Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
TANGIS KIRAN


__ADS_3

Teramat mencintai, akhirnya membuat diri itu, nyatanya terluka sendiri. Mengirah, kalau dia tidak akan pernah menangis lagi, sekalipun melihat Rangga, bersama wanita lain. Tapi nyatanya, semua itu salah. Buktinya, air mata itu luruh juga.


Setelah sudah berada di dalam restorant-Kiran segera melenggangkan kakinya menuju kamar mandi, setelah wanita itu berpamitan pada Doni. Suasana kamar mandi yang sedang sepi, membuat Kiran lebih leluasa mengeluarkan kesedihannya. Terisak kecil di sana, meratapi cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan.


Wajah itu perlahan dia angkat, menatap dirinya lewat pantulan cermin. Cukup lama Kiran memandang-dan dia pun tersenyum, merasa dirinya begitu menyedihkan.


"Kenapa aku harus menangis? Bukankah aku sudah janji, akan membunuh perasaan ini? Tapi kenapa aku harus terluka, saat melihat Mas Rangga, bersama wanita lain? Bukankah lambat laun semuanya akan terjadi seperti ini?" gumam Kiran, dengan air mata yang kembali membanjiri dua pipinya. Terus menangis, dan menangis-hingga riasan meakupnya, terlihat luntur akibat air mata, yang tak henti-hentinya menggenangi kedua pipinya.


****


Rangga melenggangkan kedua kakinya ke dalam restorant, setelah perginya Della, dan sang Bunda, dari tempat itu.


Saat sudah berada di dalam, pria berusia tiga puluh tahun itu, tidak mendapati keberadaan Kiran, bersama Sekretarisnya.


"Doni..Di mana Kiran?"


"Nona Kiran sedang berada di kamar mandi, Tuan..Mungkin sedikit lagi, datang."


Memutuskan untuk menungggu sang istri, setelah mendengar jawaban dari Doni. Beberapa menit menunggu-hingga kini sepuluh menit telah terlewati, namun Kiran belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Ini sudah terlalu lama, biar aku menyusulnya!" ujar Rangga, dengan langkah kaki yang segera dia ambil.


Rangga terus melangkah, membawa tubuh itu semakin mendekat pada arah kamar mandi. Sedikit merasa tidak nyaman bagi pria tampan itu-saat harus masuk ke dalam kamar mandi wanita. Tapi memikirkan rekan bisnisnya yang sudah menunggu, akhirnya Rangga memberanikan diri untuk masuk.


Dua kaki Kian melangkah ke dalam-dan dari jauh samar-samar, daun telinganya menangkap suara tangisan seseorang. Dan sedikit kaget, saat mendapati ternyata itu suara tangisan istrinya.


Dalam tatapan mata itu, saat dua pupil matanya melempar pada Kiran, yang sama sekali tidak menyadari kedatangannya.


"Kiran..."


Mendengar suara yang sangat tidak asing, membuat wajah itu berpaling seketika. Langsung bangkit dari duduknya, setelah mendapati keberadaan Rangga di sana.


"Ma...Mas Rangga! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kiran terbata, dengan wajah sedikit gugup, karena malu saat Rangga memergokinya tengah menangis.


"Kamu menangis? Dan apakah itu karena aku?" tanyanya, dengan langkah kaki yang dia ambil, mendekat pada Kiran yang menangis disudut ruangan.


"Tidak!" jawab Kiran tegas, dengan raut wajah yang sudah berubah serius.


Senyuman dia lukis kecil. Dua mata itu begitu dalam, dengan tatapan yang sangat menghanyutkan. Tangan itu perlahan Rangga angkat-bermaksud, untuk mengusap cairan bening yang membasahi pipi itu. Namun baru saja akan menyentuh, langsung di tepis oleh Kiran.


"Jangan menyentuh ku!" pintanya tegas.


"Ini bukan saatnya untuk marah Kiran..Apakah kau lupa, kalau kita sedang berada di mana?"

__ADS_1


Kembali meneteskan air mata itu, memikirkan sakit hatinya saat ini.


Dengan berani wajah itu Kiran angkat, dengan menatap pada Rangga. Menelusuri setiap inci wajah tampan pria itu, yang sudah membuatnya begitu tergila-gila. Sedikit lama dia memandang, akhirnya Kiran memberanikan dirinya untuk bersuara.


"Mas..."


"Yaa.."


"Ceraikan aku!"ujarnya tegas.


Kaget, dengan tatapan jauh intens, menelusuri keseriusan ucapan Kiran.


"Cerai??"


"Iya. Ceraikan aku, dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal setelah ini. Lagi pula buat apa kita bertahan, sebab pada akhirnya kita akan berpisah juga. Aku juga tidak mau, menjadi penghalangmu, untuk dapat bersama wanita lain. Di sini aku yang tersakiti, karena terlalu mencintaimu. Jadi sebelum lebih dalam lagi rasa ini, lebih baik kita berdua segera bercerai!"


"Apakah kau yakin, dengan apa yang kau katakan Kiran?"


Kembali meneteskan air mata, dengan sebuah anggukan kecil-yang mewakili jawabannya.


Bukannya menanggapi apa yang Kiran ucapkan, Rangga justru mengalihkan perbicaraan kearah lain. "Ayo kita ke luar!"


"Mas... Aku mohon..." lirihnya.


"Kau tunggu di sini.. Aku akan menanyakan pada pelayan, mungkin saja ada ruang kosong, agar kau bisa memperbaiki riasanmu," pinta Rangga, sebelum keduanya melangkah kembali ke dalam restorant.


"Mas...." panggilnya lagi, saat lagi-lagi Rangga tak menggubris apa yang dia ucapkan tadi.


Beberapa menit Kiran menunggu-akhirnya Rangga kembali muncul, bersama seorang pria muda yang berpakaian rapi.


"Marih ikut saya Tuan..Nyonya..." pinta laki-laki muda itu, dengan segera mengambil langkahnya, diikuti oleh Kiran, dan juga Rangga.


Saat ini pasangan suami-istri itu sudah berada di dalam sebuah ruangan. Dan Rangga bersikap begitu manis pada istrinya, dan itu membuat Kiran merasa sangat tidak nyaman.


"Kau sengaja melakukan ini, agar aku semakin mencintaimu, dan saat kita bercerai nanti, biar aku semakin terluka kan?!"


"Kau bisa diam tidak, Kiran!"


"Aku hanya mengatakan, yang sebenarnya Mas!"


"Jadi??"


"Aku hanya minta, ceraikan aku. Dan kau bisa menikah dengan perempuan mana pun, setidaknya kau akan hidup dengan wanita yang kau cintai," sungutnya.

__ADS_1


"Mas...Aku bicara padamu, kenapa kau diam saja?!" tanya Kiran dengan nada menuntut, saat Rangga lagi-lagi tak menghiraukan permintaannya.


Bukannya menjawab-apa yang Kiran tanyakan, Rangga justru menggeraikan rambut istrinya, yang dengan tersanggul rapi.


"Kenapa kau geraikan rambutku Mas?!" Nada tinggi, akibat emosinya yang kian mencuat pada suaminya.


"Ayo bangun! Tuan Corisoon, sudah menunggu kita!"


Walaupun kesal, namun akhirnya Kiran menyetujui apa yang Rangga titahkan.


"Ayo!" Dengan langsung menggenggam tangan Kiran, dan berlalu dari dalam ruangan itu.


"Kau egois Mas!"


"Apakah kau tidak bisa diam?!" Nada kesal, dengan langkah kaki yang terus dia ayunkan, beriringan bersama istriya.


"Aku tidak akan diam! Karena kau tidak menjawab, apa yang aku bilang tadi! Aku ingin bercerai!"


Langkah kaki itu seketika Rangga hentikan, saat Kiran kembali berbicara, yang membuatnya semakin saja kesal. Dan saat ini,keduanya sudah kembali di dalam restorant.


"Kalau kau masih bicara, aku akan menciummu!"


Seringai rendah, dengan memberi tatapan tidak sukanya pada Rangga. Dan Kiran meyakini, kalau kata-kata itu hanya sebuah ancaman semata untuknya, sebab dia meyakini, kalau Rangga tidak akan mungkin berani menciumnya di depan banyak orang.


"Aku tegaskan padamu Rangga Wiaya. Aku ingin kita bercerai!" ujar Kiran, dengan menekan kata-katanya.


Tanpa memperdulikan banyaknya orang yang berada di sana, Rangga akhirnya benar-benar membuktikan ucapannya. Meraih tengkuk Kiran, dan mendaratkan ciuman panjang di bibir sang istri. Kiran membulatkan matanya terkejut. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu sama sekali tidak menyangkah, kalau Rangga akan benar-benar menciumnya.


Dan apa yang dilakukan pasangan suami-istri itu, memancing kehebohan para pengunjung restorant, dan juga Doni-sang Sekretaris.


"Apakah aku tidak salah lihat?!" gumam Doni, dengan lebih membulatkan tatapan matanya.


Di-antara tatapan para pengunjung yang tengah menyaksikan adegan ciuman itu-ada seseorang yang terus melemparkan pandangan-nya, dengan tatapan tidak suka.


"Suatu saat, kau akan berpisah dengan wanita ini, Rangga!" gumamnya, sembari menarik sudut bibir itu.


Mendaratkan ciuman sedikit lama, akhirnya Rangga mengakhiri.


"Bukankah aku sudah bilang padamu, tadi? Jadi kalau kau bicara lagi, aku akan lebih lama menciummu!" Dan tatapan matanya beralih pada Doni, yang terus menatap pada Tuannya. Mendapati tatapan Rangga, Doni segera melenggangkan kakinya menghampiri pada pasangan suami-istri itu.


"Ayo..Tuan CORISOON, sudah menunggu kIta!" ajak Rangga, dengan kembali meraih tangan istrinya, dan melangkah sebuah meja, di mana Corisoon sudah menunggu mereka.


"Kau memalukan Mas...Apakah kau tidak menyadari kalau semua orang melihat kita?" sungut Kiran, yang merasa malu dengan tatapan orang-orang, yang terus menatap padanya.

__ADS_1


"Biarkan saja! Memang istri orang, yang aku cium!" jawab Rangga santai, dengan langkah kaki yang terus dia ambil.


__ADS_2