
Rangga hanya bisa meredam emosinya, dengan keingian Ibunya yang begitu kuat. Yang memintanya untuk segera melepaskan status dudanya, padahal istrinya baru saja di kebumikan siang tadi. Sang Ayah yang sedari tadi menjadi penonton setia, hanya bisa mengelus dadanya melihat perdebatan istri, dan anaknya yang tak berkesudahan.
" Cukup!" dengan raut wajah penuh akan marah. "Terus! kamu akan begini terus? Menduda sepanjang hidupnmu, dan meratapi nasibmu yang di tinggalkan, Rani! dan tinggal menunggu waktu, kapan kamu akan menyusul dia." Dila menatap murka, pada putra tunggalnya.
"Aku baru saja kehilangan wanita yang aku cintai, dan dia baru saja di makamkan. Selama ini hanya ada satu wanita dalam hidupku yaitu, Rani! jadi yang benar saja, Mama meminta aku segera untuk mencari penggantinya."
"Tapi Mama ingin kamu memberikan kami cucu, Rangga! dan selama ini, Mama sudah sangat bersabar. Kami sudah tua, dan sebelum meninggal, kami ingin melihat cucu kami. Dan tentu saja itu darimu, karena hanya kau satu-satunya anak kami."
"Beri aku waktu, dan aku mohon jangan paksa aku." pinta Rangga, dengan nada memelas.
"Mama akan mencarikan wanita untukmu. Kalau kamu sulit, mendapatkannya."
"Ap?! mencarikan aku Wanita! ingat Maa! aku sama sekali tidak akan menyetujui ide gila Mama itu"
"Tidak ada penawaran, Rangga! karena Mama tidak harus meminta persetujuan kamu."
Ifan menghembuskan napas panjangnya, dengan beranjak dari duduknya, menghampiri pada putranya Rangga, yang hanya diam dengan wajah kesalnya.
"Benar apa yang dikatakan Ibumu, Rangga! dan apakah kamu tidak punya keinginan untuk mempunyai anak? kamu adalah anak kami satu-satunya, dan juga kamu seorang pengusaha sukses. Mau di kemanakan harta-hartamu, dan juga perusahaanmu, kalau bukan anakmu yang melanjutkannya."
"Tapi, Pa! Rangga baru saja kehilangan Rani, dan Rangga sangat mencitainya." guratan wajahnya terisi penuh dengan kesedihan, meratap cinta sejatinya yang telah pergi selamanya.
Wajah Dila nampak memerah, mendengar ucapan yang ke luar dari bibir putra sematang wayangnya.
"Mama tidak perlu meminta persetujuan kamu, Mama akan mencarikan wanita buatmu." dengan menekan kata-katanya, dan beranjak dari tempat duduknya.
"Dan Pa! ayo kita pergi. Semakin lama Mama berada di sini, bisa membuat darah tinggi Mama naik." dengan sorot mata menatap tajam pada putranya, dan berlalu dari dalam rumah.
Ifan memukul kecil pundak putranya, guna memberinya semangat.
"jangan bersedih. Dan pikirkan apa yang tadi dikatakan Mamamu. Dan kami pergi dulu." pamit ifan, dengan segera melangkah ke luar dari dalam rumah.
Menghembuskan napas panjangnya, kala tatapan mata itu terhenti pada sebuah figura besar, yang tertancap di dinding.
__ADS_1
"Haruskan aku melakukan semua ini, Rani? Sementara aku sangat mencintaimu." sendu wajah tampan itu, kala kedua mata itu menatap wajah Rani yang tersenyum ceria, dengan jas putihnya.
****
Dia berlari sekencang mungkin, di waktu yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Melewati sebuah gang sempit, saat menghindar dari kejaran polisi, yang berlari mengejarnya, di temani suara tembakan yang tak berkesudahan.
Dor...dor... dor..." suara tembakan terus saja menyusul, kala sasaran tak menunjukkan untuk menyerah.
"Hei... berhenti...." teriak salahsatu petugas polisi, saart pria itu terus berlari.
"Tidak! aku tidak mau, masuk penjara." gumamnya, dengan terus berlari menghindar dari kejaran polisi, yang berlari di belakangnya.
"Serahkan dirimu! kau sudah dikepung." teriak salah satu aparat kepolisian, kala pria itu terjebak, ketika di depannya membentang sebuah sungai.
Ketakutan seketika memlanda pria itu, saat petugas polisi semakin mendekat ke arahnya. Dan dia tidak tahu ke mana harus berlari, agar lolos dari kejaran polisi, semantara di depannya terdapat sebuah sungai yang menghalangi gerakannya. Polisi semakin mendekat padanya, dengan tetap menodongkan pistol ke arahnya. Tidak ada jalan lain bagi pria itu, selain dengan melompat ke dalam sungai, agar bisa lolos dari kejaran polisi.
"BYUURR~"
Dor... dor... dor...." tembakanpun menyusul ke dalam sungai, kala pria itu melompat ke sungai.
"Sial!" gumamnya kesal.
****
Udara dingin kian menusuk, kala gelapnya malam semakin menutupi bumi. Kedua matanya menerawang jauh, pada tirai yang sedari tadi terus bergoyang, akibat hembusan angin malam yang sedikit kencang. Bukan hanya menerbangkan tirai saja, tapi rambut yang tergerai indah itupun turut bertebangan, kala angin sedikit meniupnya.
Senyum melukis kecil di wajah pucat Kiran, kala tangan itu kembali berlabuh pada detakan jantung yang kembali bedetak kencang. Dag, dig, dug.
"Aku merindukan dia, bahkan sangat merindukannya." sendu seketika menyelimuti wajah cantik itu, saat rasa itu kembali menyiksa diri.
Kedua matanya teralihkan pada ponsel, yang tersimpan di atas nakas samping bed hospital. Mengulur panjang tangannya, menggapai benda pipih itu.
Kiran mengukir senyum kecilnya, saat gambar Dokter Rani muncul pada layar Hpnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Dokter, Rani! maafkan aku, yang harus jatuhcinta pada suamimu. Tapi semakin aku pendam rasa ini, semakin begitu menyiksa hatiku. Jangan tanyakan kenapa?! Karena akupun, tak tahu."
Jemari tangannya mulai bermain cepat pada layar Hpnya, mencari nomor ponsel seseorang. Dan menampilkan senyuman di wajah, kala mendapati nomor yang dia tulis dengan nama Mas Rangga. Dan jemarinya mulai bermain lincah, saat huruf-huruf mulai dia rangkaikan.
Pesan
Sedang apa kau Tuan? Apakah kau sudah tidur?" dengan arah pamdang terus tertuju pada layar Hpnya, berharap mendapat balasan.
Terpaan angin malam yang menembus ruangan, membuat tubuh yang sedang berbaring di atas sofa panjang, menggeliat kecil akibat dinginnya udara, Tidur yang sedikit terganggu, membuat mata yang tadi menutup rapat perlahan mulai terbuka.
Mengeliatkan badannya malas, dengan arah pandang perlahan menatap pada bed hosptal. Mendapati Kiran yang belum tidur, membuat Dian segera bangun dari tidurnya.
"Kamu belum tidur?" dengan mengucek-ngucek kedua matanya, guna mempertegas penglihatan itu.
"Belum ngantuk." jawabnya singkat.
"Kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"
Menghembuskan napas beratnya, dengan tatapan mata menatap pada arah jendela, di mana tirai terus saja berterbangan. saat hembusan angin semakin melemparkan kekuatannya.
"Aku merindukan dia, dan itulah yang membuatku tidak dapat tidur."
"Kiiran, Kiran! aku rasa kamu tidak buta, dan juga tidak tuli. Apakah kata-kata yang tadi Tuan Rangga ucapkan padamu itu? Kurang jelas! apa kamu tidak merasakan sakit hati, dengan penolakannya?"
"Terus?" kedua mata itu sudah nampak berkaca-kaca, mendengar kata-kata Dian yang sedikit menggores hatinya.
"Maksudmu?" kedua alisnya bertaut, dengan sorot mata menatap penasaran kiran.
"Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Aku sangat mencintainya, Dian! sangat mencintainya. Aku sudah berusaha membunuh perasaan ini, tapi sangat-sangat tidak bisa. Semakin aku mencoba, membuat hatiku semakin sakit,"
"Tapi dia menolakmu, Kiran! dia menolakmu!" Dian sedikit mengeraskan suaranya, agar Kiran dapat mengerti dengan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku tidak perduli, dan aku akan mengatakan cintaku padanya, setelah aku ke sembuh nanti." dengan airmata yang sudah menetes, akibat rasa yang begitu menyiksa.
__ADS_1
"Terserah kamu, Kiran! setidaknya aku sudah memperngatkanmu." nada yang terdengar kesal, kala berucap pada sahabat baiknya itu.
"Maafkan aku, Dian! tapi saat aku berusaha membunuhnya, hatiku semakin terluka. Jangan tanyakan kenapa? Karena aku sendiripun, tak mampu untuk menjelaskan rasa ini." gumamnya menunduk.