Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
DAVIN ADALAH CORISOON


__ADS_3

Rangga terlihat sangat frustasi, hingga raut wajah pria itu sangat memucat, apalagi saat memikirkan saat ini, Kiran sedang mengandung.


"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Doni, sembari menatap wajah Tuannya, lewat kaca spion dalam mobil.


"Yang jelas, jangan laporkan hal ini pada Polisi. Karena aku sangat yakin, kalau orang yang menculik Kiran ini,pasti orang yang mungkin, mempunyai dendam padaku!"


"Jadi??"


"Kita tunggu beberapa saat lagi, sebab aku sangat yakin kalau mereka, pasti akan menghubungiku!" sahut Rangga dengan penuh keyakinan, tapi raut wajah pria itu, nampak terlihat menunjukkan kegusaran yang teramat sangat.


"Ayo kita kembali ke rumah. Kita harus bersiap-siap, dan ingat jangan beritahukan hal ini, pada siapa-pun, terutama pada orang tuaku, dan juga orang tua dari Kiran."


"Baik Tuan..."


****


Gudang tua


Beberapa jam berada dalam pengaruh obat bius, akhirnya Kiran tersadar dari obat biusnya. Dua matanya perlahan terbuka, dengan pandangan yang nampak sedikit kabur. Sedikit lama pandangan itu mulai kembali normal, dan saat kesadarannya sudah kembali pulih, betapa kagetnya Kiran, saat mendapati dirinya terikat pada sebuah kursi usang, dan dia berada disebuah ruangan yang sedikit gelap, dengan cahaya yang tidak terlalu terang.


Kiran memberontakkan badannya sekuat tenaga tubuhnya, berusaha melepaskan lilitan tali yang melilit tubuhnya. Sekuat tenaga dia berusaha, hingga air matanya menetes.


"Lepaskan aku...Lepaskan!" teriak Kiran, dengan air mata yang sudah menetes.


Kiran memberontakkan tubuhnya sekuat tenaga, hingga terdengar suara langkah kaki yang bersahutan melangkah menuju ke-arahnya, mengalihkan tatapan mata itu seketika.


"Kau sudah sadar, Nyonya Wijaya?"


Mendengar suara bariton yang menyapa padanya, wajah itu segera Kiran palingkan pada asal suara. Saat tatapan mata itu sudah mengarah pada sosok itu, betapa kagetnya Kiran saat mendapati sosok yang tentu saja sangat tidak asing untuknya.


"Tuan Corisoon.." ujarnya, dengan tatapan tak percaya saat mendapati laki-laki paruh baya itu, yang sangat begitu baik padanya.


Tawa lepas membentuk di wajah Corisoon, mendapati ekspresi kaget dari Kiran, saat mendapati keberadaannya.


"Aku yakin, kau pasti sangat terkejut saat mendapati aku di sini," ujarnya tenang, tapi raut wajah itu tersulut emosi yang teramat sangat.


"Aku tidak tahu, apa yang membuatmu menculikku. Tapi aku sama sekali tidak memiliki urusan denganmu, Tuan! Jadi aku minta lepaskan aku!" hardik Kiran, dengan nada penuh emosi, dan tak terlihat sama sekali rasa takut dalam diri wanita itu, pada pria di depannya.

__ADS_1


"Ha....Ha...Ha..." Corisson tertawa lebar, namun tawa itu mengandung amarah yang sudah mencapai puncaknya " Siapa bilang, kita tidak memiliki urusan. Justru, kau terlibat urusan denganku," ujarnya tenang. Dan dua kakinya mengambil beberapa langkah mendekat pada Kiran, dan saat mendekat pria itu langsung melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras, pada pipi Kiran.


PLAAk!" HIngga wajah itu langsung berpaling, dan terluka disudut bibirnya, yang mengeluarkan darah. Napa Kiran terengah-engah, walaupun tamparan itu sangat keras, namun tak ada air mata sedikit pun, di sana.


"Aku mengakui keberanianmu, Nyonya Wijaya..Kita lihat saja, sebentar lagi, suamu itu pasti akn datang kemari," ujarnya dengan senyuman penuh kemenangan.


Dan tatapan mata itu Corisoon alihkan pada Andrew, orang kepercayaannya.


"Kirimkan foto istrinya, dan kita akan memulai pertunjukannya."


"Baik Tuan.." jawab Andrew, dengan langsung mengirimkan video di mana Kiran disekap, dan saat Corisoon melayangkan tamparan.


****


Senja perlahan mulai menyapa, kala mentari perlahan mulai tersenyum malu-malu, dibalik bukit yang menjulangg. Gugur perlahan, dan mulai mendatangkan gelap.


Lokasi yang sedikit jauh, tidak memudahkan Rangga untuk menemukan di mana istrinya disekap. Saat tiba di depan gudang tua itu, Rangga segera berlari ke dalam gudang kosong, berlantai tua itu.


"Kiran....Kiran..." Dengan panik yang teramat sangat, lelaki tampan itu terus saja meneriaki nama istrinya. Wajah itu Rangga dongakkan ke atas, dan di sana dia mendapati adanya cahaya, yang menyinari lantai dua itu. Dengan segera lelaki berperawakan tinggi itu, setengah berlari menuju lantai dua.


"Kiran..." panggilnya dengan terus melangkah, mencari keberadaan istrinya. Dan saat mendekat, Rangga sangat dibuat kaget saat mendapati keberadaan istrinya yang terikat, dengan tubuh yang terlihat lemas.


"Cukup Andrew!" teriak Corisoon, yang nampak sangat puas saat akan buahnya, menghajar Rangga.


Rangga yang tersungkur di lantai, langsung mengalihkan pandangannya pada asal suara. Sahutan bunyi sepatu yang berbenturan, membuat lelaki tampan itu sangat penasaran, siapa sosok laki-laki, yang sudah menculik istrinya.


Dan saat mendekat, betapa kagetnya dia, saat mendapati sosok laki-laki paruh baya, yang masih terlihat gagah diusianya.


"Tuan Corisoon..." ujar Rangga tak percaya, dengan apa yang dia lihat.


Tawa lepas begitu menggema di dalam ruangan kosong itu, saat Rangga nampak kaget dengan kehadirannya.


"Kau begitu bodoh Tuan Wijaya! Bahkan kau tidak mengetahui siapa aku!" ujar-nya, dengan senyuman sinis yang dia lukis di wajah.


Dengan sedikit kesusahan, Rangga bangkit dari duduknya. Sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, dan dia tersenyum sinis, sembari mengusap sudut bibirnya, saat merasakan amis pada mulutnya.


"Kita tidak memiliki urusan, untuk apa kau menculik istriku!" sungut Rangga, dengan tatapan penuh emosi.

__ADS_1


"Tidak punya urusan?" Dan dia pun tertawa perlahan, dan terlihat sedikit kesedihan di wajahnya. "Bahkan kau tidak mengetahui siapa aku! Kau memang laki-laki bodoh!" Perlahan Corisoon memegang pinggiran wajahnya, dan itu tak luput dari perhatian Rangga, dan saat dia membuka topeng tua itu, betapa kagetnya pria itu, saat mendapati sosok yang menyerupai Devan.


"Davin..." ujarnya seolah tak percaya. Dan Kiran yang berada di sana pun sangat dibuat kaget, saat mendapati sosok lelaki tampan yang wajahnya, sangat mirip dengan Devan. Hanya saja yang membuat keduanya berbeda, tubuh pria itu nampak lebih atletis.


"Jadi selama ini, dia menyamar dalam sosok laki-laki tua itu," gumam Kiran dalam hati, dengan terus menatap pada Davin, yang ternyata selama ini menyamar jadi sosok Corisoon.


Davin tertawa, melihat raut wajah pasangan suami isrtri itu, yang sangat terkejut, saat melihat rupa aslinya.


"Kau begitu bodoh! Bahkan kau tidak bisa mengenalku! Dan kenapa aku menculik istrimu, dan membawamu ke sini. Karena aku ingin, kau merasakan rasanya sakit hati kehilangan orang yang kau cintai. Aku sangat bahagia, saat aku berhasil menyingkirkan Rani, saat itu aku yakin kalau kau tidak akan jatuh cinta lagi."


"Jadi kau??" celah Rangga yang sangat terkejut saat mengetahui, kalau Davin-lah yang menyebabkan kematian isrtrinya.


"Iya. Saat sebelum dia akan pergi ke rumah sakit, Rani masih menyempatkan diri bertemu denganku, tapi saat itu aku menyamar sebagai Devan. Dan saat itu, aku meminta orang, untuk memutuskan tali remnya. Dan aku sangat bahagia, saat tahu dia meninggal. Berarti kita impas, karena aku tahu saat itu kau hancur. Tapi setelah aku tahu kau menikah lagi, aku sangat tidak suka, dan aku sangat tidak menyukai melihat kau bahagia. Jadi untuk saat ini, kau akan kehilangan orang yang kau cintai. Dan itu langsung di depan matamu."


"Sudah aku bilang! Bukan aku yang menyebabkan kematian Rosella! Dan aku mohon, jangan bunuh istriku, dia sama sekali tidak tahu masalah kita!" ujar Rangga dengan setengah teriakan, dan tatapan memohonnya.


Davin menyeringai kecil, mendengar ucapa memohon dari Rangga. "Jika kau memang tidak mau kehilangan istrimu itu, kau tidak perlu khawatir. Setelah membunuhnya, aku juga akan membunuhmu!" ujar Davin, dengan mengarahan senjata tepat kearah Kiran.


Kiran hanya meneteskan air matanya, dan wanita itu nampak sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Dan baru saja Davin akan menarik pelatuknya, tiba-tiba saja terdengar suara Harimau.


Mereka bertiga langsung mengalihkan pandangannya, dan di sana Davin sangat terkejut saat mendapati hewan buas, peliharaan Rangga,yang melangkah mendekat padanya, dengan tatapan membunuh. Dan saat dia akan menembak hewan buas itu, Tiger dengan cepat langsung menerkamnya. Rangga segera menjangkau pistol itu, dan menodongkan ke arah Andrew. Dan ternyata kedatangan hewan buas itu bersama Devan, dan juga Doni.


"Lepaskan...Lepaskan aku..." teriak Davin, yang berusaha melindungi diri, dari gigitan harimau itu.


Devan yang berada di sana, segera melepaskan ikan yang melilit tubuh Kiran, dan juga plester itu. Wanita hamil itu nampak lemas, hingga dia pun langsung pingsan.


"Kita harus membawa Kiran segera ke rumah sakit!" ujar Devan, yang panik dengan keadaan Kiran.


Tiba-tiba saja terdengar suara sirene, yang tak lain adalah polisi.


Dan terdengar suara yang setengah berlari, menuju lantai dua.


"Tiger...Pergilah!" teriak Rangga pada hewan kesayangannya itu.


Setelah melumpuhkan lawannya, hewan buas itu segera berlari menuju tempat yang sepi, dan melompat ke luar dari dalam gedung itu.


"Angkat tangan kalian!" teriak salah satu petugas Polisi, sembari menodongkan pistol ke-arah mereka.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya seorang Dokter, saya harus segera membawa wanita ini ke rumah sakit, dia sedang mengandung!" tanpa mendapatkan jawaban, Devan langsung membawa tubuh Kiran ke luar dari dalam gedung itu, sebab saat ini dia sangat mengkhawatirkan keadaan wanita muda itu.


__ADS_2