Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 82 : Meninggalkan Kota Jinning


__ADS_3

Tidak terasa waktu terus berlalu, siang berganti malam, dan perlahan rembulan kembali bersinar dengan lembut di Kota Jinning.


Ming Fengying masih tertidur ketika malam hari tiba, pemuda itu benar-benar tertidur lelap selama seharian penuh. Di samping Ming Fengying terlihat gadis muda bermata sayu yang baru selesai mandi sedang menatap wajah pemuda tersebut.


Soo Yun tersenyum penuh makna menatap wajah Ming Fengying yang terlihat begitu kelelahan. Tidak berapa lama suara ketukan pintu kamar terdengar, Soo Yun beranjak dari posisi duduknya dan membuka pintu kamar tempat dimana dirinya bersama Ming Fengying berada.


Mata sayu Soo Yun melebar melihat Shingen yang berdiri di depan pintu kamar.


Shingen menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu dan mencoba melihat Ming Fengying yang berada di dalam kamar.


"Apa Kenshin masih tidur?" Shingen bertanya pada Soo Yun untuk memastikan.


"Eh ..., iya..." Soo Yun gugup. "Kenshin?" Wajah Soo Yun terlihat kebingungan.


Shingen tertawa lirih melihat ekspresi lucu Soo Yun. "Ming Fengying..." Ucap Shingen sembari memejamkan mata kanannya.


"A-Ayah-" Soo Yun menggigit lidahnya sendiri. Wajah gadis bermata sayu itu merah padam. "Dia di sana..." Suaranya sangat lirih.


Shingen tertawa melihat Soo Yun. Kemudian dia mengintip sedikit wajah anaknya yang sedang tertidur pulas.


"Kenshin masih tidur..." Shingen bergumam pelan. Dia mengetahui anaknya sedang kelelahan. "Jaga Ming Fengying baik-baik ya." Shingen meninggalkan kamar.


Soo Yun membungkuk pada Shingen. "Iya..." Wajah Soo Yun memerah. "Ayahanda...," tambahnya dengan suara yang sangat lirih.


Shingen langsung bergegas menuju tengah kota yang sedang terjadi keributan, seorang pedagang kaya dari Kerajaan Fiore yang ingin membeli budak ditahan oleh penduduk kota.


"Tuan Shingen ... ada hal yang mengejutkan!" Fujin datang menghampiri Shingen dengan napas yang terengah-rengah.


"Ada apa Fujin?" Shingen menjawab. Mata kanannya menatap raut wajah Fujin yang terlihat terkejut. Tidak berapa lama Fujin membisikkan sesuatu pada Shingen.


"Pedagang kaya dari Kerajaan Fiore mengaku memiliki bisnis perdagangan manusia dengan Pangeran She." Raut wajah Shingen murka. Kemudian dia langsung pergi ke tempat kejadian untuk membuktikannya secara langsung.


Sesampainya di tengah kota, mata kanan Shingen menatap penduduk kota yang memenuhi jalanan kota. Bahkan di sana ada Zhao Kun bersama Sanada dan Yuan Shi.


Shingen memaksa masuk menembus kerumaman dan sampailah dia di tempat pedagang kaya yang sedang ditangkap penduduk kota.


"Aku mengenal Pangeran She! Kalian tidak boleh memperlakukanku seperti ini!" Pedagang kaya dengan rambut pirang itu menatap sinis penduduk kota.


"Gendut sialan ini masih saja sombong!" Salah satu pria hendak memukul wajah pedagang kaya berambut pirang itu, namun tangannya ditahan oleh Shingen.


"Apa mau-" Pria tersebut langsung membungkuk ketika melihat Shingen.


"Apa benar anda memiliki hubungan bisnis perdagangan manusia dengan Pangeran She? Jika benar, bisa beritahu saya tentang orang yang terlibat dalam bisnis tersebut!" Shingen jongkok menatap wajah pedagang kaya tersebut.


"Benar! Aku telah membayar jutaan keping emas pada Pangeran She dan Zhao Lhuo! Cepat lepaskan aku!" Pedagang tersebut justru memerintah Shingen.


"Untuk apa jutaan keping emas itu?" Shingen menatap wajah pedagang kaya tersebut dengan sinis. Sontak pedagang kaya berambut pirang itu menelan ludah ketakutan.


"Orang seperti kalian tidak akan mengetahuinya. Semenjak Negeri Yamato dipimpin oleh orang asing dari luar Benua Jiu, pengaruh budaya mereka sangat berbeda dengan di sini. Kau tidak akan mengetahuinya!" Pedagang tersebut tersenyum lebar. "Budak?! Apa kau tahu itu kata itu?, hanya orang istimewa dan orang-orang yang memiliki kekuasaan yang berhak memerintah orang lemah dan miskin seperti kalian!" Penduduk kota semakin geram dengan sikap pedagang kaya tersebut.

__ADS_1


"Cepat lepaskan aku! Kalian akan menanggung akibatnya jika berani melukaiku!" Wajah pedagang kaya tersebut mencoba menggertak Shingen.


"Zhao Kun. Kurung dia!" Shingen memberi perintah dan berjalan mendekati Zhao Kun. "Aku akan mengirim pesan ke Panglima Lu Chen..." Shingen berbisik lirih pada Zhao Kun.


"Panglima Lu Chen..." Zhao Kun tentu terkejut.


"Kalian dengar! Cepat kita kurung gendut ini!" Penduduk kota justru lebih tanggap dari Zhao Kun.


"Lepaskan aku! Kalian ini orang miskin beraninya menyentuhku!" Pedagang kaya tersebut memberontak namun penduduk kota memukul wajah dan ulu hatinya.


"Jangan pakai kekerasan!" Shingen menegur mereka.


Penduduk kota menundukkan wajahnya dan membawa pedagang kaya yang berasal dari Kerajaan Fiore menuju ruang bawah tanah kediaman Zhao Kun.


"Aku tidak berniat terlalu jauh mencampuri urusan negeri orang, tetapi tanah ini adalah tempat tinggal istri dan anakku. Aku mempunyai hak untuk melindunginya." Shingen membatin. Kemudian dia berjalan kembali ke kediaman rumah Zhao Kun.


Malam hari yang tenang mewarnai langit Kota Jinning. Di kediaman rumah Zhao Kun terlihat Ming Fengying telah bangun dan mandi. Pemuda itu terlihat lebih tampan setelah beristirahat selama beberapa jam.


Keesokan harinya, Ming Fengying dan Soo Yun sedang duduk bersama di teras depan rumah Zhao Kun. Ketika mereka berdua sedang berbincang, Shingen datang menghampiri Ming Fengying.


"Kenshin, bisakah kau gunakan ilmu yang mengendalikan burung itu? Ada sesuatu yang ingin ayah lakukan." Shingen duduk di samping Ming Fengying yang sedang duduk bersama Soo Yun.


"Oh, ilmu pengendali hati. Bisa ayah." Ming Fengying menatap ayahnya.


"Tunggu sebentar disini," ujar Shingen sambil berjalan memasuki kediaman rumah Zhao Kun. Shingen ingin menulis surat pada Panglima Lu Chen, mengingat Panglima Lu Chen hampir memiliki pemikiran yang sama seperti Shingen. Pemikiran yang menganggap Pangeran She melakukan sesuatu yang di luar dugaan mereka.


Mata Ming Fengying terarah pada Yuan Shi yang sedang bermain dengan anak-anak dari panti asuhan. Selang beberapa menit kemudian, Shingen datang membawa surat dan duduk di samping Ming Fengying kembali.


Yuan Shi bersama anak-anak panti asuhan datang menghampiri Ming Fengying begitu juga dengan Soo Yun.


"Ada apa Feng?" Yuan Shi menatap wajah Ming Fengying yang sedang melihat atap-atap rumah.


Ming Fengying melirik anak-anak panti asuhan dan bertanya pada mereka. "Bisakah aku bertanya pada kalian?" Anak-anak panti asuhan menganggukkan kepalanya.


"Apa kalian tahu dimana tempat yang menjual burung merpati?" Ming Fengying menatap anak-anak panti asuhan. Tidak berapa lama anak-anak panti asuhan saling berbisik.


"Aku punya lima burung merpati!" Salah satu anak laki-laki panti asuhan mengangkat tangannya.


"Oh, bolehkah, aku membelinya satu ekor?" Ming Fengying tersenyum tipis. Anak laki-laki berumur lima tahun itu mengangguk dan menuntun Ming Fengying menuju ke belakang rumah panti asuhan.


Ming Fengying meninggalkan Yuan Shi bersama anak-anak panti asuhan yang sedang kebingungan, sedangkan Soo Yun terus mengikuti Ming Fengying dari belakang.


"Itu dia! Aku akan jual yang warna hitam ini!" Anak laki-laki tersebut menunjuk burung merpati berwarna hitam pada Ming Fengying.


"Hitam? Bolehlah..." Ming Fengying merogoh saku pakaiannya, namun dia lupa membawa uang.


Ming Fengying tersenyum tipis dan menyuruh anak laki-laki tersebut mengambil jagung, tidak berapa lama Ming Fengying menerima beberapa jagung di telapak tangan kanannya hingga penuh.


"Untuk apa burung merpati itu?" Anak laki-laki tersebut membatin dan matanya menatap Ming Fengying keheranan.

__ADS_1


"Tunggu! Burung ini belum tahu rute menuju Ibukota. Cih." Ming Fengying mendecakkan lidahnya.


Burung merpati berwarna hitam hinggap di depan Ming Fengying dan memakan butiran jagung yang ada di telapak tangannya. Dengan gesit, tangan Ming Fengying menangkap burung merpati tersebut.


Anak laki-laki yang menjual burung merpatinya kegirangan melihat kecepan tangan Ming Fengying, sedangkan Soo Yun jongkok di samping Ming Fengying dan tersenyum gembira.


"Ikutlah denganku. Ayahku nanti akan membayarnya." Ming Fengying mengajak anak laki-laki tersebut ke teras kediaman rumah Zhao Kun.


"Fengfeng kamu hebat..." Soo Yun memuji Ming Fengying.


"Hehe..." Ming Fengying memaksakan dirinya untuk tersenyum.


Shingen menatap Ming Fengying yang datang memegang burung merpati berwarna hitam. "Kenshin, suruh burung itu antarkan surat ini ke Bei. Apa kau bisa melakukannya?" Shingen bertanya pada Ming Fengying untuk memastikan.


"Kalau ke Bei, tentu Kenshin bisa, ayah." Ming Fengying duduk di samping Shingen dan menambahkan perkataannya. "Ayah, Kenshin lupa membawa uang. Burung merpati ini milik anak ini dan Kenshin membelinya." Shingen tertawa pelan melihat anaknya meminta uang padanya.


Sebelumnya Shingen tidak pernah melihat Ming Fengying meminta sesuatu yang berlebihan, untuk seorang anak yang memiliki darah keluarga Kaisar Kuru tentu Ming Fengying sangat berbeda dengan anak pangeran yang lainnya. Ming Fengying tidak pernah menghambur-hamburkan uang, bahkan meminta uang pada orang tuanya saja sangat jarang, pagi ini sebagai orang tua dari Ming Fengying, tentu Shingen merasa bahagia melihat perkembangan anaknya.


"Anak muda." Shingen memberi lima keping emas pada anak laki-laki yang menjual burung merpati berwarna hitam.


"Terimakasih..." Anak laki-laki tersebut langsung menerima dan berdiri kegirangan. "Uang ini banyak sekali. Cukup satu keping emas saja, tidak, seharusnya harga burung merpati beberapa keping perak saja." Anak laki-laki tersebut berkata jujur dan bersikap alami.


Shingen tertawa dan menatap anak laki-laki tersebut. "Pakai saja kelebihannya untuk membeli makanan bersama teman-temanmu yang lain."


"Ya, sudah. Terimakasih Tuan Samurai." Anak laki-laki tersebut langsung berlari ke arah teman-temannya.


Ming Fengying sedang menaruh surat yang ditulis ayahnya di kaki burung merpati dan mengikatnya dengan tali. Soo Yun duduk manis di samping Ming Fengying dan memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan pemuda tersebut.


Setelah terikat, Ming Fengying memejamkan matanya dan berkonsentrasi secara penuh. Aura tubuh dan tenaga dalamnya dia alirkan pada burung merpati tersebut.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menitan untuk membuka aura tubuh yang ada di burung merpati berwarna hitam agar terbuka, Ming Fengying menggunakan ilmu pengendali hati kepada burung merpati berwarna hitam tersebut.


"Ayah. Kenshin butuh waktu untuk melakukan ini," ucap Ming Fengying pada Shingen.


Ming Fengying menyatukan ingatan tentang arah menuju Wilayah Bei pada burung merpati tersebut. "Melakukan ini cukup menguras auraku..." Ming Fengying tersenyum tipis.


Tidak berapa lama Ming Fengying melepaskan burung merpati tersebut dan membiarkannya terbang bebas di angkasa. Burung merpati berwarna hitam terbang mengarah ke arah Wilayah Bei.


"Kenshin, sepertinya kamu harus berlatih bersama Lin Kin. Ayah akan mendukungmu apapun jalan yang kamu pilih." Shingen memegang rambut anaknya dan mengelusnya.


Ming Fengying tertawa lirih. Soo Yun tersenyum manis melihat Ming Fengying dan Shingen yang terlihat akrab.


"Tuan Shingen, kami sudah siap." Fujin dan Sanada sudah memakai kimono mereka.


Shingen berdiri dan mengganti pakaiannya di dalam rumah Zhao Kun, kemudian Ming Fengying mengikuti ayahnya dari belakang. Mereka berganti pakaian selama sepuluh menit.


Di depan kediaman rumah Zhao Kun terlihat Shingen, Ming Fengying, Soo Yun, Yuan Shi, Fujin dan Sanada sedang berjalan meninggalkan kediaman rumah tersebut. Mereka berenam melewati jalanan yang sepi menuju luar Kota Jinning.


"Zhao Kun terimakasih telah menerima kami. Tapi kami harus pergi." Shingen menatap kediaman rumah Zhao Kun.

__ADS_1


Saat ini Zhao Kun bersama sesepuh Kota Jinning sedang mengadakan rapat. Mereka mengadakan rapat tentang apa yang harus mereka lakukan untuk membalas kebaikan Shingen bersama pengikut samurainya. Tetapi Shingen tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di Kota Jinning, mengingat Pertemuan Putih Suci di Pegunungan Tiangan semakin dekat dengan hari yang telah ditentukan.


__ADS_2