Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 81 : Matahari Terbit Di Kota Jinning


__ADS_3

Suasana di Kota Jinning mencekam, Zhao Kun membuka identitas dirinya yang sebenarnya pada seluruh penduduk kota yang berdatangan ke rumah Walikota Kota Jinning.


"Walikota Zhao Lhuo menawari anak perempuan kami pekerjaan! Aku tidak menyangka orang busuk itu membuat anakku satu-satunya menjadi seperti ini!" Pria berambut putih yang merupakan orang tua dari gadis yang di paksa bekerja di rumah bordil terlihat sangat marah. Kemarahannya semakin memuncak ketika mengetahui anak perempuan satu-satunya itu di paksa melakukan hal yang tidak senonoh.


Shingen berdiri di samping Zhao Kun dan menatap wajah gadis-gadis yang terlihat sangat menderita.


"Mayat Walikota busuk itu biar kami bakar dan buang ke Danau Qing!" Seorang pria berbadan kekar dan merupakan orang tua dari anak gadisnya yang bunuh diri memaksa masuk ke kediaman rumah Zhao Lhuo.


Shingen dan Zhao Kun saling menatap. "Kejadian ini akan menggemparkan seluruh Kekaisaran Kuru. Apa yang ingin kau katakan pada pendudukmu?" Tanya Shingen sembari menghindari tabrakan penduduk yang memaksa masuk ke kediaman Walikota Kota Jinning.


"Tuan Shingen ... bukan bermaksud menuduh, tetapi aku rasa semua ini ada hubungannya dengan Keluarga Tuan Putri Kelima. Terutama Pangeran She ... aku menaruh curiga yang teramat besar padanya." Zhao Kun berkata lirih pada Shingen.


"Kurasa kejadian ini memiliki bukti yang kuat. Tetapi Pangeran She didukung banyak pihak bangsawan." Shingen membalas lirih. Tidak berapa lama dia tersenyum kecut. "Sebenarnya aku juga merasa tidak ada tempat jika berkunjung ke Ibukota. Tatapan dari keluarga istriku terlalu memandangku dengan tatapan merendahkan..." Shingen tertawa setelah berkata demikian.


"Kau urus penduduk kota. Kau adalah mantan Walikota, biarkan semua orang mengetahui kebenarannya!" Shingen menatap tajam Zhao Kun. Kemudian pandangannya beralih menatap langit-langit malam yang mulai berubah memutih karena matahari telah terbangun dari tidur malamnya.


Zhao Kun mengangguk. Kemudian Zhao Kun menarik napas dalam-dalam dan bersuara lantang. "Semuanya! Dengarkan aku!" Penduduk yang sedang terlarut dalam amarah berhenti melangkah, sedangkan penduduk yang membawa mayat Zhao Lhuo dan pendekar dari Lima Pendekar Bunga Ular juga berhenti bergerak. Mereka semua menatap Zhao Kun.


"Bukankah dia pemilik Sakura Jernih Berguguran?" Salah satu pria berumur tiga puluhan tahun menatap Zhao Kun keheranan.


"Bos Zhao Meng. Dia yang membuka lapangan pekerjaan di Danau Qing." Salah satu wanita paruh baya menanggapi perkataan pria berumur tiga puluhan tahun.


"Jangan bilang dia juga terlihat dalam kebusukan Walikota Zhao Lhuo?!" Salah satu penduduk langsung memberikan pendapat dengan kepala yang panas.


"Bukan!" Seorang gadis berteriak. Semua orang mengalihkan pandangannya menatap gadis tersebut.


"Dia adalah Walikota Zhao Kun! Beliau adalah Walikota Kota Jinning yang sesungguhnya!" Gadis tersebut menambahkan.


Semua penduduk terkejut, wajah mereka berubah, karena dua tahun lalu mereka semua mendengar kabar pembunuhan massal yang membunuh Keluarga Zhao Kun. Bahkan dalang pembunuhan tersebut tersangkanya dipalsukan oleh Zhao Lhuo.


"Walikota ... Zhao ... Kun..." Salah satu pria paruh baya menelan ludah tak percaya.


"Kenapa rambut anda memutih?" Penduduk yang lain berani bertanya pada Zhao Kun tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Shingen melirik Zhao Kun yang terlihat hendak berkata dengan tegas langsung terlihat sendu di wajahnya. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Penduduk melihat raut wajah Zhao Kun bisa mengetahui jika sang mantan Walikota Kota Jinning itu menglami despresi yang sulit untuk dijelaskan.


Penduduk yang sudah sepuh berbisik pada yang lebih muda agar tidak menanyakan hal yang menyangkut masa lalu Zhao Kun.


"Jangan tanyakan hal mengenai masa lalu pada Walikota Zhao Kun. Hanya dengan melihat wajah beliau, harusnya kalian sudah tahu!" Penduduk diam ketika salah satu pria sepuh menegur mereka semua.


Zhao Kun menarik napas dalam-dalam dan menahannya selama beberapa detik sebelum dia menghembuskannya dengan perlahan. Zhao Kun menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjelaskan pada penduduk kota apa yang sebenarnya terjadi dua tahun lalu.


"Semuanya tolong dengarkan ceritaku!" Semua penduduk menoleh melihat Zhao Kun. Tidak berapa lama penduduk yang datang dari rumah bordil baru sampai di kediaman Walikota Kota Jinning.


Terlihat di sana ada Ming Fengying yang sedang memegang tangan Soo Yun. Penduduk yang datang dari arah rumah bordil menghampiri penduduk yang ada di kediaman Walikota Kota Jinning.


Suasana sangat tenang ketika semua orang menatap Zhao Kun.


"Ayah ... apa yang terjadi?" Ming Fengying berbisik pelan pada ayahnya. Kemudian dia melepas pegangan tangannya, namun Soo Yun tetap menggenggamnya dengan erat. "Oh, jadi seperti itu," gumam Ming Fengying setelah melihat raut wajah ayahnya yang menyuruhnya untuk mengamati Zhao Kun.


Semua penduduk merasa bersimpati pada Zhao Kun yang meneteskan air mata meminta maaf pada mereka semua, dari cerita yang mereka dengar, penduduk kota mengetahui hubungan Zhao Lhuo dengan Pangeran She.


Penduduk kota juga mulai mendengarkan cerita dari anak gadis mereka yang memberitahu hubungan Zhao Lhuo dengan Pangeran She.


"Seorang pangeran melakukan hal seperti ini! Tidak bisa dimaafkan!" Salah seorang ayah yang anak gadisnya di bawa ke Ibukota Kekaisaran Kuru geram. Dia berkata sumpah serapah pada Pangeran She.


Zhao Kun menjelaskan pada penduduk kota tentang Shingen beserta anggota samurainya yang membantunya untuk menggulingkan kekuasaan Zhao Lhuo secara diam-diam. Penduduk kota tidak menyangka Shingen dan anggota samurainya dapat mengalahkan seluruh pendekar yang menjaga Zhao Lhuo dalam semalam.


Bahkan rencana yang mereka pikirkan sangat matang. Mengingat di Permukaan Wuhang banyak pendekar yang sering datang ke rumah bordil, tepatnya para pendekar dari aliran hitam.


Penduduk tidak mengetahui bangunan pribadi milik Walikota Zhao Lhuo yang megah itu adalah rumah bordil. Mereka hanya mengetahui tempat tersebut adalah penginapan khusus pendekar.


Masih banyak orang tua yang tidak terima dengan Zhao Lhuo. Mengingat anak gadis mereka ditawari pekerjaan, dan selama beberapa bulan bahkan satu tahun lebih tidak pulang ke rumah, ternyata Zhao Lhuo menjadikan gadis-gadis yang ada di Kota Jinning sebagai seorang budak nafsu binatang manusia.


Butuh waktu sampai siang hari untuk menenangkan penduduk, setelah matahari semakin terik, Zhao Kun mengajak Shingen dan yang lainnnya untuk beristirahat di kediamannya.

__ADS_1


Ming Fengying menggenggam tangan Soo Yun sangat erat, dia geram karena Pangeran She melakukan tindakan tercela mengkhianati perasaan Yi Min. Bahkan Ming Fengying mengetahui jika Ming Mei telah lahir.


Soo Yun bisa merasakan pegangan tangan Ming Fengying yang sangat erat, tangan pemuda itu gemetar hebat karena sebuah kemarahan.


Sesampainya di kediaman Zhao Kun, dengan cepat Shingen membaringkan tubuhnya di bangku panjang yang ada di dalam rumah.


"Aku ingin tidur sejenak." Hanya kata-kata tersebut yang keluar dari Shingen sebelum mata kanannya memejam.


Fujin dan Sanada ikut membaringkan tubuh mereka bersandar pada dinding. Sedangkan Yuan Shi sedang bercerita pada anak-anak panti asuhan tentang yang mereka lakukan semalam. Namun raut wajah Yuan Shi pucat mengingat tangannya telah membunuh manusia, pemuda itu dengan terhuyung-huyung masuk ke dalam kediaman rumah Zhao Kun dan tertidur di lantai.


Ming Fengying bisa melihat Yuan Shi masih syok dengan tindakannya sendiri.


"Soo Yun." Ming Fengying membawa Soo Yun masuk ke dalam kamar dan menyuruh gadis bermata sayu itu untuk berbaring di atas kasur.


"Fengfeng..." Soo Yun terkejut. "Jangan macam-macam!" Raut wajah Soo Yun merah padam.


Ming Fengying tersenyum tipis dan mengambil sebuah bantal yang ada di samping Soo Yun. Kemudian pemuda itu berbaring di atas lantai.


Soo Yun merasa kasihan dengan Ming Fengying. Gadis bermata sayu itu mengubah posisinya menjadi duduk.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Soo Yun menatap mata Ming Fengying yang sedang menatap atap-atap rumah.


Ming Fengying memiringkan tubuhnya dan matanya menatap Soo Yun yang sedang duduk di atas kasur.


"Harumin pernah berkata padaku ... tidak ada hal baik ataupun masa depan dari sebuah negeri yang dipimpin dengan kekerasan." Soo Yun terdiam mendengar perkataan Ming Fengying.


"Aku melihat dan membuktikan perkataan Harumin hari ini. Kota yang diambil alih dengan kekerasan pembunuhan berakhir dengan pembunuhan terencana juga. Seperti yang kami lakukan semalam." Ming Fengying menambahkan.


"Tidak ada perdamaian yang didapatkan dengan pertumpahan darah. Lingkaran kebencian akan terus-menerus ada selama manusia masih hidup di muka bumi." Ming Fengying membatin dan memejamkan matanya.


Soo Yun membatin dalam hatinya. "Seperti apa sosok perempuan bernama Harumin yang sampai membuat Fengfeng terus mengingatnya..." Gadis bermata sayu itu membaringkan tubuhnya. Matanya yang sayu melihat mata Ming Fengying yang terpejam.


Selang lima menit kemudian, Soo Yun tertidur di atas ranjang dengan kasur yang empuk, sedangkan Ming Fengying tertidur di atas lantai yang dingin dan kasar.

__ADS_1


__ADS_2