
Perlakuan Rangga yang menggendongnya tiba-tiba-tentu saja, membuat Kiran sangat kaget. Apalagi pria itu sangat membencinya, dengan sikap Kiran yang berani secara terang-terangan menunjukkan rasa cinta itu. Tapi itu dulu, setelah sikap Rangga yang begitu terlalu padanya, dan selalu menganggap remeh dirinya. Tubuh yang berada di dalam gendongan Rangga, Kiran berontak akan pria itu melepaskan gendongannya.
"Mas..Lepaskan aku! Lepaskan..." pinta Kiran, dengan berusaha melepaskan diri dari gendongan Rangga.
Permintaan Kiran, sama sekali tidak diindahkan oleh Rangga. Pria berperawakan tinggi itu, tetap melangkahkan kakinya menuju arah mobil, walaupun dia sedikit kesusahan saat melangkah karena Kiran terus memberontakkan tubuhnya.
Pintu yang telah terbuka, membuat Rangga dengan muda memasukkan Kiran dalam mobil, dan langsung mengunci-nya agar gadis muda itu tidak dapat kabur.
Semakin kesal pada Rangga, dan sangat enggan dia satu mobil dengan pria itu. Lebih memilih menaik angkot, atau ojek dari pada harus bersama dengan pria, yang selalu saja melukai hatinya. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran seorang Kiran.
Walaupun pintu mobil sudah terkunci, tapi Kiran masih tetap berusaha membukanya, agar dia bisa ke luar dari dalam mobil.
"Buka pintu mobilnya! Buka pintu mobilnya, Mas.." pinta Kiran, dengan nada suara yang terdengar kasar.
"Jalankan mobilnya Doni!"
"Baik Tuan," jawab Doni dengan langsung melajukan kendaraan roda empat itu.
Kiran semakin terbalut emosi pada Rangga, saat pria itu menampilkan senyuman kemenagannya pada Kiran.
"Katakan apa mau-mu, Mas? Tidak puaskah kau terus bersikap seenaknya padaku?
"Siapa yang bersikap seenaknya padamu?" Dua alis Rangga bertaut, mendengar ucapan Kiran yang aneh untuknya.
"Buktinya kau menculikku!" sarkas Kiran cepat.
Tawa lepas membuang seketika dari mulut Rangga, ketika pria itu mendengar kata MENCULIK yang terlontar dari mulut Kiran.
"Ha....Ha....Ha...Kau dengar apa yang dia katakan tadi, Doni? Dia bilang aku menculiknya!"
Doni tidak menjawab, ucapan dari bibir Tuannya. Pria itu hanya melemparkan senyuman kecil di wajah, menatap sang Tuan, dan Istrinya yang terlibat perdebatan.
"Kalau bukan menculik! Terus apa?! Bukankah aku tidak mau, tapi kau tetap memaksaku? Bukankah itu namanya penculikan?!"
"Mana ada seoarang Suami, yang menculik Istrinya," jawab Rangga cepat.
__ADS_1
Kiran terkekeh pelan, setelah mendengar kata ISTRi, yang baru saja Rangga ucapkan untuknya. Mengingat pernikahan kontrak yang pria itu lemparkan padanya, disaat malam pernikahan mereka-membuat ada rasa menggelitik dalam diri wanita itu. Dan kali ini, dia yang bergantian menertawakan Rangga.
"Istri?? Sejak kapan kau memperlakukan aku sebagai Istrimu, Mas! Asal kau tahu Doni! Aku dan Tuanmu, akan bercerai satu tahun kemudian. Karena kami hanya menikah kontrak!"
"Kau terlalu banyak berbicara. Apakah kau mau aku sumbat mulutmu itu!" Amarah makin membuncah dalam diri seorang Rangga, saat lagi-lagi Kiran semakin saja membuatnya kesal.
"Ini mulutku Mas.. Jadi terserah aku mau bicara apa. Jadi kau tidak perlu.." Belum selesai Kiran mengucapkan apa yang akan dia katakan pada Rangga, gadis muda itu dibuat sangat terkejut, saat Rangga menarik tengkuknya tiba-tiba, dan melabuhkan kecupan di bibirnya.
Kata-kata yang akan dia lontarkan pada Rangga, hilang seketika. Ntah di mana perginya amarah yang tadi begitu membuncah dalam dirinya, tadi pada Rangga. Kecupan yang pria itu berikan padanya, mampu membuat dunia Kiran berhenti berputar.
Senyuman kecil Rangga tampilkan di wajah, mendapati sikap Kiran yang tiba-tiba berubah tenang, usai dia melabuhkan kecupan singkat di bibir wanita itu.
"Kalau kamu bicara lagi, aku akan menciummu lebih lama dari yang tadi."
Menghunuskan tatapan matanya bagai sebuah belati yang siap membunuh-sekilas pada Rangga, dan langsung melemparkan arah pandang itu ke luar dari kaca jendela.
Rangga menyeringai rendah, melihat sikap Kiran yang tiba-tiba berubah tenang, usai dia melabuhkan kecupan singkat di bibir wanita itu.
Ada rasa aneh, yang tiba-tiba menggoroti diri pria itu, saat bibir itu bersentuhan dengan bibir Kiran.
"Manis juga, bibirnya," gumam Rangga dalam hati.
Kendaaraan masih melaju, membela keramaian lalu lintas disore hari. Senja kembali menyapa, kala waktu akan menghantarkan cuaca pada gelapnya malam, dengan ditemani kehadiran bulan, dan bintang yang siap memancarkan keindahannya dimalam hari.
Hening melanda, saat keduanya sama-sama bungkam setelah perdebatan kecil tadi.
Rangga memalingkan wajahnya, menatap pada Kiran yang hanya diam membisu, dan masih membungkamkan bibirnya, usai insiden kecupan tadi.
Terus memandang, dan memandang pada Kiran, yang masih setia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
Ada sesuatu yang hilang, itulah yang Rangga rasakan. Dulu wanita itu, selalu saja membuat Rangga muak dengan sikapnya, yang begitu mengemis cinta padanya. Bahkan Kiran, selalu menghubunginya, dan menyatakan cinta, juga menunjukkan perhatiannya.
"Dia sekarang bersikap begitu acuh padaku. Padahal dulu, dia begitu tergila-gila padaku. Bahkan sampai mengemis padaku, agar aku mencintainya, dan menangis saat aku melemparkan kontrak pernikahan padanya. Tapi kenapa sekarang, dia tidak bersikap seperti itu lagi padaku?" gumam Rangga dalam hati. Tapi sedetik kemudian, pria itu langsung berusaha membuang jauh, hal yang mengusik pikirannya itu. "Kenapa aku jadi memikirkannya? Bukannya bagus? Kalau dia tidak tergila-gila padaku lagi, jadi saat kami bercerai, aku tidak perlu menghadapi tangisannya. Tapi kenapa itu membuatku tidak suka?" gerutu-nya dalam hati, yang terlihat resah dengan sikap Kiran yang acuh.
"UHUUK....UHUUk!" Batuk pura-pura Rangga, yang berhasil membuat Kiran terjaga dari dunianya, dan sekilas melemparkan ekor matanya pada Rangga, yang tengah menatap padanya.
__ADS_1
"Aku sudah membelikan gaun, dan apa saja yang akan kau pakai. Malam ini, kita berdua akan pergi ke pesta salah satu rekan kerja Papaku."
Pandangan yang tadi-nya tidak sudi Kiran tolehkan pada Rangga, kini seketika berpaling setelah dia mendengar apa yang baru saja Rangga tuturkan padanya.
"Menemani Mas ke pesta?" tanya Kiran memastikan.
"Yaa!" jawabnya tegas.
"Aku tidak mau!"
"Mau tidak mau, kamu harus mau!" hardik Rangga, dengan menekan kata-katanya.
"Kamu egois!"
"Dan kamu sangat mencintai, pria egois ini. Benar bukan?!" seru Rangga dengan lemparan senyuman kecil.
"Suatu saat cinta itu, aku pastikan memudar, kalau aku bisa membuat hati ini, terisi oleh yang lain. Dan aku sedang berusaha perlahan, menghapus nama seorang Rangga dalam hatiku. Awalnya itu sakit, tapi perlahan tulisan itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Karena buat apa aku melayangkan sebuah tepukan, kalau nyata-nya tepukan itu tak bersambut! Dan hanya akan terus menghadirkan luka, yang tak berkesudahan. "
Senyuman penuh kemenangan memudar seketika di wajah Rangga, mendengar kata-kata yang baru saja ucapkan padanya. Dan ntah kenapa? Ada rasa tidak suka dalam diri pria itu, mendengar kalau Kiran akan berhenti mencintainya. Dia mau Kiran selalu mencintainya, dan jangan pernah berhenti.
Hanya menahan sesak, dan membungkam, membiarkan keheningan kembali mengusai dengan mobil yang masih melaju.
****
Awan biru yang tadi membentang di atas sana, kini tak nampak lagi, saat gelap sudah menyelimuti bumi, dengan hadirnya kembali jutaan bintang yang bertebaran mengelilingi bulan, yang tengah memancarkan cahayanya.
Gelisah, dan juga kesal.
Sudah hampir satu jam Rangga menghabiskan waktunya untuk menunggu, tapi wanita itu belum juga menampilkan batang hidungnya.
"Ijah! Di mana Kiran?! Kenapa dia belum turun juga?" Rangga segera melontarkan pertanyaan pada salah satu pelayan Rumahnya, begitu dia melihat keberadaan wanita paruh baya itu, yang baru saja memijakkan dua kakinya pada lantai bawa.
Mulut yang sedikit membuka, guna menjawab apa yang Tuan-nya tanyakan, tak jadi bersuara saat Kiran menjawab lebih cepat.
"Aku di sini SUAMIKU! Jadi kau tidak perlu marah-marah!" Kiran menampilkan senyuman mencemoohnya pada Rangga, dengan sengaja menekan kata SUAMIKu, saat menjawab pertanyaan Rangga pada Bibi Ijah.
__ADS_1