Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 84 : Pegunungan Tiangan


__ADS_3

Malam yang dingin dan langit yang dipenuhi bintang bersama sinar lembut rembulan membuat suasana bermalam yang dilakukan Ming Fengying dan yang lainnya penuh dengan kehangatan di tengah-tengah kedinginan.


Api unggun menyala di depan mereka, daging ayam hutan yang dibakar menjadi santapan makan malam bagi enam orang yang sedang berjalan menuju Pegunungan Tiangan.


Setelah selesai makan malam, mereka berbincang dan bercerita. Tidak beberapa lama kemudian mereka tertidur. Malam yang tenang berlalu di dataran tinggi itu. Suara serangga mewarnai keheningan malam bersama hembusan angin yang membawa ketenangan malam.


Malam terus berlalu untuk menjemput sang pagi yang telah menunggu. Cahaya menyeruak masuk di tengah-tengah langit malam, perlahan cahaya matahari mulai bersinar dengan terang. Embun yang mendekap dedaunan juga telah lenyap tak bersisa karena sinar matahari yang membawa kehangatan di pagi yang cerah ini.


Pagi ini, Ming Fengying dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati Kota Jinning sehari yang lalu, perjalanan Ming Fengying untuk menemani Shingen menghadiri Pertemuan Putih Suci tidak terjadi halangan kembali.


Mereka berenam terus melanjutkan perjalanan, dan tak terasa Shingen bersama rombongannya telah melakukan perjalanan ganjil selama 7 hari. Sekarang mereka telah sampai di sebuah hamparan padang rumput yang sangat luas dan dataran tinggi yang membuat mereka bisa melihat jelas sebuah pegunungan yang indah.


Ming Fengying melirik mata sayu Soo Yun yang melebar. "Liat lembah yang berada di tengah pegunungan itu adalah Kediaman Sekte Taman Langit." Ming Fengying berkata pelan kepada Soo Yun dan menjelaskan.


Pegunungan Tiangan adalah sebuah pegunungan yang termasuk dalam lima pegunungan tertinggi di Benua Jiu. Kediaman Sekte Taman Langit berada di antara kedua gunung yang terbelah. Konon gunung tersebut terbelah karena pertempuran besar di masa lalu.


Pohon wisteria tumbuh dengan subur di sekitar perjalanan menuju Kediaman Sekte Taman Langit. Ming Fengying tidak menyangka akan melihat tempat ini kembali. Namun muncul perasaan jika dirinya baru pertama kali kemari. Dan itu membuat Ming Fengying kembali menjadi gundah.


"Lagi-lagi aku memikirkan tentang alasan kenapa aku bisa bereinkarnasi..." Ming Fengying membatin dalam hatinya.


"Tempat ini sangat indah. Taman Langit. Cocok dengan namanya." Yuan Shi tersenyum sumringah melihat pemandangan Pegunungan Tiangan di depan matanya. Di samping kiri dan kanannya pohon wisteria tumbuh dengan suburnya ketika mereka melewati jalan setelak tersebut. Sementara itu matanya tertuju pada Kediaman Sekte Taman Langit yang semakin terlihat jelas di matanya.


Shingen menatap Kediaman Sekte Taman Langit. "Seperti rumor yang beredar. Tetapi aku merasa Lin Kin sembilan tahun yang lalu ingin memberitahu sesuatu padaku yang berhubungan dengan leluhur keluargaku." Batin Shingen sembari berjalan di depan Ming Fengying dan yang lainnya.


"Fengfeng tempat ini sangat indah. Aku menyukainya..." Soo Yun berbisik pelan di telinga Ming Fengying.


"Ya, dunia ini adalah tempat yang luas. Aku saja ingin pergi dari Benua Jiu suatu hari nanti." Ming Fengying membalas bisikan Soo Yun dengan ucapannya yang meyakinkan.

__ADS_1


Shingen tertawa mendengarnya. "Kenshin, kau harus tetap menatap ke depan. Kau harus melihat sendiri dunia yang kita tinggali ini." Shingen memejamkan mata kanannya sesaat sebelum tersenyum tipis.


Shingen merasa bangga karena anaknya memiliki sifat seperti dirinya dan Ming Lian yang menurun di dalam diri Ming Fengying. Bahkan kebiasaan terburuk Shingan adalah sering lupa arah ketika dia keasyikan melakukan sesuatu. Sifat itu juga menurun pada diri Ming Fengying.


Mengingat beberapa hari yang lalu saat berangkat menuju Pegunungan Tiangan, Shingen dan Ming Fengying berlomba dalam mengendarai kuda, tetapi mereka justru tersesat karena keasyikan.


Ming Fengying sendiri juga pernah tersesat saat keasyikan berlari dan berakhir di Kediaman Sekte Lembah Batu.


Tidak terasa Ming Fengying dan yang lainnya telah sampai di pedesaan tempat penduduk yang tinggal di dekat Kediaman Sekte Taman Langit. Ming Fengying tersenyum kecut mengingat dirinya yang berakhir tragis di kehidupan sebelumnya, tetapi wajah Ming Fengying berusaha menyembunyikan perasaan tersebut.


Kediaman Sekte Taman Langit berada di sekitar Lembah Pegunungan Tiangan. Istana Langit adalah tempat paling megah di antara yang lainnya. Bebatuan berwarna hijau terlihat jelas di Lembah Pegunungan Tiangan.


Mulut Yuan Shi terbuka lebar. Pemuda tersebut berdecak kagum melihat kemegahan dan keindahan Kediaman Sekte Taman Langit. Berbeda dengan Yuan Shi yang memandangi Lembah Pegunungan Tiangan dengan ekspresi yang berlebihan, Ming Fengying justru tetap terlihat santai dan tenang.


Ming Fengying tidak terlalu suka menunjukkan perasaan kekaguman berlebihan pada sesuatu. Dan itu merupakan sikap yang sama dengan Shingen.


"Kupikir kita yang datang pertama kesini. Ternyata ada banyak pendekar yang datang ke Pegunungan Tiangan terlebih dahulu." Di saat Yuan Shi, Fujin, Sanada dan Soo Yun menunjukkan kekaguman melihat Lembah Pegunungan Tiangan, Ming Fengying justru mengomentari kedatangan beberapa pendekar dari sekte kecil hingga besar yang datang bersamaan dengan mereka ke Pegunungan Tiangan.


Pendekar bisa masuk tanpa kesulitan yang berarti, tetapi Shingen bersama rombongannya terlihat seperti diabaikan begitu saja.


"Kenapa kita diperlakukan seperti ini?" Yuan Shi merasa tidak percaya melihat tatapan pendekar yang menatap dirinya dengan tatapan merendahkan.


"Yuan Shi. Tetaplah bersikap rendah diri tanpa merasa direndahkan dan tetap merunduk layakanya padi." Shingen mengelus rambut Yuan Shi.


"Iya, Tuan Shingen. Murid akan mengingat perkataan Tuan Shingen." Yuan Shi terlihat sangat hormat kepada Shingen.


"Yukimura. Seharusnya kau panggil Tuan Shingen guru jika kau menyebut dirimu sebagai murid." Sanada membatin dalam hatinya menanggapi ucapan Yuan Shi.

__ADS_1


"Perbedaan budaya, suku ataupun ras adalah sesuatu yang baik, hanya tinggal bagaimana cara kita menanggapinya saja." Shingen tersenyum menatap Yuan Shi yang mendengarkan perkataannya. Kemudian dia menatap Ming Fengying yang terlihat lebih dewasa dan memahami daripada Yuan Shi.


"Jika kita melihat sebuah perbedaan dari sudut pandangan yang baik maka akan tercipta keharmonisan. Tetapi lain halnya jika melihat sebuah perbedaan dari sudut pandang yang buruk. Maka yang ada hanya kata-kata arogan dan cacian." Shingen menghela napas panjang. "Semua itu kembali pada diri kita masing-masing. Manusia memiliki sifat yang macam-macam. Ada yang baik, ada yang jahat. Layaknya siang dan malam, sifat manusia juga seperti itu." Shingen menambahkan.


Ming Fengying tersenyum mendengar perkataan ayahnya. "Aku kagum pada ayah." Batin Ming Fengying bangga melihat ayahnya yang tidak terlalu ambil pusing dengan tatapan sinis pendekar.


Di saat Shingen, Ming Fengying, Soo Yun, Fujin, Sanada dan Yuan Shi lama menunggu, bahkan mereka berdiri dari siang hari sampai sore hari, suara langkah kaki yang terdengar begitu cepat dan sapaan dari pria paruh baya membuat enam orang yang sedang berdiri diabaikan itu menjadi terkejut.


"Lama tidak berjumpa, Tuan Shingen!" Zhang Bingjie datang bersama dua pendekar dari Sekte Sungai Merah.


Ming Fengying menatap raut wajah Zhang Bingjie yang terlihat emosi dengan sikap penjaga gerbang pintu masuk Lembah Pegunungan Tiangan.


"Lama tidak berjumpa, Saudara Zhang." Shingen dan Zhang Bingjie saling bersalaman.


"Mari masuk, Tuan Shingen. Seharusnya anda tidak boleh dibuat menunggu sampai seperti ini." Seperti biasa Zhang Bingjie nampak emosional. "Ketua Lin itu! Bagaimana bisa dia membiarkan Tuan Shingen menunggu sampai seperti ini." Zhang Bingjie mendekati penjaga gerbang pintu masuk Lembah Pegunungan Tiangan yang dijaga puluhan pendekar dari Sekte Taman Langit itu.


"Kalian berani membuat Tuan Shingen menunggu. Apa yang Ketua Lin suruh pada kalian?" Zhang Bingjie memarahi penjaga gerbang pintu masuk Lembah Pegunungan Tiangan habis-habisan.


Shingen menggaruk kepalanya melihat tindakan Zhang Bingjie. Kemudian dia menepuk pundak Zhang Bingjie. "Sudahlah Saudara Zhang. Tadi kami kebetulan baru sampai dan sedang berdiri. Tidak lama Saudara Zhang datang. Jadi tidak usah dipermasalahkan lebih lanjut lagi."


Zhang Bingjie terdiam. "Kalau Tuan Shingen berkata seperti itu, maka mereka ini telah melakukan tugas dengan benar!" Zhang Bingjie menatap Shingen sesaat kemudian mengalihkan pandangannya menatap Ming Fengying.


"Anak ini. Aku pernah merasakan aura ini..." Zhang Bingjie membatin penuh pertanyaan melihat Ming Fengying yang sedang menggenggam tangan Soo Yun.


Tidak berapa lama Zhang Bingjie mengajak Shingen bersama rombongannya untuk masuk ke dalam Lembah Pegunungan Tiangan.


"Mari masuk Tuan Shingen." Zhang Bingjie diikuti dua pendekar dari Sekte Sungai Merah memasuki gerbang pintu masuk Lembah Pegunungan Tiangan. Setelah itu disusul Shingen, Ming Fengying, Soo Yun, Fujin, Sanada dan Yuan Shi.

__ADS_1


Pendekar yang menjaga gerbang pintu masuk terdiam dan tidak percaya melihat Zhang Bingjie yang dikenal sangat emosional, bahkan Zhang Bingjie dikenal tidak sembarangan mengakui orang. Namun sore ini mereka melihat Zhang Bingjie begitu menghormati sosok Shingen.


Para pendekar yang menjaga gerbang pintu masuk Lembah Pegunungan Tiangan merasa salah mengambil tindakan dengan mengabaikan kedatangan rombongan samurai. Bahkan mereka merasa beruntung di saat yang bersamaan karena tidak berurusan lebih jauh dengan Shingen dan pengikutnya, mengingat sikap Zhang Bingjie yang sangat menghormati Shingen tentu saja mereka menganggap Shingen menjadi orang yang patut diperhitungkan di dalam Pertemuan Putih Suci.


__ADS_2