Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
RUANG APA ITU?


__ADS_3

Rangga membungkam bibirnya seketIka, setelah mendengar apa yang baru saja Kiran katakan. Apa yang dikatakan gadis berambut lurus itu, tak mampu membuat pria berusia tiga puluh tahun itu, berucap lagi. Karena memang kenyatannya, dia dan Kiran hanya menikah kontrak, dan Rangga memanfaatkan cinta wanita itu, untuk menghindari perjodohannya dengan saudara tiri dari Kiran, Adisty.


Diam, dalam keheningan dan sekilas tatapan mata pria itu beradu dengan Doni, yang hanya menatapnya dengan lirikan mata.


"Mas..." panggil Kiran pelan, saat sedari tadi Rangga mendiamkannya.


"Ada apa?!" Nada suaranya terdengar kasar, saat kembali melayangkan pertanyaan balik pada Kiran.


"Aku yang semestinya bertanya padamu. Mas ada membutuhkan sesuatu?! Jadi Mas memanggilku."


"Tentu saja, aku sangat membutuhkanmu. Bukankah aku begini gara-gara kau?!" Nada dengan nada yang sama, saat menjawab apa yang Kiran tanyakan.


"Mas membutuhkan apa? Sebab setelah mengurus Mas, aku harus segera berangkat bekerja."


Dua alis Rangga bertaut, dengan sorot mata jauh lebih fokus setelah wanita itu, mendengar apa yang Kiran katakan.


"Pergi bekerja?"


"Iya Mas..Bukankah kalau mengisi data, harus memakai uang? Begitu pun juga, dengan kebutuhanku yang lainnya. Jadi kalau tidak bekerja, aku harus mengambilny dari mana."


Sangat enggan mengiyakan permintaan Kiran, mengingat wanita itu pasti akan kembali bertemu dengan Rian. Cukup lama dia membungkam, dan akhirnya Rangga kembali bersuara, setelah dia menemukan sebuah ide.


"Baiklah, kau boleh bekerja, tapi dengan syarat."


Kening Kiran mengkerut, dengan sorot mata jauh lebih tajam setelah mendengar apa yang Rangga katakan, barusan.


"Syarat apa mas?"


"Bersikan kamar mandiku, pel kamar ini, dan juga kau cuci pakaianku yang ada di dalam ruang ganti itu."


Kiran nampak sangat terkejut, bahkan sangat-sangat terkejut. Bagaimana mungkin Rangga memintanya melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh para pembantu di rumah ini. Apalagi dia sudah harus berangkat bekerja.


"Mas..Apakah Mas Tidak salah memerintahku?"tanya Kiran, dengan tatapan tak percayanya.


"Salahnnya di mana?"


Mendesahkan napas tegasnya, berusaha untuk meredam emosi yang tiba-tiba hadir, untuk Rangga.


"Mas... Bisakah saat nanti aku kembali dari bekerja, baru aku melakukannya?" pinta Kiran, dengan menampilkan wajah penuh harapnya.


"Kalau begitu kau tidak usah bekerja."


"Tapi Mas..Mana mungkin aku tidak bekerja,"

__ADS_1


"Kalau begitu selesaikan tugasmu, agar kau bisa segera berangkat bekerja."


Kiran terlihat putus asa. Dua mata itu dia tatapkan tajam pada Rangga, yang mengukir senyum tanpa dosanya. Menghela napas panjang, dan akhirnya dengan pasrah gadis tu pun mengiyahkan titah dari suami kontraknya itu.


"Baiklah, dari pada aku tidak berangkat bekerja," jawab Kiran dengan memelaskan wajahnya, dan langsung berlalu.


Doni ikut memalingkan wajahnya, mengikiuti arah perginya Kiran yang sudah berlalu dari ruang ganti.


"Tuan..Apakah anda tidak keterlaluan pada Nona Kiran?"


"Keterlaluan bagaimana maksudmu?"


"Bukankah itu sebenarnya pekerjaan para Pelayan? Kenapa Nona Kiran yang harus melakukannya?


"Itu sebagai hukuman untuk dia, dengan apa yang sudah dia lakukan."


"Tuan... Kalau hati itu susah merasa nyaman, membuat satu tahun akan cepat terlewati. Satu tahun kemudian, Nona Kiran akan pergi dari hidup anda. Jadi jangan sampai anda menyesalinya, dengan menyia-nyiakan cinta yang sudah ada, namun anda tidak menyadari, apalagi sudah ada yang menanti cintanya."


"Maksudmu?"


"Mungkin saat ini anda tidak sadar, mungkin kalau dia sudah melabuhkan hatinya pada orang lain baru anda menyadarinya," jawab Doni. Pria itu langsung bangkit dari duduknya, dan berlalu pergi dari dalam kamar.


"Kau mau ke mana?" Rangga melayangkan pertanyaan, yang membuat ayunan kaki Doni dia hentikan seketika.


"Saya akan ke gudang Tuan..Untuk memeriksa beberapa barang di sana."


"Baik Tuan," jawab Doni dengan melanjutkan langkah kaki itu.


****


Tak ada senyuman sama sekali di sana, saat satu tangan Kiran yang memegang sebuah sikat, yang bermondar-mandir di dalam wastefel. Kesal, dan tak habisnya dia menggerutu pada seorang Rangga wijaya, yang sudah memperlakukan dia layaknya pembantu.


"Dasar laki-laki brengsek! Dia pikir aku pembantunya apa?! Aku yakin, dia pasti sedang mengerjaiku. Bukankah pekerjaan ini, dilakukan para pelayan?!"


"Apakah semua umpatanmu itu untukku?"


Wajah Kiran mendongak seketika. Dan gadis berusia dua puluh enam tahun itu, nampak sangat terkejut saat mendapati adanya Rangga di depan pintu kamar mandi.


"Mas Rangga..." gumam Kiran pelan.


"Apakah kau tadi sedang memaki-makiku?"


"Ha...Ha...Ha..Mas, mana mungkin saya berani memaki-maki Mas."

__ADS_1


"Kalau begitu selesaikan pekerjaanmu, agar kau bisa segera pergi bekerja," jawab Rangga, dengan melayangkan langkahnya. Tapi baru saja dua kaki itu mengambil beberepa langkah, Kiran tiba-tiba saja bersuara, yang membuat ayunan kaki pria itu langsung dia jeda.


"Mas...Apakah semalam wanita yang di pesta itu, adalah kekasihmu?"


"Wanita?"


"Itu Mas, yang semalam di pesta itu!"


"Apakah pertanyaanmu harus aku jawab?"


"Tidak! Aku hanya mau bilang, kalau kalian berdua sangat cocok." Memberi senyuman pada Rangga, dan kembali melanjutkan kegiatannya itu.


Rangga mendesahkan napasnya yang panjang. Ketenangan hatinya yang bahagia karena berhasil mengerjai Kiran, seketika terusik, setelah mendengar ucapan gadis berusia dua puluh enam tahun itu. Lama dia berdiri di depan pintu kamar mandi itu, dan akhirnya ayunan kaki itu kembali dia lanjutkan tanpa berucap lagi.


****


Kiran mengayunkan langkahnya pelan, saat membawa tumpukan pakaian kotor milik Rangga, dari dalam kamar. Sekilas tatapan mata itu dia arahkan pada Rangga, yang sedang sibuk dengan gawai miliknya.


Lirikan mata Rangga menatap pada Kiran, yang terus melemparkan pandangan padanya.


"Semakin lama kau menatapku, nanti cintamu untukku susah kau lupakan. Jadi jangan terlalu memandangku."


Kiran terkesiap, dan langsung kembali melanjutkan langkah kaki itu, tanpa mengatakan satu kata pun pada Rangga.


Menuruni satu persatu anak tangga, yang akan menghantarka wanita itu, pada lantai bawa.


******* napa itu terdengar sangat beray, kala memory itu kembali mengingat, cintanya pada Rangga yang bertepuk sebelah tangan.


"Hati Mas Rangga ternyata sangat sulit diluluhkan, membuat aku semakin memantapkan hati, untuk berpaling darinya. Dan semoga saja, hati ini bisa aku buka untuk pria lain."


Sangat banyak ruangan di rumah itu, itulah gambaran nyata dari rumah seorang Rangga Wijaya. Selama tinggal di rumah pengusaha kaya itu, Kiran sangat jarang sekali menghabiskan waktunya, untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan di sekitar rumah Rangga, yang berada dekat dengan sebuah hutan kecil.


Dengan tumpukan pakaian yang berada di dalam genggaman, Kiran mengayunkan langkah kakinya panjang, menuju ruangan cuci yang terpisah dari rumah utama.


Satu persatu pakaian Ranga, Kiran masukkkan ke dalam mesin cuci.


Dan kini tangannya akan mengambil pakaian Rangga yang tinggal satu, yaitu ****** *****. Melihat ukiran ****** ***** milik Rangga yang sedikit besar, membuat pikiran gadis bermanik hitam itu, menjadi liar.


"****** ***** milik Mas Rangga, lumayan besar juga. Mungkinkah miliknya..." Dan dia pun tersenyum, dan langsung menutup mulut itu.


"Ya Tuhan..Kenapa aku jadi mesum begini? Jangankan bercinta denganku, mencium dengan lama saja pasti dia enggan. Ahh.. Sungguh miris nasip ini, sudah bersuami tapi masih perawan. Padahal aku sangat ingin merasakan malam pertama itu, seperti apa."


Sambil menunggu pakaian-pakaian yang sedang dikerjakan oleh MESIN CUCI, dengan iseng Kiran berjalan-jalan, menikmati pemandangan sekitar rumah yang begitu sejuk, yang di bawa dari dalam hutan itu.

__ADS_1


Semakin jauh langkah kaki itu, menikmati pemandangan yang begitu indah. Tanpa sengaja tatapan mata Kiran melempar kearah lain, dan sedikit kaget, saat mendapati Doni baru saja ke luar dari sebuah ruangan. Dan ruangan itu, dan ruangan itu seperti tersembunyi.


"Sekretaris Doni! Apa yang dia lakukan di sana? Dan itu ruangan apa?" gumam Kiran penasaran, dengan terus melemparkan pandangannya pada Doni, yang sudah berlalu kembali menuju rumah utama.


__ADS_2