
Satu persatu anak tangga Rangga, dan Kiran lewati yang akan membawa keduanya, pada lantai dua. Saat dua pasang kaki sudah meijak di sana, wanita bermanik hitam itu, segera mengambil langkah panjangnya, menuju satu buah kamar yang berada sedikit jauh dari tangga
"Ayo Mas.." ajak Kiran, saat Rangga melangkahkan dua kakinya dengan pelan, sembari mengedarkan pandangannya kesegalah arah, menelusuri setiap sudut rumahnya.
"Rumahku, tidak semewah rumahmu Mas.." ujar Kiran kemudian, saat mendapati dua mata Rangga, menelusuri setiap sudut rumahnya.
Rangga tak menyambut ucapan istrinya , saat dua matanya mendapati sebuah figura besar, yang sangat menarik perhatiannya.
"Siapa ini?" tanya Rangga tiba-tiba, dengan ayunan langkah kaki, yang sudah dia hentikan.
Kiran yang berada di depan Rangga, seketika menjeda langkahnya, saat mendengar pertanyaan dari pria itu.
Segera membalikkan tubuh itu, menghadap pada Rangga.
"Ohh..Itu Mamaku Mas.."
"Mamamu?"
"Iya."
Tidak menyambut lagi ucapan Kiran. Rangga justru setia melemparkan dua matanya, pada figura ibu kandung dari Kiran itu.
"Ayo Mas! Mau sampai kapan, kau melihat foto itu?" tanya Kiran, sembari mendesahkan napasnya.
"Maaf," jawab Rangga, dengan kembali melangkahkan dua kakinya, beriringan dengan Kiran.
Saat ini Kiran, dan Rangga sudah berada di depan kamar. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu, langsung melabuhkan ketukan beberapa kali, pada badan pintu-hingga terdengar nada suara dengan setengah teriakan.
"Masuk..."
Gagang pintu berwarna kuning keemasan, Kiran gapai-dan mematakan.
" Nona Kiran..." sapa salah satu wanita lansia, saat mendapati kedatangan putri Majikannya.
Mendengar Pelayan rumahnya menyebut nama Kiran, Papa Andi yang tengah berbaring, segera bangkit dari tidurnya, setelah di bantu Bibi Surti. Menyandarkan tubuhnya pada sebuah bantal, yang disandarkan pada kepala ranjang.
"Kiran...Kamu sudah datang Nak? Di mana Rang.."
"Selamat pagi Pa..Pa." Terdengar kaku, saat Rangga menyapa pada Ayah Mertuanya.
Senyuman mengukir di wajah tua Papa Andi, begitu pria tua itu, mendapati kedatangan sang menantu.
"Nak Rangga! Papa, mengirah kau tidak akan datang!"
Senyum memaksa, saat akan menjawab apa yang pria itu serukan untuknya.
"Maaf, aku baru menyempatkan diri untuk datang menjenguk Papa."
"Tidak apa-apa Nak! Papa mengerti kau sibuk. Dan bagaimana kabar Papamu? Sebab sudah lama, kami tidak bertemu."
"Baik. Tapi akhir-ahir ini karena kesibukanku, aku juga jarang bertemu dengannya."
Kiran yang mendapati Rangga masih setia berdiri, langsung menegur Papa Andi-saat pria tua itu, tak kunjung menyudahi obrolan, dan mempersilahkan suaminya untuk duduk.
" Papa mau sampai kapan, Papa mengajak Mas Rangga bicara? Dan tidak mempersilahkan dia untuk duduk."
__ADS_1
Papa Andi melepaskan sedikit tawanya, setelah mendengar teguran putri semata wayangnya itu.
"Maaf Nak Rangga, dan duduklah."
"Iya." Jawaban singkat, dengan langsung melabuhkan tubuhnya, pada salah satu kursi tunggal.
"Mas..Kau mau minum apa?"
"Air putih saja."
"Bibi ambilkan air putih, untuk Mas Rangga!"
"Baik Nona.."
Setelah kepergian Bibi Surti dalam kamar itu, suasana hening kembali melanda kamar berukuran sedang itu. Rangga mengedarkan pandangannya kesegalah arah, dan berhenti pada Kiran yang sedang merapikan obat-obatan ayahnya, dan juga sisa makanan, yang sudah disantap oleh Papa Andi. Terus mengarahkan dua matanya pada Kiran, hingga suara Papa Andi membela lamunannya.
"Nak Rangga.."
"Ia Paa.."
"Terima kasih," jawabnya.
Kening mengkerut, dengan sorot mata jauh lebih tajam setelah mendengar apa yang pria lima tujuh tahun itu katakan.
"Terima kasih?"
"Iya, terima kasih. Terima kasih karena sudah memberikan Kiran uang, untuk mengobati penyakit Papa, dan juga membiayai kehidupan sehari-hari di sini. Karena Papa tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, kalau bukan pada Nak Rangga. Karena memang untuk saat ini, kondisi Papa sangat tidak memungkinkan untuk berkerja."
Ucapan panjang lebar Papa Andi, berhasil mengusik keduanya. Raut wajah Kiran, dan Rangga seketika berubah pias, sebab nyatanya uang yang diberikan Rangga pada Kiran, bukan secara cuma-cuma.
Sesak tiba-tiba hadir di dalam dada wanita muda itu, hingga yang hanya bisa Kiran lakukan, adalah mengucapkan kata MAAF dalam hatinya, karena sudah berbohong pada Ayah kandungnya.
"Terima kasih Nak," jawabnya tersenyum.
Kiran sudah melabuhkan tubuhnya di salah satu kursi, yang sedikit jauh berada dari Rangga.
Wanita berambut panjang itu, hanya menjadi penonton setia bagi Ayahnya, dan juga Rangga yang sedari tadi terus berbincang, dan sesekali keduanya tertawa lepas, saat membicarakan masa muda Papa Ifan-Ayah kandung Rangga, dan juga Papa Andi. Dan hari ini Kiran baru melihat sisi lain dari seorang Rangga. Laki-laki yang selalu menunjukkan sikap dingin, dan juga arogantnya, ternyata bisa juga bersikap hangat, dan juga tertawa saat mendengar hal yang lucu.
"Hari ini aku melihat sisi lain darimu, seandainya saja pernikahan ini nyata, dan tak terhalang sebuah perjanjian, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini," bathin Kiran, yang sangat menyayangkan pernikahan dia, dan Rangga sebenarnya.
Setelah beberapa menit keduanya melepas tawa, kini raut wajah Papa Andi sudah berubah serius.
"Nak Rangga..." panggilnya pelan.
"Iya Paa.."
"Papa minta jaga putriku, dan jangan pernah sakiti dia."
Kiran seketika mengangkat wajahnya, dengan raut wajah seketika berubah serius, setelah mendengar kata-kata yang terucap dari bibirnya Papa Andi.
"Papa.." lirihnya.
"Iya Kiran....Papa yakin, kalau Nak Rangga adalah jodoh, yang dikirim Tuhan untukmu. Papa yakin, kalau dia adalah pria yang baik. Jadi jika suatu saat Tuhan memanggil Papa, Papa akan pergi dengan tenang."
"Papa...Apa yang Papa bicarakan? Kenapa Papa bicara seperti itu?" Air mata sudah luruh membasahi kedua pipi Kiran, mendengar kata-kata dari Papa Andi, yang sangat menyentuh di hatinya.
__ADS_1
"Suatu saat itu pasti akan terjadi Kiran, jadi kalau Tuhan memanggil Papa, Papa tidak perlu merasa khawatir lagi, kalau harus meninggalkanmu."
Kiran sudah terisak di sana. Hatinya bagai sebuah gelas kaca, yang dijatuhkan dengan sangat kuat, hingga begitu hancur. Merasa bersalah, dan berdosa pada ayahnya, karena nyatanya yang mereka lakukan ini, hanya sebuah sandiwara.
"Maafkan aku Paa..Maafkan aku. Seandainya saja kau tahu pernikahan kami yang sebenarnya, aku tahu kau pasti akan begitu kecewa padaku," gumam Kiran dalam hati.
Rangga mendesahkan napasnya yang panjang. Sesak seketika mengepung dada pria berusia tiga puluh tahun itu, setelah mendengar amanah dari sahabat Ayahnya itu. Sudut ekor matanya dia tatapkan pada Kiran, yang hanya menunduk di sana.
"Aku pasti akan menjaga putrimu Paa.."
****
TEMPAT KERJA
Sayu raut wajahnya, dan terlihat tidak bersemangat- hingga saat melakukan tanggung jawabnya sebagai salah satu karyawati di toko bunga XX, Kiran nampak tidak fokus-karena wanita bermanik hitam itu, lebih banyak melamun. Masih terekam dengan jelas dalam ingatannya, amanah yang di berikan Ayahnya pada Rangga, dan itu membuat Kiran merasa begitu berdosa, sebab nyatanya semua itu hanya sebuah kebohongan.
"Seandainya saja Papa tahu, pernikahan aku dan Mas Rangga yang sebenarnya, aku yakin Papa pasti akan sangat sedih. Karena nyatanya sebentar lagi, rumah tangga anakmu ini akan hancur," gumam Kiran, tersenyum miris.
"Kiran..." Dunia lamunan Kiran membela, saat ada seseorang menyeruhkan namanya.
"Ada apa Sisi?"
"Di depan ada yang mencarimu!"
"Benarkah?"
"Iya."
"Siapa?" tanya Kiran penasaran.
"Aku tidak tahu siapa, yang jelas dia seorang ibu-ibu."
Mendengar kalau yang mencarinya seorang ibu-ibu, membuat Kiran seketika dilanda rasa penasaran yang teramat sangat.
"Sisi..Aku minta tolong lanjutkan menata bunganya. Aku akan menemui orang itu," pinta Kiran, dengan mengambil langkah lebarnya, menuju arah pintu.
Saat sudah berada di depan toko bunga, Kiran sangat dibuat terkejut, dengan apa yang dia lihat. Wanita berusia dua puluh enam tanun itu, mendapati keberadaan Ibu Mertuanya.
"Mama..." gumamnya, dengan tatapan tak percaya.
Senyuman mencemooh, dengan memberi tatapan tidak sukanya pada Kiran, yang terus melemparkan pandangan padanya. Wanita lansia itu, segera mengambil langkahnya, yang membawa wanita tubuhnya, semakin mendekat dengan wanita, yamg berstatus istri anaknya.
"Ada apa Mama..."
Rasa penasarannya akan kedatangan sang Ibu Mertua, membuat Kiran langsung melayangkan pertanyaan, pada wanita berusia lima puluh tujuh tahun itu. Tapi pertanyaan itu tak mampu dia selesaikan, karena Kiran sudah terlebih dahulu, mendapati sebuah tamparan keras, dari Ibu kandung Rangga itu.
PLAAK!" Sebuah tamparan yang sangat keras, hingga membuat sudut bibir Kiran berdarah.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya?! Hingga sekarang dia begitu membantah omongan saya. Dan kamu pikir saya menerima kehadiran kamu, sebagai menantu saya! Tidak akan pernah, dan sampai kapanpun, tidak akan pernah! Saya akan menjodohkan Rangga-putra saya, dengan wanita yang pantas untuknya. Dan saya juga tidak berniat lagi, dengan Kakak kamu Adisty itu! Saya tahu, kalian hanya mau mengincar harta anak saya, sebab sekarang Papa kamu sedang sakit, dan tidak sanggup membiayai hidup mereka. Dan Ibu tiri, juga saudara tiri kamu itu, hanya berfoya-foya. Jadi saya yakin, kalau saat ini putra saya yang membiayai hidup keluarga kamu!" sengit Mama Dilla.
Air mata nyaris saja tumpah, dari kedua bola mata Kiran-tapi karena tak ingin terlihat lemah, wanita itu berusaha membendungnya.
"Saya menghargai anda, sebagai mertua saya. Kalau memang Nyonya tidak menyetujui saya sebagai menantu Nyonya, silahkan! Saya tidak perduli! Kalau anda ingin meminta Mas Rangga menceraikan saya, dan menjodohkannya dengan wanita lain, saya juga mempersilahkannya. Tapi tanyakan dulu pada anak anda, apakah dia mau?"
"Kau!!" Dengan ingin kembali menampar Kiran, tapi langsung dicekal oleh wanita muda itu
__ADS_1
.
"Ingat Mama Mertuaku yang terhormat! Saya bukan Dokter Rani, yang bisa anda injak seenaknya." Dengan langsung menghempaskan kuat tangan Mama Dilla, yang membuat wanita lansia itu meringis kesakitan.