Love In Jiu War

Love In Jiu War
Chapter 66 : Ming Fengying menggoda?


__ADS_3

Teriakan Hei He semakin membuat Ming Fengying kebingungan, tubuh Hei He terlihat gemetar ketakutan, tetapi suara, maupun tatapan matanya terkesan memperlihatkan dirinya yang sedang marah.


"Tutup matamu, gadis muda," ucap Ming Fengying pada gadis muda yang gemetar ketakutan.


Mendengar ucapan Ming Fengying padanya, membuat dirinya bereaksi keheranan.


"Muda? Bukankah kau yang lebih muda dariku?" Gadis muda berparas manis itu membatin sambil menutup matanya secara perlahan.


Ming Fengying menatap tangannya yang terasa dingin, perlahan dia meremas tangannya sendiri.


"Efek samping dari pernapasan sirih masih terasa, jika aku memukul orang tanpa sengaja, maka bisa jadi orang yang kupukul akan hancur badannya..." Ming Fengying bergumam pelan.


Mendengar Ming Fengying menggumam sendiri, tentu gadis muda yang sedang menutup matanya bergidik ketakutan dengan apa yang dikatakan Ming Fengying.


"Pernapasan Sirih." Ming Fengying menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, tidak lama dia melepaskan auranya yang berwarna putih untuk mengintimidasi Hei He.


Melihat hal tersebut, Hei He mengerutkan dahinya dan tubuhnya masih gemetaran. Sedangkan Hei Xie menjaga jarak dari Hei He.


Ming Fengying lagi-lagi bergerak dengan sangat cepat, langkah kakinya tidak dapat diikuti oleh Hei He dan Hei Xie.


Sebuah tebasan dari arah samping kiri mampu ditahan oleh Hei He dengan tangan yang gemetaran, sementara itu Ming Fengying melebar matanya tidak menyangka Hei He akan menahan tebasannya yang termasuk tebasan cepatnya itu.


"K-Kau menjauhlah ... dariku." Hei He gemetar ketakutan sambil menjaga jarak dari Ming Fengying.


"Hei, kau ketakutan atau marah?" Ming Fengying melemparkan pertanyaan pada Hei He yang membuatnya merasa kesal. Raut wajah dan tubuh Hei He terlihat ketakutan, tetapi reflek tubuhnya dalam menangkis serangan Ming Fengying sangat cepat dan gesit.


"Kakak, tenangkan dirimu..." Hei Xie gemetaran ketika melihat Hei He semakin dekat dengannya.

__ADS_1


Ming Fengying yang masih kebingungan hanya kembali melancarkan serangan pada Hei He. Setiap tebasan katana Ming Fengying sagat dalam bahkan beberapa kali tubuh Hei He terkena sayatan-sayatan kecil dari tebasan katana Ming Fengying.


Hei He tiba-tiba menyerang Ming Fengying secara membabi-buta, tebasannya menyerang ke sembarang arah. Tetapi satu hal yang membuat Ming Fengying terkejut, walau Hei He menebaskan pedangnya ke sembarang arah, tetapi tebasan pedangnya hanya mengincar sekeliling Ming Fengying saja.


"Aliran Harimau."


Ming Fengying melakukan pose yang terlihat seperti seekor harimau menunggu mangsanya, melihat hal itu Hei He semakin gemetaran. Aura tubuh Ming Fengying berubah menjadi warna emas, dan katananya bercahaya memancarkan warna putih yang terang benderang.


Dengan cepat dia melangkahkan kakinya mengincar setiap titik vital Hei He. Leher, ulu hati bahkan perut Hei He menjadi incaran Ming Fengying tetapi semua itu sulit bagi Ming Fengying untuk mengenai incaran tebasan pedangnya.


"Sial! Orang ini ketakutan atau marah? Dia benar-benar membuatku kebingungan?" Ming Fengying memutarkan tubuhnya menciptakan sebuah pusaran angin berwarna merah muda, tubuh Hei He hendak terseret tetapi tiba-tiba raut wajah Hei He berubah.


Hei Xie yang melihat Hei He mulai semakin kuat ketika ketakutan hanya membatin, "Kakak yang merepotkan," batinnya.


Hei He melepaskan auranya yang berwarna hitam pekat ke arah Ming Fengying. Benturan aura hitam pekat dan aura emas terlihat di udara. Ming Fengying melepaskan auranya dalam jumlah besar lagi, tindakannya membuat aura hitam pekat milik Hei He terdorong ke belakang.


"Bagaimana auranya bisa tercium begitu busuk?" Ming Fengying baru pertama kali merasakan aura hitam pekat yang begitu busuk baunya, sebelumnya dia pernah mencium bau aura kebusukan dari Pangeran She dan Xia Hu namun tidak sebusuk ini, aura kebusukan dari Hei He lebih busuk dari keduanya.


Gadis muda yang mencium aura kebusukan dari Hei He menjauh dan bersembunyi di balik pohon, sedangkan Ming Fengying tetap berusaha melindungi saksi mata tersebut agar tidak terbunuh.


Ming Fengying sulit untuk mengolah pernapasan karena aura kebusukan yang begitu menyengat, satu-satunya pilihan bagi Ming Fengying adalah bertarung dengan Hei He di tempat terbuka.


"Gadis muda ... ikuti aku." Ming Fengying menarik tangan gadis muda yang bersembunyi di balik pohon menuju jalanan yang biasa di lewati pedagang ketika hendak menuju Kota Huaran.


Melihat gadis muda yang ditarik tangannya napasnya terengah-rengah, Ming Fengying menawarkan bantuan pada gadis muda tersebut.


"Apa aku harus menggendongmu?" Ming Fengying menatap serius gadis muda yang sedang mengatur napasnya.

__ADS_1


"T-Tidak. Tidak perlu ... aku ... akh!" tiba-tiba gadis muda itu menjerit ketika tangan Ming Fengying dengan sigap menggendong tubuhnya di depan.


Gadis muda tersebut merah padam wajahnya, matanya yang mulai sayu karena malu, sedikit melihat ketampanan Ming Fengying walau senyuman pemuda tersebut terkesan garang.


"Tidak usah malu, apa ini pengalaman pertamamu digendong seorang pria?" Ming Fengying dengan santainya melemparkan sebuah pertanyaan yang membuat gadis muda tersebut semakin malu.


"Kau lebih muda dariku, kenapa kau yang menceramahiku," jawab gadis muda itu dengan tegas sambil melingkarkan tangannya di leher Ming Fengying sebelum dia berkata, "Bagaimana, apa aku terlihat malu?" Dengan berani gadis muda tersebut menyandarkan kepalanya di bahu Ming Fengying.


"Kamu terlihat manis, mungkin jika aku tumbuh menjadi seorang lelaki yang sama dengan kehidupanku yang dulu, aku akan langsung jatuh ke pelukanmu, kakak manis...," bisikan Ming Fengying sangat terasa hembusan napasnya di telinga gadis muda itu.


"Beraninya kamu berkata seperti itu!" Gadis muda tersebut mencubit leher Ming Fengying.


Setelah sampai di jalanan, Ming Fengying menatap wajah manis gadis muda yang sedang digendongnya. Tidak berapa lama dia menurunkannya.


"Jangan menjauh, aku akan melindungimu." Lagi-lagi ucapan Ming Fengying membuat gadis muda itu malu sendiri, wajahnya merah padam karena detakan jantungnya.


Selang beberapa menit kemudian, Hei He dan Hei Xie menyusul Ming Fengying. Perasaan bahagia yang menghampiri gadis muda tersebut dalam sekejap menghilang tepat setelah kedatangan dua pembunuh bayaran yang mengincarnya.


Dalam sekejap ayunan pedang Hei He menyerang Ming Fengying. Benturan tebasan pedang yang saling berbenturan terdengar nyaring di telinga gadis muda yang dilindungi Ming Fengying.


"Sepertinya kau telah marah? Tidak, sepertinya kau mati?" Ming Fengying menatap mata Hei He yang memutih. Dalam sekali dorongannya, Ming Fengying menendang tubuh Hei He hingga terlempar ke belakang.


Ming Fengying mencium aura kebusukan sehingga dia ingin menjauhkan Hei He dari gadis muda tersebut.


Aura kebusukan yang tercium dari Hei He berkurang drastis, karena tempat terbuka yang menjadi tempat bertarung mereka adalah sebuah padang rumput, angin malam berhembus dengan kencang membuat aura kebusukan Hei He mulai menghilang.


"Baiklah." Ming Fengying tersenyum tipis sebelum berkata, "Saatnya kita lanjutkan pertarungan kita!"

__ADS_1


__ADS_2