
Udara sejuk kembali menyapa pada semesta alam, dengan awan biru yang kembali membentang di atas sana, kala mentari pagi kembali bersinar terang, dengan hadirnya hari yang baru.
Duduk seorangdiri disebuah restorant, dengan tatapan mata yang dia lemparkan pada pemadangan luar restorant, yang ramai dilalui kendaraan.
Gelisah. Itu-lah yang terlihat jelas dari raut wajah Papa Ifan, saat lelaki tua itu, sedang menunggu sahabatnya.
"Maaf, buat-mu menunggu." Tiba-tiba saja suara bariton menyapa pada pria lansia itu, hingga tatapan mata menembus dinding kaca, seketika teralihkan pada asal suara.
"Andi!" gumam Papa Ifan, saat mendapati keberadaan sahabatnya, yang sekaligus adalah besannya-itu.
Papa Andi segera melabuhhkan tubuhnya disalah satu kursi, tepat berhadapan dengan Papa Ifan, hingga dua tubuh itu tepat saling berhadapan, namun ada rasa tidak enak dalam diri keduanya, mengingat prahara yang tengah menimpah rumah tangga, anak mereka.
"Ada apa kau mengajakku bertemu?" tanya Papa Andi, tanpa basa-basi, yang juga membela keheningan antara keduanya.
Papa Ifan mendesahkan napasnya yang dalam, sebelum mengutarakan tujuannya, untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
"Aku minta maaf, atas perbuatan putraku Rangga, yang sudah memanfaatkan putri-mu Kiran, ujarnya parau, sebab dirinya sangat menyesali dengan apa yang sudah dilakukan anak laki-lakinya itu.
Papa Andi mendesahkan napasnya yang dalam-saat sedikit sesak menghimpit dadanya, setelah mendengar permintaan maaf, dari sahabat baiknya itu.
Setelah sedikit lama membungkam-menghempaskan rasa itu, akhirnya laki-laki tua itu, berbicara.
"Jujur, aku sangat kecewa saat mengetahui kalau putramu hanya memanfaatkan putriku, agar terhindar dari perjodohan itu. Dan..." Papa Andi pun masih membungkam beberapa detik, sebelum melanjutkn lagi ucapan-nya.
"Katakan. Hal apa, yang membuat kau ingin bertemu denganku? Sebab kalau hanya untuk minta maaf, aku sama sekali tidak marah padamu, sebab apa yang terjadi aku tidak mau melibatkan persahabatan kita."
"Terima kasih, karena kau sudah sangat mengerti, Andi! Dan aku ke sini, sebenarnya ingin membicarakan perihal masalah anak kita. Mungkin awal-nya, Rangga hanya ingin memanfaatkan putrimu- karena saat itu dia benar-benar hanya mencintai Rani, mendiang istrinya. Tapi setelah dengan apa yang terjad dalam rumah tangga mereka, aku sangat yakin kalau purtraku, telah jatuh cinta pada putrimu. Jadi aku mohon....Aku mohon, tolong terimalah kembali putraku, sebagai menantumu. Karena aku sangat yakin, kalau putraku pasti tidak akan menyakiti putrimu lagi, dan setidaknya pikirkan-lah, tentang janin yang tengah dikandung Kiran."
Papa Andi mendesahkan napasnya yang dalam, setelah mendengar permintaan, yang disampaikan oleh sahabatnya-Papa Ifan. Sedikit lama pria tua itu membungkam, akhirnya dia kembali bersuara. "Maaf, aku tetap pada pendirianku. Kalau putramu benar-benar mencintai Kiran-putriku, pasti dia akan tetap berjuang agar bisa bersama anakku. Dan maaf, kalau jawabanku ini mengecewakanmu," ujar Papa Andi yang merasa tidak enak hati, pada sahabatnya itu. Tapi lelaki tua itu, melakukan semuanya demi melihat sejauh mana Rangga, mencintai putrinya.
****
Awan sudah kembali terlihat gelap, dengan taburan bintang, dan bulan, yang bersinar terang di atas sana. Senyum terus terukir di wajahnya, saat menata meja makan, di mana dia dan Rangga akan melewati makan malam. Satu tangkai bunga mawar merah darah simpan di dalam sebuah pot kaca, di antara tatanan menu-menu, yang sudah mememuhi meja bundar itu.
"Sudah!" Senyuman lepas terukir di wajah wanita itu, setelah dia selesai menata meja makan itu. Satu tangannya kemudia menelusup ke dalam saku dres, guna menjangkau sesuatu di sana.
Seringai jahat membentuk di wajah Della, kala memberi tatapan pada sebuah bungkusan kecil, yang tak lain adalah obat perangsang.
"Malam ini, kau akan menjadi milik-ku Rangga!"
Senyuman di wajah wanita itu luntur, saat terdengar suara bel yang menyapa apartemennya. Meyakini kalau itu Rangga, Della segera melangkah menghampiri pintu apartemen, setelah memastikan dirinya sudah terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Rangga..." Senyuman membingkai penuh di wajah Della, saat mendapati pria yang sedari tadi ditunggunya, kini sudah berada di depan apartemen.
Tubuh yang membelakangi, segera Rangga balikkan, setelah mendengar suara, yang berseru padanya. Saat tubuh itu berbalik Della nampak sangat bahagia, sebab Rangga membawa sebuah buket mawar merah, dan dia yakin kalau itu pasti untuknya.
"Apakah ini untukku?" tanya-nya malu-malu, dengan wajahnya yang merona merah.
"Kalau bukan untukmu, lalu untuk siapa lagi! Selamat ulang tahun, Della!" ujar Rangga dengan nada yang sangat romantis, sembari membungkukkan tubuhnya, saat menyodorkan bunga itu pada Della.
Mendapatkan perlakuan romantis dari Rangga, membuat Della serasa melayang-layang, karena tidak menyangkah kalau Rangga, akan bersikap seromantis ini padanya.
"Terima kasih Rangga!" Dengan langsung meraih buket bunga itu, dan menghirup wanginya yang menguar.
"Dan bolehkah aku masuk?"
Terkesiap, dan Della nampak malu-malu sebab dia terlalu terbawa dalam suasana romantis yang diciptakan Rangga, hingga lupa mempersilahkan pria itu untuk masuk.
"Ma...Maaf, aku sampai lupa. Ayo masuklah!" pinta Della, dengan langsung menepikan tubuhnya, membiarkan Rangga untuk masuk.
****
Menikmati makan malam di balkon kamar, yang dapat mempertunjukkan suasana alam yang indah, yang terlihat di malam hari. Ditambah gedung-gedung pencakar langit yang memperlihatkan lampu-lampunya, semakin menambah suasana romantis, untuk keduanya.
"Apakah kau menyukai makanan-nya?" tanya Della tiba-tiba, mendapati Rangga yang terlihat sangat menikmati sajian malam ini.
"Terima kasih, dan aku memang sengaja membuatkan khusus untukmu, dan terima kasih karena sudah memenuhi undanganku."
"Sama-sama Della," jawab Rangga dengan mengelap mulut-nya menggunakan kain lap, saat sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Tunggu, aku punya minuman dan aku yakin kau pasti suka. Aku memesannya khusus untukmu," ujar Della, dengan beranjak dari duduknya, dengan berlalu menuju dapur. Dan tentu saja apa yang dilakukan, Della sudah ada dalam pikiran Rangga. Lelaki tampan itu segera menjangkau ponsel-nya yang tersimpan dalam saku celananya, dan mengirimkan pesan pada seseorang diseberang sana.
Menuangkan WINE pada dua gelas kaca, dan tentu saja tidak lupa dia memberikan serbuk perangsang itu, ke dalam salah satu minuman. Setelah mengaduk agar warnanya tak terlihat, Della segera kembali menyambangi Rangga.
"Aku yakin, kau pasti menyukaimu. Minuman ini, aku pesan khusus untukmu Rangga!" ujar Della dengan bangganya, dan meletakkan dua gelas minuman itu, di atas meja.
"Terima kasih," jawab Rangga tersenyum, dan tentu saja hal itu membuat Della bahagia, sebab sebentar lagi pria itu, akan berada dalam genggamannya.
"Ayo di minum!" pinta Della, saat mendapati Rangga yang masih mendiamkan WINE itu.
Baru saja Rangga akan mendekatkan bibirnya ke tepian gelas, tiba-tiba saja nada panjang menyapa gawai milik Della. Menjangkau benda pipih yang dia simpan di atas meja, dan mendapati nomor baru di sana pada layar ponselnya.
"Maaf, aku terima telepon dulu," pamit Della dengan langsung beranjak dari duduknya, berlalu kembali ke dalam apartemen, guna menjawab panggilan telepone itu. Dan di saat pergi-nya Della dari balkon itu, Rangga segera memanfaatkan kesempatan, untuk menukar minuman mereka.
__ADS_1
"Hah..Doni, kau menelpone diwaktu yang tepat," gumam Rangga,sembari mendesahkan napas leganya, sebab hampir saja dia menyicip sedikit minuman yang Rangga yakini, sudah tercampur dengan sesuatu di dalam sana.
Beberapa menit berlalu, Della kembali menyambanginya dengan wajah sedikit tertekuk.
"Siapa yang menelponemu?" tanya Rangga dengan wajah pura-pura bodoh-nya, sebab pria itu sudah tahu kalau yang baru saja menelpone di ponsel milik Della, adalah Doni.
"Ntahlah...Nomor baru. Saat aku menjawab, mereka bilang kalau mau menawarkan produk baru mereka."
"Ohh..."
"Silahkan di minum Rangga!" ujar Della tiba-tiba, kala dia mendapati minumansahabatnya, masih utuh.
"Tentu," jawabnya tersenyum, dan langsung meminum minuman itu, hingga tak ada yang tersisa. Dan tentu saja apa yang dilakukan Rangga, membuat Della begitu bahagia, karena sebentar lagi pria itu, akan menjadi miliknya.
Della pun mulai melakukan hal yang sama, dia pun meminum minuman itu, hingga tandas. Namun beberapa menit kemudian, dia merasakan tubuhnya terasa aneh. Dia sangat bergairah, dan merasa panas, padahal saat ini mereka tengah berada di balkon.
"Ada apa denganku?" rintihnya, yang mulai terlihat gelisah.
Serigai jahat membentuk di wajah Rangga, sembari memberi tatapan mencemoohnya pada Della, dan dia yakin obat perangsang itu mulai bekerja.
"Aku menukar minuman kita."
"Apa??" sahut Della yang sangat begitu terkejut, dengan apa yang baru saja Rangga katakan.
"Apakah kau pikir aku ini, bodoh?! Hari ini, bukan hari ulang tahunmu, ulang tahunmu masih beberapa bulan lagi. Kau memakai cara bodoh, untuk menjebaku Della!" hardik Rangga, dengan amarah yang sudah menyeruak di wajahnya.
"Kau laki-laki brengsek, Rangga!" umpat Della, yang nampak terlihat kesal.
Rangga tersenyum, dengan tatapan santai-nya pada Dell, a yang terlihat semakin gelisah, bahkan wanita itu mulai sendiri menggerayangi tubuhnya sendiri.
"Aku tidak menyangkah, kalau obat yang kau beri dosisnya sangat tinggi. Dan aku yakin, kalau hanya bisa diobati kalau keinginanmu untuk bercinta dapat terpenuhi. Dan aku akan mewujudkannya."
"Apa maksudmu?!"
Baru saja Rangga berbicara, tiba-tiba saja Doni muncul dengan seorang pria, yang sudah disewa Rangga.
"Jack Malam ini, wanita ini adalah milikmu."
"Kau brengsek Rangga!" maki Della, namun wanita itu nampak semakin gelisah.
"Aku tidak perduli!" jawab Rangga enteng, dan tatapan matanya beralih pada Doni. "Ayo Doni, kita pergi dari sini! Dan Jack, kau bisa menikmatinya, dan aku pastikan, wajahmu tidak akan ter-ekspos!" ujar Rangga, dengan langsung berlalu pergi bersama Doni, dari apartemen itu.
__ADS_1
"Baik Tuan.."
Della terlihat gelisah. pandangannya kian kabur, akibat gairah yang tak terbendung lagi. Hingga saat Jack mendekat, wanita itu bukan menolak, malah menyambutnya, dan langsung mencium rakus bibir pria itu, dan tentu saja keduanya berakhir di atas ranjang.