Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 67 : Lebih Dingin Dari Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Ming Fengying mengolah pernapasan dan maju secara perlahan, tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk bertukar serangan dengan Hei He. Menurut perkataan Hei Xie yang ketakutan, Ming Fengying mendengarnya jika Hei He akan bertambah kuat ketika dirinya merasa ketakutan.


Serangan brutal dari berbagai arah yang dilancarkan Hei He dapat di atasi Ming Fengying dengan mudah. Hei Xie yang sedari tadi diam berniat kini melakukan pergerakan hendak membunuh saksi mata, tetapi Ming Fengying menebaskan pedangnya dari jauh menciptakan sebuah tebasan sabit angin yang melukai tangan Hei Xie.


"Argh!" Hei Xie menjerit ketika tangannya terluka, untung saja tebasan Ming Fengying meleset sedikit, jika tidak kemungkinan tangan Hei Xie telah putus.


Hei He semakin bertambah kuat, tiba-tiba badannya membesar. Tebasan katana Ming Fengying dapat ditahan dengan mudah oleh tangannya. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Hei He membuang pedangnya dan memukul perut Ming Fengying.


Darah segar keluar dari mulut Ming Fengying. Pukulan Hei He cukup telak, tulang Ming Fengying sampai bunyi hanya saja tidak patah atau pun remuk. Untuk mendapatkan kesadarannya kembali, Ming Fengying mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Sialan paman marah atau takut ini!" Ming Fengying berdecak kesal karena serangan yang dilancarkannya tidak dapat melukai Hei He.


Melihat Ming Fengying yang dipojokkan kakaknya, tentu saja Hei Xie tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membunuh sang saksi mata. Tetapi tindakannya justru membuat Ming Fengying semakin marah.


"Jangan sentuh seorang wanita, pengecut!" Ming Fengying dengan cepat melangkahkan kakinya, ketika berada dekat dengan Hei Xie yang hendak menebaskan pedangnya pada gadis muda yang dilindunginya, Ming Fengying memutarkan tubuhnya sambil menebaskan katananya.


"Putaran Satu Dalam Kemarahan."


Hei Xie melebar matanya melihat sebuah putaran angin yang hanya menyeret tubuhnya, dia menggertakkan giginya ketika tubuhnya terseret pusaran angin.


"Tebasan Hitam."


Sebuah tebasan yang membentuk sabit dikelilingi aura hitam pekat melesat cepat ke arah Ming Fengying. Tetapi tebasan tersebut dapat di atasi Ming Fengying dengan mudah, sambil memejamkan matanya Ming Fengying kembali menangkis serangan yang datang dari Hei He.


Serangan bertubi-tubi dari berbagai arah membuat Ming Fengying kewalahan, hanya saja tekadnya untuk mengembalikkan nama baik ayahnya membuat Ming Fengying terus memaksakan tubuhnya.


Ming Fengying menatap Hei He dan berniat membuat pria tersebut terluka parah sebelum dia bawa secara paksa ke dalam kota. Kemudian matanya menatap Hei Xie yang terkapar di tanah setelah terkena teknik katananya.


"Baiklah, aku harus bertindak cepat." Ming Fengying langsung melangkahkan kakinya memaksa Hei He untuk mendekat padanya.


Ming Fengying mengayunkan katananya dari kiri ke kanan, setelah itu bergantian mengayunkan katananya dari atas ke bawah. Selang beberapa detik kemudian, Ming Fengying menyalurkan tenaga dalam dan aura tubuhnya yang berwarna emas pada bilah katananya.


"Amukan Harimau."


Teknik milik Shingen yang diajarkan padanya, Ming Fengying gunakan pada Hei He. Tubuhnya terasa nyeri ketika teknik tersebut berhasil dia kuasai dan digunakan untuk menyerang manusia pertama kalinya, sebuah harimau berwarna jingga keluar dari tebasan pedangnya dan mencengkeram tubuh Hei He.

__ADS_1


Tidak berniat memberi kesempatan pada Hei He untuk memulihkan tubuhnya, Ming Fengying menusuk tangan Hei He yang memegang pedang tanpa keraguan sedikitpun.


"Aku akan membunuhmu setelah penduduk kota itu mengetahui hal yang sebenarnya." Ming Fengying menatap tajam Hei He yang meringis kesakitan di bawah.


Demi menyelamatkan Hei He tentunya Hei Xie menyerang Ming Fengying. Tetapi serangan yang didasari dengan amarah yang tergesa-gesa dapat ditangkis dengan mudah oleh Ming Fengying. Andai Hei Xie menyandera gadis muda yang menjadi saksi mata mungkin keadaan akan jauh lebih menguntungkannya, tetapi dia lebih menyerang Ming Fengying yang sedang menusukkan katananya berkali-kali pada tangan Hei He yang memegang pedang.


Hei Xie kembali menyerang Ming Fengying tetapi semua serangannya dapat dengan mudah ditangkis oleh Ming Fengying. Aura emas dan putih yang keluar dari tubuh Ming Fengying membuat Hei Xie mundur beberapa langkah ke belakang.


Hei He yang meringis kesakitan tiba-tiba menggigit kaki Ming Fengying. Tentu hal yang dilakukan Hei He membuat Ming Fengying dengan kasarnya menendang kepala Hei He.


"Sial! Manusia pemakan manusia." Ming Fengying membatin ketika kakinya berdarah karena terdapat bekas luka gigitan Hei He.


Ming Fengying menebaskan pedangnya pada dada Hei He. Tindakannya membuat gadis muda yang melihatnya menjadi ketakutan.


"Dengar, aku tidak akan segan-segan membunuh orang yang telah merusak nama baik ayahku, apalagi jika kalian berani menyentuh seorang wanita. Bagaimanapun ibuku juga seorang wanita." Ming Fengying menodongkan katananya pada leher Hei He yang sedang meringis kesakitan.


Hei He dan Hei Xie menyadari kesalahan terbesar dalam hidup mereka ketika bekerja sebagai pembunuh bayaran, akibat mencari masalah dengan Shingen justru membuat mereka akan mati di tangan anak Shingen yang bernama Ming Fengying.


"Monster-" Ming Fengying menebas dada Hei Xie yang belum menyelesaikan perkataannya.


"Argh! Sial! Sakit!" Hei Xie meringis kesakitan terkapar di tanah.


"Gadis muda kau adalah saksi mata yang penting, katakan yang sebenarnya pada penduduk di kota. Orang seperti mereka berdua jika dibiarkan hidup akan membuat masalah kedepannya." Ming Fengying menatap gadis muda yang gemetar ketakutan.


Gadis muda itu hanya mengangguk pelan sambil berjalan di depan Ming Fengying. Sesekali dia melirik ke belakang melihat Ming Fengying yang berjalan sambil menarik kaki Hei He dan Hei Xie.


Melihat gadis muda yang ketakutan, Ming Fengying tersenyum tipis kepadanya.


"Untung saja aku adalah orang yang menolongmu, jika aku menjadi mereka berdua. Mungkin kamu..." Ming Fengying tidak menyelesaikan perkataannya ketika melihat gadis muda tersebut berhenti berjalan.


"Kenapa kamu bisa lebih dingin dari pembunuh bayaran?" Gadis muda itu bertanya pada Ming Fengying.


"Aku tidak suka dengan orang yang suka memfitnah dan merusak hal yang dilindungi seorang perempuan. Kedua manusia itu akan membangkitkan emosiku yang lama untuk membunuh mereka." Ming Fengying kembali berjalan dan menatap gadis muda yang menyipitkan matanya.


"Apa ada masa lalu yang membuatmu jadi seperti ini?" Gadis muda tersebut kembali bertanya pada Ming Fengying.

__ADS_1


"Ada. Masa lalu yang ingin kulupakan, di mana yang tersisa hanya penderitaan dan kehampaan saja." Ming Fengying kembali menatap gadis muda tersebut sebelum berkata, "Apa kamu takut padaku hanya aku terlihat mengerikan di matamu?"


Gadis muda itu mengangguk sebelum menjawab, "Tidak. Aku tidak takut, hanya saja aku tidak terbiasa melihat darah," jawabnya dengan memasang senyuman lembut pada Ming Fengying.


"Carilah laki-laki yang bisa melindungimu. Kau itu sangat baik, orang sepertimu sangat menyukai perdamaian, bukan?" Kata-kata Ming Fengying membuat gadis muda tersebut merah padam wajahnya.


"Aku sudah ada laki-laki yang dapat kuandalkan..." Gadis muda itu menunduk.


"Siapa?" Ming Fengying masih terus berjalan.


"Kamu..." Perkataan gadis muda tersebut membuat Ming Fengying menatap wajah gadis muda yang malu-malu itu.


"Kau sangat polos. Kita baru pertama kali bertemu, kau sudah jatuh cinta padaku," jawab Ming Fengying sambil tertawa pelan.


"Aku serius." Gadis muda itu mendekati Ming Fengying.


Ming Fengying menelan ludah, dia mengingat di kehidupan lamanya tidak akan pernah merasakan hal seperti ini. Walaupun pernah, dia tidak pernah melakukan hal yang berlebihan dengan seorang perempuan.


"Aku tidak bisa menjawab perasaanmu sekarang. Hatiku sudah milik orang lain." Ming Fengying menolak perasaan gadis muda itu dengan jelas.


"Tidak apa-apa, aku jadi orang kedua atau orang ketiga di hidupmu. Aku tidak peduli, asalkan aku bisa bersamamu." Ming Fengying langsung pusing kepalanya mendengar perkataan gadis muda yang menawarkan diri menjadi kekasihnya.


"Tunggu, lagipula aku adalah cucu kaisar. Sudah pastinya kelak aku akan mempunyai istri dan selir..." Ming Fengying membatin sebelum senyam-senyum sendiri.


"Tapi aku jatuh cinta pada Harumin. Bahkan sekarang aku ingin bertemu dengannya, apakah dia sudah lahir?" Lagi-lagi Ming Fengying membatin.


"Hei!" Gadis muda itu mengagetkan Ming Fengying hingga membuat Ming Fengying mengatakan hal yang membuat gadis muda itu kegirangan.


"B-Baiklah!" Ming Fengying secara tidak sadar mengatakan hal yang terlihat dirinya menerima perasaan gadis muda itu, walau sebenarnya dia hanya kaget.


"Akhirnya..." Gadis muda itu melompat kegirangan sambil berjalan kembali.


"Tunggu ... aku tadi hanya kaget." Ming Fengying mencoba menjelaskan tetapi perkataannya sama sekali tidak digubris oleh gadis muda tersebut.


"Tenang, aku tidak akan cemburu. Terserah kamu akan menjadikanku seorang selir pertama atau pun kedua dalam hidupmu, asal kamu bahagia. Aku juga akan bahagia." Gadis muda itu tidak mendengarkan perkataan Ming Fengying dan asyik dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa jadi seperti ini?" Ming Fengying berteriak dalam hatinya.


"Tunggu, jika dilihat dari bentuk wajahnya dia seperti gadis Yamato ... bukan, kemungkinan Jisa..." Ming Fengying bergumam pelan menatap senyuman gadis muda yang terlihat senang itu.


__ADS_2