Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
HAMIL


__ADS_3

Awan hitam semakin terlihat jelas di atas sana, kala gelap kian merangkak naik, membawa waktu menuju penghujung tengah malam.


Sepasang mata elangnya tak sanggup Rangga pejamkan. Kerinduan yang menggerogoti diri pria itu, membuat dia tidak dapat tidur diwaktu yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Temaram suasana, dan juga sepi yang mengusai rumahnya, kian menyiksa diri itu, karena kerinduan. Dua kaki itu melangkah pelan, membawa dirinya menuju pada lantai dua.


Menjangkau gagang pintu, dan membukanya.


Melangkah masuk ke dalam kamar, dengan mengedarkan pandangan-menyapu bersih, setiap sudut ruangan kamar itu. Tatapan mata itu berhenti pada sebuah ranjang king size, yang selama ini Kiran tempati. Bayangan masa-masa indah kembali melintas dalam pikirannya, hingga berhasil menyiksanya saat rasa itu tak sanggup dia salurkan, dan memutuskan untuk menghubungi sang istri, walaupun dia hanya bisa melihat wajah, tanpa harus bisa menyentuhnya. Menelusupkan jemarinya ke dalam saku celana, guna menjangkau benda pipih itu. Beberapa kali dia mencoba untuk menghubingi Kiran, namun pria itu harus menelan pil pahit, karena ternyata nomornya sudah tidak aktif lagi.


"Aku sudah menduga, ini pasti akan terjadi. Papanya benar-benar ingin memisahkan aku, dan Kiran," gumamnya.


****


Awan biru kembali menampakkan keindahannya di atas sana, saat mentari sudah bersinar terang di atas sana.


Suasana hening menyelimuti pagi ini, dengan hanya terdengar suara bunyi sendok, dan garpu yang saling menyahut. Mama Rati, dan Adisty sekilas saling melemparkan pandangan, menatap pada Papa Andi, yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.


Lirikan mata pasangan Ibu-dan anak itu, seolah-olah meminta agar salah satu dari mereka, untuk berbicara dengan Papa Andi, yang sedari tadi mengacuhkan keberadaan keduanya.


"UHUUK....UHUUk..." Batuk pura-pura Adisty, yang sengaja mengalihkan perhatian Papa Andi. Dan ternyata itu sama sekali tidak berhasil.


Mendesahkan napasnya yang panjang, dan wanita berambut panjang itu, akhirnya memberanikan diri, untuk bersuara pada Papa Andi.


"Papa..." panggilnya dengan nada suara yang pelan.


"Ada apa?" Meletakkan sendok, dan garpu, dan menjangakau gelas yang berada di depannya, dan meminum hingga tandas.


"Mau sampai kapan Papa membiarkan Kiran tinggal di rumah ini? Karena semua orang tahu, kalau Kiran itu sudah bersuami. Walaupun, hanya menikah kontrak!" Dipenghujung kalimatnya Adisty memelankan suaranya, dan juga tersenyum mencemooh.


"Iya Paa. Jauh lebih baik, kalau Kiran dikirim saja ke luar negeri, bersama adik dari Ibunya."


"Aku juga sudah memikirkan hal itu, aku akan mengirimkan Kiran ke luar negeri, tapi setelah salah satu mobilku aku jual, dan meminjam uang pada sahabatku, untuk membeli ticket pesawat buat dia ke Inggris, dan juga bekal dia di sana nantinya."


Kaget menyelimuti wajah Mama Rati, dan juga Adisty begitu mendengar apa yang pria lansia itu katakan. "Jangan bilang, kalau Papa mau menjual mobil yang biasa aku pakai. Kalau Papa menjual itu, terus akunya pakai apa?"


"Makanya kamu itu kerja Adisty.. Sudah selesai kuliah bukannya kerja, malah keluyuaran sana sini!" ujar Papa Andi, dengan nada suara yang terdengar kesal.

__ADS_1


"Bukannya itu semua gara-gara anak Papa itu! Coba dia tidak menerima tawaran Rangga, yang mengajaknya menikah kontrak, pasti semua tidak akan seperti ini! Mungkin sekarang, aku sudah menjadi Nyonya Wijaya, dan hidup bahagia bersama Rangga."


"Sudalah kamu hanya membuat Papa pusing saja! Lagi pula, selama ini Kiran tak terlalu banyak menuntut!"


"Tapi Paa..Kasian Adisty, masa Papa tega ke mana-mana suruh dia naik ojek atau taksi?"


"Memangnya kenapa? Kiran saja bisa. Kenapa dia tidak? Lagi pula, aku baru akan mulai bekerja saat Kiran aku kirim ke Inggris."


Raut wajah Adisty nampak begitu memerah, setelah mendengar penuturan Papa tirinya. Wanita berambut hitam itu, nampak sangat tidak terima dengan apa yang Papa Andi rencanakan. Tak bisa menahan kesal,yang semakin membuncah dalam dirinya, wanita muda itu pun memutuskan untuk bangkit.


"Adisty....Adisty...." panggil Mama Rati pada anak perempuannya, namun jtak dindahkan oleh gadis muda itu.


Mama Rati mendesahkan napasnya yang panjang, berusaha menahan rasa kesalnya pada Papa Andi, yang terlihat acuh dengan Adisty, yang sedang merajuk itu. Menukikan tatapan matanya pada Papa Andi, malah diabaikan oleh pria lansia itu.


"Ini semua karena kamu terlalu memanjakan putrimu. Sudah selesai kuliah bukannya cari kerja, tapi malah senang-senang. Jadi kamu jangan pusing, kalau dia bertingkah seperti itu!" ujar Papa Andi, dengan berlalu begitu saja.


"Kenapa jad aku yang disalahin?!" sungut Mama Rati. Hanyut dalam pikirannya, hingga nada pendek yang menyapa, berhasil mengalihkan pikiran wanita lansia itu.


(Kapan kamu memperkenalkan Adisty padaku? Dan mau sampai kapan, kamu menutupi kalau aku ini, adalah Papanya?)


Mama Rati mendesahkan napasnya yang panjang, saat membaca pesan, yang ternyata dikirim oleh Jack, kekasih gelapnya itu.


****


"Kenapa Bibi Surti lama sekali?" gumam Kiran, sembari menautkan jari-jari lentiknya, menyalurkan rasa cemas, yang membelenggunya.


Menunggu...Dan menunggu..Akhiya terdengar suara gedoran pintu, dan juga suara wanita lansia itu, yang menyeruhkan namanya.


"Nona Kiran...Nona Kiran..."


Tanpa menjawab seruan pelayan rumah itu, Kiran beranjak dari duduknya, dan membuka pintu kamar.


Menyisipkan tubuhnya ke dalam kamar itu, dan menyerahkan sebuah kantong plastik kecil, berwarna putih.


"Ini Nona..." ujarnya.


Segera menjangkau benda pipih itu, dan berlalu ke dalam kamar mandi. Beberapa menit berlalu, akhirnya Kiran pun ke luar.

__ADS_1


"Bagaimana Non?" tanya wanita lansia itu, dengan raut wajah penasarannya, saat Kiran suda ke luar dari dalam kamar mandi.


"Saat aku mencelupnya, aku langsung ke sini. Kita lihat sama-sama yaa, Bi?"


"Baik Nona.."


Beberapa menit terlewati, akhirnya kedua wanita beda usia itu melangkah beriringan ke dalam kamar mandi.


"Ayo Non! Diangkat, biar Nona tahu hasilnya,"


"Kok aku jadi deg-degan ya Bi! Bagaimana kalau aku hamil? Pasti Papa akan sangat marah padaku."


"Bukannya Nona punya suami?"


"Tapi Bibi kan tahu sendiri, pernikahan aku dan Mas Rangga seperti apa?"


"Sudahlah Non.. Nanti baru kita pikirkan hal itu. Yang jelas, cepat ambil alatnya!"


"Baiklah."


Gugup, dan sedikit takut. Ntah rasa apa ini? Karena dia pun sendiri, sama sekali belum pernah merasakannya sama. Saat benda pipih itu sudah Kiran jangkau dalam wajah itu, dua matanya tetap dia pejamkan.


Hingga hasilnya, terlihat oleh Bibi Surti.


Surti seketika berhambur memeluk Nonanya, saat mendapati garis dua, pada alat tes kehamilannya. Hingga tanpa dia sadari air mata, sudah menitik membasahi pipinya.


"Ya Allah Nona...Sebentar lagi Nona bakalan jadi Ibu, selamat yaa..."


Kiran membuka matanya setelah mendengar kalimat bahagia, dari bibir pembantu rumahnya itu. Dan benar saja, dia mendapati dua gari merah, yang menandakan dirinya tengah berbadan dua saat ini. Tubuhnya meremang, seolah hal itu membuat dia seperti kehilangan kesadaran. Wanita itu sama sekali tidak menyangkah gara-gara meminjam uang pada Rangga, sekarang dia mengandung anak pria itu.


"Nona..Nona kenapa?" tanya Bibi Surti, saat mendapati Kiran yang nampak terlihat seperti orang bodoh.


"Aku yakin, Papa pasti akan marah sangat besar padaku. Aku hanya menikah kontrak dengan Rangga, sekarang malah aku mengandung anaknya. Aku jadi bingung Bi..Menghadapi Papa nanti," aduh Kiran dengan wajahnya yang resah.


"Nona harus memberitahukan hal ini, pada Tuan Rangga."


"Bagaimana aku bisa memberitahunya? Hpku sudah Papa sita, dan juga, dia akan mengirimkanku ke Inggris."

__ADS_1


"Tapi ingat! Jangan pernah berpikir untuk menggugurkan anak ini!" ujar Bibi Surti, dengan menekan kata-katanya.


"Aku tidak sejahat itu, Bibi! Dia darah dagingku, dan aku akan membesarkannya!"


__ADS_2