
"Siapa gadis yang bersama pemuda beraura bangsawan itu?"
"Jangan pedulikan mereka."
Ming Fengying tidak mempedulikan omongan orang-orang walau telinganya cukup gatal mendengar mereka membicarakan ayahnya.
Shingen, Ming Fengying, Soo Yun, Fujin, Sanada dan Yuan Shi menaiki kapal yang cukup besar. Kapal khusus orang. Dua pria paruh baya mendayung di belakang.
Tak terasa Ming Fengying tertidur di bahu Soo Yun. Shingen dan yang lainnya terkejut karena Ming Fengying terlihat begitu mesra dengan Soo Yun.
Gadis bermata sayu itu mengelus rambut Ming Fengying dengan lembut. Kemudian Soo Yun menempelkan pipinya pada kepala Ming Fengying.
"Tidurlah, Fengfeng." Soo Yun memejamkan matanya sesaat dan membiarkan kehangatan ini merayapi tubuhnya.
Ming Fengying tertidur lelap setelah tidak tidur seharian penuh. Pikirannya yang terlalu banyak berpikir membuat Ming Fengying ingin cepat-cepat tidur. Terlalu banyak berpikir membuat tubuh menjadi lelah. Ming Fengying membiarkan semua orang memberi pendapat masing-masing tentang dirinya yang tertidur di bahu Soo Yun.
Tepat setelah Ming Fengying tertidur lelap, orang-orang yang masih di pelabuhan terkejut dan beberapa dari mereka menunjuk-nunjuk ke arah kapal yang ada di depan rombongan kapal Ming Fengying naiki.
Sebuah kapal yang menganguk pedagang terlihat terjadi sesuatu.
"Kenapa mereka-..." Yuan Shi yang baru melihat orang-orang dari pelabuhan dikejutkan dengan kapal mereka yang terombang-ambing.
Sekarang semua mata tertuju pada ikan bawal yang cukup besar. Panjang dari ikan bawal itu mencapai tujuh meter.
Kapal yang membawa rombongan pedagang yang paling dikejutkan. Karena ikan bawal itu tiba-tiba melompat keluar dari sungai tepat di depan mereka.
Ming Fengying yang sudah tertidur lelap justru membenamkan wajahnya pada dada Soo Yun karena mendengar kebisingan.
"Ikan teri ..., tidak, maksudku ikan bawal." Yuan Shi bergumam pelan. Sangat tidak dia sangka akan melihat ikan sebesar itu.
"Sepertinya ikan bawal ini Hewan Buas. Baiklah. Akan ku goreng ikan bawal mentah itu!" Shingen membatin dalam hatinya. Kemudian dia berjalan di atas air dengan memusatkan seluruh aura pada telapak kakinya.
Semua orang mulai membicarakan Shingen. Pria yang memiliki luka di mata kirinya itu berlari di atas air mendekati ikan bawal yang masih termasuk dalam jenis Hewan Buas.
__ADS_1