
Sore telah kembali menyapa, saat mentari perlahan meredupkan sinarnya, yang sebentar lagi akan mendatangkan senja yang indah.
Gelisah-terlihat jelas di wajahnya, dengan bola mata yang terus Kiran lemparkan pada jam dinding yang menempel di dinding dalam toko.
Mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, Kiran segera mengayunkan dua kakinya, menghampiri pada Dian, yang tengah sibuk merangkai bunga, membentuk sebuah bucket.
"Dian..."
Wajah yang langsung berpaling, dengan kegiatan yang dia jeda.
"Ada apa Kiran?"
"Bisakah aku pulang terlebih dahulu?"
Satu alis Dian angkat, dengan memberi tatapan jauh lebih intens pada Kiran, setelah mendengar apa yang baru saja gadis berambut panjang itu katakan.
"Kau ingin pulang lebih dulu?"
"Iya. Papaku sedang sakit, dan aku ingin menjenguknya."
"Tapi bukankah kau akan pulang bersama, Rian?"
"Katakan padanya, kalau aku ke rumah Papa. Dan dia tahu, di mana alamatnya, dia bisa menyusulku kalau dia mau."
"Baiklah,"
Usai menyampaikan pada Dian, Kiran melenggangkan dua kakinya ke ruang belakang, guna mengambil tas miliknya.
Mengantungkan di pundaknya, dan berpamitan pada Dian.
"Dian...Aku balik dulu.." seru Kiran dengan setengah teriakan.
"Hati-hati Kiran.." jawab Dian, dengan terus melemparkan pandangannya Kiran, yang sudah berlalu, dari dalam toko.
****
Taksi yang membawa Kiran, sudah berhenti di depan sebuah hunian berlantai dua. Masih memandang dari jauh, saat beberapa menit diri itu hanyut, dalam suasana hatinya sendiri.
Dua kaki Kiran langkahkan, menuju gerbang dan menekan bel beberapa kali.
"Nona Kiran..." Senyuman kecil mengukir indah di wajah seorang wanita paruh baya, kala mendapati anak dari Majikannya.
Kiran membentuk sebuah senyuman di wajahnya, dengan melangkah masuk ke dalam rumah, kala gerbang tengah terbuka.
"Ayo masuk Nona!"
"Bibi..Apakah Papa benar-benar sedang sakit?" tanya Kiran, dengan langkah kaki beriringan bersama Bibi Surti, saat keduanya berjalan memasuki rumah.
__ADS_1
"Iya Nona.. Tuan Besar sudah hampir dua bulan ini sakit, dan tidak bekerja."
"Dua bulan?" Dua alis Kiran bertaut. Gadis bermanik hitam itu, nampak sangat kaget, setelah mendengar apa yang dikatakan Pelayan rumahnya itu.
"Iya Nona..Tuan Besar sudah dua bulan tidak bekerja. Dan gaji saya juga, sudah dua bulan ini tidak dibayar."
Kiran mendesahkan napasnya yang panjang. Sesak terasa menghimpit dada wanita itu, setelah mendengar apa yang baru saja Surti katakan. Hanya diam, dengan wajah yang sudah berubah muram, dengan langkah kaki yang terus dia ayunkan.
Pintu rumah terbuka, dan dari jauh tatapan mata Kiran, beradu dengan Mama Rati, yang tengah menuruni anak tangga menuju pada lantai bawa.
Senyuman sinis Mama Rati lukis di wajah, menatap dengan tatapan tidak sukanya pada anak tirinya itu.
"Aku pikir kau sudah melupakan Papamu, semenjak kau menikah dengan laki-laki, yang sebenarnya jadi suami Kakakmu, Disty."
"Aku sama sekali tidak pernah merebut Rangga. Hanya mungkin nasip Kak Disty saja, yang belum beruntung untuk menikah dengan laki-laki kaya."
"Asal kau tahu! Kalau Ibu dari Rangga sama sekali tidak menyukaimu, Kiran!"
"Aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu, selama hubungan aku, dan Mas Rangga baik-baik saja. Dan aku datang ke sini bukan untuk membahas hal itu, sebab aku datang untuk menjenguk Papaku." Dan dua mata Kiran beralih pada Bibi Surti, yang masih setia berada di sampingnya.
"Ayo Bibi! Antar aku temui Papa!"
"Baik Nona!" balas Surti, dengan melangkahkan beriringan bersama Kiran, menuju arah tangga-meninggalkan Mama Rati, yang begitu meradang.
Pintu kamar Kiran buka. Wajah biasa langsung berubah kaget, kala mendapayti ayah kandungnya-Papa Andi, yang terbaring lemah di atas ranjang, dengan pipi yang terlihat semakin tirus.
"Kiran..." lirih Papa Andi, dengan tatapan nanarnya.
Kiran menjangkau sebuah kursi kecil, dan melabuhkan tubuhnya di sana, setelah dia letakkan di tepian ranjang.
Pupil matanya sudah nampak berembun, saat tak bisa menahan kesedihan dengan kondisi Papanya saat ini.
"Papa..Kenapa Papa tidak mengatakan padaku? Kalau Papa sedang sakit?"
"Maafkan Papa," jawabnya pelan.
Tatapan mata Kiran beralih pada Surti, yang sedang duduk di salahsatu kursi di kamar itu.
"Apakah Papa sudah di bawa ke Dokter?"
"Sudah Nona..Tapi penyakitnya belum sembuh juga."
"Papa sudah kehabisan unag, untuk berobat Kiran!"
Wajah yang menatap Surti langsung Kiran palingkan pada sang Ayah, begitu mendengar apa yang baru saja pria paruhbaya itu katakan.
"Kehabisan uang?" Kaget, dengan tatapan jauh lebih intens.
__ADS_1
"Iya," jawab Papa Andi pelan. Mengulurkan tangan itu, dan menyentuh lembut tangan Kiran, dengan menampilkan tatapan penuh harapnya.
"Suamimu sangat kaya. Papa mohon Kiran, bantu Papa untuk mengobati penyakit ini. Jujur uang Papa sudah habis, untuk berobat, dan mememuhi kebutuhan kami di rumah ini, selama Papa tidak bekerja."
Kiran mendesahkan napasnya yang panjang. Kelopak matanya sudah berkaca-kaca, melihat kondisi Papanya, dan juga keluarganya saat ini. Tapi bagaimana dia bisa membantu untuk mengobati Ayahnya? kKalau dia dan Rangga hanya menikah Kontrak.
"Kiran...Apakah kau tidak bisa menolong Papa, Nak?" tanya Papa Andi. Raut wajah itu sudah berubah sedih, saat putri semata wayangnya itu hanya mendiamkan permintaannya.
Kiran membungkam.Gadis berusia dua puluh enam tahun itu tak langsung menjawab, permintaan ayah kandungnya. Diam, kala tengah larut dengan apa yang dia pikirkan. Tidak mungkin dia membiarkan keadaan Papanya seperti ini. Seba seburuk apapun dia, dia tetaplah adalah ayah kandungnya.
Membungkam, lirikan mata itu dia alihkan pada Bibi Surti yang hanya membisu, dengan wajah muramnya.
"Baiklah, aku akan meminta bantuan pada Mas Rangga. Dan Bibi.." panggil Kiran pada Pelayan rumahnya.
"Bisahkah kau tetap bekerja di sini? Aku janji, akan membayar gajimu yang belum dibayar."
"Baik Nona," jawab Bibi Surti, dengan senyuman kecil di wajah.
Kiran kembali mengalihkan tatapan matanya pada Papa Andi, yang tengah menatapnya dengan senyuman.
Jemarinya menelusup ke dalam tas, dan menjangkau sesuatu di sana.
Mengambil uang pecahan seratus ribuan sebanyak lima lembar, ,dan memberikan pada Bibi Surti.
"Bibi...Kau atur semua untuk kebutuhan Papa. Dan Paa..Aku pulang dulu, aku janji akan datang lagi, dan membawa Papa untuk berobat."
Tersenyum, dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca. Haru, dan juga ada rasa penyesalan sebab selama ini, dia sudah mengabaikan putri kandungnya itu.
"Kau janji Kiran?"
"Iya."
"Terima kasih Nak...Dan sampaikan salam Papa, buat Rangga."
"Baik Paa..Dan kalau begitu aku permisi dulu," pamit Kiran dengan berlalu pergi, sebelum mencium Pipi Ayahnya.
"Aku pergi dulu Paa, dan Bibi Surti aku titip Papa,"
"Baik Nona, dan hati-hati di jalan."
****
Gerbang pintu rumahnya Kiran tutup perlahan, kala diri itu sudah berada di depan rumahnya. Ayunan kaki terasa berat bagi gadis itu, kala membela pesisir jalan, dengan senja yang sudah kembali menyapa.
Memikirkan kondisi Papanya saat ini, membuat Kiran nampak tak bersemangat, saat dua kaki itu dia ayunkan. Dan jika saja Rangga menerimanya sebagai istri yang sesungguhnya, maka masalah ini akan selesai. Tapi ini tidak. Hingga sejuta tanda tanya, melanglang ke sana kemari dalam diri wanita berusia dua puluh enam tahun itu.
Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus meminta bantuan pada Rangga? Bukankah mereka hanya menikah kontrak? Dan selama ini, Rangga tidak pernah memberikan dia sepeserpun. Hanya ponsel, dan itu juga-karena pria itu merusaknya. Tapi apakah Rangga, akan memberikan dia uang yang banyak? Seandainya kalau dia memintanya, dan mungkinkah pria itu, akan memberikan cuma-cuma.
__ADS_1
"Tidak mungkin Mas Rangga, memberikan aku uang secara cuma-cuma, karena ikatan pernikahan kami hanya sebuah pernikahan kontrak. Tapi bagaimana pun aku harus mendapatkan uang. Oh Tuhan...Apa yang harus aku lakukan? Karena bagaimanapun, aku harus membawa Papa untuk berobat." bathin Kiran, dengan resah yang terlihat jelas di wajahnya.