
Seperti yang sudah diperkirakan, Pertemuan Putih Suci tahun ini adalah perhelatan acara temu sapa persaudaraan yang penuh kericuhan.
Namun untuk memahami lebih luas, Ming Fengying hanya diam dan mendengarkan setiap perkataan yang terus bertentangan.
“Fengfeng, kenapa orang dari Pedang Naga Sakti berniat mencari keributan dalam pertemuan ini?” Soo Yun yang sedari tadi mengamati dan mendengarkan bisa memahami sikap Ling Han dan pendekar dari Pedang Naga Sakti.
Ming Fengying tersenyum tipis mendengar pertanyaan Soo Yun. Lalu pandangan matanya terarah pada Soo Yun yang juga sedang menatap dirinya.
“Mereka bukan orang bodoh yang mencari keributan saat pendekar terkuat di aliran putih dan netral berkumpul di satu tempat ini...” Ming Fengying terdiam sesaat sebelum berbicara, “Tetapi pendekar yang mereka bawa sedikit mencurigakan. Aku rasa Pedang Naga Sakti menyembunyikan sesuatu yang besar dan itu jauh dari perkiraan kita...”
Kemudian Soo Yun diam dan menatap tangan Ming Fengying. Gadis bermata sayu itu tidak berani menatap orang lain selain Ming Fengying.
“Tadi aku sempat mendengar Naga terbang di sekitar Negeri Jisa? Yunyun, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?” Ming Fengying membatin penasaran.
Tak lama pembahasan tentang gejolak Kota Jinning berakhir buntu, tidak ada satupun pendekar yang berani berkata jujur selain Lin Kin.
Mereka menjaga reputasi, mereka tidak ingin orang lain tahu dan mereka tidak saling mempercayai satu sama lain. Sebelum kembali membahas perkataan Tian Yang tentang sosok Naga dan Hewan Buas berkepala manusia, semua pendekar saling berpandangan.
Pada situasi yang telah mencair, situasi kembali menegang karena sebagian orang masih belum mengetahui Negeri Yamato yang telah dikuasai orang asing dari luar Benua Jiu.
Walau samar-samar ada kabar burung yang tersebar, kebanyakan orang tidak peduli dan tidak percaya. Bukti kuat Negeri Yamato mengalami pergelojakan hebat adalah dengan ditutupnya negeri tersebut dari negeri lain di Benua Jiu dan banyaknya pengungsi yang sekarang menetap di Wilayah Bei.
Sebentar lagi mereka akan membahas tentang ancaman dari sosok Naga yang memiliki identitas misterius. Dalam ruangan Aula Langit Suci yang dipenuhi pendekar itu mulai sedikit tegang ketika beberapa Tetua dari sekte besar saling berpandangan.
Beberapa pendekar mulai mempercayai perkataan Tian Yang. Mereka sadar Tian Yang bukanlah orang sembarangan yang akan berbicara serius membahas masalah yang akan dibicarakan ini.
Namun banyak juga yang masih tidak percaya jika Naga yang dilihat oleh Tian Yang adalah kenyataan. Kebanyakan mereka menganggap Tian Yang mulai terpengaruh lelucon Shingen.
“Mari kita bicarakan masukan dari Saudara Tian.” Lin Kin menatap semua pendekar yang sedang tegang. Ada yang tidak peduli, namun banyak yang menegang wajahnya, sehingga Lin Kin menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
__ADS_1
“Aku yakin akan ada hari dimana kita semua saling mengasihi dan memahami, tidak seperti sekarang ini. Sebelum membahas tentang perkataan, Saudara Tian.” Lin Kin menghela napas panjang, “Aku yakin dan percaya jika Naga yang Tuan Shingen dan Saudara Tian lihat adalah manusia, bukan kadal.”
Lin Kin menekan perkataan terakhirnya dan itu membuat Ling Han sedikit tersinggung. Semua pendekar yang baru saja mengikuti Pertemuan Putih Suci mulai canggung dan terdiam.
“Masukan dariku yang sebenarnya adalah tentang masalah kita ke depan. Kita tidak bisa selamanya terus-terusan seperti ini. Sebelum semuanya terlambat, aku hanya ingin mendengar penjelasan Tuan Shingen yang sebenarnya.” Tian Yang angkat bicara sambil menatap Shingen. “Ceritakan pada kami semua saat kau berhasil datang ke Bei ketika muda. Ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi pada Negeri Yamato?”
Shingen mendengar nada bicara Tian Yang seperti menyuruhnya. Dia sadar jika Tian Yang berniat membuat semua orang percaya pada perkataannya, namun dia sendiri tidak menyangka Rieyu akan melakukan pergerakan setelah sekian lama.
Negeri Jisa adalah tempat kelahiran Soo Yun, tentu Shingen langsung melirik sesaat untuk melihat raut wajah Soo Yun. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Tian Yang, namun saat ini Shingen lebih mengurungkan niatnya. Tak lama dia menarik napas dalam-dalam dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya sebelum berbicara.
“Saat aku berumur seperti anakku ini, di umur yang masih belia. Kehidupan yang bahagia dalam sekejap sirna. Mungkin aku telah merasakan kebahagiaan dan neraka kehidupan saat umurku sembilan tahun. Dalam kurun waktu semalam di Ibu Kota Nara...” Shingen dengan tenang menjelaskan pada semua pendekar yang ada di ruangan Aula Langit Suci tentang penyerangan Rieyu bersama pasukannya yang dibantu oleh Kuroda.
Jumlah orang tak bersalah yang tewas dalam penyerangan itu mencapai ribuan, dalam waktu beberapa jam sebelum matahari terbit, Ibu Kota Nara, Negeri Yamato menjadi lautan darah.
Semua orang yang terkait dengan Keluarga Tsukuyomi dibantai habis-habisan, tak pandangan bulu dari anak kecil sampai yang dewasa.
Tsukuyomi Oda dan Tomoe adalah orang tua kandung Shingen. Sebelum melanjutkan ceritanya, Shingen memejamkan mata kanannya.
“Sebelum kedua orang tuaku meninggal, mereka menyuruhku untuk tetap hidup dan mencari kebahagiaan dengan membuat keluarga. Mereka tidak ingin Keluarga Tsukuyomi berakhir di generasiku.” Shingen kembali menatap pendekar yang terdiam dan terhanyut dalam ceritanya, walau sebagian membuang wajah dan terlihat tidak peduli, namun Shingen tidak menghiraukan mereka karena masih banyak pendekar yang mau mendengarkannya.
Lalu Shingen melanjutkan ceritanya tentang bagaimana dirinya bisa melarikan diri ke Kekaisaran Kuru. Tepat setelah kedua orang tuanya meninggal, Shingen di bawa oleh Kung Wu dan dua pengikut Keluarga Tsukuyomi lainnya yang bernama Harun dan Yorumaru.
Selain Kung Wu, kabar kedua pengikut Keluarga Tsukuyomi tidak jelas bagaimana kabar dan akhir dari mereka. Harun yang berasal dari Negeri Wulan merupakan pesilat yang mengabdi pada Keluarga Tsukuyomi dan Yuromaru adalah samurai yang juga mengabdi pada Keluarga Tsukuyomi.
Harun dan Yorumaru menghadapi kejaran pembunuh Kuroda yang mengincar Shingen berumur sembilan tahun itu. Demi menyelamatkan anak dari tuan mereka, Harun dan Yorumaru sudah siap mengorbankan diri.
Setelah berhasil melarikan diri dari kejaran pembunuh suruhan Kuroda yang terus-menerus mengejarnya, Shingen dan Kung Wu tersesat di dalam sebuah hutan.
Hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi. Bahkan di dalamnya terdapat begitu banyak Hewan Buas dan Binatang Iblis, ketika beristirahat di dalam hutan tersebut, tanpa sengaja Kung Wu menemukan sebuah cermin.
__ADS_1
“Saat itu, baik aku maupun Kung Wu sangat kelelahan. Saat kami keluar dari hutan, sosok Naga penuh kebencian telah mengikuti kami dengan sebuah benang merah yang tertempel di kimonoku.” Shingen kembali melanjutkan ceritanya. Pertempuran antara Kung Wu dan Shingen melawan Rieyu terjadi sesaat, walau Kung Wu memaksa Shingen untuk tetap melarikan diri, namun Shingen terbakar dalam amarah saat Rieyu membahas kematian terakhir orang tuanya.
Pada saat Kung Wu sedang berusaha menenangkannya, Shingen berhasil masuk ke dalam wujud Tsukuyomi secara paksa. Dalam suatu kondisi dan keadaan yang memenuhi, Shingen melancarkan ratusan tebasan yang tidak dapat melukai tubuh Naga Rieyu.
Ketika dirinya mengingat teknik katana yang diajarkan mendiang ayahnya, Shingen dapat melepaskan tebasan katana yang dapat melukai tubuh Naga Rieyu.
Sebelum Rieyu kembali ke wujud manusianya, sabetan ekornya dia arahkan kepada Shingen. Setelah wujudnya kembali menjadi manusia, Rieyu menatap Shingen penuh kebencian.
Serangan ekornya berhasil melukai Shingen, namun tidak membunuhnya. Untuk memastikan kematian keturunan terakhir Keluarga Tsukuyomi, Rieyu memukul Shingen dengan seluruh tubuhnya yang mengeras menjadi kulit Naga.
Benturan pukulan dan tebasan terjadi, namun Shingen kalah telak dalam satu kali pukulan tangan Rieyu dan nyawanya kritis bahkan bisa dibilang saat itu Shingen akan mendekati ajal kematian.
Ketika Rieyu berniat menghabisinya, Kung Wu membawa tubuh Shingen kembali memasuki hutan. Setelah berhasil melarikan diri dari kejaran Rieyu, kali ini Shingen harus menderita seorang diri.
Kung Wu yang seharusnya melindunginya justru menghilang karena cermin yang ditemukan pria tersebut. Sejak saat itu Shingen mengembara keluar dari Negeri Yamato menuju Kekaisaran Kuru saat usianya berumur sembilan tahun.
Ketika dia menginjak umur sepuluh tahun, Shingen berakhir di tempat orang buangan yaitu Wilayah Bei.
Semua orang terdiam mendengar cerita Shingen. Namun mereka bertanya-tanya alasan mata kiri Shingen yang bisa terluka dan menjadi pemimpin dari para orang buangan di Bei, begitu juga dengan kisah cintanya dengan Ming Lian.
“Terimakasih Tuan Shingen atas cerita yang cukup panjang ini. Satu hal yang pasti, Naga yang kulihat juga berwarna hijau.” Tian Yang tersenyum pada Shingen. Kemudian dia mengalihkan pandangannya menatap pendekar dari Pedang Naga Sakti yang terlihat tidak peduli dan antusias dengan cerita Shingen.
“Kejujuran Tuan Shingen dalam menceritakan masa lalunya patut kita hargai. Sekarang aku ingin bertanya pada Saudara Tian. Apa kau tidak keberatan, Saudara Tian?” Seorang pria paruh baya berbicara untuk pertama kalinya pada Pertemuan Putih Suci. Pria paruh baya tersebut bernama Fei Chen dan merupakan Ketua dari Sekte Golok Abadi.
Semua orang terkejut melihat Fei Chen menanggapi cerita dari Shingen dan masukan dari Tian Yang. Dalam ruangan itu sekarang semuanya menatap Fei Chen.
Tian Yang mengelus dagunya dan menatap Fei Chen. “Tentu saja boleh, Saudara Fei. Tujuan diadakannya Pertemuan Putih Suci ialah untuk saling mendengarkan. Jika Saudara Fei ada topik untuk untuk didiskusikan, maka katakan saja di pertemuan ini...”
“Apa tujuanmu mengangkat topik tentang Naga dan kebenaran Negeri Yamato? Tergantung jawabanmu, aku bisa saja angkat tangan dan tidak peduli, namun...” Fei Chen menekan kalimat terakhirnya. Kemudian dia menatap Shingen sesaat sebelum kembali menatap Tian Yang. “Jika jawabanmu memiliki alasan yang tepat untuk masa depan Kekaisaran Kuru ke arah yang lebih baik. Aku dan seluruh anggota Sekte Golok Abadi siap membantu Saudara Tian dan Tuan Shingen ketika kalian membutuhkan bantuan kami...”
__ADS_1