Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 80 : Rumah Bordil Berdarah! 3 vs 3!


__ADS_3

Ming Fengying melirik Soo Yun yang menangis sendirian, sebenarnya Ming Fengying tidak berniat meninggalkan Soo Yun sendirian tetapi dia memiliki tugas yang lebih penting.


Tidak butuh waktu lama bagi Ming Fengying untuk sampai di rumah bordil, pertarungan sengit terjadi di dalam rumah bordil yang berantakan dan penuh dengan darah.


Ming Fengying menebaskan katananya mengincar kepala Shun Dao. Benturan tebasan terjadi, Ming Fengying menatap tajam Shun Dao yang berhasil menangkis tebasan katananya. Dalam benturan itu, Ming Fengying memutarkan tubuhnya dengan cepat dan kembali mengayunkan pedangnya menebas badan Shun Dao.


"Bocah ini!" Shun Dao terkejut melihat pergerakan Ming Fengying yang gesit, dengan susah payah dia menangkis tebasan katana Ming Fengying menggunakan pedangnya.


"Pernapasan Sirih."


Ming Fengying menarik napas dalam-dalam dan mengalirkan tenaganya di tangannya yang memegang katana. Kemudian Ming Fengying melepaskan aura tubuhnya yang berwarna emas, setelah itu dia menebaskan katananya lebih dalam mengarah ke badan Shun Dao.


Luka tebasan katana terpampang jelas di dada Shun Dao. Ming Fengying menendang Shun Dao hingga terpental menabrak Chen Lai.


"Paman Fujin! Paman Sanada! Bagaimana situasinya?" Ming Fengying merapat mendekat pada Fujin dan Sanada.


"Kami berhasil menghabisi tiga dari Enam Pendekar Akar beserta seluruh pendekar aliran hitam yang berasal dari Lembah Bunga Kematian. Yang tersisa hanyalah mereka bertiga!" Fujin menjawab sembari menatap tajam Chen Lai.


"Sementara itu Yuan Shi sedang membebaskan gadis yang besok akan dijual sebagai budak. Rencana kita berhasil setelah mengatasi tiga orang ini. Tuan Muda Ming Fengying sendiri bagaimana? Apakah Tuan Muda Ming Fengying berhasil membunuh Zhang Fei?" Sanada menjawab sambil menatap tajam Xu Chi. Pandangan matanya melirik Ming Fengying sesaat sebelum kembali menatap tajam Xu Chi.


Ming Fengying tersenyum tipis karena rencana penyerangan mereka berhasil, kemudian dia melirik Fujin dan Sanada.


"Aku sudah mengatasi Zhang Fei. Kalian berdua incar sisanya, aku akan mengurus yang ini!" Ming Fengying langsung mengincar Shun Dao. Melihat tindakan Ming Fengying yang memahami situasi dengan cepat membuat Fujin dan Sanada tersenyum tipis.


"Tuan Muda Ming Fengying sudah sangat pantas menjadi Tuan kami. Dia sudah kami akui keberanian dan kekuatannya!" Fujin dan Sanada membatin dalam hatinya dan bergerak mengikuti arahan Ming Fengying.


Pertarungan sengit terjadi, Fujin menebaskan katananya mengincar Chen Lai sedangkan Sanada bertarung melawan Xu Chi.


Pertarungan di rumah bordil terpecah menjadi tiga bagian pertarungan. Pertarungan pertama terlihat begitu sengit antara Ming Fengying melawan Shun Dao.

__ADS_1


Keduanya saling bertukar serangan, Shun Dao menggunakan pedang milik Zhang Fei yang tergeletak di atas meja. Suara pedang yang bergesekan terdengar nyaring di telinga, Ming Fengying memutarkan tubuhnya melakukan serangan dari samping.


Serangan mendadak Ming Fengying dapat diantisipasi dengan baik oleh Shun Dao. Kini giliran Shun Dao yang menyerang Ming Fengying dengan tebasan pedangnya yang sangat dalam.


Ming Fengying merapatkan giginya ketika melihat bilah pedang yang tajam berada tepat di depan matanya, langkah kakinya bergerak mundur untuk menjaga jarak dari Shun Dao.


"Kepalaku pusing! Aku terlalu banyak meminum ... arak..." Shun Dao menggelengkan kepalanya mencoba memulihkan kesadarannya. Dia tidak menyangka akan ada penyerangan mendadak yang menyerang rumah bordil tempat dirinya menikmati kesenangan duniawi.


Ming Fengying menghela napas panjang melihat Shun Dao yang mencoba untuk tetap berdiri tegak, pemuda itu mengolah pernapasan sambil mengibaskan katananya.


"Pasti kalian tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, bukan?" Ming Fengying mengaliri bilah katananya dengan tenaga dalam. Bilah katana Ming Fengying sekarang berwarna emas.


Ming Fengying menebaskan katananya mengincar dada Shun Dao. Tebasan katananya kali ini tidak mampu ditahan dengan baik oleh Shun Dao. Kaki Ming Fengying tidak diam, kakinya menendang ulu hati Shun Dao cukup telak.


Tubuh Shun Dao terbang melayang di udara, sementara itu Ming Fengying memejamkan matanya dan kembali melepaskan aura tubuhnya yang berwarna emas.


Ming Fengying memusatkan aura tubuhnya yang berwarna emas pada bilah katananya, setelah itu Ming Fengying mengayunkan pedangnya menyerang Shun Dao.


"Cih, pemabuk sialan ini." Ming Fengying mendecakkan lidahnya berdecak kesal melihat Shun Dao yang tetap dapat menghindari serangannya walau dalam keadaan mabuk.


"Aliran Harimau." Ming Fengying membatin dalam hatinya, kemudian dia bergerak dengan cepat mendekati Shun Dao. Pola langkah gerakan aliran harimau sulit untuk diikuti Shun Dao yang dalam keadaan mabuk.


"Hujan Akar Menusuk Sukma."


Shun Dao menebaskan pedangnya ke sembarang arah, ayunan pedangnya sangat brutal membuat rumah bordil hancur setengahnya.


Ming Fengying dapat menghindari serangan Shun Dao dengan mudah, dalam hatinya, Ming Fengying sangat bersyukur jika Shun Dao sedang dalam keadaan mabuk, jika tidak mungkin dirinya sudah mati sejak awal pertarungan.


Pria itu setengah sadar, napas Ming Fengying sangat teratur. Dengan satu langkah yang pasti dan pola langkah gerakannya yang cepat, Ming Fengying menebasakan katananya yang bercahaya berwarna emas itu ke arah Shun Dao.

__ADS_1


"Tebasan Auman Harimau!"


Suara Auman harimau menggelegar sesaat, tidak berapa lama tebasan berwarna emas tersebut melesat cepat ke arah Shun Dao.


Dalam sekali tebasannya yang dalam, Ming Fengying membunuh Shun Dao dengan tebasannya yang sangat rapi.


"Sepertinya bagian Paman Sanada dan Paman Fujin akan segera selesai." Ming Fengying membatin pelan melihat Sanada dan Fujin yang bertarung dengan sengit melawan Chen Lai dan Xu Chi.


Setelah bertukar puluhan jurus, Sanada menebaskan pedangnya dengan cepat dan membunuh Xu Chi dalam sekali tebasan katananya.


Tidak berapa lama Fujin juga menghabisi Chen Lai dalam satu kali tebasan katananya.


Rumah bordil penuh dengan darah, di luar rumah bordil terlihat sudah sangat ramai. Ming Fengying mencoba keluar dan menatap gadis bermaata sayu yang sedang bersembunyi di balik pohon.


"Yunyun?" Ming Fengying keluar rumah bordil dan mendekati Soo Yun yang terlihat tidak berani menatap dirinya.


"Sepertinya penduduk Kota Jinning sudah terbangun..." Ming Fengying membatin lirih dalam hatinya ketika melihat penduduk yang tinggal di sekitar Permukiman Wuhang sudah memadati halaman depan rumah bordil.


Penduduk yang datang dari Kota Jinning juga terbagi menjadi dua, yang pertama mereka berbondong-bondong datang dengan membawa senjata tajam di depan kediaman Walikota Kota Jinning dan yang kedua penduduk mendatangi rumah bordil tempat Ming Fengying berada.


Ming Fengying mendekati Soo Yun dan berdiri di samping gadis bermata sayu tersebut.


"Maaf jika aku terlihat tidak berperasaan di hadapanmu." Ming Fengying berkata dengan lirih kepada Soo Yun.


"Hmm..." Soo Yun menggelengkan kepalanya dan memeluk tubuh Ming Fengying dengan erat.


"Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku tadi ketakutan dan menepis tanganmu. Maafkan aku, Fengfeng..." Soo Yun menangis dipelukan Ming Fengying. Wajahnya dia benamkan pada dada pemuda tersebut.


Ming Fengying membalas pelukan Soo Yun dan berkata pelan di telinga gadis bermata sayu tersebut. "Sudah jangan menangis, setelah kita pulang dari Pegunungan Tiangan, kamu bisa ceritakan masa lalumu kepadaku. Aku akan mencoba menjadi pendengar yang baik untukmu." Soo Yun menganggukkan kepalanya lirih dan dibalas senyuman lembur dari Ming Fengying.

__ADS_1


"Terimakasih Fengfeng..." Soo Yun membatin dengan tulus dalam hatinya.


__ADS_2