
Kiran mengayunkan langkah-nya pelan, saat dua kaki itu terus membawa diri-nya menuju pada jalan utama, yang biasanya dilewati oleh kendaraan umum. Tak bisa dipungkiri! Kalau kenyataan Rangga hanya menjadikan dia istri kontrak, begitu sangat mengusik pikirannya, dan tentu saja dia sangat terluka.
"Kenapa aku harus mencintainya? Kalau aku tahu, akan sesakit ini jadi-nya, setelah kami menikah nanti. Aku sangat bahagia saat dia menawarkan aku, untuk menjadi Istri-nya. Karena tanpa berjuang, aku sudah mendapatkan dirinya. Tapi kenyataan-nya, dia hanya menjadikan ku Istri satu tahun-nya, dan setelah itu dia akan menceraikan aku." Kiran menerawangkan dua matanya, meratapi apa yang terjadi padanya. Hngga lalu-lalang kendaraan yang terus melintas di depan matanya, diabaikan oleh wanita itu.
"Semoga saja hati ini suatu saat nanti, bisa terisi oleh pria lainnya walau pun itu mungkin sulit, karena kenyata-an nya aku hanya mencintai Mas Rangga," gumam Kiran, dengan wajahnya yang hampa.
Kiran begitu tenggelam dalam dunia lamunannya, hingga suasana sekitarnya tak dihiraukan lagi oleh wanita itu. Dan lalu-lalang angkutan, tukang ojek, mau pun taksi yang melintas di depannya, sama sekali tidak diperdulikan oleh-nya lagi.
Begitu hanyut dalam pikirannya, hingga suara bel motor yang dibunyikan berkali-kali, berhasil mengembalikan dunia gadis itu.
"TIIT....TIIT....TIIT!" Kiran melonjak kaget, hingga jantung itu nyaris saja terlepas, dari sarangnya.
Saat sepasang matanya melempar ke depan, gadis itu sedikit kaget, ketika mendapati sosok tampan yang tengah melempar senyum padanya.
"Maaf, kamu siapa ya? Apakah kita saling mengenal?" tanya Kiran yang menampilkan wajah bingung-nya, pada sosok tampan di depannya.
Lelaki tampan itu menyimpulkan senyuman di wajah, dan berlalu turun dari atas motor KAWASAKI nya, saat kendaraan roda dua itu, sudah dia parkirkan di bibir jalan raya.
"Apakah benar kamu sudah tidak mengingatku lagi?" tanya pria itu tersenyum, dengan sedikit mendekatkan wajahnya pada Kiran.
Kiran segera menarik diri, dan menampilkan mimik kesalnya, saat pria itu mendekatkan wajahnya.
"Kamu jangan macam-macam, ya! Apakah kamu mau aku pukul?!"
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan macam-macam padamu. Oh, iya lama tidak bertemu, ternyata kamu tidak banyak berubah. Masih terlihat cantik, seperti saat kita SMA dulu."
Dua alis Kiran bertaut, hingga diri itu semakin dilanda rasa penasaran, akan siapa sebenarnya pria di depannya ini?
"Dia mengenalku? Tapi melihat wajahnya, aku seperti mengenal dirinya. Mungkinkah dia adalah teman masa SMA ku?" gumam Kiran dalam hati, seraya menerawangkan dua matanya, pada pria asing di depan-nya.
"Kamu sepertinya, sudah lupa padaku!" seru pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja aku sudah lupa padamu. Memang sekilas wajahmu mirip teman sekelasku, yang sangat menyebalkan! Tapi temanku itu, memiliki tubuh yang gemuk, dan kulitnya sedikit gelap."
"Dan aku adalah sahabatmu, yang menyebalkan itiu Kiran!" jawab-nya tersenyum.
Kiran merasa tidak percaya, setelah mendengar penuturan lelaki tampan itu. Bagaimana bisa? Temannya yang begitu gendut, dan berkulit hitam, bisa berubah menjadi tampan seperti ini.
"Ja...Jadi kamu Rian?"
"Ya. Aku Rian, sahabat sekelasmu yang selalu menggodamu sampai sekarang."
"Dan kamu masih menyebalkan sampai sekarang! Buktinya tadi, kamu mengagetkanku!"
"Maafkan aku," jawabnya tersenyum. "Oh, iya kau mau ke mana? Biar aku antar."
"Tidak! Biar aku menunggu taksi, atau tukang ojek saja."
"Ayolah...Biar aku antar!" seru Rian yang tetap memaksa keinginannya, pada Kiran.
"Baiklah, aku mau."
Rian nampak begitu bahagia, saat Kiran mengiyakan tawarannya.
Tubuh yang sudah dia daratkan di atas motor, segera meminta Kiran untuk naik.
"Ayo cepat naik!"
"Baiklah," jawab Kiran, dengan langsung mendaratkan tubuh itu di atas kursi motor itu.
Posisi Kursi yang lebih tinggi, membuat gadis itu selalu saja mendempet dengan Rian-padahal Kiran sudah berusaha menjaga jarak dengan sahabat masa SMA nya itu.
"Bisakah kamu memelankan sedikit laju motormu?" Kiran berucap dengan sedikit terikan, sebab dia yakin kalau Rian- tidak mungkin mendengar suara-nya, karena suara motor-nya yang begitu berisik.
__ADS_1
"Ini sudah sangat pelan, Kiran! Kalau kita lebih pelan lagi, kau akan lama sampai di tempat kerjamu. Dan kalau kamu takut, kamu bisa memelukku, dan tidak perlu khawatir karena aku belum ada yang memiliki."
"Ciih! Dan aku sama sekali tidak mau!" seru Kiran kesal, yang seketika membuat pria muda itu tertawa kecil.
"Oh..Iya Rian! Selama ini kau berada di mana?" tanya Kiran kemudian.
"Aku selama ini ber-kuliah di Amerika, dan baru saja selesai. Dan aku baru beberapa hari, kembali ke Indonesia."
"Meemm...Begitu?"
"Iya."
Lajuan kendaraan sedikit pelan, saat kendaraan roda dua itu-kian mendekat pada lampu merah. Posisi yang tak siap, membuat tubuh Kiran menempel seketika-saat Rian menghentikan lajuan kendaraan-nya, hingga dua tangan Kiran langsung memeluk tubuh pria itu.
Dan sayang-nya, gadis itu sama sekali tidak menyadari, kalau kendaraan roda dua yang dia tumpangi bersama sahabatnya, bersebelahan dengan kendaraan milik Rangga.
Rangga sama sekali tidak menyadari, kalau adanya Kiran di sana. Pria tampan itu nampak begitu sangat menikmati suasana kota Jakarta, yang begitu indah dipagi ini.
Doni setia duduk di kursi kemudi, menghantarkan Tuan-nya, pada perusahaan miliknya. Tak sengaja arah pandang pria itu, melempar ke arah lain.
Awal-nya Doni berusaha menajamkan penglihatannya, kalau yang dia lihat itu salah. Tapi saat dua mata itu dia kucek-kucek, untuk mempertegas kalau yang dia lihat, tidak-lah salah. Dan dia begitu kaget, saat yang dia lihat itu benar-benar istri Tuannya.
"Kamu kenapa Doni? Kenapa dengan matamu?!"
tanya Rangga, yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Sekretaris-nya.
"Tuan bukankah itu Nona Kiran?"
Rangga segera melemparkan pandangannya, pada arah yang ditunjuk oleh Sekretarisnya. Dan betapa sangat kagetnya, dia! Saat melihat Kiran bersama seorang pria, dan mereka terlihat begitu dekat.
"Kiran....Siapa pria itu??" gumam Rangga penasaran, dengan terus melemparkan pandangannya ke arah sana.
__ADS_1