Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 27 : Operasi Malam Di Bei


__ADS_3

Malam bulan purnama menyinari tanah Bei dengan sinarnya, sebuah malam bersejarah yang kelak akan di kenal dengan Pertempuran Malam Berdarah di Bei. Beberapa menit dari sekarang akan terjadi dan itu akan membuat permukiman Kota Bei menjadi penuh darah dan bau amis yang menyengat.


Ketika malam tiba, Ming Fengying tidak dapat tenang, dia berharap jika Tao Lulu dan Toramasa dapat menyelesaikan tugas yang dia berikan kepada mereka berdua.


Di sebuah ruangan megah di dalam Istana Pinyin, Ming Lian membawa keluarganya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Di sana hanya ada Kaisar Ming Long, Pangeran She, Yi Min dan Ming Lian yang sedang menggendong Ming Fengying.


"Sebesar apapun rencanamu, aku akan menggagalkannya." batin Ming Fengying menatap Pangeran She.


Yi Min memandang wajah Ming Fengying yang terlihat seperti bayi yang sedang berpikir, sehingga dia langsung meminta Ming Lian untuk membiarkan dirinya yang menggendong Ming Fengying.


"Ying'er, melihatmu wajahmu rasa takutku langsung menghilang..." gumam Yi Min yang sedang menggendong Ming Fengying.


Sementara itu di luar Istana Pinyin, Panglima Lu Chen ikut bersama Lin Kin dan Zhang Bingjie untuk melindungi Istana Pinyin maupun Kota Pinyin yang berada dekat dengan kediaman Ming Lian. Malam ini seluruh wilayah Bei terlihat begitu sepi bahkan bisa di bilang jika Bei terlihat seperti kota mati. Terutama suasana itu terlihat di kedua kota yang berada di wilayah Bei yaitu Kota Pinyin dan Kota Bei.


Tidak lama Zhang Shen menghampiri Lin Kin dan Zhang Bingjie, setelah bersalaman dengan mereka berdua. Zhang Shen terkejut melihat Panglima Lu Chen juga ada di Bei, tanpa basa - basi dia memberi salam pada Panglima Lu Chen dan mengobrol sebentar.


"Maafkan kami terlambat memperkenalkan diri, perkenankan junior untuk memperkenalkan diri, nama junior Han Xu, perwakilan dari Sekte Harimau Putih yang datang bersama Senior Zhang." ucap pria yang terlihat berumur dua puluhan tahun itu, dia menunduk pelan kemudian tersenyum canggung karena di hadapannya ada sosok Panglima Lu Chen yang di segani oleh pendekar aliran putih.


"Dan ini adik junior yang bernama Han Zoe, maaf karena adik junior tidak bisa berbicara." tambah Han Xu sambil tersenyum pahit. Karena dia juga ingin membantu adiknya agar bisa kembali berbicara, karena suatu kejadian pita suara milik Han Zoe hancur.


Panglima Lu Chen memahami jika ada sesuatu yang terjadi pada Han Zoe, sehingga dia lebih memilih diam dan tidak menanyakan hal yang tidak perlu pada kedua bersaudara itu.


"Kalian berdua masih muda sudah menjadi tetua Sekte Harimau Putih, itu adalah hal yang patut kalian banggakan, jadi jangan sungkan dengan kami. Kita di sini semuanya adalah saudara." ucap Zhang Bingjie sambil menepuk pundak Han Xu dan Han Zoe. Melihat hal itu Zhang Shen tersenyum tipis, karena dia tahu alasan Zhang Bingjie menepuk pundak Han Xu dan Han Zoe. Alasan Zhang Bingjie menepuk pundak mereka berdua untuk mengukur kekuatan dua tetua baru dari Sekte Harimau Putih.

__ADS_1


"Luar biasa, kalian berdua telah mencapai tingkat pendekar putih..." gumam Zhang Bingjie setelah selesai menepuk pundak Han Xu dan Han Zoe.


"Xu'er dan Zoe'er baru mencapai tingkat putih satu bulan yang lalu, ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan hasil latihan mereka berdua sebagai tetua baru." ucap Zhang Shen sambil tersenyum lebar melihat Zhang Bingjie.


Han Xu dan Han Zoe hanya mendengarkan Zhang Shen yang mengobrol bersama Zhang Bingjie. Tidak berapa lama Zhang Shen mengajak Han Xu dan Han Zoe untuk bergegas ke lokasi yang telah ditentukan Ming Lian.


Angin malam berhembus dengan begitu tenang, ketenangan itu terasa begitu mencekam. Karena terasa ada rasa haus darah yang begitu besar yang bercampur dengan hembusan angin malam tersebut. Lin Kin, Zhang Bingjie dan Panglima Lu Chen langsung menaikan kewaspadaan mereka bertiga.


"Ketua Lin, sepertinya mereka berhasil menyusup." ucap Zhang Bingjie merasakan haus darah yang terasa semakin mendekat. Zhang Bingjie masih tidak percaya jika ada penyusup yang menjadi pengawal Pangeran She. Lin Kin diam selama beberapa saat sebelum wajahnya terlihat mengkerut.


"Ada yang tidak beres dengan Pangeran She, aku sudah curiga semenjak Tuan Putri Kelima menjadi penguasa wilayah Bei. Pasti banyak pihak yang tidak menyukai keberhasilan Tuan Putri Kelima." sahut Panglima Lu Chen menatap ke sebuah jalanan kota, karena dia merasakan ada puluhan langkah kaki yang terdengar.


"Penyusup itu menjadi bagian dari pengawal Pangeran She, tetapi mereka tidak menyerang Pangeran She? Bukankah ini terlihat begitu aneh?" ujar Lin Kin sambil mengerutkan dahinya.


"Aku tidak menyukai hal yang berbau politik, tetapi jika aku boleh jujur. Aku sangat menghormati Tuan Putri Kelima, ini adalah alasan mengapa aku bersedia membantunya." tambah Lin Kin.


Angin malam semakin kencang berhembus, beberapa puluhan pria memakai baju hitam yang berlambang harimau menghampiri Panglima Lu Chen, Lin Kin dan Zhang Bingjie, baju tersebut adalah identitas penduduk Bei agar mereka mengingat masa lalu kelam mereka, ketika menjadi orang buangan, puluhan pria itu datang menyerang mereka bertiga.


"Jadi dengan menggunakan baju ini, maka semua kesalahan akan dilimpahkan ke penduduk asli sini." ucap Panglima Lu Chen menahan tebasan pedang pria berbaju hitam dengan tombaknya.


Lima orang menyerang Lin Kin, dengan tatapannya yang dingin Lin Kin langsung menarik pedangnya. Dia mengayunkan pedangnya tersebut pada lima orang yang hendak menyerang dirinya.


Lin Kin melepaskan aura intimidasinya yang cukup kuat, membuat lima orang yang mendekat padanya ketakutan. Dengan cepat Lin Kin langsung menebaskan pedangnya ke arah tubuh lima orang tersebut.

__ADS_1


"Jangan pikir kalian bisa menghancurkan perbedaan ini." teriak Lin Kin mengincar penyusup yang lain. Dia menghabisi beberapa penyusup dengan tiga kali tebasan pedangnya, ketiga tebasannya itu menebas badan musuhnya.


"Sepertinya musuh yang lebih kuat belum datang, kita harus cepat menghabisi penyusup ini." ucap Lin Kin mendekat pada Zhang Bingjie yang sedang bertarung dengan penyusup.


Zhang Bingjie menghela napas panjang sebelum mengangguk pelan. Zhang Bingjie juga menghabisi penyusup dengan cepat. Dia tidak ingin kekuatannya terkuras habis ketika berhadapan dengan para pendekar dari Sekte Malam Berdarah maupun petinggi Organisasi Iblis Bulan.


"Ketua Lin, sepertinya di kota sudah mulai terjadi keributan?!" Zhang Bingjie menatap kota yang terjadi kebakaran besar, dengan cepat dia mengibaskan pedangnya sebelum menyarungkannya kembali.


Lin Kin dan Panglima Lu Chen tidak menyangka akan sebesar ini kekuatan dari dua sekte aliran hitam terbesar jika digabungkan.


"Apa kita harus ke sana membantu mereka?" tanya Panglima Lu Chen pada Lin Kin dan Zhang Bingjie, karena dia khawatir dengan nyawa para penduduk kota.


"Tenang Panglima Chen, semua sudah sesuai dengan yang diperkirakan Tuan Putri Kelima, kita bertiga akan menghadang gempuran dari Sekte Malam Berdarah di sini." terang Lin Kin berusaha menenangkan Panglima Lu Chen, dia sendiri tidak menyangka semua sesuai arahan Ming Lian.


"Sebenarnya Tuan Putri Kelima memiliki kekuatan seperti apa? Dia terlihat seperti mampu meramal masa depan?" batin Lin Kin memandang kobaran api yang membakar rumah penduduk yang tinggalh di permukiman Kota Bei dari halaman depan Istana Pinyin.


"Ketua Lin, aku adalah seorang Panglima. Aku tidak akan membiarkan penduduk yang tidak bersalah mati tanpa alasan yang jelas." bantah Panglima Lu Chen melangkahkan kakinya hendak pergi ke permukiman penduduk di Kota Bei.


"Panglima Chen, nyawa Kaisar Long adalah prioritas utama Panglima Chen. Kekuatan kami berdua belum cukup untuk melawan salah satu dari petinggi Organisasi Iblis Bulan." ujar Zhang Bingjie menghadang Panglima Lu Chen yang hendak pergi meninggalkan halaman depan Istana Pinyin.


"Ketua Zhang, apa kau akan diam saja melihat nyawa penduduk yang tak bersalah mati tanpa alasan yang jelas." balas Panglima Lu Chen menatap Zhang Bingjie dengan tatapan tajam.


Lin Kin menghelas napas panjang sebelum menenangkan Zhang Bingjie dan Panglime Lu Chen. Lin Kin membisikan sesuatu pada Panglima Lu Chen yang membuat pria paruh baya tersebut langsung kembali tenang.

__ADS_1


"Kalau itu benar, aku tidak perlu merasa khawatir lagi." ucap Panglima Lu Chen sambil tersenyum tipis.


"Tetapi aku tidak menyangka Tuan Putri Kelima mampu memprediksi hal seperti ini." batin Panglima Lu Chen sambil memijat keningnya.


__ADS_2