
Keduanya sudah melakuan ritual panas mereka yang mereka lakukan di dalam kamar mandi, tanpa harus melakukan penyatuan. Kiran mengerucutkan bibirnya menatap tidak suka, pada Rangga yang terus tersenyum padanya.
"Kau membuatku kedinginan Mas!" ujarnya kesal.
Rangga masih menampilkan wajah tanpa dosanya, sekali pun akibat mengikuti hawa napsunya dia, sudah membuat Kiran menggil, karena melayani kemauan Rangga.
"Ayolah... Kau mengerti saja, kalau suamimu ini, sudah berapa hari berapa hari berpuasa. Dan aku tidak yakin, kalau kita bisa melakukannya seintens dulu, karen kau tengah hamil muda."
Mendengar ucapan Rangga barusan, Kiran langsung diingatkan pada ucapan Papanya tadi siang.
"Mas..." panggilnya dengan suara pelan, dan terlihat muram wajah itu.
"Ada apa?"
Duduk ditepian ranjang, menatap pada Rangga yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Tiga hari lagi, aku akan berangkat ke Inggris."
"Pergilah!" jawab Rangga enteng, dan tentu saja itu memancing kekesalan Kiran, sebab Rangga mendapati raut wajah tidak ada kesedihan pada wajah suaminya.
"Baiklahh! Aku akan pergi! Dan jangan coba, mencari aku!" umpatnya kesal.
Rangga terkekeh pelan, mendapati raut wajah kesal istrinya. Tubuh itu dia tegakkan, dengan mendekat pada Kiran. Lingkaran dua tangannya membentuk sempurna di wajah istrinya, yang tak berbalik sedikit pun menatap padanya.
"Apakah kau punya wanita lain, Mas?! Dan mungkinkah, itu Della?!"
"Kau cemburu padanya?!" tanya Rangga dengan senyuman bahagianya, karena merasa bahagia, jika Kiran merasakan cemburu.
"Apakah aku perlu menjawabnya? Karena tanpa aku menjawabnya pun, kau sudah tahu!" sahut Kiran, dengan nada yang masih terdengar marah.
Bukannya menjawab, apa yang sang istri tanyakan? Rangga justru kian mempereratkan pelukan itu, hingga membuat Kiran merasakan sedikit nyeri.
"Mas!" panggilnya, saat tak kunjung mendapatkan jawaban, dari sang suami.
"Ya, Istriku..." jawab Rangga, dengan memelankan nada suaranya, dipenghujung kalimat.
"Aku bertanya padamu, tapi kau tidak menjawabnya. Apakah kau memilki kekasih?! Bahkan saat kau tahu, aku akan segera berangkat ke Inggris saja, kau nampak tida sedih sama sekali!"
Rangga tersenyum, seraya menyelipkan anak rambut, yang berjatuhan menutup sebagian wajah istrinya.
"Kalau aku tidak mencintaimu, tidak mungkin aku menyelinap seperti seorang maling, hanya untuk bertemu denganmu. Seandainya dunia tahu kalau seorang mantan Mafia seperti Rangga sampai melakukan hal ini? Pasti mereka akan menertawaiku."
"Terus, apakah kau menyesal?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Mas...." Nada suara Kiran nampak terdengar lembut, setelah mendengar ucapan panjang lebar suaminya.
"Yaa..."
"Aku akan berangkat tiga hari lagi, dan aku ingin Mas sering-sering menjengukku. Karena aku tidak mau, anak ini terlahir tanpa seorang Ayah," lirihnya.
Rangga mengurai senyum kecil di wajah. Pria berusia tiga puluh tahun itu, sama sekali tidak menyangkah kalau Kiran akan berpikir sejauh itu.
Membalikkan tubuh Kiran, menatap padanya.
"Tanpa kau mengandung anakku sekalipun, aku pasti akan mengikuti ke mana kau pergi, Kiran! Jadi percayalah padaku."
"Kau janji Mas? Dan akan sering menjengukku?"
"Iya. Aku janji, akan menjengukmu di sana."
Senyuman bahagia membingkai penuh di wajah Kiran, setelah mendengar apa yang Rangga katakan. Tubuh itu segera dia benamkan di dada Rangga, bersandar nyaman di sana.
"Mas..." panggilnya pelan.
"Yaa.." jawab Rangga, dengan sebuah pelukan hangat yang dia berikan.
"Aku janji, jadi kau tidak perlu khawatir," sahut Rangga, tersenyum.
Kiran mendongakkan wajahnya, menatap pada wajah sang suami. Intens dua mata itu, yang dia arahkan pada bibir yang tadi sempat dikecapnya. Ingin merasakan lagi, bagaimana daging tak bertulang itu, membuatnya begitu terbuai.
Rangga tersenyum. Mengetahui apa yang dimaksud istrinya, Rangga segera semakin memberi jarak yang begitu dekat. Baru saja bibir itu saling bersentuhan, tiba-tiba saja terdengar suara pintu. Dan keduanya langsung dilanda kepanikan yang luar biasa, setelah mendengar suara Papa Andi, yang terdengar dari depan kamar.
"Mas...Papa!" Raut wajah Kiran yang panik, dengan tubuh yang segera dia tarik dalam pelukan Rangga.
Rangga mendesah kesal. Baru saja dia, dan sang istri akan kembali terlibat dalam sebuah gairah, kini harus terganggu dengan kedatangan, sang Ayah Mertua, dan tentu saja itu membuatnya keduanya, sangat panik.
Rangga segera melompat turun dari atas ranjang, dan berlalu ke luar dari dalam kamar, dan itu membuat Kiran tersenyum, sebab
bagaimana cepatnya dia melihat Rangga, menghilang.
"Kiran...Kiran..." Suara gedoran dari masih saja terdengar, saat Kran tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan bajunya yang sedikit kusut, akibat tangan Rangga, yang tadi sudah bermain di bukit miliknya.
Memastikan penampilannya sudah terlihat rapi, Kiran segera membuka daun pintu, dan tentu saja dengan raut wajahnya yang biasa.
__ADS_1
"Ada apa, Pa?"
Papa Andi mengangkat lehernya, berusaha menjangkau dalam kamar putrinya, untuk memastikan kalau Kiran, sedang tidak menyembunyikan hal yang mencurigakan.
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa Paa..." jawab Kiran, dengan nada memelas.
"Tentu saja, karena Papa tidak mau pria tidak punya hati itu, menjadi suamimu!" ujarnya tegas.
Hanya mendesahkan napasnya yang panjang, menahan sesak dengan ucapan sang Ayah.
"Ada apa, Papa datang kemari?"
Koper besar yang berada di belakang tubuhnya segera Papa Andi tarik, membawa ke depan Kiran.
"Koper ini baru Papa beli tadi. Dan Pap rasa, jauh lebuh baik, jika kau mulai berkemas-kemas, agar memastikan tidak ada 'yang tertinggal. Dan Papa sudah mengatakan pada Bibimu tentang kondisimu, yang tengah berbadan dua. dan dia justru menyambut dengan bahagia, karena kau pun tahu, kalau Bibimu itu seorang janda, dan anaknya juga belum menikah."
Lagi-lagi sesak menghimpit dada Kiran, setelah tahu kedatangan sang Ayah.
Menarik koper berwarrna hitam itu, dan mendorong ke dalam kamarnya.
"Terima kasih Paa..." jawabnya dengan suara pelan.
"Baiklah, kalau begitu Papa kembali ke kamar dulu,"pamit Papa Andi, dengan segera berlalu jauh, dari depan kamar putrinya.
Daun pintu kembali Kiran rapatkan, dan tentu saja dia tidak lupa menguncinya. Hampa sudah menyelimuti wajah wanita dua puluh enam tahun itu, dengan tatapan mata yang terus dia arahkan pada koper hitam itu.
Mengangkat wajahnya, dan menatap pada Rangga yang terus menatap padanya. Lama menatap pada sang suami, membuat air matanya luruh, dan terisak kecil di sana.
" Apa yang kau takutkan?"
Tak menjawab, Kiran justru melangkahkan kakinya, dan membenamkan tubuh mungilnya, dalam pelukan Rangga.
"Mas...Aku tidak mau berpisah denganmu...Aku tidak mau berpisah denganmu..." ujar Kiran, di sela air mata yang terus saja tumpah.
"Jangan terlalu menangis, kasian anak kita."
"Mas..."
"Yaa..."
"Berjanjilah, kalau kau akan sering , menjenguku,"
"Aku janji."
__ADS_1