Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MEMINTA RANGGA MENIKAH


__ADS_3

Rati bak seorang maling, kala melakukan panggilan telepone dengan kekasihnya Jack. Mengambil sejauh mungkin sudut ruangan yang tidak mungkin di jangkau oleh para penghuni rumah, terutama oleh Adisty, maupun suaminya Andi Herman yang sedang berada di rumah.


Wajah terlihat kesal, kala wanita paruhbaya itu kembali melanjutkan obrilan mereka, saat memastikan situasi sudah aman.


"Katakan, ada apa kau menghubungiku?!" nada itu terdengar kesal, kala bertanya pada kekasihnya di seberang sana.


"Kapan kau datang?! karena ada hal penting, yang ingin aku bicarakan padamu."


Rati menyeringai di wajah tuanya, saat mendengar apa yang baru saja ditanyakan Jack padanya.


"Untuk apa?! bukankah kau sedang bersama wanita-wanitamu, yang sering kau ajak ke kontrakkanmu, itu!"


"Kau sangat keras kepala, RatI! untung saja anakku, tidak sama keras kepalanya seperti dirimu."


"Sudah berapa kali aku bilang, Jack! kalau Adisty itu bukan anakmu." dengan menekan kata-katanya, kala berucap pada pria itu.


"Ha...ha...ha... Rati.. Rati, kau selalu saja menutupinya. Baiklah, kalau begitu kau harus datang sekarang, sebelum aku yang mendatangi rumahmu." dengan menekan kata-katanya, sebelum memutuskan sambungan telepone itu.


Menghempaskan tangannya dengan kasar, saat emosi itu tidak dapat dia luapkan pada Jack.


"Dasar menyebalkan!" gumamnya, dengan kemarahan yang teramat sangat.


Rati sudah terlihat cantik, dengan berbalut pakian kasual. Kemeja kotak-kotak, dan juga celana panjang kain berwarna hitam. Menggapai tas mahalnya yang tertata rapi dalam lemari kaca, dan berlalu keluar dari dalam kamar. Kedua kakinya mengayun dengan pelan melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawah rumahnya.


Langkah kaki itu dia ayunkan pelan, dengan mengendap-ngendap bak seorang maling, memastikan tidak ada siapapun yang melihat kepergiannya. Wajah itu seketika memucat, dan juga gugup, kala kedua kakinya baru saja berpijak pada dasar lantai, Rati mendapati keberadaan Adisty, dan juga Andi suaminya , yang tengah menonton televisi di ruang santai yang letaknya tak jauh dari arah tangga.


"Mama! kau akan ke mana? Apakah kau akan bepergian?" tanya Adistya tiba-tiba, dengan sorot mata menatap penasaran pada Ibunya.


Melukis tawa palsunya, dengan kedua kaki yang melangkah menghampiri pada Adisty, dan juga Papa Andi.


"Kau mau ke mana, Ma?" tanya Andi kemudian, saat rasa penasaran menyerang mendapati istrinya yang sudah terlihat cantik.


"A..aku mau ke supermarket, membeli kebutuhan dapur." jawabnya tersenyum kikuk.


"Bukankah kebutuhan dapur, pelayan sudah membelinya?" Celah Adisty, dengan raut wajah semakin terlihat penasaran.


"Sayang.. Sayang... memang pelayan sudah membelinya. Tapi ada beberapa kebutuhan dapur, yang tidak dia beli. Jadi mau tidak mau, Mama harus ke luar untuk membelinya."

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu, Ma!" celah Andi, yang menawarkan diri untuk mengantar istrinya berbelanja.


"Tidak usah, Pa! tidak usah. Mama tidak mau merepotkanmu. Bukannkah kau harus menjenguk Kiran, di rumah sakiit?"


"Baiklah, kalau kau tidak mau. Tapi ingat! hati-hati di jalan."


"Tentu Pa!" jawabnya meyakinkan lelaki paruhbaya itu.


Arah pandang Adisty terus mengikuti Ibunya yang sudah berlalu pergi, sampai sosok itu benar-benar menghilang dari tatapan matanya.


"Mama terlihat aneh, Pa!" seru Disty tiba-tiba, kala tatapan Papa Andi terfokus pada layar televisi.


"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja," menjawab apa yang di tanyakan putri tirinya, dengan kembali memalingkan wajahnya pada layar televisi.


****


Kontrakkan Jack.


Matanya terpejam, kala Jack terus menghujamkan miliknya dengan semakin dalam. Suara kenikmatan terus saja bersautan dari bibir kedua manusia berusia senja itu, yang sama-sama merasakan kenikmatan, saat sudah berada di ujung kenikmatan diacara percintaan mereka yang memakan waktu hampir satu jam.


Handuk bermotif floral membalut tubuh Rati yang masih polos, kala melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi.


Tawa lebar seketika ke luar dari bibir pria berotot itu, mendengar apa yang baru saja dititahkan Rati.


"Apakah kau takut, kalau Andi mengetahui tentang perselingkuhan ini? Dan Adisty tahu, kalau aku ini adalah Ayahnya?"


"Tentu saja aku takut. Karena aku sudah tidak mau, hidup susah. Dan sekali lagi kutegaskan padamu, Jack! kalau Adisty itu bukan anakmu." kata- kata itu Rati tekan, kala berucap pada pria itu.


"Dan kau pikir aku percaya! kalau memang Adisty itu bukan anakku, lalu di mana Ayahnya? Karena setahuku, kalau Andi itu hanya Papa tirinya."


"Sudah kubilang. Kalau Papanya sudah meninggal. Harus berapa kali aku bilang padamu, agar kau percaya." nada itu sudah meningggi dari sebelumnya, akibat rasa kesalnya pada kekasihnya.


"Aku akan percaya kalau Adisty bukan adalah anakku, kalau kita sudah melakukan tes DNA." santai, dengan menyimpulkan senyuman pada Rati yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Terserah! tapi asal kau tahu! kalau Andi begitu menyayangi Adisty, seperti anak kandungnya sendiri. Dan aku akan meminta pada suamiku, agar meminta sahabatnya Ifan, menjodohkan putra mereka Rangga, dengan anakku Disty."


"Dan itu, yang ingin aku bicarakan denganmu."

__ADS_1


Menautkan kedua alisnya, dengan sorot mata seketika menatap intens pada Jack.


"Apa maksudmu, Jack?" wajah Rati seketika dilanda rasa penasaran.


"Memang mobil yang di kendarai Rani, tali remnya putus dan itulah yang mengakibatkan dia mengalami kecelakaan."


"Terus?"


Wajah wanita berusia senja itu, semakin di landa rasa penasaran teramat sangat, hingga kerutan di dahinya semakin jelas terlihat.


"Pelayan yang aku sewa, untuk memutuskan tali rem mobil dari Dokter Rani, dia tidak jadi melakukannya."


"Apakah kau yakin?"


"Iya. Sebab dia mengatakan kalau di hampir semua tempat, di kediaman Rangga Wijaya terpasang CCTV."


"Jadi, maksudmu ada orang lain yang melakukan ini?"


"Ya. AKu sangat yakin, kalau ada orang yang menaruh dendam pada Rangga Wijaya, ataupun pada kedua orangtuanya."


Hening seketika melanda, kala diri itu memikirkan apa yang baru saja dikatakan Jack. Dan itu membuat Rati, seketika dianda rasa penasaran yang teramat sangat, akan siapa sosok misterius yang sudah melakukan hal ini pada Dokter Rani.


" Siapa kira-kira yang sudah melakukan hal ini? gumamnya pelan, dengan sorot mata menerang jauh.


****


KEDIAMAN RANGGA WIJAYA


Rembulam telah menampilkan senyum indahnya, bersamaan dengan jutaan bintang yang menemaninya, pada awan yang sudah diselimuti gelapnya malam, yang semakin memancarkan keindahannya.


Wajahnya terlihat memerah, hingga menambah sangarnya pada wajah pria berpostut tubuh tinggi itu, saat mendengar ucapan Ibunya yang meminta dia untuk segera menikah lagi.


"Apa Mama sudah gila! meminta aku, untuk segera mencari pengganti Rani. Istriku baru saja di kuburkan siang tadi, tapi sekarang Mama sudah meminta aku untuk segera melepaskan status dudaku." kata-kata itu dia tekan, akibat emosi yang begitu meluap dalam diri pria itu.


Mama Dila segera bangkit dari duduknya, tatapan mata yang begitu menyalang, kala mendengar putranya yang menolak mentah- mentah keinginannya.


"Karena kami ingin cucu, Rangga! kami sangat mengharapkan cucu. Bertahun-tahun kau menikah dengan Rani, tapi dia tidak melahirkan keturunan buatmu. Kau punya harta yang melimpah, dan satu-satunya anak kami. Lalu mau dikemanakan hartamu nanti, Rangga! apakah kau akan bagikan ke panti asuhan?!"

__ADS_1


"Cukup, Ma! cukup!" dengan teriakan yang begitu menggema.


__ADS_2