
Bunyi hentakan kaki saling menyahut-membentur anak tangga, saat sepasang Kakak beradik itu, menuruni satu per-satu anak tangga, yang akan membawa mereka, pada lantai dasar. Wajah kedua wanita itu terus mengukir senyuman, dengan berbincang yang menemani langkah kecil mereka.
Sudah memijak di lantai dasar, Disty dan Rangga-segera mengambil langkah lebarnya, menuju ruang makan. Saat tiba di ruang makan, mereka mendapati Bibi Surti, yang membawa dua mangkok, di mana berisi ayam goreng, dan juga ikan panggang.
"Bibi..." panggil Kiran pada Bibi Surti, yang membuat langkah kaki wanita lansia itu, dia hentikan seketika.
"Ada apa, Nona?" tanya Bibi Surti, seraya membalikkan kembali tubuhnya.
"Bawa kembali makanannya, aku dan Kak Adisty sudah akan makan malam."
Mendapati kebersamaan Kiran, dan juga Adisty yang jarang sekali terlihat, sedikit membuat wanita tua itu kaget. Ada juga terselip rasa bahagia, jika keduanya sudah saling menerima.
"Bibi...Di mana Papa?" tanya Kiran, yang membela lamunan Bibi Surti.
"Tuan, sedang berada di kamar, Nona!"
Kiran segera beranjak dari duduknya, bermaksud untuk memanggil Ayahnya, agar dapat makan bersama. Dan baru saja dua kaki itu akan dia langkahkan, Bibi Surti sudah bersuara, yang membuat langkah kaki Kiran, kembali dia gagalkan.
"Saya sudah memanggil Tuan, Nona...Tapi Beliau bilang, dia tidak berselerah untuk makan."
"Papa, bilang begitu?" tanya Kiran, dengan tatapan penuh-nya pada Bibi Surti, setelah mendengar ucapan yang ke luar dari bibir wanita lansia itu.
"Iya Nona. Tuan bilang seperti itu."
Kiran kembali melabuhkan tubuhnya, begitu pun juga dengan Bibi Surti yang sudah melangkah pergi, dari ruang makan itu.
Kiran kembali melanjutkan kegiatan makannya, namun gerakan tangan itu berhenti, saat dia mendapati raut wajah Kakak-nya yang sudah berubah murung.
Menyentuh punggung tangan wanita itu, hingga wajah sang pemilik langsung teralihkan.
"Apakah Papa tidak mau makan malam, karena ada aku ada di sini?" tanya Disty. Raut wajah wanita itu nampak sudah terlihat tidak bersemangat, dan menyimpan kesedihan yang mendalam di dalam sana.
Senyuman kecil, yang melukiskan kehangatan.
"Siapa bilang? Mungkin karena rasa kehilangan yang teramat sangat, yang membuat Papa tidak berselarah untuk makan."
"Apakah kau yakin?"
"Iya. Aku sangat yakin!" jawab Kiran penuh penekanan, agar sang Kakak tidak merasa terasingkan.
Kedua wanita itu kembali melanjutkan makan malam-nya, setelah terjeda dengan perbincangan tadi. Permusuhan yang terjadi antar keduanya selama ini, kini tak terlihat sama sekali-sebab hanya kehangatan yang ada.
****
__ADS_1
Awan semakin terlihat gelap, saat waktu terus melangkah yang membawa kepenghujung tengah malam, dan tentu saja semakin menambah kesunyian di alam semesta, kala satu persatu para penghuninya, sudah tenggelam dalam alam mimpi masing-masing.
Saat berada di depan kamar, Kiran tak langsung melabuhkan ketukan. Cukup lama dia berdiam di depan kamar, hingga akhirnya memberanikan diri, untuk memberikan ketukan pada badan pintu.
"Siapa?" Suara bariton, menyambut padanya.
"Ini, aku Paa...Kiran..." Dengan setengah teriakan, saat menyahuti pertanyaan Ayah-nya.
"Buka saja, pintunya tidak dikunci!"
Gagang pintu yang berwarna kuning ke-emasan itu, segera Kiran patahkan, hingga daun pintu yang tadi tertutup rapat, kini sudah terbuka lebar. Kesunyian begitu terasa di dalam, dengan pancaran cahaya yang tak terlalu terang, yang menambahkan rasa duka, yang tengah sang pemilik alami.
"Papa..." Kiran memanggil dengan nada suara yang pelan, saat mendapati sang Ayah, sedang berdiri ditepian jendela kamar, seraya melemparkan pandangan pada awan yang semakin menghitamkan wajahnya.
"Apa yang Papa, pikirkan?" tanya Kiran kemudian, yang ikut berdiri ditepian jendela, sembari tatapan matanya, menatap pada sang Ayah, yang masih melemparkan.
Mendesahkan napasnya yang dalam, dengan pandangan yang Papa Andi alihkan, pada Kiran yang menatapnya dengan lekat.
"Papa hanya masih sakit hati, dengan apa yang terjadi. Papa sama sekali tidak menyangkah, kalau Mama tiri-mu tega membohongi Papa. Kalau bukan saat itu Papa iba dengan keadaannya yang membesarkan anak seorang diri, mungkin Papa tidak menikahinya."
"Apakah Papa menyesal?" tanya Kiran, dengan kian mengintenskan tatapannya, pada guratan kekecewaan yang terlihat jelas di wajah Ayahnya.
"Ntalah! Papa hanya tidak menyangkah, kalau Mama tirimu membohongi Papa selama ini. Dan lebih parahnya, kalau selama ini, dia menjalin hubungan dengan laki-laki itu, di belakang Papa. Dan Papa merasa, kalau Papa begitu bodoh!"
"Semua-nya sudah terjadi Paa...Ambil hikmahnya saja. Dan aku juga minta, Papa tetap bersikap seperti biasa pada Kak Adisty. Bagaimana pun, dia sama sekali tidak menahu soal ini. Dan walaupun dia tahu kalau dia bukan anak kandung Papa, tapi dia hanya mengenal Papa sebagai Ayahnya."
"Terima kasih anakku, karena kau sudah menyadarkan Papa. Dan minta maaf, kalau mungkin selama ini Papa sudah banyak menyakiti hatimu."
Kiran tersenyum, dan langsung meleburkan tubuhnya dalam pelukan sang Ayah. "Sama-sama Paa..Aku sayang banget sama Papa!" ujar Kiran, dengan melingkarkan dua tangannya, memeluk erat Papa Andi.
Papa Andi membalas pelukan itu, dengan sebuah kecupan yang dia labuhkan di pucuk kepala putrinya, kala kehangatan kembali terasa pada pasagan Ayah, dan anak itu.
"Papa juga sayang padamu, Kiran!" ujar Papa Andi tersenyum.
***
Setelah berbincang dengan Ayahnya, Kiran memutuskan kembali ke kamarnya. Saat melebarkan daun pintu, wanita itu sedikit kaget saat mendapati suaminya-sudah berada di dalam kamar, dan tengah berbaring di atas ranjang-seraya memainkan gawainya.
Sekelebat Kiran segera menutup pintu kamar, takut jika saja kehadiran Rangga diketahui oleh orang rumah.
"Mas Rangga, sejak kapan Mas kemari?" tanya Kiran dengan menatap penuh sang suami, yang tengah sibuk dengan ponselnya itu.
Sedikit mencebik, dengan gawai yang dia letakkan disamping tubuhya.
__ADS_1
"Aku sudah menunggumu dari tadi. Kau dari mana saja?!" tanya Rangga, dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
"Aku dari kamar Papa," sahut Kiran, dengan melabuhkan tubuhnya ditepian ranjang.
"Dari kamar Papamu? Apakah dia akan membatalkan keberangkatan-mu ke Inggris?" tanya Rangga, yang terlihat nampak sangat antusias, saat mengetahui kalau Istri-nya baru saja kembali dari kamar Ayahnya.
"Bukan..." Sembari menggeleng pelan.
Tubuhnya terasa keluh, semangat yang tadi berkobar lenyap seketika, saat mendapati jawaban yang mengecewakan.
"Jadi Papamu, tetap apa mengirim-mu ke Inggris?!" Dengan nada yang terdengar kesal, saat dia melontarkan pertanyaan.
"Ya. Tapi Mas janji-kan, akan sesekali menengok-ku di sana?"
"Ntahlah!" jawabnya asal.
"Mas..." panggil Kiran, akibat kesal dengan jawaban suaminya.
"Iya...Iya. Aku pasti akan tetap menjengukmu Kiran!"
Kiran tersenyum lepas. Merangkak naik ke atas ranjang, dan duduk disamping suaminya.
"Tadi Mama, datang ke mari," ujar Kiran tiba-tiba, yang membuat tatapan Rangga berpaling seketika, karena kaget.
"Kau serius??" tanya-nya memastikan.
"Iya. Aku serius. Bahkan dia membawakan aku susu hamil, dan juga buah," jawab Kiran tersenyum, dan dia nampak terlihat sangat bahagia, dengan kedatangan Ibu mertuanya tadi.
"Apakah kau bahagia?"
"Tentu saja aku sangat bahagia. Karena Mama, sudah menerima kehadiranku, sebagai menantunya."
"Iya. Dan sekarang hanya tinggal, Papamu saja," sambung Rangga, yang langsung memupuskan, senyuman di wajah Kiran.
"Kau tidak akan menyerahkan ,Mas?"
Rangga merentangkan tangannya, dan merangkul pundak istrinya membawa tubuh wanita itu, ke dalam pelukannya.
"Apakah kau sangat mencintaiku, Kiran?"
Kiran mendongakkan wajahnya, menatap intens pada manik mata yang teduh itu.
"Aku sangat mencintaimu, Mas..Sangat mencintaimu. Dan aku rasa, kau sudah tahu, bagaimana perasaanku, ini."
__ADS_1
Rangga tersenyum, kecupan dia labuhkan di pucuk kepala istrinya, dan memper-eratkan pelukan itu.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap memperjuangkan cinta kita. Sampai kita berdua, dapat bersama kembali."